Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 94 Butiran Bening


__ADS_3

Sebelah alis Kaji terangkat. ‘’Hee~ apakah kau sedang mencemaskan Adam?’’


‘’Kenapa kau berkata seperti itu?’’ tanya Eve sambil mengerutkan dahi tanda kesal.


‘’Lalu kenapa kau berkata seperti itu tadi?’’ tanya Kaji.


‘’Aku hanya merasa, apakah ini tindakan yang benar dengan memanfaatkan perasaan orang lain?’’ kata Eve.


‘’Kalau begitu pilihlah. Kau yang dimanfaatkan atau kau yang memanfaatkan orang lain?’’ tanya Kaji.


Saat itu juga Eve langsung tersadar dan mengerti maksud ucapan Kaji. ‘’Benar juga. Sama halnya yang dilakukan Cordelia kepadaku. Dibunuh atau membunuh orang lain. Tapi, apakah rencananya sungguh akan berhasil?’’


Kaji tersenyum. ‘’Tentu saja tidak.’’


Eve mengerutkan dahi sambil tersenyum menahan rasa kesal. ‘’Kalau rencananya tidak berhasil, lalu kenapa kita akan melakukannya?’’


‘’Rencananya memang tidak akan berhasil tanpa bantuan mereka,’’ kata Kaji.


‘’Mereka? Mereka siapa?’’ tanya Eve.


‘’Kau akan mengetahuinya nanti,’’ senyum Kaji.


Flashback off


Eve melirik sesekali ke arah Adam dan langsung membuang pandangannya begitu cepat. Melihat hal itu membuat Adam sedikit terkekeh.


‘’Kenapa? Kau meragukan diriku?’’ tanya Adam.


‘’Tidak, aku hanya memastikan kau menepati ucapanmu,’’ jawab Eve ketus.


‘’Aku sudah menatapmu sejak tadi. Kenapa kau juga tidak menatapku?’’ tanya Adam.


Eve menarik nafas dan menghembuskannya secara tertahan. ‘’Aku hanya tidak mau melakukannya.’’


Adam tersenyum. ‘’Kalau begitu aku akan membuatmu menatapku.’’


Eve memutar bola matanya dengan perasaan malas.


‘’Wajahmu imut juga kalau sedang kesal,’’ kata Adam membuat Eve langsung menatapnya.


Deg!


Eve tersentak sambil Adam menaikkan kedua alisnya ke atas lalu ke bawah.

__ADS_1


‘’Kau akhirnya menatapku,’’ kata Adam tersenyum penuh kemenangan.


‘’Berhenti mengatakan hal yang tidak penting,’’ kata Eve.


‘’Kalau begitu, sampai kapan aku harus melihatmu seperti ini?’’ tanya Adam.


‘’Sampai ada yang kalah di antara kita,’’ jawab Eve.


Mata Adam memicing. ‘’Sejak tadi aku berpikir, kau tiba-tiba mengajakku bicara secara empat mata, dan membawaku kemari, di kamar 212. Lalu, kau bertanya mengenai perasaanku. Setelah itu memintaku agar tidak mengalihkan pandanganku darimu tanpa peduli di sekitar. Eve … Apakah kau sedang merencanakan sesuatu?’’


Deg!


Eve sedikit tersentak, tapi ia tidak ingin memperlihatkannya.


Apakah Adam mengetahui rencana kami? Apa yang harus aku katakan? Jika aku salah menjawabnya, dia pasti akan curiga, kata Eve dalam hati.


Adam masih menunggu Eve yang masih menatap ke arah jendela, sampai akhirnya wanita itu menghela nafas panjang sebelum.


‘’Merencanakan sesuatu?’’ tanya Eve menatap Adam.


Ceklek!


Saat itu juga pintu terbuka dengan masuknya pekerja restoran sambil membawa anggur.


Dia benar-benar tidak mengalihkan pandangannya dariku, bahkan setelah pekerja restoran ini datang, kata Eve dalam hati.


‘’Kau boleh pergi. Aku yang akan menuangkannya,’’ kata Eve.


Pekerja restoran itu membungkuk lalu berjalan pergi. Adam menatap Eve yang menuangkan anggur ke gelas mereka berdua. Namun, tidak ada yang memulai untuk mencicipi anggur tersebut.


‘’Kenapa? Kau berpikir aku menaruhkan sesuatu ke dalam anggurnya?’’ tanya Eve.


Adam pun meraih gelas berisikan anggur itu, lalu memutar gelasnya secara perlahan. Sebelum meminumnya, ia mencium aroma anggur terlebih dahulu. Hal yang sama dilakukan oleh Eve.


‘’Aku tidak menaruhkan sesuatu, kan? Padahal, aku hanya memesan anggur ini dan kau menuduhku sedang merencanakan sesuatu?’’ tanya Eve.


‘’Lalu kau yang awalnya tidak ingin bertemu denganku, kenapa mengadakan perjamuan seperti ini, bahkan sampai menuangkan anggur untukku, bukankah itu aneh?’’ tanya Adam.


Sebelah alis Eve terangkat. Sepertinya ia harus berhati-hati, karena Adam bukan orang yang mudah dibodohi.


‘’Itu memang benar. Tapi kau tahu sendiri kalau hari ini aku akan kembali ke Jepang. Sejak awal bertemu, hubungan kita tidak baik. Aku tidak mau memiliki hubungan yang buruk dengan rekan bisnis calon suamiku. Jadi aku hanya ingin memperbaiki hubungan di antara kita sebelum pergi,’’ kata Eve.


Wajah Adam langsung kusut mendengar kata calon suami keluar dari mulut Eve.

__ADS_1


‘’Ada apa? Apakah aku mengatakan hal yang salah?’’ tanya Eve polos.


Ia kembali tersenyum membuat Adam mengerutkan dahi. ‘’Jangan khawatir. Aku akan menepati janjiku mengenai kau akan menjadi orang pertama yang aku undang ke pesta pernikahanku.’’


‘’Eve?’’ panggil Adam.


‘’Ya?’’ tanya Eve menunggu.


‘’Apakah kau benar-benar tidak bisa memberiku kesempatan sekali lagi?’’ tanya Adam.


Eve yang menatap gelas bening di depannya hanya tersenyum. ‘’Kenapa aku harus melakukan ha—‘’


Ucapannya terhenti, tepat saat dia mendongakkan kepala dan melihat Adam menunduk dengan wajah sendu. Tangannya mengepal disertai alis berkerut.


Kenapa dia memasang wajah seperti itu? Tidak, aku tidak akan termakan dengan sandiwaranya. Kane dan Kein sudah memberitahuku saat mereka hendak menyerahkan surat perceraian. Adam sampai bersandiwara dengan menceritakan moment kami. Kali ini aku juga tidak akan masuk ke dalam perangkapnya, kata Eve dalam hati.


Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar ingin memperbaiki rumah tanggaku bersama Eve. Tapi yang aku lihat ini, sepertinya Eve akan benar-benar pergi. Dia akan menikah dengan Tuan Kaji. Lalu apa maksudnya dia mengajakku bicara berdua seperti ini? Butuh usaha apa lagi agar bisa mencegah Eve pergi? Sial, kata Adam dalam hati.


Eve benar-benar kesal melihat Adam masih memasang raut wajah seperti itu, hingga akhirnya seseorang mengetuk pintu.


‘’Permisi? Saya membawa dokumen penting yang harus Tuan Muda tanda tangani.’’


‘’Masuklah!’’ perintah Adam yang masih menunduk dengan raut wajah sendu.


Dokumen penting? Lalu kenapa bukan Sekretaris Rey yang membawa berkasnya? Kenapa malah pekerja restoran? Aku memang melarang orang lain masuk, tapi kalau ada kaitannya dengan perusahaan Adam, aku akan memaklumi Sekretaris Rey masuk, kata Eve dalam hati.


Eve kembali menatap Adam yang menatapnya sambil pria itu menandatangani dokumen tersebut.


Adam mengerutkan dahi karena setelah menandatangani dokumen itu, pekerja restoran tadi menyerahkannya kepada Eve.


‘’Tugas saya sudah selesai, bisakah saya pergi?’’ tanya pekerja restoran.


‘’Tugas?’’ bingung Eve.


Saat itu juga Adam tersadar. ‘’Kau boleh pergi.’’


Eve menatap ke arah Adam, dan melihat pria itu terlihat marah.


‘’Jadi ini memang rencanamu? Heh, seharusnya aku menyadarinya dengan cepat, tapi perkataan pekerja restoran itu sudah membuktikannya. Eve, aku tidak tahu kalau kau ternyata juga tidak punya hati seperti ini,’’ kata Adam.


Karena bingung dengan ucapan Adam, membuat Eve membuka dokumen itu dan melihat isinya. Matanya membulat besar, karena itu bukan berkas perusahaan, melainkan surat perceraian yang sudah dibuat ulang.


Apakah ini rencana yang dimaksud Kaji-kun? Sekarang tanda tangan Adam sudah didapatkan, kata Eve dalam hati.

__ADS_1


Deg!


Eve terbelalak melihat butiran air mata terjatuh dari sudut mata Adam.


__ADS_2