
Akademi Chrysos
Kompetisi masak sekali setahun telah tiba dan kali ini berlangsung di Indonesia.
W.P.G(World’s Premier Gastronomy) adalah kompetisi masak bergengsi di dunia, di mana hanya ada 3 undangan yang dikirimkan, kepada koki kandidat di seluruh dunia agar berkumpul untuk bersaing satu sama lain. Berbeda kompetisi masak yang memiliki ketentuan kelompok umur, W.P.G membuka pendaftaran bagi koki 5 tahun ke atas untuk mengikuti kompetisi ini.
W.P.G diadakan di akademi kuliner terbaik di Indonesia, tepatnya di Akademi Crhysos yang merupakan milik keluarga ternama Raymond Group.
3 kandidat dari 32 negara di penjuru dunia berkumpul di aula Akademi Chrysos setelah salam sambutan dari Bookmaster, Mary Raymond selesai.
Reon menatap neneknya dari barisan peserta.
“Hari ini tiba kembali. Buktikan kalau kau pantas menyandang nama keluarga Raymond,” kata Nyonya Mary dengan mata memicing. (Reon teringat)
Ia mengepalkan tangan menatap neneknya.
Aku akan menang. Aku akan berada di posisi teratas dan mengalahkan semua orang terutama Si Iblis Makanan, kata Reon dalam hati.
Nyonya Mary menatap Kein yang ada di barisan peserta.
“Tapi, sebaiknya Nyonya Bookmaster mencemaskan reputasi keluarga Raymond. Kita semua tahu selain keluarga Kamiya, hanya keluarga Raymond yang selalu memenangkan kompetisi masak. Lalu bagaimana menurut Anda, kalau untuk pertama kalinya keluarga Raymond mengalami kekalahan?” (Nyonya Mary teringat)
Ia memicingkan mata yang masih menatap Kein.
Mari kita lihat, siapa yang akan memenangkan kompetisi ini. Keluarga Raymond atau keluarga Kamiya, kata Nyonya Mary dalam hati.
Sedangkan Kein yang tenang berdiri di barisan peserta, menatap menara di belakang Akademi Chrysos yang merupakan tempat berlangsungnya final.
Nyonya Mary tersenyum remeh. “Aku sedang memberimu teguran, tapi kau malah berpikir seperti itu. Kalau begitu aku menantikan kompetisi nanti. Buktikan kalau kau layak menyandang julukan Si Iblis Makanan.” (Kein teringat)
Ia mengepalkan tangan meskipun wajahnya masih tetap datar seperti biasa.
Aku akan membalaskan dendam demi ibu kepada kalian melalui kompetisi ini. Ini janjiku untuk keluarga Raymond, kata Kein dalam hati.
96 peserta pun dibagi menjadi 12 regu dan dibawa ke ruangan kompetisi masing-masing dengan 5 penguji berbeda.
......................
Babak Kualifikasi
Ruang Regu A
Reon menatap ketujuh peserta yang akan menjadi lawannya. Pandangannya langsung mengarah ke meja penguji.
Bukankah ibu bilang kalau nenek akan turun langsung menjadi juri? Sepertinya nenek tidak menjadi penguji di sini, kata Reon dalam hati.
__ADS_1
Sekali lagi kepalanya mencari seseorang.
Si Iblis Makanan juga berada di regu yang lain. Aku tidak peduli dia ada di mana. Kami berdua pasti akan bertemu di babak selanjutnya, kata Reon.
......................
Ruang Regu B
Kein menatap kelima penguji yang sudah duduk di meja depan sambil mengerutkan dahi.
Kenapa Nyonya Bookmaster menjadi penguji di babak kualifikasi ini? Bukankah dia akan menjadi penguji saat di final? Ada yang aneh, ucapnya dalam hati.
Tuan Besar, Adam dan Tuan Yuki yang dikawal Sekretaris Rey, hanya diam menyaksikan kompetisi masak itu di ruang VVIP.
“Ibu menjadi juri di babak kualifikasi?” tanya Adam.
Tuan Moriarty membenarkan sambil menatap istrinya yang sedang melihat majalah kuliner. “Dia ingin turun langsung menguji kehebatan Si Iblis Makanan atau mungkin dia terlalu tidak sabar menunggu mencicipi hidangan Si Iblis Makan di final.” (Adam teringat)
Adam hanya diam menatap Kein dari jauh.
MC yang mengambil ahli setiap ruangan, akan mengambil bola secara acak yang akan menjadi tema hidangan mereka.
“Bola D, itu berarti Regu A akan menggunakan daging sebagai bahan utama tema hidangan kalian,” kata MC regu A.
“Bola A, Regu B menggunakan daging sebagai bahan utama tema hidangan kalian,” kata MC regu B.
Tuan Yuki tersenyum. “Meskipun begitu, anak didikku tidak akan kalah dengan mudah Tuan Besar.”
Begitu juga dengan regu yang lain, mereka telah mendapatkan tema hidangan masing-masing, dan kompetisi pun dimulai.
Peserta pertama yang akan bertanding di regu A adalah Reon Raymond, sedangkan di regu B adalah Kamiya Kein.
Semua yang melihat hanya melotot saat Reon membawa sebuah daging ke meja masak.
“Itu daging A5! Daging sapi khas Jepang dengan nilai tertinggi.”
“Japan Meat Grading Association, memberikan skor pada setiap potongan daging berdasarkan hasil(A-C) mencakup marbling, kekencangan, warna dan kualitas(1-5). Tidak kusangka Tuan Besar sudah mempersiapkan daging ini,” kata Tuan Yuki.
“Semua daging berkualitas tersedia. Kita tinggal melihat koki mana yang bisa mengolahnya dengan baik. Lagi pula, anak didik Anda juga pasti akan menggunakan daging yang sama yang berasal dari negara Anda sendiri,” kata Tuan Moriarty.
Tuan Yuki hanya tersenyum sambil menunduk, membuat ketiga pria di sana bingung. “Sayang sekali. Tapi Kein tidak menggunakan daging A5.”
......................
Ruang Regu B
__ADS_1
Nyonya Mary terbelalak saat melihat semua orang menggunakan daging sapi berkualitas, tapi Kein malah menggunakan daging lain.
Berbeda dengan Reon yang menggunakan daging A5, Kein malah menggunakan daging Sirlion, bagian daging sapi yang diolah menjadi steak. Hm, kata nyonya Mary dalam hati.
Ruang Regu A
Seperti biasa, Reon menyelesaikan kompetisi itu lebih dulu dan membawa hidangannya ke meja penguji.
“Roti A5 Wangyu, nasi bawang dengan lemak sapi dan mentega yang diatasnya diletakkan daging berbentuk bunga mawar besar,” kata Reon.
Para penguji pun mencicipinya dan terkesan dengan rasanya.
“Benar-benar keluarga Raymond,” kata salah satu penguji.
......................
Ruang Regu B
Di saat yang bersamaan Kein juga membawa hidangannya ke meja penguji.
“Chaliapin Steak Don,” kata Kein.
Tidak ada penguji yang berani mencicipi lebih dulu, sebelum Bookmaster mencicipinya. Nyonya Mary meraih sendok.
Deg!
Matanya memicing setelah mengunyah hindangan itu.
Dia memberikan anggur merah pada panci saat memasak daging. Setelah airnya menjadi pekat, dia menggunakan itu untuk menggoreng bawang. Selain itu rasanya tertata dengan kecap yang dibakar. Rasa yang agak masam ini, dia mencampurkan acar plum ke nasi, sehingga menghasilkan tekstur sempurna, kata nyonya Mary dalam hati.
Penguji dari kedua regu pun mengumumkan pemenang.
“Pemenang babak pertama kualifikasi Regu A adalah ... Reon Raymond!” kata MC regu A.
“Pemenang babak pertama kualifikasi Regu B, adalah Kamiya Kein,” kata MC regu B.
Tuan Moriarty tersenyum. "Hee~ tidak buruk juga. Istriku sampai terdiam karena hindangan anak didik Tuan Yuki."
"Aku akan menganggapnya sebagai pujian Tuan Besar," senyum Yuki.
......................
Sedangkan Eve, Kaji dan Kane yang menyaksikan acara itu dari rumah menghela nafas lega.
"Yey! Kakak menang! Aku sudah menduga hal itu," senang Kane.
__ADS_1
"Syukurlah," senyum Eve.
"Dia anak didik keluarga Kamiya. Jadi Kakak Yuki percaya kepadanya," kata Kaji.