
Kein merasa sedikit dingin sambil melihat adiknya yang bereaksi berbeda.
‘’Kau salah ... Justru akulah yang menang. Kau memberi kode kepada adikmu tanpa memberitahu pelakunya. Aku tidak sabar menunggunya. Bicaralah dengan adikmu itu untuk terakhir kalinya.’’ (Kein teringat)
Deg!
Kedua ruangan mulai dipenuhi gas tadi, membuat Kein memukul pembatas kaca dan memanggil adiknya.
‘’Kane! Apakah kau mendengarku?!’’ tanya Kein.
‘’Apa?!’’ tanya Kane tidak mengerti.
‘’Kau tidak mendengarku?!’’ tanya Kein sekali lagi.
‘’Aku tidak mengerti dengan apa yang Kakak katakan!’’ kata Kane.
Kein berdecih karena sepertinya Kane tidak mendengar suaranya.
‘’Kakak, ada apa?!’’ tanya Kane yang melihat raut kebingungan di wajah kakaknya.
Tidak lama kemudian, Kein memanfaatkan kaca yang berembun untuk menyampaikan sesuatu kepada adiknya.
Kane mengerutkan dahi melihat kakaknya menggambar simbol kartu remi seperti yang ia kirim di pesan, membuatnya membaca kode itu.
‘’Hannin wa(Pelakunya adalah)….’’
Deg!
Mata Kane membulat besar karena kakaknya langsung terjatuh sebelum menyelesaikan kalimat itu. ‘’Kakak! Uhuk!’’
Secara perlahan, kedua anak kembar tadi mulai kehabisan oksigen dan sebentar lagi hilang kesadaran.
......................
‘’Kane-kun, Kane-kun!’’
Kane mengerutkan dahi setelah mendengar seseorang memanggilnya. Ia pun membuka mata dengan pelan.
‘’Syukurlah, akhirnya kau sadar juga,’’ kata Dokter Yuu.
Dengan cepat, Kane bangkit setelah mengingat kejadian tadi. ‘’Pelakunya….’’
‘’Kami tahu, pelakunya berhasil melarikan diri,’’ kata Dokter Yuu.
‘’Apa?’’ tanya Kane tidak percaya.
Dahinya berkerut melihat semua orang tampak berkerumun di depan kakaknya yang terbaring tidak jauh tempatnya berada. Terutama Kaji yang hanya duduk termenung.
‘’Ada apa, apakah Kakak baik-baik saja?’’ tanya Kane.
Semua hanya diam dengan wajah sendu, membuat Kane kesal karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya.
‘’Paman Yuu, apakah semuanya baik-baik saja?’’ tanya Kane.
‘’Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada Eve-chan,’’ kata Kaji.
__ADS_1
‘’Eh? Kenapa Paman Kaji menangis?’’ tanya Kane mulai merasa tidak enak.
Dengan kondisi yang masih lemah, Kane berdiri dan berjalan menghampiri kerumunan orang di sekitar kakaknya berada. Ia menatap dokter wanita yang berada di sekitar sisi Kein. ‘’Paman Yuu ada di sini, kenapa memanggil dokter lain?’’
‘’Yuu-san sudah memeriksa kondisi Kein-kun, tapi kami tidak percaya dan ingin memastikannya,’’ kata Tuan Giruberuto.
‘’Memastikan?’’ bingung Kane.
Dokter wanita itu menghela nafas panjang dengan wajah tidak berdaya. ‘’Moushiwake arimasen, Kane-sama. Tapi, sayang sekali, Kein-sama telah meninggal.’’
Deg!
‘’Hah? Meninggal?’’ tatap Kane tidak percaya.
‘’Sementara ini, sebab kematiannya belum diketahui. Setelah autopsi, kurasa kita akan mengetahuinya,’’ kata dokter wanita.
‘’Tolong segera dilakukan,’’ kata Nyonya Zekino dengan nada terpaksa.
Kane masih terpaku di tempatnya sambil melihat tubuh kakaknya diangkat ke tandu lalu ditutupi kain.
Inspektur dan petugas Reiki datang menghampiri.
‘’Sebagai saksi utama pembunuhan, Tuan Kane harap ikut kami ke kantor polisi sekarang juga,’’ kata Inspektur.
Melihat kakaknya dibawa pergi membuat Kane hendak menghampirinya. Namun, ia ditahan oleh petugas Reiki.
‘’Tunggu! Tunggu dulu!’’ teriak Kane berusaha mencapai kakaknya.
‘’Tuan Kane, tolong tenang! Tubuh saudara Anda sudah dingin!’’ kata Petugas Reiki.
‘’Ha?! Omong kosong apa ini? Bagaimana mungkin ini terjadi,’’ kata Kane berontak.
‘’Tunggu!’’ seru Kane.
Petugas Reiki membawa Kane menjauh, membuat anak itu berontak sekuat tenaga.
‘’Kakak!’’
‘’Aku mengerti perasaan Anda, Tuan Kane. Tapi yang bisa Anda lakukan sekarang adalah memberitahu kami semuanya,’’ kata Petugas Reiki.
‘’Lepaskan!’’ kata Kane.
‘’Ikut kami ke kantor polisi,’’ kata Inspektur.
‘’Lepas! Paman Kaji! Paman Yuki! Beritahu mereka untuk melepaskanku!’’ teriak Kane.
Namun orang yang dipanggil tidak berdaya. Kane beralih ke Tuan Giruberuto dan Nyonya Vaioretto, tapi mereka juga sama diamnya. Bahkan Tuan Zanmu dan Nyonya Zekino juga hanya diam.
Kane menggertak gigi karena semuanya hanya diam dan pasrah.
‘’Kakak! Kakak?! Kakak!!’’ seru Kane.
......................
Mansion Pribadi
__ADS_1
Bugh!
‘’Tidak, ini tidak mungkin!’’ isak Kaji memukul meja.
Semua hanya menunduk dengan wajah sedih karena berita duka ini.
‘’Kita belum menyelesaikan masalah Nona Eve, kondisi Kein-kun masih belum pulih sepenuhnya setelah diracuni, dan anak itu telah dibunuh, lalu sekarang Kane-kun dibawah ke kantor polisi karena menjadi saksi utama pembunuhan. Haa, aku belum pernah menghadapi kasus seberat ini,’’ kata Nyonya Zekino memegang kepalanya yang seperti ingin pecah.
Adam yang mendengarnya menggertak gigi sambil mengepalkan tangan.
‘’Eve, apa yang akan terjadi setelah dia tahu salah satu putranya telah tiada? Bagaimana dia akan menghadapi hal ini?’’ isak Vic.
Hakuba yang tidak bisa melakukan apa pun, hanya bisa menenangkan wanita itu.
......................
Kantor Polisi, Okinawa
Petugas Reiki menatap Kane yang hanya diam di sampingnya. ‘’Anda sudah lebih tenang, ya?’’
‘’Bagaimana bisa kalian menemukan kami?’’ tanya Kane.
‘’Nyonya Muda mengawasi kalian melalui CCTV pelabuhan. Dan melihatmu memasuki sebuah bangunan. Tapi, karena Anda tidak kunjung keluar dalam waktu yang lama, membuat Nyonya Muda mengutus petugas menghampiri bangunan yang Anda datangi,’’ kata Inspektur.
‘’Mereka menemukan Anda berdua tidak sadarkan diri dalam ruangan berkaca di loteng, hingga akhirnya membawa Anda berdua keluar. Tapi, mereka tidak menemukan pelaku yang menculik Tuan Kein,’’ kata Petugas Reiki.
Kane tersadar kalau ia berada di kantor polisi saat ini, membuatnya ingin bertemu dengan ibunya sebentar saja.
‘’Kane! Kau datang? Tapi di mana Kein? Aku sangat merindukan kalian berdua,’’ kata Eve.
Tangan Kane mengepal. ‘’Ibu….’’
Eve mengerutkan dahi melihat Kane menangis. Ia juga menatap Inspektur, petugas Reiki dan petugas lainnya yang ikut bersama Kane.
Kenapa mereka semua sampai datang hanya karena mengantar Kane bertemu denganku? Eh, kata Eve dalam hati.
Bibir Kane sedikit gemetar. ‘’Bagaimana kabar Ibu?’’
‘’Aku baik. Bagaimana dengan kalian? Apakah Kaji-kun juga sudah memecahkan kasus yang menuduhku? Kenapa kau menangis?’’ tanya Eve.
‘’Semuanya sehat seperti biasa. Lalu Paman Kaji … Kami semua masih mencari petunjuk untuk membuktikan Ibu tidak bersalah,’’ kata Kane.
‘’Kurasa sudah cukup bertemunya. Tuan Kane, Anda harus segera ikut bersama kami untuk melaporkan keterangan,’’ kata Inspektur.
‘’Eh? Kane? Apa yang terjadi sampai dia harus dibawa melapor?’’ tanya Eve.
Inspektur dan petugas Reiki saling bertatapan hingga akhirnya menghela nafas.
‘’Nona Eve, Anda harus tegar. Hari ini, salah satu putra Anda, Tuan Kein ... Telah meninggal.’’
Deg!
Layaknya terkena sengatan sambaran petir, tubuh Eve terpaku dengan mata membulat besar. Jantungnya seolah-olah berhenti untuk sesaat.
‘’Dan Tuan Kane adalah saksi utama pembunuhan, karena itulah kami harus segera membawanya pergi,’’ kata Inspektur.
__ADS_1
Eve kembali melirik Kane yang hanya diam menunduk. ‘’A-Apa? Kein … Dia meninggal?’’
‘’Kami mengerti dengan perasaan Nona Eve. Tapi kami harus pergi. Shitsurei shimasu(Permisi),’’ kata Inspektur menarik Kane yang tidak berdaya.