Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 115 Diracuni


__ADS_3

Untuk afternoon tea, mereka hanya mencicipi makanan yang tidak mengenyangkan dan kecil-kecil seperti finger sandwich(roti lapis ukuran kecil), kue tart yang kecil-kecil, dll.


Karena Tuan Giruberuto tidak puas dengan afternoon tea beberapa minggu ini, membuat pria itu menyuruh Kein yang menyajikannya.


Semua melihat hidangan untuk afternoon tea yang dibawa para pelayan, dan mereka hanya terbelalak. Ya, tentu saja karena Kein mengubah makanan layaknya karya seni, jadi siapapun yang melihatnya akan merasa tidak rela untuk merusak hidangan tersebut.


‘’Sebagai perlakuan khusus hari ini, silahkan pilih cangkir yang kalian sukai dari lemari dorong itu,’’ kata Kaji.


Lemari dorong berisi koleksi cangkir milik Kaji yang membuat pandangan mata seperti tersihir. Semua orang pun memilih cangkir kesukaan mereka lalu kembali ke meja.


Eve menghampiri bu Christa yang terlihat termenung di depan lemari. ‘’Ibu? Aku minta maaf karena belum bisa menemukan Cordelia dan Reon.’’


‘’Tidak apa-apa. Jangan menyalahkan dirimu,’’ jawab Bu Christa.


‘’Ibu tenang saja. Aku pasti akan menemukan Cordelia bersama putranya,’’ kata Eve.


‘’Terima kasih,’’ senyum sendu Bu Christa.


Para pelayan pribadi pun menuangkan teh ke cangkir semua orang.


‘’Silahkan dinikmati,’’ kata Tuan Giruberuto.


‘’Harumnya, ini adalah teh Chamomile dari Mesir,’’ kata Eve.


Kaji tersenyum. ‘’Aku senang kau menyukainya.’’


Adam yang melihat pemandangan itu hanya diam, apalagi Kaji juga melirik ke arahnya. Kedua pria itu saling melontarkan tatapan serius, hingga keduanya membuang pandangan.


Tidak lama kemudian, Kein datang setelah menyiapkan semua hidangan untuk afternoon tea.


‘’Kein-kun, hanya kau yang belum memilih cangkir dari lemari. Pergi lalu kembalilah bergabung,’’ kata Tuan Giruberuto.


Kein mengangguk dan menuju ke lemari dorong yang berisi koleksi cangkir. Setelah memilih satu, ia pun kembali ke meja dan duduk di samping Kane. Pelayan datang dan menuangkan teh untuknya.


‘’Tunggu dulu!’’ kata Eve.


Semua menatap Eve dengan bingung karena wanita itu menghentikan Kein yang hendak meminum tehnya.


Anak berambut putih itu menatap ibunya yang duduk di sampingnya.


‘’Gula batu kesukaanmu. Saat minum teh atau kopi di rumah, kau selalu menggunakan ini, kan?’’ tanya Eve sambil mengaduk teh untuk melarutkannya.


‘’Itu baru wanita yang dipenuhi kasih sayang,’’ bisik Vic membuat Hakuba terkekeh.


Eve mencicipi teh melalui sendok tadi dan tersenyum. ‘’Tidak kurang dan tidak lebih seperti biasa.’’


Ya, karena Kein memiliki kemampuan menilai kualitas hidangan secara akurat, maka hidangan atau minuman apa pun yang masuk ke dalam mulutnya juga harus seakurat mungkin. Sampai-sampai, Kein sendiri yang membuat potongan gula batu miliknya, karena koki yang membuat sebelumnya kadang manisnya berlebihan, dan kadang manisnya sangat kurang.


Kein terdiam yang sedang menatap cangkir teh sambil mendengar pembicaraan orang-orang.


‘’Keahlian Si Iblis Makanan memang tidak bisa diragukan. Shion-san, kemari dan makanlah bersama kami,’’ kata Kane.


‘’Eh? Tapi Tuan Kane?’’ tanya Shion.

__ADS_1


Kaji tersenyum. ‘’Kane-kun mengajakmu, kenapa kau menolaknya?’’


Shion tersenyum dan membungkuk sebelum duduk di samping kedua anak kembar itu. Mereka semua bersenang-senang, terutama Kane yang berbincang dengan Shion.


Prank!


Semua tersentak dan menoleh saat mendengar suara pecahan. Meskipun meja panjang itu berdiri di atas rumput, tapi sisi bawahnya dilapisi lantai keramik. Jadi, jika ada benda yang jatuh, mereka bisa tahu.


Deg!


Semua melotot karena orang yang menjatuhkan cangkir tadi, tidak lain adalah Kein.


Anak berambut putih itu terdiam membeku dengan wajah tegang. Ia menatap Kane sekilas dan kembali menatap ke depan.


‘’Kein? Ada apa?’’ tanya Eve cemas.


Kein melotot lalu membengkap mulutnya.


Brack!


Mata Kane membulat besar, melihat kakaknya memuntahkan darah sambil memegang dadanya.


Bugh!


‘’Tuan Kein!’’ pekik semuanya.


Belum sempat Kaji dan Eve menyentuh tubuh Kein, Adam sudah ada di sana. Tentu saja, semua yang melihat itu langsung terdiam.


‘’Kein?’’ tatap Adam tidak percaya.


‘’Tuan Yuu! Kau adalah seorang dokter, kenapa kau diam saja?!’’ seru Adam membuat semua orang tersentak terutama dokter Yuu.


Tanpa membuang waktu, dokter Yuu bergegas. ‘’Bawa dia ke dalam!’’


Dor!


‘’Berhenti! Selain Paman Yuu dan Tuan Adam, tidak ada yang boleh meninggalkan meja ini!’’ seru Kane menembakkan peluru ke udara membuat semua berhenti.


Semua menoleh dengan raut wajah terkejut.


‘’Tapi, Tuan Kane? Kami semua ingin mengetahui kea—‘’


Deg!


Ucapan Sponsor terpotong saat Kane menodongkan pistol kepadanya.


‘’Apakah kau ingin kulenyapkan terlebih dahulu baru mematuhi perintahku?’’ tanya Kane dengan aura mengintimidasi.


Semua menuruti perkataan anak itu dan kembali ke meja.


Eve gemetar hebat, membuat Kaji menenangkan wanita itu.


......................

__ADS_1


Beruntung di mansion milik Kaji ada rumah sakit pribadi membuat dokter Yuu langsung bisa menangani Kein. Tidak lama kemudian, Kane datang dengan wajah cemas.


‘’Paman Yuu! Bagaimana keadaan Kakak?!’’ pekik Kane.


"Aku sedang memeriksanya!’’ kata Dokter Yuu tidak kalah cemasnya.


Tangan Adam mengepal. Siapa yang telah tega dan berani melakukan semua ini kepada anak seperti Kein. Apalagi kepada putranya, membuatnya tidak akan pernah memaafkan pelaku yang melakukan hal tersebut.


‘’Dia telah diracuni,’’ kata Dokter Yuu.


‘’Apa?!’’ pekik Adam dan Kane bersamaan.


......................


Rombongan mobil kepolisian telah tiba di depan kediaman mewah. Begitu semua menuruni mobil, Inspektur dan petugas Reiki terbelalak.


‘’Eh? Bukankah kediaman ini….’’


......................


Taman


Semua menoleh melihat rombongan kepolisian datang, bersamaan Kane, dokter Yuu dan Adam yang juga baru tiba di taman.


‘’Sepertinya semua orang sedang menikmati afternoon tea,’’ tebak Petugas Reiki.


‘’Inspektur, kau di sini?’’ tanya Nyonya Vaioretto.


Inspektur membungkuk memberi hormat begitu juga dengan yang lainnya. ‘’Benar, Nyonya Besar. Tuan Kane sendiri yang memanggil kami kemari.’’


Semua menoleh ke arah Kane.


‘’Kami mendapatkan laporan dari Tuan Kane, kalau salah satu dari kalian telah diracuni,’’ kata Inspektur.


‘’Apa? Diracuni?!’’ pekik semuanya.


‘’Bagaimana kondisi Kein?’’ tanya Eve.


Inspektur dan petugas Reiki mengerutkan dahi. ‘’Tuan Kein?’’


Deg!


‘’Tunggu dulu, jangan bilang korbannya adalah Tuan Kein?!’’ pekik Petugas Reiki.


Kane hanya memasang raut wajah kusut. ‘’Ya, saudaraku telah diracuni.’’


"Tidak! Kein tidak boleh mati!‘’ kata Eve histeris.


‘’Ibu tenanglah. Kakak masih hidup karena langsung ditangani sebelum racun itu merenggut nyawa Kakak,’’ kata Kane.


Kaki Eve langsung melemah membuatnya terjatuh. Tapi, untunglah Kaji langsung menangkapnya.


‘’Kein,’’ kata Eve.

__ADS_1


‘’Kalau begitu bagaimana kondisi Tuan Kein?’’ tanya Inspektur.


‘’Kondisi Kakak saat ini sangat buruk,’’ kata Kane.


__ADS_2