
‘’A-Apa?’’ tanya Cordelia tidak percaya.
Adam mengerutkan dahi tanda kesal. ‘’Aku tidak suka mengulangi perkataanku Cordelia.’’
Mata Cordelia berkaca-kaca sambil ia tersenyum remeh. ‘’Adam, dari dulu aku sangat menyukaimu dan itu tulus, lalu kau mengatakan aku hanya menyukai harta keluarga Raymond? Kau … Kau benar-benar melukai perasaanku!’’
‘’Apakah yang aku katakan itu salah?’’ tanya Adam.
‘’Tentu saja! Aku tulus menyukaimu tapi kau menuduhku menyukai harta keluargamu,’’ seru Cordelia.
Adam mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkannya kepada Cordelia. ‘’Lalu apa maksudnya ini? Kau menarik uang dari rekening dengan jumlah 500 juta sebanyak sembilan kali untuk apa?’’
Tuan Moriarty dan Nyonya Mary tersentak mendengar ucapan Adam dan langsung menatap Cordelia.
‘’Apa?! Menarik uang 500 juta sebanyak sembilan kali? Cordelia?! Kau gunakan uang sebanyak itu untuk apa?’’ tanya Nyonya Mary.
‘’Adam saja tidak pernah mengeluarkan uang sebanyak itu, tapi kenapa kau seboros itu?!’’ tegur Tuan Moriarty.
Apa? Bagaimana Adam mengetahuinya? Bukankah kartu yang dia berikan ini sudah aku manipulasi agar tidak ketahuan. Sial! Kalau begini aku benar-benar akan ditendang dari keluarga Raymond, kata Cordelia dalam hati.
‘’Kenapa kau diam? Sudah kehabisan alasan?’’ tanya Adam.
Cordelia langsung bersujud di kaki Adam membuat Reon terbelalak. Ibunya selalu saja membuang harga diri untuk memohon di depan pria dingin itu.
‘’Seseorang mengancamku!’’ pekik Cordelia.
‘’Mengancam setelah kau mengirimkannya uang 500 juta sebanyak sembilan kali? Apakah kau tidak memiliki alasan yang lebih masuk akal?’’ tanya Adam.
‘’Aku benar-benar diancam! Sebenarnya aku takut memberitahu kalian, jadi aku terpaksa menggunakan uang dari kartu yang kau berikan kepadaku. Dia selalu mengirimkan pesan ancaman. Dia mengatakan akan menghancurkan keluarga Raymond. Aku tidak mau hal itu terjadi, karena akan berdampak kepada keluarga kita. Jadi aku membungkamnya dan mengirimkan uang sebanyak itu agar dia tutup mulut. Kalau kau tidak percaya, pesan ancamannya masih ada di ponselku,’’ kata Cordelia.
Wanita itu menyalakan ponselnya dan hendak memperlihatkan pesan ancaman itu. Namun, belum sempat Cordelia memperlihatkan pesan itu, Adam merebut ponsel tersebut lalu membantingnya ke lantai.
Bruk!
‘’Adam, apa yang kau lakukan?!’’ seru Cordelia.
‘’Kau masih ingin memperlihatkan pesan ancaman itu? Akan lebih mudah kalau kau mengaku pesan ancaman itu juga bagian dari rencanamu, atau mungkin orang yang mengirimkan pesan ancaman itu adalah pembunuh bayaranmu? Kalian berdua bekerja sama untuk memeras keluarga Raymond, karena semua hak yang ada pada dirimu akan aku tarik setelah kita bercerai. Jadi, setelah kita berpisah, kau masih memiliki uang itu,’’ kata Adam.
__ADS_1
Plak! Plak! Plak!
Adam bertepuk tangan karena rencana Cordelia akan berakhir sempurna seperti yang ia katakan tadi.
‘’Adam, aku benar-benar diancam, kenapa kau menuduhku separah itu?’’ isak Cordelia merasa kecewa.
‘’Tidak apa-apa, akan kumaklumi untuk terakhir kalinya. Uang itu juga sama sekali tidak berarti bagiku jika harus mengibaratkannya denganmu,’’ kata Adam.
Deg!
Butiran air mata Cordelia berjatuhan. Hatinya benar-benar terluka bukan main karena pria di hadapannya itu. Padahal, dia sangat menyukai Adam lebih dari apa pun, tapi Adam malah memperlakukannya sebagai wanita yang tidak ada harganya.
Cordelia menunduk sambil meremas pakaiannya. Semua bisa melihat butiran air mata wanita itu terjatuh ke punggung tangannya. Adam yang melihatnya hanya diam.
Reon menggertak gigi sambil mengepalkan tangan. Matanya sudah memanas karena menahan amarah melihat ibunya diperlakukan seperti itu.
Mata Cordelia melirik sebuah tangan kecil menggengam tangannya. Ia mendongakkan kepala dan sudah melihat Reon di sampingnya dengan raut wajah tertahan.
‘’Ibu, ayo kita pergi. Tempat kita bukan di sini,’’ kata Reon.
Reon berusaha mempertahankan wajahnya, meskipun sekilas butiran air matanya terjatuh. ‘’Aku tahu Ibu mencemaskan diriku. Tapi aku sendiri juga tidak tahan tinggal di tempat memuakkan seperti di sini. Jadi ayo kita pergi.’’
Cordelia memejamkan mata hingga akhirnya menghela nafas panjang. Matanya pun terbuka perlahan. ‘’Baiklah, kalau itu kemauanmu.’’
Keluarga Raymond menatap Cordelia dan Reon yang hendak pergi.
‘’Aku tidak akan membiarkanmu pergi semudah itu,’’ kata Adam menghadang.
‘’Tuan Adam sendiri menginginkan kami pergi, lalu kenapa menghalangi kami? Sebenarnya apa yang Anda inginkan?!’’ seru Reon.
Mata Adam memicing. ‘’Aku baru akan mengizinkan kalian pergi setelah Cordelia menandatangani surat perceraian. Setelah itu terserah kalian.’’
Saat itu juga Sekretaris Rey tiba sambil membawa map. Pria itu menyerahkan map tersebut kepada Adam. ‘’Sesuai perintah Tuan Muda, surat perceraiannya sudah selesai.’’
Adam meraih pena lalu menandatangani surat perceraian tersebut lalu menyerahkannya kepada Cordelia.
Cordelia menatap surat itu sambil membacanya. Suaminya itu sungguh tidak main-main dengan ucapannya. Tangannya meremas kertas itu dan hendak merobeknya.
__ADS_1
‘’Terserah kau mau merobeknya, itu tidak akan berpengaruh dengan surat perceraian kita, karena kedua buku nikah kita ada di tanganku,’’ kata Adam.
Cordelia baru tersadar dengan buku nikah miliknya.
Kenapa aku baru terpikirkan buku nikah itu? Jika saja aku menyembunyikan buku nikah kami berdua, maka perceraian ini bisa dihindari, kata Cordelia dalam hati.
Melihat Cordelia diam, membuat Adam mengkode Sekretaris Rey.
‘’Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!’’ seru Cordelia yang ditahan oleh 2 pengawal.
Adam merebut surat itu lalu meletakkannya di atas meja, lalu menatap Cordelia. ‘’Kalau kau tidak ingin menandatanganinya, maka aku yang akan memaksamu.’’
‘’Adam! Ini namanya pemaksaan! Aku memang akan pergi dari rumah ini bersama Reon, tapi aku tidak mau bercerai denganmu,’’ kata Cordelia.
‘’Cepat paksa dia menandatangi surat perceraian itu!’’ perintah Adam.
Cordelia memberontak sambil mengepalkan tangan agar tidak membukanya. Sekretaris Rey dan kedua pengawal itu kewalahan memaksa Cordelia yang begitu keras kepala.
‘’Uhuk! Uhuk!’’ batuk Reon membuat Cordelia menoleh.
Matanya membulat besar melihat Adam mengangkat kerah leher baju Reon membuat anak itu tersedak sehingga terbatuk. ‘’Adam!’’
‘’Berhenti mengulur waktuku, jika kau seperti ini maka aku akan mengambil hak asuh Reon dan kau akan kehilangan hak atas anak ini,’’ kata Adam mengintimidasi.
‘’Uhuk! Aku tidak sudi hak asuhku ada di tangan pria dingin seperti Anda!’’ kesal Reon.
Sebelah alis Adam terangkat sambil menatap Reon. ‘’Siapa yang ingin mengambil hak asuhmu? Ucapanku belum selesai, hak asuh mengenai dirimu akan aku serahkan kepada ayah biologismu sendiri, Jeremy Marlo.’’
Deg!
Cordelia dan Reon tersentak. Adam kembali menatap Cordelia dan semakin mengangkat kerah leher belakang baju Reon ke atas membuat anak itu terbatuk.
Tangan Cordelia mengepal dengan raut wajah tertahan. Ia memejamkan mata begitu kuat hingga akhirnya menghela nafas kasar. ‘’Adam Raymond … Menggunakan Reon untuk memaksaku, kau benar-benar Iblis! Kau tidak memiliki hati nurani dengan memperlakukan anak kecil seperti itu, baiklah! Aku akan menandatangani surat perceraian ini, tapi lepaskan Reon dulu!’’
Bugh!
Reon terjatuh tersungkur ke tanah saat Adam langsung melepaskan genggamannya.
__ADS_1