
“Wah Reon, selamat kau lolos ke 16 besar. Aku yakin kau pasti akan memenangkan kompetisi ini lagi,” kata Bu Christa memeluk cucunya itu.
Reon tersenyum dan membalas pelukan tadi. “Kenapa Nenek dan Kakek baru datang?”
“Jalanan sangat macet jadi kami datang terlambat. Maaf, ya?” kata Pak Percy.
“Tidak apa-apa,” kata Reon.
Tuan Moriarty, Nyonya Mary dan Sekretaris Rey juga memberi ucapan, kecuali satu orang.
Ayah tidak memberiku selamat lagi, kata Reon dalam hati.
Cordelia yang melihatnya langsung terkekeh pelan. “Reon sudah bekerja keras seperti biasa. Tidakkah kau ingin memberikan ucapan juga kepadanya?”
Adam menatap Reon sekilas. “Apa yang terjadi hari ini, aku tidak ingin melihatnya terulang lagi! Berdebat di tengah-tengah kompetisi bukan cara memasak dari keluarga Raymond.”
Reon terbelalak begitu juga Cordelia.
“Lebih baik kita pulang,” kata Adam berjalan pergi disusul ayah, ibu dan sekretarisnya.
“Apa-apaan itu? Dia selalu saja bertingkah dingin kepada anaknya sendiri,” kesal Bu Christa.
“Sudahlah. Bukankah Tuan Muda memang seperti itu? Jika menegur anaknya, itu berarti Tuan Muda memperlihatkan kasih sayangnya kepada Reon,” kata Pak Percy.
Apanya yang kasih sayang? Aku hidup tanpa kasih sayang dari mereka selama 5 tahun ini, kata Reon dalam hati.
“Kami akan kembali besok untuk melihat pertandinganmu. Semoga sukses,” Kata bu Christa.
“Terima kasih Nenek,” kata Reon.
......................
Perjalanan…
Cordelia menatap Reon yang hanya menatap keluar jendela, begitu juga dengan Adam. Ia hanya menghela nafas hingga ponselnya berbunyi. Ia menggeser layar dan membuka sebuah pesan.
Deg!
Matanya membulat besar melihat si pengirim pesan.
“Kenapa?” tanya Adam membuat Cordelia tersentak.
“Eh? Ahaha! Tidak ada apa-apa. Ponselku mati daya jadi aku kaget. Padahal aku ingin mengecek grup sosialitaku. Hehe,” kata Cordelia.
Adam hanya mengabaikan dan kembali menatap keluar jendela mobil.
Siapa yang mengirim pesan ini? Kurang ajar, kata Cordelia dalam hati.
Tangannya mengepal sambil menahan urat-urat di lehernya yang sudah menegang dengan senyuman.
Sekretaris Rey mengerutkan dahi.
Kenapa raut wajah Nona Cordelia begitu tegang hanya karena baterai ponselnya habis? Aneh, katanya dalam hati.
......................
Kediaman Kamiya di Indonesia
Kane tersenyum miring sambil menatap layar laptopnya dengan puas mengerjai wanita itu.
“Kenapa kau senyum-senyum begitu?” tanya Eve.
Klik!
Dengan cepat Kane menekan salah satu tombol keyboard dan menggerakkan tangannya.
“Kau sedang tidak menonton genre +18, kan? Perlihatkan padaku!” perintah Eve langsung merebut laptop itu.
Ia dan Kaji menatap layar laptop dan terbelalak.
“Ini,” kata Kaji menggantung.
Kane hanya menunduk karena merasa malu.
“Puff! Kane-kun, kau memainkan Love Nikki game dress up? Inikan permainan anak perempuan. Haha,” kekeh Kaji.
“Ya Tuhan, kupikir ada yang aneh, ternyata kau main game beginian? Kane, kau itu laki-laki. Kenapa memainkan permainan anak perempuan?” tanya Eve mengembalikkan laptop.
Kane hanya memiringkan kepalanya sedikit sambil tersenyum kaku.
Ting!
__ADS_1
Saat itu juga bel rumah berbunyi.
“Itu pasti mereka,” kata Kaji menoleh.
“Selamat datang Tuan Yuki, Tuan Kein,” salam para pelayan membungkuk memberi hormat.
“Tadaima(Aku pulang),” kata Yuki.
“Okaeri Nii-san, Kein-kun,” balas Kaji.
Kane langsung memberi tos kepada kakaknya. “Selamat. Kakak benar-benar keren.”
“Terima kasih,” balas Kein.
Eve dan Kaji beserta para pelayan dan juga koki memberi selamat kepada Kein.
......................
Ruang Makan
“Besok adalah babak 16 besar. Aku percaya kau akan lolos seperti biasa,” kata Tuan Yuki.
“Tentu saja Paman Yuki. Kakak pasti lolos karena julukannya sebagai Si Iblis Makanan akan tercoreng jika sampai gagal,” ejek Kane.
Kein hanya menatap adiknya itu dingin, meskipun Kane tidak merasa tertekan.
“Oh iya, aku juga ingin menyampaikan sesuatu. Tuan Adam memintaku untuk mengundang kalian semua untuk hadir besok menyaksikan kompetisi,” kata Tuan Yuki.
Sendok yang dipegang Eve langsung terhenti begitu juga dengan Kaji. Keduanya terdiam sambil saling memandang.
Tuan Yuki yang melihatnya mengerutkan dahi. “Ada apa?”
“Baiklah. Rasanya tidak enak kalau menolak ajakan Tuan Adam yang meminta kita semua untuk hadir. Iya, kan? Eve-chan,” kata Kaji memberi kode.
“I-Iya benar. Kami akan hadir besok,” kata Eve.
......................
Kediaman Raymond
“Di mana Cordelia? Kenapa dia tidak ikut malam malam?” tanya Tuan Moriarty.
“Tidak enak badan? Bukankah saat perjalanan pulang dia masih baik-baik saja? Kenapa tiba-tiba merasa tidak enak badan?” tanya Nyonya Mary.
......................
Kamar Cordelia
“Sial! Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?” gerutu Cordelia yang mondar-mandir sambil menghubungi seseorang.
“Argh!” kesalnya membanting ponsel miliknya ke kasur.
Tangannya mengepal dengan rasa gemetar, tapi raut wajahnya merah padam.
“Apakah mungkin yang mengirim pesan ini adalah pembunuh bayaran itu? Beraninya mereka mengancamku,” kata Cordelia.
......................
Kediaman Kamiya di Indonesia
Setelah semua makan malam, mereka menuju ke kamar masing-masing.
“Kaji-kun, kenapa kau menyetujui ajakan Adam? Seharusnya kau menolaknya tadi di depan Yuki-san,” kata Eve.
“Apakah kau ingin kakak mengetahui masa lalumu? Tidak, kan? Kalau mengambil alasan sakit, kakak akan curiga karena kau terlihat sehat,” kata Kaji.
“Tapi kau tahu aku tidak ingin bertemu dengannya untuk sementara, semenjak kejadian di restoran itu,” kata Eve.
Kaji menghela nafas. “Baiklah. Aku akan mengurusnya.”
......................
Kamar Kane dan Kein
“Ada panggilan yang begitu banyak, puff!” kekeh Kane.
Kein mengerutkan dahi sambil menghampiri adiknya.
“Hihi. Dia pasti dipenuhi rasa kecemasan,” kata Kane.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Kein merasa risih melihat senyuman adiknya.
__ADS_1
“Sekarang aku tahu cara untuk bersenang-senang. Hahahaha! Wuahahahaha!” tawa Kane layaknya raja iblis.
Kein memutar bola matanya malas sambil menuju ke kamar mandi. “Terserah.”
......................
Keesokan harinya…
“Eh? Eve-chan tidak ikut?” tanya Tuan Yuki.
“Tiba-tiba dia demam karena mandi terlalu lama kemarin malam. Jadi hanya aku dan Kane yang akan ikut,” kata Kaji.
“Sayang sekali. Tapi apakah dokter sudah memeriksanya?” tanya Tuan Yuki.
“Aku menghubunginya tengah malam karena Kane memanggilku ke kamar Eve-chan,” kata Kaji.
“Eh? Dia? Maksudmu kau memanggilnya dari Jepang, untuk datang kemari hanya karena demam Eve-san?” tanya Tuan Yuki tidak percaya.
Kedua anak kembar itu hanya diam menyimak.
“Tidak apa-apa. Dia juga bilang sekalian ingin jalan-jalan ke Indonesia untuk menyaksikan kompetisi Kein-kun,” kata Kaji.
Tuan Yuki menghela nafas. “Ya sudah, kami pergi dulu.”
Haa, pada akhirnya tetap mengambil alasan sakit. Semoga kau cepat sembuh Eve-chan, kata Kaji dalam hati.
“Kakak, dia yang dimaksud Paman Yuki dan Paman Kaji tadi pasti adalah orang itu, kan?” bisik Kane.
Kein hanya mengangguk membenarkan. Kane terdiam sambil menopang dagu hingga akhirnya ia menjentikkan jari.
Ah benar juga! Kebetulan sekali, kata Kane dalam hati.
......................
Akademi Chrysos
“Halo semuanya, baru saja babak kualifikasi kemarin telah selesai dan sekarang sudah memasuki babak 16 besar. Kalian yang lolos di sini adalah kandidat pemenang. Jadi gunakan cara yang jujur karena jika tidak, bahkan sebelum kompetisi dimulai, kami tidak akan ragu untuk mengeliminasi kalian,” kata salah satu penguji memberi sambutan.
Pria itu menatap 16 peserta yang berbaris di depan meja dapur masing-masing setelah mengambil undian. “Babak ini akan menjadi ujian individu. Kali ini bahan masakannya tidak ditentukan, jadi siapa yang cepat dia yang akan dapat, dan tema hidangan kali ini adalah … Mie!”
“Hee jadi mie, ya? Kebetulan sekali, itu fast food favorit semua orang,” kata Mark.
“Tapi pengujinya bilang siapa yang cepat dia yang akan dapat. Berarti bahannya dibatasi,” kata Reon.
“Kalau begitu, mulai memasak!” perintah penguji membuat 16 peserta langsung menuju ke tempat penyimpanan makanan khusus babak 16 besar.
Semua berlomba-lomba untuk mengambil bahan masak. Setelah Kein selesai dan hendak menuju ke meja dapur. Langkahnya terhenti saat melihat Mark menuju ke suatu tempat.
Kein mendorong troli milik bahan-bahannya ke arah Mark pergi tadi. “Ke mana dia ingin pergi saat kompetisi berlangsung?”
“Kumohon! Hanya aku yang tidak memiliki bahan. Kalau aku tidak ikut kompetisi ini maka restoranku akan dinilai jelek, hiks!”
Dia menangis dan memohon kepada siapa? Hm, kata Kein dalam hati.
Begitu kepalanya muncul untuk mengintip di balik rak, tiba-tiba seseorang memukulnya.
......................
Kediaman Kamiya di Indonesia
“Nona Muda, biarkan saya yang menyalakan TV,” kata salah satu pelayan.
Acara kompetisi masak pun telah dimulai. Di saat bersamaan, sosok pria muncul membuat Eve terbelalak.
“Dokter Yuu? Kau di sini?” tanya Eve.
Dokter muda itu tersenyum sambil menyapanya dengan sebelah tangan.
......................
Akademi Chrysos
Kein mengerutkan dahi sambil meringis memegang lehernya.
“Eh? Ini di mana?” tanya Kein menatap ke segala arah.
Ruangan yang gelap tanpa celah udara membuatnya panik.
Deg!
Kompetisinya! Sial, pekiknya dalam hati mencari pintu keluar.
__ADS_1