
Baru saja ia membaca informasi itu, sosok tersebut sudah datang. Tuan Moriarty dan Adam berdiri menyambut kedatangannya. Adam menatap ke arah beberapa pengawal yang ikut bersama pria itu.
Membawa puluhan pengawal, memang benar-benar seorang miliarder, kata Adam dalam hati.
‘’Anda telah datang, silahkan. Tuan Kamiya sudah memberitahuku kalau dia mengalami kecelakaan. Semoga Tuan Kamiya cepat sembuh,’’ kata Adam.
‘’Jadi kakak sudah memberitahu Anda, ya? Kalay begitu perkenalkan, saya adiknya, Kamiya Kaji, senang bertemu dengan Anda,’’ kata Kaji bersalaman dengan Adam dan Tuan Moriarty.
‘’Adam Raymond, dan dia adalah ayahku, Moriarty Raymond. Senang bertemu dengan Anda,’’ balas Adam bersalaman.
......................
Rumah Keluarga Laurence
‘’Eve, apakah sungguh tidak apa-apa, kau datang kemari?’’ tanya Pak Percy khawatir.
‘’Sudah aku bilang, tidak apa-apa Ayah. Aku sudah meminta izin kepada mertua dan suamiku.’’
Pak Percy menghela nafas. Ia menggenggam tangan putrinya dengan senyuman tipis.
‘’Maaf, karena diriku kau jadi kerepotan. Selain mengurus suami dan menjadi menantu Raymond, kau juga datang untuk melihatku, dan kembali melakukan tugasmu di keluarga Raymond.’’
Eve cemberut karena ayahnya sampai berpikir seperti itu. Sudah seharusnya ia pergi melihat kondisi ayahnya, meskipun sudah menikah.
‘’Apakah Ayah sudah minum obat?’’ tanyanya yang dijawab anggukan oleh pria itu.
‘’Kalau begitu Ayah istirahat saja. Nanti kubuatkan hidangan seperti biasa.’’
Pak Percy mengangguk. Sejak tadi ia juga ingin istirahat, tapi niatnya terhalang saat mendengar suara putrinya itu tadi. Ia menggenggam tangan putrinya sambil baring, dengan maksud membuatnya tenang.
Eve tidak mempermasalahkan hal itu. Ia menemani ayahnya sampai pria itu akhirnya tertidur. Sebelum keluar dari kamar, ia melepaskan genggaman ayahnya pelan-pelan dan menarik selimut untuknya.
Ia menutup pintu kamar tanpa menimbulkan suara, karena tidak ingin ayahnya sampai terbangun. Raut wajahnya langsung berubah saat melihat Cordelia menunggunya di ujung bawah tangga.
......................
Dapur
Kedua wanita muda itu berdiri saling bertatapan. Sejak tadi, ia mencari bu Christa, tetapi tidak melihat wanita itu.
‘’Kondisi Ayah baik-baik saja. Lalu apa maksudmu mengatakan ada hal yang mendesak di ponsel?’’ tanya Eve.
__ADS_1
Cordelia menghela nafas dengan raut wajah risau. Ia sedikit ragu untuk berbicara, membuat Eve mengerutkan dahi.
‘’Di mana, ibu?’’
‘’Ibu keluar membeli bahan!’’ jawab Cordelia ketus.
Dahi Eve berkerut. Sejak tadi tingkah adik tirinya itu sangat aneh.
‘’Aku, cih! Aku sebenarnya tidak sudi mengatakan hal ini, tapi aku mau Kakak mengajariku memasak.’’
Memasak? Apakah ini salah satu rencananya lagi untuk menjebakku? Tapi melihat bahan-bahan di dapur, sepertinya dia bersungguh-sungguh. Meskipun aku tetap merasa ragu, kata Eve dalam hati.
Cordelia mengerutkan dahi melihat reaksi Eve. Ia kembali berdecih dan menghela nafas kasar.
‘’Ya sudah, kalau tidak mau juga tidak apa-apa! Aku hanya tidak mau sering dimarahi ayah, karena itulah aku mengatakan ini hal yang mendesak.’’
Eve menghela nafas. Ia meletakkan tas miliknya dan mengikat rambutnya. Jujur, ia tetap mewaspadai gerak-gerik adik tirinya itu, sambil ia mengajarinya.
......................
Perusahaan Raymond
‘’Baiklah, seperti yang dikatakan kakak, semoga di antara 2 perusahaan ini tidak ada yang memutuskan hubungan kerja sama,’’ kata Kaji.
‘’Kita pergi menggunakan limousine milikku saja,’’ kata Kaji.
Ayah dan anak itu saling bertatapan dan menyetujui. Sekretaris Rey juga ikut bersama mereka.
......................
Akademi Chrysos
Sudah ada banyak wartawan yang menunggu di depan akademi tersebut. Saat sebuah limousine datang, para wartawan itu langsung mengepung. Beruntung, Kaji membawa banyak pengawal, membuat jalanan menjadi lebar dengan bantuan pengawalnya.
Adam dan Kaji berdiri di depan pita peresmian gunting acara. Kedua pria muda itu menjelaskan kepada wartawan mengenai tujuan mereka bekerja sama. Karena sama-sama memiliki akademi kuliner, Raymond Group dan Kamiya Group bergabung dan melakukan satu sistem yang sama. Melatih dan mengasah kemampuan pelajar untuk menghasilkan koki-koki hebat. Setelah kedua pria muda itu selesai, sekretaris Rey membawa nampan berisi gunting.
‘’Ayo melakukannya bersama-sama,’’ ajak Kaji.
Adam mengangguk disertai senyuman. Ia meraih gunting tersebut dan memegangnya bersama Kaji.
Kedua pria muda itu meresmikan acara tersebut dan menggunting pita peresmian sambil tersenyum ke arah kamera.
__ADS_1
......................
Rumah Keluarga Laurence
Seperti yang dikatakan Cordelia, bu Christa baru saja datang sambil membawa beberapa belanjaan. Wanita itu terbelalak melihat Eve dan Cordelia memasak di dapur.
‘’Kenapa kau di sini?’’
Eve mendongakkan kepala dan menyambut kedatangan bu Christa.
‘’Aku yang memanggilnya kemari untuk mengajari kita,’’ beritahu Cordelia.
Beberapa jam kemudian, setelah Eve mengajari kedua wanita itu dasar-dasar memasak, membuat Cordelia menyuruh kakak tirinya untuk duduk.
Eve masih mewaspadai kedua wanita itu. Tapi tidak ada gerak-gerik yang membuatnya curiga.
Apakah mereka memang bersungguh-sungguh belajar memasak? Hmm, katanya dalam hati.
Matanya kembali menyusuri setiap sudut dan sisi dapur, mencari benda-benda mencurigakan. Karena dirinya sudah menginjakkan kaki di dapur selama belasan tahun, membuat Eve menghafal semua posisi benda di sana.
Masih sama seperti biasa. Tidak ada apa pun yang mencurigakan, tapi aku harus tetap mewaspadai mereka, kata Eve dalam hati.
Cordelia datang sambil membawa nasi goreng ke hadapan Eve. Ia meminta kakak tirinya untuk mencicipi masakan pertamanya. Ragu-ragu, Eve meraih sendok dan melihat nasi goreng itu dengan teliti.
‘’Jika kau merasa ada racun di dalam makanannya, aku bisa memakannya lebih dulu di depanmu.’’
Eve menatap Cordelia meraih sendok lain lalu memakan masakannya. Melihat tidak ada reaksi apa pun, membuat Eve memakan nasi goreng tersebut.
Wanita itu terdiam setelah beberapa kunyahan memasuki tenggorokannya.
‘’Kau terlalu sedikit menambahkan garam, kecap dan sambal yang kau masukkan terlalu banyak, lada hitamnya juga terlalu kuat,’’ kata Eve meneguk air yang sudah dituangkan oleh bu Christa.
Eve kembali menatap Cordelia. Meskipun masakannya tidak terlalu sempurna, setidaknya adik tirinya itu sudah mau berusaha.
‘’Aku akan menuliskan beberapa resep untuk kau dan Ibu. Saat pertama kali, memang pasti gagal, tapi jika mengasah kemampuan terus, maka kalian sudah bisa memasak apa pun,’’ kata Eve kembali meneguk segelas air tadi.
Bu Christa dan Cordelia saling bertatapan. Mereka mengangguk dengan terpaksa dan kembali latihan memasak sambil ditemani Eve.
Hari mulai gelap. Entah berapa kalinya, bu Christa dan Cordelia memasak ulang sampai masakan mereka benar-benar layak untuk dimakan. Eve mencicipi kesekian kalinya.
‘’Mm, sudah lebih baik. Ibu dan Cordelia bisa istirahat, karena hari sudah mulai gelap. Aku ingin melihat ayah dulu.’’
__ADS_1
Bu Christa mendengus kesal. Rasanya ia sangat ingin menjambak rambut Eve, karena menyuruhnya mengulang masakan tadi sampai tangannya pegal. Berbeda dengan Cordelia, wanita itu tersenyum miring.