Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 30 Datangnya Para Wartawan


__ADS_3

“Ini kesempatanku untuk mendekati Adam Raymond,” kata Cordelia menatap dirinya di cermin, memastikan penampilannya tidak ada yang kurang.


Ceklek!


Bu Christa mengerutkan dahi melihat penampilan putrinya. “Kau akan pergi ke mana dengan baju seperti itu?”


Cordelia menggerakkan wajahnya ke kanan dan ke kiri sambil tersenyum. “Untuk bertemu calon menantu Ibu.”


“Calon menantu? Hhah? Apakah maksudmu Adam Raymond?!” pekik bu Christa.


“Kenapa Ibu begitu tegang?” tanya Cordelia.


“Dengar, kondisi keluarga Raymond sedang tidak baik karena masalah yang ditimbulkan Eve. Kalau kau ingin mendekati Adam, maka waktunya bukan sekarang. Kita harus tunggu sampai keadaan memba—“


“Tidak. Aku sudah pernah mendengarkan saran Ibu untuk tidak mengungkap kehamilan kakak, dan sekarang, aku tidak akan mendengarkan saran Ibu lagi. Aku akan mendekati Adam Raymond!” tegas Cordelia.


“Tapi kau akan bertemu dengannya di mana malam begini?” tanya bu Christa.


Cordelia hanya senyum dengan sebelah alis terangkat. “Ibu tenang saja. Aku mendapatkan informasi dari seseorang kalau Adam saat ini ada di bar milik temannya.”


“Seorang Adam berada di sebuah bar?” tidak percaya bu Christa.


“Aku tidak peduli apa alasannya, yang pasti malam ini aku harus mendapatkan pria itu,” senyum Cordelia bangkit.


Bu Christa hanya menghela nafas melihat kepergian putrinya. “Lebih baik aku pasrah saja. Kalau aku melarangnya, dia pasti akan mengamuk lagi. Suamiku sudah tidak bekerja lagi, akan gawat kalau dia tahu sosok Cordelia yang sebenarnya.”


......................


Jepang


Sudah seharian Eve keliling tapi tidak ada yang menerimanya satu pun. Jika saja berkasnya lengkap, kurasa sejak tadi ia sudah bekerja di restoran milik bu Honda.


“Haa, aku harus mencari pekerjaan ke mana lagi? Rasanya kakiku sudah pegal bukan main. Aku bahkan hampir menyusuri seluruh sisi kota ini,” kata Eve berhenti sejenak dan duduk.


Entah kenapa pandangannya menjadi buram, kepalanya juga sedikit pusing.


Eh? Kenapa aku merasa seperti ini? Rasanya aku ingin....


Bugh!

__ADS_1


Orang yang lalu lalang langsung menghampirinya dengan cemas.


“Nona? Hei, sadarlah!”


“Rumah sakit, di mana rumah sakit?!”


“Sebaiknya segera bawa dia!”


Karena kesadarannya menurun, ia tidak mendengar dengan jelas suara-suara itu.


......................


Rumah Sakit


Setelah menjalani perawatan, akhirnya Eve sadar. Ia kaget karena ada beberapa orang yang membawanya ke rumah sakit.


“Kenapa aku ada di sini?” tanya Eve.


“Orang-orang ini melihat Anda jatuh pingsan, jadi mereka segera membawa Nona kemari. Kupikir mereka adalah kerabat Anda,” kata dokter muda.


Eve terbelalak. Padahal mereka tidak memiliki hubungan darah, tapi beberapa orang itu sampai membawanya ke rumah sakit dan menunggunya sadar.


Beberapa orang itu hanya tersenyum dan tidak mempermasalahkannya.


“Tapi Nona, kalau sudah tahu Anda sedang mengandung, seharusnya Anda tidak melakukan pekerjaan yang berat. Itu akan mempengaruhi kondisi janin Anda. Apa yang Anda lakukan di jam 1 dini hari seperti ini?”


Deg!


Eve tertegun, ia baru ingat kalau dirinya sedang mengandung. Apalagi sejak pagi, ia keliling dengan berjalan kaki. Tentu saja staminanya menurun. Jadi wajar saja ia jatuh pingsan karena kelelahan.


“Kalau begitu, apakah janin di dalam perut saya baik-baik saja?” tanya Eve cemas.


Dokter muda itu hanya menghela nafas sambil tersenyum. “Belum ada gangguan sama sekali. Tapi lain kali jangan lakukan pekerjaan yang berat lagi.”


Eve menghela nafas lega sambil memegang perutnya. Ia pikir janinnya sudah bermasalah.


"Lebih baik Nona menginap saja dulu, dan baru pergi saat matahari terbit."


......................

__ADS_1


Bar


Musik, kumpulan wanita beserta jamuan minum, tentu saja ini hal biasa dalam bar. Meski begitu, Adam tidak peduli dengan wanita-wanita yang menghampirinya.


“Oh ayolah, kenapa kau masih tetap dingin meskipun sudah menikah? Apakah istrimu itu tidak memuaskan dirimu?” tanya seorang pria seumurannya.


“Vano, kalau kau bicara lagi, aku akan menutup bar milikmu ini,” kata Adam.


Vano hanya menelan salivanya sambil tersenyum kaku. Ia tidak menyangka teman terdekatnya itu benar-benar sudah menikah.


Aku tarik ucapanku kembali. Bukan istrinya yang tidak bisa memuaskan Adam, tapi Adam sendiri yang tidak bisa memuaskan istrinya. Lagi pula, siapa yang akan tahan dengan manusia es seperti dirinya? Haa, wanita yang menikahi Adam, dia benar-benar hebat, kata Vano dalam hati.


Adam menghela nafas lalu berdiri.


“Kau mau ke mana?” tanya Vano.


Adam hanya diam dan tidak peduli, membuat Vano cemberut.


Pria tadi lebih memilih sibuk dengan wanita-wanita cantik di sekitarnya.


......................


Beberapa jam kemudian setelah Adam keluar, membuat Vano sedikit cemas.


“Ini hampir 2 jam dia keluar, apakah harus selama itu ke toilet? Mobilnya juga masih terparkir, tidak mungkin dia pulang menaiki taksi,” kata Vano.


Saat itu juga matanya membulat besar melihat puluhan wartawan langsung memasuki bar miliknya. “E-Eh?! Ada apa ini? Eish, Adam … Apa yang dia lakukan lagi?!”


Vano keluar sambil melihat wartawan itu menghampirinya. “Hem! Sebenarnya ini ada apa sampai kalian ke—“


Ucapannya terhenti karena puluhan wartawan itu tidak peduli padanya dan bergegas menuju ke sebuah ruangan.


“Eh? Bukankah mereka datang untukku? Kalau begitu untuk siapa?”


Tanpa basa-basi, Vano juga langsung mengikuti puluhan wartawan itu.


...Visual Vano...


__ADS_1


__ADS_2