
‘’Adam, apa yang kau katakan?’’ tanya Tuan Moriarty.
Adam tetap menatap Eve, menunggu jawaban dari wanita itu. Akan tetapi bibir Eve gemetar. Entah kenapa ia tidak bisa berbicara.
‘’Eve! Aku sedang bertanya kepadamu!’’ bentak Adam untuk pertama kalinya.
Tuan Moriarty sama kagetnya. Ini pertama kalinya ia melihat putranya meninggikan suara seperti itu. Pak Percy dan keluarganya hanya diam tanpa ikut campur.
‘’I-Itu,’’ kata Eve dengan mata berkaca-kaca.
‘’Adam, apa yang kau katakan? Tentu saja, bayi yang dikandung Eve adalah anakmu,’’ kata Tuan Moriarty.
Adam menatap ayahnya dengan alis berkerut. ‘’Aku bahkan belum pernah menyentuhnya, lalu bagaimana dia bisa hamil?’’
Deg!
Tuan Moriarty dan pak Percy membulatkan mata. Kedua pria dewasa itu bersamaan menatap Eve. Tidak lama kemudian, Tuan Moriarty terkekeh. Ia menganggap putranya sedang membuat lelucon. Tapi Adam menjelaskan kalau ia memang belum pernah menyentuh Eve.
‘’Eve, apakah itu benar?’’ tanya Tuan Moriarty berharap yang dikatakan putranya itu salah.
Eve hanya diam dengan tubuh gemetar, hingga akhirnya pak Percy angkat bicara.
‘’Eve?’’
Wanita yang dipanggil itu mendongakkan kepala menatap ayahnya. Semua tertegun melihatnya menangis.
‘’Haa, apa boleh buat. Aku yang akan mengatakan kebenarannya.’’
Semua langsung menatap ke arah Cordelia yang menyalakan ponselnya.
Wanita itu memperlihatkan sebuah rekaman yang menampilkan seorang wanita dan pria yang melakukan adegan tidak senonoh. Saat itu juga, mereka langsung mengetahui kalau wanita yang ada di rekaman tadi adalah Eve.
‘’Cordelia, apa maksudnya ini?’’ tanya Pak Percy.
‘’Ayah ingat waktu Kakak menepis tanganku saat pulang dari restoran? Ya, awalnya kami berdua memang ke restoran dan makan bersama. Tapi setelah kami berdua hendak pulang, Kakak memintaku menunggu di mo—"
‘’Dia berbohong! Aku sama sekali ti—‘’ kata Eve menyela pembicaraan, tapi ucapannya juga terpotong oleh suaminya.
‘’Diamlah! Kenapa kau baru ingin bicara?’’ perintah Adam.
‘’Adam, biarkan Eve bicara,’’ kata Tuan Moriarty.
‘’Kita sudah menyuruhnya bicara tadi, tetapi dia tetap diam. Lalu saat adiknya membuka mulut. kenapa dirinya baru ingin bicara?’’
__ADS_1
Tuan Moriarty terdiam melihat raut wajah putranya. Adam kembali menatap Cordelia dan meminta wanita itu untuk melanjutkan.
‘’Karena menunggu lama di mobil, aku kembali masuk ke dalam dan mencari Kakak. Salah satu pekerja restoran memberitahuku, kalau dia memesan sebuah kamar, jadi aku memintanya untuk mengantarku. Saat sampai di depan pintu kamar, aku mendengar suara aneh hingga akhirnya rekaman ini aku ambil.’’
Eve menggelengkan kepala melihat Adam sudah menatapnya dingin. Ia menatap ayahnya.
‘’Ayah, itu tidak benar. Percayalah padaku! Yang dikatakan Cordelia tidak benar,’’ kata Eve.
Bu Christa mendorongnya dan menenangkan suaminya. Eve kemudian menghampiri Tuan Moriarty.
‘’Tuan Besar, Anda menganggapku seperti anak kandung sendiri, sama seperti diriku mengganggap Anda sebagai ayahku. Kalau begitu, seharusnya orangtua memiliki keyakinan kepada anaknya,’’ kata Eve menangis.
Namun, karena merasa kecewa dan shock, Tuan Moriarty melepaskan genggaman Eve.
Wanita itu menangis. Kini tinggal Adam yang harus ia yakinkan.
Eve menghampiri Adam yang memalingkan kepalanya. ‘’Adam?’’
Tanpa menoleh, Adam sudah tahu kalau istrinya menangis tersedu-sedu.
Eve memanggilnya berulang kali.
‘’Tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku hanya ingin kau menjawab satu pertanyaanku,’’ kata Adam.
Eve hanya terdiam dengan butiran air mata yang mengalir. Dengan tangan gemetar sambil memejamkan mata, ia menarik nafas dalam-dalam. ‘’Benar ... Itu aku.‘’
Seperti terkena sambaran petir, tangan Adam refleks menampar Eve, membuat wanita itu tersungkur ke lantai. Di saat yang bersamaan, pak Percy langsung terkena serangan jantung. Bu Christa langsung panik.
Eve langsung menghampiri ayahnya, tapi bu Christa mendorongnya, membuatnya semakin menangis. Sedangkan Cordelia sangat menikmati pemandangan itu.
‘’Sekretaris Rey! Cepat bawa Pak Percy ke rumah sakit!” perintah Tuan Moriarty.
Sekretaris Rey yang hanya diam menyimak sejak tadi langsung menurut. Pria itu memapah pak Percy dengan bantuan bu Christa.
Selama perjalanan, Adam hanya diam menunduk. 2 mobil melaju di tengah derasnya hujan malam itu.
......................
Rumah Sakit
Semua menunggu di luar sambil menunggu pak Percy ditangani. Tanpa ragu, bu Christa langsung menampar Eve.
‘’Dasar wanita ******! Lihat perbuatanmu! Ayahmu terbaring di dalam sana karena dirimu! Benar-benar membuat kami malu!” marah bu Christa.
__ADS_1
Eve hanya menangis tanpa melakukan perlawanan, menerima cacian dari ibu tiri dan saudari tirinya. Ia mencemaskan ayahnya di dalam. Tuan Moriarty dan Adam juga hanya diam, begitu juga dengan sekretaris Rey.
Karena sudah tidak tahan mendengar keributan, Adam akhirnya angkat bicara. "Cukup!"
Pria itu berjalan menghampiri Eve sambil ditatap semua orang.
‘’Eve ... Aku membebaskanmu dari pernikahan ini.’’
Deg!
Mata Eve membulat besar disertai butiran air mata. Ia spontan berlutut di depan suaminya itu.
‘’Tidak, jangan lakukan ini kepadaku, kumohon! Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya. Kejadian itu adalah sebuah kecelakaan, bukan murni dari kemauanku, dan yang dikatakan Cordelia itu tidak benar! Aku tidak pernah menyuruhnya menunggu di dalam mobil,’’ kata Eve.
‘’Apakah rekaman itu terlihat bohong?’’ tanya Adam.
Eve tertegun, mengapa Adam sama sekali tidak ingin percaya. Padahal mereka berdua adalah pasangan suami-istri, dan seharusnya ada rasa kepercayaan di antara hubungan mereka.
Adam kembali menegaskan, dan tidak mengubah keputusannya untuk membebaskan Eve dari pernikahan mereka.
‘’Sekarang, kau sudah bukan bagian dari keluarga Raymond.’’
Butiran air mata mengalir deras dari sudut mata Eve. Sekujur tubuhnya gemetar hebat. Tangannya mengepal sambil meremas ujung celana Adam, lalu mendongakkan kepala.
‘’Kumohon ... Setidaknya biarkan aku di sisimu sampai anak ini lahir. Setelah itu aku akan pergi sejauh mungkin dari kehidupanmu,’’ kata Eve.
Adam hanya menatapnya dingin, lalu menarik kakinya sambil bergegas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Sebelum menyusul pergi, Tuan Moriarty memberitahu bu Christa agar menghubungi mereka jika pak Percy sudah sadar.
Eve terpaku melihat Adam pergi meninggalkannya begitu saja. Kini hal yang ia takutkan telah terjadi. Pria itu benar-benar menendangnya tanpa belas kasih. Ia berbalik menatap Cordelia dengan tatapan tidak suka, dengan air matanya yang masih mengalir.
‘’Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?’’ tanya Cordelia polos.
‘’Apa yang sudah kau lakukan kepadaku?’’
Cordelia mengerutkan dahi tidak mengerti sambil tersenyum. Eve membentaknya sekali lagi, membuat Cordelia melotot.
‘’Hheh, aku hanya memberimu obat penyubur kandungan,’’ kata Cordelia.
‘’Obat penyubur kandungan? Sejak kapan?’’ tanya Eve.
‘’Saat aku memanggilmu ke rumah untuk mengajariku memasak, juga beberapa jam yang lalu di dapur kediaman Raymond.’’
Raut wajah Eve langsung berubah begitu ia menyadari sesuatu.
__ADS_1
‘’Benar. Air putih yang Kakak minum di rumah waktu itu dan di dapur tadi, aku sudah menaruhkan obat penyubur kandungan ke dalamnya,’’ senyum Cordelia dengan mata memicing.