
Bu Christa menghampiri suaminya dan membantunya ke kamar. Ia menyandarkan suaminya ke kepala kasur, dan menyuruh Cordelia untuk mengambil air. Tidak lama kemudian, putrinya datang.
‘’Suamiku, minum obatmu dulu.’’
Pak Percy menelan beberapa obat sambil meneguk air. Kondisi tubuhnya benar-benar sangat lemah.
Tidak butuh waktu yang lama hingga pria itu tertidur dan beristirahat. Bu Christa dan putrinya keluar dari kamar dengan tampang kesal.
‘’Apa-apaan ini? Ayah dipecat dari pekerjaan, dan kita berdua belum makan sejak pagi. Apalagi ayah sedang sakit, bagaimana kita akan memenuhi kebutuhan kita?’’
‘’Cordelia, bisakah kau tenang sedikit? Sejak tadi, aku sudah merasa sangat pusing karena belum makan. Kita rebus saja telur di kulkas lalu memakannya dengan nasi.’’
Meskipun tidak sudi, keduanya menuju ke dapur karena sudah tidak tahan lagi dengan sakit perut mereka.
......................
Kediaman Raymond
Adam hanya menggeleng pelan berulang kali melihat ayahnya tidak bisa tenang sejak tadi. Meskipun ia sudah menyuruh ayahnya untuk tenang, tapi pria itu tidak mendengar.
Ayahnya sangat gusar dengan imajinasinya yang begitu tinggi. Bagaimana jika ada seseorang yang berniat jahat kepada menantunya, atau menculiknya untuk meminta bayaran, bahkan berniat membunuh menantu kesayangannya itu.
‘’Sekretaris Rey sudah keluar untuk mencarinya, jadi tenanglah. Selain itu tidak ada satu orang pun yang tahu wajah istriku, jadi siapa yang ingin mencelakainya?’’ tanya Adam berusaha menenangkan ayahnya sekali lagi.
Meskipun ia tidak terlalu peduli hal ini, jujur saja ia juga sedikit merasa cemas. Bagaimana jika memang ada orang yang ingin mencelakai istrinya, apalagi keluarganya yang begitu terkenal, pasti ada banyak orang di luar sana yang iri kepadanya.
Adam melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setengah jam sudah berlalu semenjak sekretaris Rey meninggalkan kediaman untuk keluar mencari Eve.
Jangan-jangan dia berniat kabur! Meskipun aku tidak terlalu peduli kepadanya saat hari pernikahan, tapi aku bisa melihat dari raut wajahnya kalau dia sama sekali tidak merasa bahagia, kata Adam dalam hati.
Lamuannya terhenti saat mendengar suara mesin mobil dimatikan.
Keduanya menatap ke arah pintu, dan melihat sekretaris Rey masuk bersama Eve. Tuan Moriarty dan Adam akhirnya menghela nafas lega.
‘’Ayah, lihat, kan? Dia baik-baik saja.’’
__ADS_1
‘’Eve, kau ini ke mana saja? Kenapa kau tidak langsung pulang setelah mengantar istriku dari bandara?’’
Eve meminta maaf sambil membungkuk. Ia pun menjelaskan alasan keterlambatannya pulang, karena mengunjungi makam ibunya terlebih dulu. Saat di tengah jalan, ia bertemu dengan ayahnya dan mengantarnya ke rumah sakit hingga ke rumah. Kecemasan Tuan Moriarty akhirnya terobati.
‘’Kenapa kau tidak memberi kabar?’’ tanya Adam.
‘’Aku lupa membawa ponselku,’’ jawab Eve.
‘’Jadi bagaimana kondisi Pak Percy?’’ tanya pak Moriarty.
‘’Ayah terkena anemia Tuan Besar.’’
Dahi Tuan Moriarty berkerut tanda kesal. Kenapa menantunya itu juga ikut memanggilnya dengan sebutan ‘Tuan Besar’.
‘’Tuan Besar, Tuan Besar, jangan memanggilku seperti itu! Aku akan merasa lebih baik jika kau memanggilku dengan sebutan Ayah.’’
Eve terbelalak. Ternyata bukan hanya Nyonya Mary yang bersikap seperti itu padanya, ternyata Tuan Moriarty juga memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’. Wanita itu tersenyum disertai anggukan.
‘’Ya sudah besok pagi, kita akan mengunjungi ayahmu.’’
Perkataan Tuan Moriarty membuat Eve sekali lagi tidak percaya. Baru saja ia ingin meminta izin kepadanya untuk mengunjungi ayahnya besok, tapi mertua prianya itu malah mendahuluinya untuk berkunjung ke rumahnya. Eve sangat berterima kasih.
......................
Kamar Adam & Eve
Pasangan tadi masuk ke dalam tanpa ada yang berbicara. Keduanya hanya diam, sambil Adam melepaskan pakaiannya. Eve juga tidak bicara dan hanya menunduk.
‘’Kau mengunjungi ibumu?’’
Eve mendongakkan kepala mendengar pertanyaan itu dilontarkan untuknya. Adam masih sibuk melepaskan pakaiannya dan hendak memakai jubah handuk mandi. Eve membalikkan badannya dengan jawaban anggukan kepala.
‘’Maaf karena aku tidak sempat berkunjung. Lain kali aku akan datang bersamamu.’’
Wanita itu hanya mengangguk hingga suaminya memasuki kamar mandi. Ia berbalik dengan raut wajah merasa bersalah.
__ADS_1
Apakah sebaiknya aku jujur saja, kalau aku sudah pernah ditiduri pria lain? Aku mencemaskan Cordelia. Kenapa malam itu dia tidak mengadukanku kepada ayah? Apakah ini semua adalah rencananya? Tapi jika kuberitahu Adam, aku takut dengan reaksinya. Semua orang pasti akan merasa marah jika suami atau istrinya sudah disentuh oleh orang lain sebelum menikah. Ah, aku harus bagaimana? Aku sangat bingung. Aku ingin memberitahu Adam mengenai diriku, tapi di sisi lain aku juga sangat takut melihat reaksinya kepadaku, kata Eve dalam hati.
Saking fokusnya, ia tidak sadar kalau Adam sudah selesai dan berdiri di belakangnya. Pria tadi menatapnya sejak tadi dengan raut wajah datar.
Sepertinya dia memikirkan sesuatu. Apakah dia mencemaskan ayahnya? Dia bahkan tidak menyadari keberadaanku, kata Adam dalam hati.
‘’Aku sudah selesai menggunakan kamar mandinya.’’
Eve tersentak. Spontan ia berdiri dan berbalik. Matanya terbelalak melihat Adam ternyata sudah ada di belakangnya. Pria itu tidak terlalu peduli dan menuju ke sisi kiri kasur.
Tanpa membuang waktu, Eve langsung memasuki kamar mandi. Jantungnya berdetak kencang karena pria itu mengagetkannya tadi.
Beberapa menit kemudian…
Ia dibuat bingung, karena dilihatnya Adam duduk di kasur yang masih mengenakan jubah handuk mandi sambil menatap layar laptopnya. Dahinya berkerut, mengapa pria itu belum memakai piyamanya. Tanpa disuruh, ia menuju ke lemari dan mengambil pasangan piyama yang tergantung.
Adam menutup layar laptop setelah memeriksa perkembangan perusahaannya. Begitu ia meletakkan laptopnya di meja, Eve ternyata berdiri sejak tadi sambil memegang sepasang piyama di hanger baju. Ia menatap istrinya yang juga masih mengenakan jubah handuk mandi dengan rambut panjang setengah basah.
Deg!
Adam menarik Eve ke kasur dan menindih tangan kedua pergelangan tangan istrinya. Wanita tadi membulatkan mata gara-gara gerakan cepat itu. Ia menatap Adam yang melontarkan tatapan dingin tetapi menggoda ke arahnya, membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
‘’A-Adam?’’
Adam melirik tali pengikat jubah handuk mandi milik wanita yang sekarang ini ada di bawahnya. Perlahan tangannya terulur melepaskan tali itu. Sedikit demi sedikit, bibirnya menyusuri tubuh Eve. Tangannya juga sudah tidak bisa dikondisikan.
Hal itu spontan membuat tubuh Eve gemetar. Ia kembali diingatkan kejadian saat di hotel. Suaminya masih sibuk menyusuri tubuhnya hingga tangan pria itu beralih ke bagian bawah.
‘’Tidak!’’
Adam terbelalak melihat Eve sudah menangis dengan tubuh gemetar. Wanita itu meremas saprai sambil memalingkan kepalanya.
‘’Kau istriku, jadi sudah sepantasnya aku mengambil hakku.’’
Eve terisak dalam kondisi tubuh yang masih gemetar. Ia bukannya tidak mau melayani suaminya, tetapi setiap sentuhan suaminya tadi mengingatkannya dengan sentuhan pria yang sudah merenggut kesuciannya malam itu.
__ADS_1
‘’Haa, ya sudah ... Aku tidak akan memaksamu. Aku akan baru menyentuhmu jika kau sendiri sudah siap.’’
Butiran air mata mengalir dari sudut mata Eve. Malam indah di mana ia dan suaminya seharusnya menyatukan tubuh mereka, malah terhalangi oleh satu insiden yang telah merusak dirinya.