
Eh? Dia menangis, kata Eve dalam hati.
‘’Eve, kenapa kau melakukan hal ini?’’ tanya Adam.
Tunggu, kenapa aku merasa sesak melihatnya menangis? Tidak mungkin, kata Eve dalam hati.
‘’Kau bilang ingin memperbaiki hubungan di antara kita, tapi apa yang kau lakukan kepadaku?’’ tanya Adam.
Berhenti menangis, kata Eve dalam hati.
Sekali lagi butiran air mata Adam mengalir. ‘’Kau memanfaatkan perasaanku kepadamu demi menandatangani surat perceraian.’’
Cukup! Aku bilang berhenti! Berhenti, kata Eve dalam hati.
‘’Aku benar-benar mencintaimu dan menyesali perbuatanku di masa lalu, karena itulah aku meminta kesempatan kepadamu untuk memperbaiki kesalahanku. Tapi kau memanfaatkan perasaanku?!’’ marah Adam untuk pertama kalinya.
Eve yang tersentak hanya memejamkan mata. Tidak lama kemudian, ia membuka matanya. ‘’Apakah kau merasa terluka?’’
‘’Apa?’’ tanya Adam habis pikir.
‘’Rasa sakit yang kau rasakan itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku lalui sampai sekarang. Kurasa sudah waktunya kita kembali, karena aku dan yang lainnya harus berkemas,’’ kata Eve berdiri.
‘’Kenapa kau melakukan hal ini kepadaku? Kenapa kau memanfaatkan perasaanku?’’ tanya Adam.
‘’Kau sendiri yang memaksaku untuk melakukannya. Selain itu, di dunia ini, kau hanya perlu memilih antara dimanfaatkan atau memanfaatkan orang lain,’’ kata Eve berjalan pergi.
Tangan Adam mengepal. ‘’Apakah kau sudah tidak mencintaiku?’’
Langkah Eve terhenti tanpa ia merubah posisinya.
Adam menatap punggung Eve dengan mata memerah. ‘’Apakah sudah tidak ada rasa cinta kepada diriku di dalam lubuk hatimu paling dalam, bahkan sedikit saja?’’
Eve hanya diam untuk sesaat. ‘’Shitsurei shimasu(Permisi).’’
Ceklek!
Bugh! Prank!
Eve tersentak karena mendengar suara pukulan dan pecahan dari dalam ruangan. Tapi ia memilih pergi.
Sekretaris Rey yang berdiri tidak jauh, langsung menghampiri kamar 212 setelah melihat wanita tadi berjalan pergi.
Tok! Tok!
‘’Tuan Muda, saya Sekretaris Rey, bisakah saya masuk?’’ tanya Sekretaris Rey terlebih dahulu.
Namun, karena tidak ada jawaban membuat pria itu membuka pintu. Matanya membulat besar melihat isi ruang berantakan, terutama darah mengalir keluar dari tangan kanan Adam yang memegang pecahan botol.
‘’Tuan Muda, tangan Anda terluka! Kita harus segera mengobatinya,’’ kata Sekretaris Rey.
‘’Humphehe, hehehe, hahaha, ahahaha!’’
__ADS_1
Adam terkekeh pelan membuat Sekretaris Rey bingung.
‘’Tuan Muda?’’ tatap Sekretaris Rey.
Adam melepaskan pecahan botol di tangannya lalu menutup matanya dengan kepala menengadah. Ia tertawa hingga akhirnya berujung terisak.
‘’Tuan Muda, apakah semua baik-baik saja?’’ cemas Sekretaris Rey.
‘’Wanita itu, dia memanfaatkan perasaanku demi mendapatkan tanda tanganku. Sekarang aku dan Eve sudah resmi bercerai. Tidak lama lagi dia akan menikah dengan Tuan Kaji,’’ sedih Adam.
‘’Eh? Nona Eve melakukan semua ini?’’ tidak percaya Sekretaris Rey.
Adam menundukkan kepalanya di bahu sang sekretaris. ‘’Hiks, dia benar-benar meninggalkanku Rey. Pernikahanku benar-benar hancur.’’
Ini pertama kalinya Sekretaris Rey melihat Adam seperti itu. Tangannya terulur untuk mengusap punggung sang atasan.
‘’Adam … Kau harus sabar, aku yakin ada rencana yang lebih indah menunggumu di depan. Jangan lupa, kita berdua sudah berteman sejak kecil, jadi apa pun yang terjadi, aku akan selalu mendukungmu.’’
......................
Koridor
Belum sempat Eve tiba di ruang VVIP, ia malah bertemu dengan Vic yang bersama kedua putranya.
‘’Kau sudah keluar? Itu berarti rencananya sudah selesai,’’ kata Vic.
‘’Rencana? Kalian tahu?’’ tanya Eve.
‘’Sudah aku bilang rencananya akan berhasil kalau ada mereka,’’ kata Kaji yang langsung muncul.
‘’Eh? Jadi mereka yang kau maksud itu adalah Vic dan kedua putraku?’’ tanya Eve.
‘’Ibu benar. Sebelum aku dan Kakak tiba di kamar, Paman Kaji meminta bantuan kami,’’ kata Kane.
Wajah Kane langsung cemberut. ‘’Haa, kita akan bertemu dengan keluarga Raymond sebelum kembali ke Jepang.’’
Kane berdiri menuju ke kamar, membuat Kane mau tidak mau menyusul kakaknya. Namun, setelah kedua anak itu menaiki tangga, mereka terhenti. Terlihat Kaji yang tersenyum kepada mereka. Kedua anak kembar itu saling bertatapan.
‘’Paman Kaji?’’ tatap Kane.
‘’Aku merasa tidak enak, pria ini pasti merencanakan sesuatu,’’ kata Kein.
‘’Ibu dan anak sama saja, bisa membaca pikiranku,’’ kata Kaji.
Itu karena wajah Paman Kaji terlihat jelas sekali memiliki niat, kata Kein dalam hati.
‘’Saat di restoran ini, bisakah kalian menghampiri Vic?’’ tanya Kaji.
‘’Bibi Vic? Untuk apa?’’ tanya Kane.
Kaji berjongkok agar menyamai tinggi kedua anak kembar itu. ‘’Dengar, aku sedang membuat rencana agar Eve bisa mendapatkan tanda tangan milik Adam. Kalau Kane-kun membawa laptop, itu akan membuat semua orang curiga, jadi aku sudah memberitahu Vi-chan, kalian berdua tinggal menyesuaikan diri.’’
__ADS_1
......................
Ruang VVIP
‘’Oh iya Kane-kun, bisakah kau melakukan itu?’’ tanya Kaji.
‘’Ah? Mengenai orang itu ya?’’ tanya Kane dan Kaji mengangguk.
‘’Hihi, serahkan semuanya kepadaku. Aku tidak akan mengecewakan Paman Kaji,’’ kata Kane.
......................
Ruang Pekerja Restoran
‘’Aku tidak melihatnya sejak tadi,’’ kata Kane mencari seseorang.
‘’Eh? Kalian siapa? Anak-anak tidak diizinkan ada di sini,’’ kata salah satu pekerja restoran.
‘’Hei? Apakah kau tidak mengenalnya? Lihat, mereka Si Kembar Iblis itu,’’ bisik pekerja restoran yang satunya.
‘’Astaga?! Si Iblis Deduksi dan Si Iblis Makanan! Wah, bisakah aku mengambil foto dengan kalian?’’
Kane tersenyum. ‘’Bisa, tapi sebelum itu aku memiliki permintaan. Bisakah aku bertemu dengan Bibi Vic?’’
‘’Eh? Maksudmu Vic Demilo?’’
‘’Dia memanggilnya dengan sebutan bibi, jangan-jangan Vic memiliki hubungan dekat dengan mereka. Cepat panggil Vic!’’
Tidak lama kemudian Vic datang dan melihat si kembar. ‘’Kalian sudah ada di sini?’’
‘’Hem! Vic, kau tidak memberitahu kami, kalau kau kenal dengan Si Kembar Iblis ini,’’ kata Ketua.
‘’Ahaha, maaf. Sebenarnya begini, kebetulan memasuki waktu istirahat, aku mengundang Tuan Kein untuk memasak,’’ kata Vic.
Kein langsung menoleh dengan cepat. ‘’Hei, kau tidak memberitahuku so—‘’
‘’Ahaha, benar! Ini kejutan untuk Tuan Kein,’’ kata Vic memotong ucapan anak itu.
Semua koki di sana langsung heboh dan memberi jalan kepada Kein menuju dapur. Sebelum pergi, Kein berbalik menatap Vic dengan tatapan tajam.
‘’Ehehe, semangat Tuan Kein!’’ senyum Vic. (Kane menceritakan)
‘’Aku langsung sadar, ternyata aku disuruh untuk mengulur waktu dengan memasak sampai Kane membuat surat perceraian di ruangan Ketua,’’ kata Kein.
‘’Hehe, dan Kakak melakukannya dengan sangat baik,’’ kata Kane.
‘’Itu karena tidak ada komputer di ruangan lain selain di ruangan Ketua,’’ kata Vic.
Kein melontarkan tatapan dingin membuat Vic membeku. ‘’Lain kali beritahu kami dulu. Jika tidak, jangan perlihatkan wajahmu di depan mataku lagi.’’
Kaji dan Vic memasang raut wajah bodoh karena aura dingin Kein.
__ADS_1
Anak ini benar-benar manusia es, kata keduanya kompak dalam hati.