Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 19 Memasak Bersama


__ADS_3

Sebuah limousine terhenti di halaman rumah mewah bergaya Eropa klasik. Supir membuka pintu limousine sambil 4 pria menuruninya.


‘’Kenapa tidak sekalian menginap?’’ tanya Adam.


‘’Tidak, aku sudah memesan kamar di hotel,’’ jawab Kaji.


Tidak butuh waktu yang lama, Kaji kembali memasuki limousine dan berpamitan. Satpam yang berjaga di gerbang, kembali membukakan gerbang saat limousine itu melaju keluar.


‘’Sekretaris Rey, kau boleh beristirahat,’’ kata Adam.


Sekretaris Rey mengangguk. Ia membungkuk sebelum dirinya pergi.


2 pria radi memasuki rumah. Adam menatap ke arah lantai begitu ia masuk.


Apakah dia sudah pulang, ya? Hmm, kata Adam dalam hati.


‘’Jangan lupa beritahu Eve soal kedatangan Tuan Kaji besok.’’


‘’Iya Ayah.’’


Kedua pria itu pun menuju ke kamar mereka masing-masing.


......................


Kamar Adam & Eve


Ceklek!


Pintu terbuka. Saat itu juga pandangannya langsung ke arah kasur. Timbul rasa lega begitu melihat Eve terbaring di kasur yang sudah terlelap.


Adam menutup pintu dan berjalan menghampiri wanita itu. Ia duduk tepat di samping wanita yang sudah terlelap itu. Memandangi wajah istrinya yang terlihat tenang saat tidur. Entah kenapa, ia juga merasa tenang setelah melihatnya. Tangannya terulur mengelus pucuk rambut Eve.


Adam kembali teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat dirinya hendak meniduri Eve.


Kenapa dia begitu gemetar saat aku menyentuhnya? Dia bahkan menangis dan terlihat jelas raut wajahnya memperlihatkan ketakutan. Apakah dia segitu takutnya disentuh? Eve, ucapnya dalam hati.


Tiba-tiba ia juga mengingat kejadian di hotel, saat dirinya meniduri seorang wanita sebelum pernikahan.


Itu adalah kecelakaan. Sekretaris Rey juga belum menemukan wanita ity. Apakah aku harus memberitahu Eve mengenai hal ini? Haa, ucapnya dalam hati.


Merasa lelah karena sudah keluar seharian, Adam berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi.


......................


Keesokan harinya…


Eve terbangun karena merasakan sesuatu menindih tubuhnya. Dilihatnya sebuah tangan kekar memeluk, membuatnya menoleh ke samping.

__ADS_1


Adam? Kenapa aku tidak menyadarinya pulang kemarin malam? Apakah dia akan marah karena aku tidak menyambutnya? Aku sangat bodoh, ucapnya dalam hati.


Eve pun bangkit untuk menyiapkan teh hijau sesuai permintaan suaminya. Namun, niatnya terhalangi saat tangan Adam menariknya ke belakang.


‘’Biarkan aku memelukmu sebentar.’’


Eve terbelalak. Pria itu ternyata sudah bangun. Ragu-ragu, ia menuruti perkataan suaminya dan terpaksa baring kembali. Jantungnya langsung berdebar-debar.


Ah, kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini? Apakah karena aku gugup? Kuharap Adam tidak mendengarnya, kata Eve dalam hati.


5 menit berlalu, Adam akhirnya melepaskan pelukannya dan bangkit diikuti Eve.


‘’Tuan Kamiya Kaji akan berkunjung ke rumah hari ini. Aku ingin kau membuat hidangan sushi untuk menyambutnya.’’


‘’Begitu? Kapan dia akan datang?’’ tanya Eve.


‘’Dia akan menghubungiku saat dirinya akan datang,’’ jawab Adam.


Eve mengangguk mengerti dan bangkit dari tempat tidur.


Wanita itu menuju ke dapur dan membuatkan teh hijau seperti biasa. Tidak lupa, ia juga menuliskan sedikit kata-kata di secarik kertas dan menyuruh pelayan untuk membawanya ke kamar. Pelayan yang melihat hal ini setiap hari merasa gemas.


‘’Tuan Muda dan Nona Muda romantis sekali, sampai-sampai menuliskan kata-kata indah setiap hari sambil membuatkan teh untuk Tuan Muda.’’


‘’Benar. Selain itu Nona Muda ternyata orangnya baik dan lembut. Kita tidak pernah disuruh ke sana dan kemari di dapur, dan lebih memilih mengerjakannya sendiri.’’


‘’Nona Muda memperlakukan kita semua tanpa membedakan status. Sungguh, aku merasa sangat senang kalau wanita ini kelak yang akan menjadi Nyonya Besar kita.’’


‘’Mm, Nona Muda juga sangat cantik. Aku seperti melihat sosok Dewi pada dirinya.’’


‘’Ternyata bukan Tuan Besar, Nyonya Besar dan Tuan Muda saja yang begitu baik kepada kita. Nona Muda juga sama baiknya. Sungguh keluarga yang sempurna.’’


Eve yang mendengar pembicaraan para pelayan itu hanya tersenyum.


......................


Hotel


Kaji yang mengenakan jubah handuk mandi, menghela nafas panjang sambil meletakkan ponselnya.


‘’Keluarga Raymond benar-benar merahasiakan wajah menantunya. Padahal aku sudah menyuruh para hacker untuk menelusuri pernikahan Tuan Adam, tetapi sepertinya tidak ada wartawan yang hadir.’’


Ia kembali meraih ponselnya dan melihat berita.


‘’Padahal, ayahnya memberitahu publik kalau anaknya akan menikah. Tapi kenapa sampai merahasiakan wajah menantunya?’’ penasaran Kaji.


......................

__ADS_1


Kediaman Raymond


Seperti biasa setelah sarapan selesai, para pelayan akan membersihkannya. Adam merasa ada yang aneh dengan Eve, membuatnya menuju ke dapur pribadi.


Eve sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sushi. Tapi, ia merasa aneh sejak kemarin.


‘’Apakah kau baik-baik saja?’’ tanya Adam.


Wanita tadi terbelalak. Sekali lagi ia tidak menyadari keberadaan suaminya. ‘’Aku baik-baik saja.’’


Dahi Adam berkerut sampai akhirnya menghela nafas.


‘’Aku akan membantumu membuat sushi,’’ ucapnya meraih celemek dan berdiri di samping.


Ini pertama kalinya, mereka berdua berdiri di dapur yang sama. Setelah menikah, Eve dan Adam bergantian menggunakan dapur pribadi tersebut. Tapi hari ini, keduanya bahkan memasak bersama-sama. Melihat pemandangan itu, membuat para pelayan wanita menjerit.


Sesekali Eve melirik Adam yang begitu serius membuat sushi.


Dia benar-benar berbeda saat berada di dapur. Adam terlihat dingin, tetapi saat menjadi koki, Adam sangat ramah, kata Eve dalam hati.


Cepret!


Mendengar bunyi yang tidak asing itu, membuat Adam dan Eve menolehkan wajah ke depan. Tuan Moriarty sudah tersenyum sambil menekan kamera.


Deg! Deg! Deg! Deg!


Eve spontan menundukan wajahnya karena debaran jantungnya semakin cepat. Ia bisa merasakan wajahnya merona. Apalagi, mertua prianya mengambil gambar saat dia memandangi Adam. Adegan ini mengingatkannya kepada Nyonya Besar yang juga pernah memotret mereka di kamar.


‘’Apa yang Ayah sedang lakukan?’’ tanya Adam dengan alis yang berkerut.


‘’Hehe, apa salahnya aku memotret kalian? Ini bisa dijadikan album bersejarah,’’ kata Tuan Moriarty.


Adam melirik Eve di sampingnya yang terlihat malu, membuatnya kembali menatap ayahnya.


‘’Jangan mengambil gambar lagi. Aku dan Eve harus menyelesaikan sushi ini sebelum Tuan Kaji datang. Jika Ayah seperti ini, Eve tidak bisa konsentrasi.’’


‘’Baiklah, baiklah,’’ kata Tuan Moriarty berbalik untuk pergi.


Cepret!


Dengan gerakan cepat, Tuan Moriarty mengambil satu gambar lagi dan pergi secepat mungkin. Adam menghela nafas dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda tadi.


‘’Ayah sudah pergi, kau bisa melanjutkannya kembali.’’


Eve mendongakkan kepala dan melihat Tuan Moriarty yang memang sudah pergi.


Ayah dan ibu benar-benar tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama mengambil gambar tanpa sepengetahuan kami. Kadang aku bertanya, bagaimana bisa aku dan Adam tidak menyadarinya? Kami baru akan tersadar jika bunyi kamera terdengar, kata Eve dalam hati.

__ADS_1


Meskipun begitu, Eve tersenyum karena senang. Keluarga Raymond benar-benar membuatnya merasa nyaman. Sangat sulit menemukan keluarga sebaik mereka di luar sana.


__ADS_2