Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 113 Salah Paham Terjawab


__ADS_3

Saat itu juga mereka semua menoleh, melihat kedatangan seseorang.


......................


Eve mengetuk pintu kamar yang ditempati Vic, dan berusaha mengajak wanita itu bicara. Tapi, Vic menolak.


Tok! Tok!


‘’Eve! Kumohon, aku sedang tidak ingin diganggu. Pergilah!’’ kata Vic.


‘’Aku benar-benar harus bicara denganmu kali ini.’’


Vic menghela nafas karena sahabatnya itu sangat keras kepala. Tapi, Eve tidak menyerah dan terus mengetuk pintu kamar, membuat Vic mengerutkan dahi tanda kesal.


‘’Aku ingin sendirian dan tidak ingin diganggu atau menemui siapapun!’’ kesal vic.


‘’Bahkan bertemu denganku?’’


Deg!


Vic tersentak mendengar suara itu. Ia berbalik menatap ke arah pintu. Sedangkan dari luar, Eve hanya menghela nafas.


‘’Maaf, Tuan Hakuba. Sepertinya ini percuma saja,’’ kata Eve.


Hakuba tersenyum tipis. Sebelum pergi, ia menatap pintu itu. Keduanya berbalik untuk pergi.


‘’Kenapa kau datang kemari?’’


Dengan cepat, Eve berbalik begitu juga dengan sutradara Hakuba.


‘’Aku pikir ada orang yang tidak mau diganggu atau bertemu dengan siapapun tadi,’’ kata Eve dengan wajah bodohnya.


‘’Kalau begitu, aku akan menutup pintu lagi!’’ kesal Vic.


‘’Tunggu!’’ kata Hakuba.


‘’Ada apa?’’ tanya Vic.


Hakuba menatap Vic sekilas. ‘’Itu, bisakah kita berdua bicara? Maksudku, pembicaraan kita hari itu berakhir dengan tidak baik, jadi aku ingin menebusnya.’’


Sebenarnya Vic tidak mau, tapi melihat perasaan bersalah di wajah Hakuba, membuatnya merasa kasihan.


Benar juga. Kenapa aku harus marah? Hokuto-kun tidak bersalah. Akulah yang bersalah, kata Vic dalam hati.


‘’Baiklah. Bicaranya di balkon sekitar sini saja,’’ kata Vic.


Saat itu juga, Eve tidak sengaja melihat Adam menuju ke kamar, membuatnya bergegas. ‘’Ah, kalian berdua bicaralah. Aku ada urusan sebentar.’’

__ADS_1


Hakuba kembali menatap Vic, dan menuntun wanita itu ke balkon.


Di sisi lain, Kaji menatap ke arah lantai 2 dan menunggu kedatangan Eve yang mengantar sutradara Hakuba untuk bicara dengan Vic.


......................


‘’Adam!’’


Niat Adam yang hendak membuka pintu terhenti saat mendengar namanya dipanggil. Tanpa menoleh pun, ia sudah tahu kalau orang yang memanggilnya adalah Eve.


Dia hanya diam tanpa mengatakan apa pun. Kalau begitu, mau tidak mau aku yang akan memulainya, kata Eve dalam hati.


‘’Urusan kita di restoran itu belum selesai. Aku ingin bicara de—‘’


‘’Aku tidak ingat kalau kita memiliki urusan. Selain itu, urusan kita sudah lama selesai saat di kamar 212 hari itu,’’ kata Adam dingin.


Eve mengepalkan tangan. Rasa bersalah semakin menyerangnya. ‘’Aku tahu, karena itulah aku ingin bicara denganmu.’’


Adam terdiam untuk sesaat, hingga akhirnya ia membuka pintu dan menarik Eve ke dalam kamar. Lalu mendorong wanita itu ke tembok.


‘’A-Apa yang kau lakukan?’’ tanya Eve.


‘’Apa lagi yang kau rencanakan?’’ tanya Adam.


Eve terbelalak melihat tatapan Adam. Rasanya menusuk melihat tatapan pria itu.


Tatapan Adam … Aku bisa merasakan ada kebencian di dalamnya. Apakah tatapan itu ditujukan kepadaku? Benar juga. Aku sudah melukainya, jadi sudah pasti tatapan itu untukku, kata Eve dalam hati.


‘’Aku sangat marah kepadamu,’’ kata Adam.


‘’Aku tahu,’’ kata Eve.


‘’Dan kau sendiri tahu, hubungan yang sudah rusak tidak bisa diperbaiki lagi. Hubungan kita juga seperti itu. Tidak, bahkan hubungan kita bisa saja masih baik sampai sekarang, jika saja kau tidak merusaknya hari itu,’’ kata Adam.


Eve terdiam saat pria itu melepaskan genggamannya dan berjalan ke arah balkon.


......................


Hakuba masih menatap Vic di sampingnya. Ia menunduk untuk sesaat, sebelum mengajak wanita itu bicara. ‘’Aku minta maaf mengenai kejadian tempo hari.’’


‘’Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf. Saat itu, aku terbawa emosi dan langsung pergi,’’ kata Vic.


‘’Tidak, aku yang bersalah karena membuat Nona Vic menangis,’’ kata Hakuba.


‘’Aku yang salah. Berhenti membuatku malu,’’ kata Vic.


Hakuba menggelengkan kepala. ‘’Nona Vic tidak perlu malu, karena memang aku yang salah.’’

__ADS_1


Vic menark nafas dan menghembuskannya secara tertahan. ‘’Hokuto-kun tidak perlu membelaku. Jadi, aku yang salah di sini.’’


‘’Aku yang salah bukan Nona Vic,’’ kata Hakuba.


Urat-urat di leher dan kening Vic sudah menegang, membuatnya tersenyum dengan alis berkerut. ‘’Sutradara Hakuba Hokuto-sama, kalau aku sudah bilang aku yang salah maka itu mutlak.’’


‘’Tapi, memang aku yang salah di si—‘’


‘’Argh! Kau itu sangat cerewet! Kenapa kau begitu keras kepala?! Bersikap seolah-olah dirimulah yang salah di sini, padahal aku yang salah! Aku seenaknya bertanya lalu marah kepadamu dan pergi begitu saja. Jadi diamlah! Dasar, keras kepala sekali jadi orang,’’ omel Vic.


Hakuba terbelalak. Sedangkan Vic langsung tersadar.


Oh tidak, aku lepas kendali. Ya sudah, mau bagaimana lagi, kata Vic dalam hati.


‘’Ka-Kau sudah melihat sisi asliku. Aku tahu kau tidak menyukai wanita seperti ini, jadi pergi sana! Kembalilah kepada wanita idamanmu itu!’’ kata Vic.


‘’Puff!’’


Vic terbelalak melihat pria itu terkikik, memastikan penglihatannya tidak salah. ‘’Ada apa? Ke-Kenapa kau tertawa?’’


Hakuba tersenyum. ‘’Syukurlah Nona Vic baik-baik saja. Aku sangat khawatir semenjak kejadian hari dimana kita bicara. Untunglah, aku selalu menanyakan kabarmu melalui Kaji-san. Saat Kaji-san memberitahuku Nona Vic selalu mengurung diri di kamar dan tidak ingin bertemu dengan siapapun, aku tidak bisa tenang sampai memastikan kondisi Nona Vic secara langsung. Tapi melihat Anda segalak ini, sepertinya Anda baik-baik saja.’’


‘’Apa-apaan itu?’’ tanya Vic sambil membuang wajah karena merasa malu.


Jantungnya kembali berdetak, tapi ia berusaha menolaknya. ‘’Ya sudah. Kita sudah selesai bicara, pergilah! Wanita itu pasti menunggumu.’’


‘’Nona Vic begitu peduli dengannya, ya?’’


‘’Siapa yang peduli?! Urusan kita sudah selesai, jadi pergilah!’’


Hakuba menghela nafas. ‘’Sebenarnya wanita itu ad—‘’


‘’Aku tidak peduli dan tidak ingin tahu,’’ kata Vic.


‘’Setidaknya dengarkan aku sebentar sa—‘’


‘’Tidak perlu mengatakannya kepadaku. Aku tahu kau dan wanita itu sebentar lagi akan menikah. Ya, semua kekasih akan berakhir seperti itu,’’ kata Vic sekali lagi memotong ucapan pria itu.


‘’Nona Vic? Aku ingin bilang kalau dia i—‘’


Vic menghela nafas kasar. ‘’Iya! Iya! Aku tahu! Karena itu diamlah! Aku tidak ma—‘’


Cup!


Mata Vic membulat besar, berbeda dengan Hakuba yang menatapnya begitu lekat. Ciuman itu hanya berlangsung beberapa menit, hingga sang pria melepaskan ciumannya.


Dia menciumku! Oh God, kata Vic dalam hati.

__ADS_1


‘’Nona Vic terlalu cerewet. Aku ingin bilang kalau wanita yang Nona Vic maksud waktu itu bukan kekasihku. Tapi, dia adalah adik perempuanku,’’ kata Hakuba.


Deg!


__ADS_2