
Kaji menatap Eve yang hanya diam sejak tadi sambil menyantap sarapan. “Kau masih marah padaku karena kejadian kemarin malam?”
Eve hanya diam sambil dilirik oleh kedua anak kembar itu.
“Ayolah, aku sudah minta maaf kepadamu,” kata Kaji.
“Tidak baik bicara saat makan,” kata Eve.
Kaji cemberut dan menghela nafas. “Baiklah. Aku tidak akan bicara, tapi aku hanya ingin menyampaikan kalau malam ini kau ada pertemuan dengan Tuan Adam.”
Deg!
“Uhuk! Uhuk!” batuk Eve tersedak membuatnya segera minum.
Ia menatap Kaji dengan tampang kaget. “Kenapa harus aku?”
Namun, Kaji hanya diam sambil menyantap sarapannya.
“Kaji-kun?!” panggil Eve.
“Tidak baik bicara saat makan,” kata Kaji mengingatkan.
Eve mengernyitkan alis sambil tersenyum, karena pria itu mengembalikan kalimatnya. Ia berulang kali membujuk Kaji agar pria itu menjelaskan maksud ucapannya tadi.
Kaji yang melihat raut wajah Eve seperti itu sangat menikmatinya dan tersenyum jahil. “Hem! Aku sudah selesai.”
Melihat Kaji berjalan pergi membuat Eve bergegas mengejarnya. “Aku juga selesai.”
Kane dan Kein yang melihat hal itu juga segera menyusul.
......................
Ruang Tamu
“Kaji-kun? Hei, apakah kau sengaja mengabaikanku?” tanya Eve berhasil menghadang pria itu sebelum menaiki tangga.
Kaji membuang wajah. “Bukankah kau marah padaku? Jadi aku diam. Aku sudah memberitahumu tadi. Sekarang aku mau ke kamar.”
“Tunggu! Baiklah, baiklah, aku memaafkanmu, jadi lain kali jangan mengulanginya!” kesal Eve.
Kepala Kane muncul dari balik tembok untuk menguping pembicaraan, sedangkan Kein hanya berdiri di belakangnya.
“Paman Kaji benar-benar tahu membujuk wanita,” kata Kane.
Kein hanya diam dan menunggu kedua orang dewasa itu bicara.
“Jadi apa maksudmu di meja makan barusan mengenai pertemuanku dengan Adam?” tanya Eve.
“Sekretaris Rey baru saja menghubungiku, kalau Tuan Adam meminta jadwal pertemuan dengan calon istriku malam ini,” kata Kaji.
“Aku menolak!” tegas Eve.
Kaji tersenyum dengan sebelah alis terangkat. “Sayang sekali. Aku menyetujui acara makan malam kalian berdua.”
“Apa?! Kenapa kau menyetujuinya? Bukankah ini seharusnya keputusanku mau menerima atau menolaknya?” tanya Eve.
Kaji tersenyum sambil memegang kedua bahu Eve. “Ini kesempatanmu untuk membalasnya. Setelah apa yang dilakukan mantan suamimu itu, kau selalu menolak dan melupakannya. Jangan-jangan kau masih mencintainya, ya?”
Eve dengan kasar menepis kedua tangan Kaji. “Siapa bilang aku masih mencintainya?! Dia meragukanku dan menendangku keluar tanpa belas kasih. Bahkan dia tidak peduli dengan penderitaanku selama ini, kenapa aku harus masih menyukainya?”
__ADS_1
“Kalau begitu datang dan balaskan rasa sakitmu kepadanya,” kata Kaji tanpa ragu.
Kaji mengerutkan dahi melihat Eve menunduk. “Kenapa?”
“Bisakah kau ikut?” tanya Eve.
“Haa ... Eve-chan, ini adalah masalah keluarga Raymond, dan aku dari keluarga Kamiya yang tidak ada sangkutannya tidak bisa mencampuri masalah kalian,” kata Kaji.
Eve menghela nafas panjang. “Terima kasih telah menyulitkanku.”
Kane hanya memasang raut wajah bodohnya sambil tersenyum. Sedangkan Kein hanya menghela nafas panjang.
......................
RayMNDS Food's
Eve menuruni mobil sambil mengenakan cave blazer selutut dan kacamata hitam model terbaru memasuki restoran mewah. Begitu masuk ke dalam, beberapa pekerja restoran menuntunnya ke salah satu ruang VVIP.
Ceklek!
Saat pintu terbuka, terlihat seorang pria duduk dengan beberapa hidangan mewah di depannya, dan pria yang satunya berdiri di sekitar meja.
Adam berdiri menyambut dan Sekretaris Rey memberi hormat. Eve duduk setelah dirinya dipersilahkan.
“Jadi kenapa Tuan Adam sampai mamanggilku untuk makam malam, dan bukan calon suamiku?” tanya Eve.
“Anggap ini sebagai permintaan maaf dari kami atas hal yang terjadi di pesta. Kami tidak ada niat menyinggung perasaan Nona Eve,” kata Adam.
“Baiklah, kalau kau memaksa,” kata Eve.
Keduanya pun makan malam sambil Adam melirik Eve sesekali.
Tuan Muda melirik Nona Eve sejak tadi. Haa, kata sekretaris Rey dalam hati.
“Hem! Maaf Nona Eve, saya tidak bermaksud menegur. Tapi kalau Nona Eve makan tanpa melepaskan kacamata Anda, bisa dibilang Anda tidak menghargai Tuan Muda,” kata Sekretaris Rey membuat Adam menatapnya kaget.
Rey! Kau memang yang terbaik, kata Adam dalam hati.
Tentu saja. Itu karena saya sudah mengenal Anda sejak kecil, kata Sekretaris Rey dalam hati.
Eve terdiam untuk sesaat, hingga akhirnya tersenyum sambil melepaskan kacamata hitam itu. “Ah, maaf. Kalau begitu akan kulepas.”
Deg!
Adam dan Sekretaris Rey tersentak melihat wajah Eve.
Aku sudah gila karena memperlihatkan wajahku kepada mereka. Kenapa aku tidak menolak dan mengatakan ini melanggar privasi orang, kata Eve dalam hati.
Namun, ia tertegun melihat Adam malah menangis. Sekretaris Rey yang mengikuti pandangan Eve langsung tersentak.
“Eh?” bingung Adam menyadari dirinya menangis.
Pria itu langsung menyeka air matanya dan kembali normal.
Ada apa dengan diriku? Kenapa aku malah menangis?! Apalagi di depan Eve, kata Adam dalam hati.
“Itu, aku hanya kelilipan. Maaf sudah membuat Nona Eve merasa tidak nyaman,” kata Adam.
“U-Um. Tidak apa-apa,” kata Eve.
__ADS_1
Entah kenapa perasaan Eve menjadi aneh setelah melihat Adam yang tanpa sengaja menangis tadi.
Kenapa dia malah menangis setelah melihat wajahku? Ada apa dengannya? Hm, kata Eve dalam hati.
“Sudah hampir pukul 9 malam, terima kasih atas jamuannya Tuan Adam,” kata Eve berjalan pergi.
Adam mengepalkan tangan. Ia berdiri dan menarik tangan Eve lalu mendorongnya ke tembok.
“Akh!” ringis Eve.
“Keluar!” perintah Adam tanpa menoleh, membuat Sekretaris Rey segera keluar.
“Tuan Adam apa yang kau lakukan?!” kaget Eve.
“Eve, kau Eve, kan? Kau ke mana saja selama ini? Lalu sekarang kenapa kau muncul sebagai calon istri Tuan Kaji?” tanya Adam.
“Tuan Adam, saya sudah menegaskan, kalau orang yang Anda maksud itu bukanlah saya!” tegas Eve.
“Pembohong!” seru Adam.
“Aku tidak berbohong! Lepaskan aku! Aku ingin pulang,” kata Eve tapi Adam tetap saja menahannya.
Adam mengangkat tangan Eve dan memperlihatkan gelang akar bahar kepala naga emas itu. “Kalau begitu, katakan padaku mengenai gelang di tanganmu ini? Gelang ini hanya dimiliki oleh keluarga Raymond dan tidak duanya. Dari mana kau mendapatkannya?”
Eve tertegun. Seharusnya sebelum pergi, ia melepaskan gelang itu terlebih dahulu. Tapi semua sudah terlambat.
“Kenapa kau diam? Kau tidak bisa mencari alasan lagi untuk berbohong? Kenapa kau selalu saja membohongiku?!” seru Adam.
“Cukup! Aku sudah tidak tahan dengan omong kosong Anda Tuan Adam! Namaku memang Eve, tapi aku bukan orang yang Anda maksud,” kata Eve.
Adam menggertak gigi membuatnya mencium Eve.
Wanita itu melotot dan langsung mendorong Adam.
“Tuan Adam! Aku ini calon istri dari seseorang, bersikaplah lebih bijak!” tegur Eve.
Eve hendak membuka pintu tapi Adam langsung menariknya kembali. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi kali ini.”
“Tuan Adam, Anda ini benar-benar gila! Hentikan!” seru Eve saat pria itu hendak menyerangnya.
Ceklek!
Saat itu juga Sekretaris Rey berbalik karena melihat posisi kedua orang di dalam, kecuali Kaji yang sudah memasang raut wajah dingin.
“Ka-Kaji-kun,” isak Eve.
“Tuan Adam, kuharap Anda bisa menjelaskan situasi ini,” kata Kaji.
Adam melepaskan cengkeramannya di bahu Eve dan menatap Kaji sama dinginnya. “Anda melihat yang sebenarnya. Untuk apa aku menjelaskannya lagi?”
Kaji memicingkan mata. “Acara makan malamnya sudah selesai, kan? Aku datang untuk menjemput calon istriku.”
Ia melepaskan blazer miliknya untuk menutupi tubuh atas Eve yang sedikit terekspos.
Sebelum membawa Eve keluar, Kaji menolehkan sedikit kepalanya. “Aku akan menganggap tidak melihat apa pun saat Anda hendak menyerang calon istriku, jika Tuan Adam berhenti menganggapnya adalah orang yang Anda kenal itu. Shitsurei shimasu(Permisi).”
Adam yang melihat Eve dibawa pergi oleh Kaji sambil pria itu merangkulnya, membuatnya langsung meninju tembok.
“Cih!” kesal Adam tanpa peduli tangannya sudah berdarah.
__ADS_1