Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 86 Menolak


__ADS_3

Adam mengerutkan dahi sambil membuka amplop yang diberikan Kein barusan. Matanya membulat besar setelah melihat isi surat itu.


"Apa ini?" tanyanya membuat langkah kedua anak kembar tadi terhenti.


Ia menunggu hingga salah satu dari kedua anak kembar berbalik menatapnya.


"Sudah jelas itu adalah surat perceraian," jawab Kein.


"Apa? Kita hanya membahas masalah keluarga dan kalian memberiku surat ini?" tanya Adam.


Kein menatap lantai sedangkan Kane menatap ke samping.


‘’Keluarga Raymond telah datang. Mereka adalah rekan bisnis Yuki-san, jadi sebaiknya kalian memberi salam,’’ kata Eve mengkode kedua putranya.


Kane dan Kein saling bertatapan, hingga akhirnya mengangguk.


‘’Kami pergi sebentar, silahkan nikmati acaranya,’’ kata Kein.


Sebelum mereka tiba, Eve menarik kedua anak kembarnya lalu berjongkok.


"Ada apa Ibu?" tanya Kane.


Eve menoleh ke arah 2 keluarga yang menunggu kedatangan mereka dari sisi belakang kepala kedua putranya. "Sebelumnya aku berterima kasih kepada kalian yang meminta keadilan demi diriku."


"Maafkan kami Ibu, karena kami melakukannya tanpa persetujuan Ibu," kata Kane mewakili kakaknya.


"Ibu tidak marah?" tanya Kein.


"Kenapa aku harus marah? Aku malah merasa bangga. Kalian berdua lebih tangguh daripada diriku," kata Eve tersenyum.


"Ibu sungguh tidak marah?" tanya Kane.


"Apakah wajahku terlihat marah?" tanya Eve yang masih tersenyum.


Kedua anak kembar itu saling bertatapan lalu kembali menatap Eve.


"Tapi, sebelum kita tiba di sana, aku ingin kalian menyerahkan ini kepada Adam," kata Eve.


Kane mengerutkan dahi melihat amplop tersebut. "Kenapa amplop?"


"Ini surat perceraian kami berdua. Aku yakin Adam akan mengajak kalian bicara empat mata. Kebetulan, kalian memberikan ini kepadanya," kata Eve.


"Tapi, kenapa Ibu begitu yakin kalau Tuan Adam akan mengajak kami bicara?" tanya Kane.


"Kita tidak perlu mempertanyakan keputusan Ibu," tegur Kein.


"Kalau begitu berikan kepada Kakak saja," kata Kane.

__ADS_1


Setelah Eve menyerahkan amplop itu kepada Kein, ia berdiri dan tersenyum seperti biasa.


Eve pun tiba bersama kedua anak kembarnya, membuat tuan Moriarty tersenyum girang.


‘’Bisakah aku memeluk kalian? Bisa, kan? Bisa, kan?’’ tanya Tuan Moriarty membuat yang ada di sana saling memandang.


Nyonya Mary sedikit menuduk sambil menekan dahinya melihat tingkah suaminya itu.


"Aku ingin bicara dengan kalian berdua." (Kane menceritakan)


Sebelah alis Kein terangkat. "Tuan Muda berpikir ibu memberi persetujuan hanya karena Anda meminta kepadanya?"


Kane tersenyum. "Ibu memberi persetujuan itu karena dia ingin kami menyerahkan surat perceraian ini kepada Tuan Muda."


"Tapi, kenapa bukan dirinya yang menyerahkan surat ini secara langsung?" tanya Adam.


"Anda masih bertanya alasannya?" tanya Kein.


"Menyuruh kami menyerahkan surat perceraian dan tidak ingin bertemu, seharusnya itu sudah membuat Tuan Muda mengetahuinya. Kami sudah melakukan tugas kami, jadi permisi," kata Kane.


Adam meremas surat perceraian itu sambil menatap kepergian Kane. "Tunggu!"


Kane dan Kein berbalik dan melihat Adam sudah ada di belakang mereka.


"Dengar, sampaikan ini kepada Eve. Sekeras apa pun dirinya ingin bercerai denganku, maka sekeras apa pun juga aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku pasti akan membuatmu kembali kepadaku, dan membuat Kane dan Kein mengakuiku sebagai ayah mereka. Ini adalah janjiku," kata Adam.


Ia memegang tangan Kein lalu menyerahkan surat yang diremasnya barusan. "Lalu surat perceraian ini, kembalikan kepada Eve."


Kane memicingkan mata. "Dia benar-benar keras kepala."


"Dasar manusia kepala batu!" umpat Kein dengan suara pelan.


Dengan cepat Kane menolehkan kepala dan menatap kakaknya tidak percaya. Tak lama kemudian ia tertawa.


"Sepertinya kita ditantang oleh Tuan Adam," kata Kein membuat tawa adiknya terhenti.


Kane kembali menatap ke arah perginya Adam tadi dengan wajah serius. "Kakak benar. Sesuai deduksiku, Tuan Adam akan mencegah pernikahan ibu dengan Paman Kaji."


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," kata Kein.


......................


Semua menoleh melihat kedatangan Adam, hingga kedua anak kembar itu menyusul.


Apakah dia sudah berhasil membujuk kedua anak ini? Semoga saja itu terjadi, kata Nyonya Mary dalam hati.


Kane dan Kein pasti sudah menyerahkan surat perceraian itu kepadanya, kata Eve dalam hati.

__ADS_1


Kenapa kedua anak itu hanya diam? Apakah mereka membicarakan sesuatu? Argh! Aku jadi tidak tenang, kata Kaji dalam hati.


Aduh~ mereka membicarakan apa, ya? Aku sangat ingin tahu, kata Tuan Moriarty dalam hati.


"Kalian sudah selesai, ya?" tanya Nyonya Mary.


Sekilas, Adam menatap ke arah kedua anak kembar itu sebelum mengangguk.


"Sebaiknya kita menikmati acara ini," kata tuan Yuki.


"Kamiya Kein, selamat atas kemenanganmu. Di lain waktu, aku ingin mencicipi hidangan buatanmu," kata Tuan Moriarty.


"Aku memberimu ucapan sebagai Bookmaster. Kau pantas mendapatkannya," kata Nyonya Mary.


"Selamat untukmu Kamiya Kein, dan jangan lupa tentang pembicaraan kita di balkon tadi," kata Adam.


Wajah Kein hanya datar dengan tatapan eyes sleepy. "Doumo arigatou gozaimasu(Terima kasih banyak.)"


......................


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Cordelia.


Pria itu tersenyum. "Aku hanya tidak sengaja lewat, karena Tuan Kamiya mengundang kami untuk merayakan kemenangan Kein Kamiya."


Wajah Reon langsung kusut mendengar kalimat pria itu.


"Awalnya aku mengira salah lihat saat kalian berdua hendak mencari taksi, tapi ternyata aku benar-benar melihat kalian," kata pria dewasa.


Cordelia memgerutkan dahi. "Kau tidak sengaja lewat atau memang sudah menduga hal ini terjadi ... Jeremy."


Jeremy tersenyum dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa kau selalu saja menuduhku? Padahal aku berniat menawarkan bantuan."


"Kami tidak perlu bantuan," kata Reon angkat bicara.


Kedua orang dewasa itu menatap ke arah Reon.


"Reon-kun, kau seharusnya tahu siapa diriku. Apalagi tidak ada yang mau menerima kalian, jadi di mana kau dan ibumu akan tinggal?" tanya Jeremy.


"Dimanapun asalkan bukan di tempatmu!" kata Reon.


Jeremy tersenyum remeh sambil matanya melirik Cordelia. "Apakah begini caramu mendidik anak kita?"


Deg!


Reon melotot mendengar ucapan Jeremy.


Cordelia menarik nafas dengan tertahan. "Reon mengatakan apa yang seharusnya."

__ADS_1


Sebelah alis Jeremy terangkat. "Kalau begitu, aku yang akan mendidik Reon, karena dia akan mencoreng nama baikku sebagai seorang Bookman dari W.O.G jika dirinya bersikap tidak sopan seperti ini."


"Aku tidak butuh pengakuan dari dirimu. Selain itu aku bukan anakmu!" kata Reon.


__ADS_2