Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 124 ½ Puncak


__ADS_3

Adam memicingkan mata. ‘’Kakakmu diracuni, ibumu ditangkap polisi tepat di depan matamu, dan sekarang kau menjadi saksi pembunuhan saudaramu. Kau seharusnya bisa memecahkan kasus ini, tapi kau gagal. Beberapa minggu ini kau melakukan apa? Tidak ada.’’


‘’Cukup,’’ kata Kane tertahan.


‘’Kau bilang sedang mencari petunjuk, dan tidak menemukan apa pun sampai sekarang,’’ kata Adam.


Kane mengepalkan tangan. ‘’Berhenti bicara.’’


‘’Kau begitu membanggakan dirimu sebagai anggota detektif, tapi gagal memecahkan dua kasus yang berhubungan dengan kakak dan ibumu,’’ kata Adam.


‘’Aku bilang berhenti bicara,’’ kata Kane sambil menggertak gigi.


Mata Adam memicing. ‘’Kenapa kau tidak berhenti saja menjadi detektif?’’


‘’Aku bilang berhenti!’’ seru Kane menodongkan pistol.


‘’Kenapa? Mau menembakku? Silahkan. Saat ini kau hanya anak kecil yang tidak berguna. Sebagai ayahmu, aku sedang menegurmu agar kau menyadari kesalahanmu!’’


Deg!


Semua orang tersentak mendengar ucapan Adam, terutama Kane.


‘’Aku tidak butuh teguran dari Anda,’’ kata Kane yang masih menodongkan pistol.


Adam menatap Kane dengan wajah datar. ‘’Aku benar-benar kecewa kepadamu.’’


Kane terbelalak membuat tangannya gemetar. Ya, ini kedua kalinya Kane menatap raut wajah itu. Raut wajah yang sama dengan wajah Inspektur hari itu. Akhirnya ia mengerti mengapa waktu itu Inspektur tidak takut saat ia menodongkan pistol.


Jadi, Inspektur juga kecewa kepadaku, kata Kane dalam hati.


Secara perlahan, tangannya menurun ke bawah dengan alis berkerut.


Saat itu juga Kaji menarik kerah leher Adam. ‘’Kau tidak perlu bicara kasar seperti itu kepadanya.’’


‘’Kemungkinan besar, hal buruk akan terjadi. Tapi, kau harus ingat satu hal ini. Apa pun yang terjadi, kau harus tetap tenang dan dinginkan kepalamu, dengan begitu kau bisa memecahkan kasusnya.’’


Semua orang menatap Adam terutama Kane, setelah pria itu mengucapkan kalimat tadi.


‘’Kemungkinan besar, hal buruk akan terjadi. Tapi, kau harus ingat satu hal ini. Apa pun yang terjadi, kau harus tetap tenang dan dinginkan kepalamu, dengan begitu kau bisa memecahkan kasusnya,’’ kata Kein.


Kane mengerutkan dahi mendengar ucapan kakaknya.


‘’Itu salah satu dialog di dalam naskah yang aku buat,’’ kata Kein.


‘’Hm, aku kira apa, ternyata hanya sebuah dialog. Ada-ada saja,’’ kata Kane. (Kane Teringat)


Adam yang tidak peduli kerah lehernya ditarik, hanya menatap ke arah Kane. ‘’Seperti kalimat dalam dialog yang dibuat Kein, dia ingin kau tetap tenang agar bisa memecahkan kasus.’’

__ADS_1


‘’Jika kau dalam kondisi emosi, sekeras apa pun mencari petunjuk, kau tidak akan pernah bisa pecahkan kasusnya,’’ lanjut Adam.


Mendengar hal itu, membuat Kaji melepaskan tangannya.


Adam merapikan dasinya dan kembali menatap ke arah Kane. ‘’Kalau sudah mengerti, lakukan apa yang seharusnya sejak tadi kau lakukan.’’


Kane mengambil selembar kertas naskah novel tadi lalu melihatnya. ‘’Aku sudah membacanya berulang kali, tapi isinya hanya memang sebuah cerita. Meskipun begitu, ada yang menggangguku.’’


‘’Apa itu?’’ tanya Dokter Yuu.


‘’Dialog aneh yang dibuat kakak memakai kombinasi huruf kanji, angka dan alphabet. Seperti di sini. 12 ditulis dengan kanji, tapi 1 ditulis dengan angka,’’ kata Kane.


‘’Mungkin dia mengantuk saat menulisnya,’’ kata Vic.


‘’Itu tidak benar! Kakak menulis naskah ini dalam kondisi tubuh prima. Aku melihatnya sendiri, karena kami selalu bersama,’’ kata Kane.


Kaji mengerutkan dahi. ‘’Apa maksudnya Kein-kun memakai kombinasi huruf kanji, angka dan kata-kata bahasa inggris dalam naskah ini, ya?’’


‘’Sial! Walaupun hurufnya dibaca terbalik atau dipotong-potong dan disambung dengan huruf lain, tetap tidak membentuk kalimat,’’ kata Kane.


Aku harus segera menemukan petunjuk yang kakak maksud di dalam naskah ini. Argh! Ayo berpikir, kata Kane dalam hati.


Deg!


Kane tersentak begitu juga dengan yang lainnya. Anak itu mendongakkan kepala menatap Adam.


Anak bermata sapphire itu menatap Adam tidak percaya. Menyadari pandangan semua orang, membuatnya kembali menatap ke arah selembar naskah. Untuk sesaat, Kane menatap selembar kertas tadi dengan tenang.


Mata Kane membulat besar. ‘’Dialognya menjadi sandi. Dengan kata lain, tulisan ini adalah permintaan dari kakak agar aku membaca pesan sebenarnya yang disembunyikan kakak dalam naskah ini.’’


‘’Permintaan?’’ bingung Nona Nezu.


‘’Kakak selalu bertanya kepadaku, apakah aku sudah menemukan petunjuk yang dia tulis di dalam naskah ini,’’ kata Kane.


‘’Kalau begitu apa sandi yang ditinggalkan Kein-kun?’’ tanya Nona Kozune.


Kane mengepalkan tangan. ‘’Kuncinya adalah judul naskah ini. ½ Puncak.’’


‘’½ Puncak?’’ tanya Tuan Yugi.


Kaji kembali membaca naskah novel tersebut. Sama halnya dengan Kane, ia juga tersentak setelah mengetahui sandi yang ada di dalamnya.


‘’Semua kata yang ada di atas terdiri dari setengah kata. Itu berarti, dua kata dari itu bisa dibentuk menjadi satu kata,’’ kata Kane.


Hakuba mengerutkan dahi. ‘’Dua kata menjadi satu?’’


‘’Benar. Chikara ditambah me menjadi Tasu. Ten ditambah 1 menjadi ke. C ditambah satu, bacanya Te, dan akhirnya di sini ada dua kata ku dan re. Jika semua kata itu digabungkan maka akan terbentuk satu kalimat,’’ kata Kane.

__ADS_1


‘’Ta.’’


‘’Su.’’


‘’Ke.’’


‘’Te.’’


‘’Ku.’’


‘’Re.’’


Deg!


‘’Tasukete kure(Tolong)! Pesan SOS?!’’ pekik semuanya.


‘’Itu berarti, Kein-kun sebenarnya sudah tahu kalau dirinya dalam bahaya,’’ kata Hakuba.


‘’Tapi, kenapa kakak tidak memberitahuku secara langsung, dan memilih menggunakan naskah ini sebagai kode?’’ tanya Kane.


‘’Mungkin karena dia sedang diawasi. Selain itu, karena dia mempercayaimu, Kein berharap kau memecahkan kode di dalam naskah buatannya,’’ jawab Adam.


Tangan Kane mengepal. ‘’Cih! Kakak meminta pertolongan tapi aku tidak menyadarinya.’’


‘’Aku baru ingat dengan pertanyaan Tuan Kane di kantor polisi. Hal yang menjanggal di TKP, hanya mengenai tempat Anda berdua terbaring,’’ kata Inspektur.


‘’Apa maksud Inspektur?’’ tanya Kane.


‘’Kondisi tempat Anda terbaring normal seperti biasa, tapi tempat Tuan Kein terbaring sedikit basah,’’ kata Inspektur.


‘’Basah?’’ tanya Kane.


‘’Setelah mereka menemukan Anda berdua, kenapa cuma Tuan Kein yang basah? Tapi keberadaannya tidak seperti orang tenggelam,’’ kata Inspektur.


Kalau tidak salah, saat gas tiba-tiba muncul di ruangan, ruang yang ditempati kakak kacanya berembun, berbeda dengan ruang yang aku tempati, kata Kane dalam hati.


Inspektur mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya.


‘’Ponsel? Kalau Kein-kun membawa ponsel, kenapa dia menggunakan ponsel pelaku untuk mengirim kode?’’ tanya Dokter Yuu.


‘’Kami menemukan ini di pakaian Tuan Kein. Hm? Kenapa ada sedikit air di dalamnya?’’


‘’Saat aku menemukan ini, ponselnya dingin,’’ kata Petugas Reiki.


Kakak basah … Berembun … Perbedaan suhu … Ponsel membeku, kata Kane dalam hati.


Deg!

__ADS_1


Kane dan Kaji bersamaan tersentak. ‘’Aku tahu! Beku seketika!’’


__ADS_2