
Kediaman Raymond
Prank! Prank! Prank!
“Ini bahkan tidak bisa dikatakan sebagai makanan! Beraninya kalian menyuguhkan makanan seperti ini untuk aku masak di kompetisi makanan nanti!” seru anak laki-laki berumur 5 tahun.
Para koki dan pelayan hanya membungkuk meminta maaf.
“Apa yang terjadi? Kenapa ribut sekali?” tanya seorang wanita berambut pirang panjang.
Semua membungkuk memberi hormat. “Ma-Maafkan kami Nona Muda.”
Wanita itu memicingkan mata melihat kondisi dapur. “Reon, apakah kau membanting makanan lagi?”
Anak laki-laki bernama Reon itu membuang muka dengan tampang marah.
“Haa, bisakah kau tenang untuk satu hari saja? Aku bahkan sampai mendengar suaramu dari ruang tamu. Bersikap bijaklah layaknya keluarga Raymond! Kalau ayahmu sampai tahu hal ini, bahkan jika aku ibumu, aku tidak bisa menghentikannya,” tegur wanita itu.
Reon menatap ibunya dengan alis berkerut. “Ayah bahkan tidak pernah peduli padaku selama 5 tahun ini, lalu untuk apa dia akan peduli kepadaku? Pria itu hanya sibuk dengan pekerjaannya. Selain itu aku bahkan tidak pernah melihat kalian berdua bersikap romantis. Aku jadi ragu apakah aku benar-benar anak kalian berdua.”
“Reon, jaga ucapanmu!” tegur wanita itu.
“Kalian ribut lagi?” tanya seorang pria dewasa membuat wanita tadi menunduk.
“A-Ayah mertua, ini kesalahan saya. Hal ini tidak akan terulang lagi.”
“Cordelia, ajari anakmu itu agar tidak sembarangan memecahkan barang. Dia pikir barang di rumah ini dibeli dengan daun? Dasar,” kata pria dewasa tadi berlalu pergi.
Wanita yang tidak lain adalah Cordelia itu hanya menghela nafas. “Lihat, Tuan Besar sudah memperingatiku karena ulahmu. Apakah kau ingin kita ditendang baru membuatmu sadar?”
“Heh? Kakek bahkan selalu memandangku dengan tatapan dingin, dan nenek yang selalu menolak panggilan vc dariku membuatku semakin yakin kalau tidak ada yang sayang padaku.”
“Reon, kenapa kau berpikir seperti itu? Semua orang menyayangimu,” kata Cordelia.
Reon berlalu pergi dengan perasaan kesal. “Karena itulah, aku akan memenangkan kompetisi ini untuk membuat kalian mengakuiku.”
“Reon? Reon!” teriak Cordelia tapi anaknya itu mengabaikan.
Cordelia menghela nafas kasar sambil menatap para pelayan. “Bersihkan semua pecahan itu sebelum Adam datang!”
“Baik Nona Muda!”
Setelah kepergian Cordelia, para pelayan dan koki itu beres-beres.
__ADS_1
“Cih, dasar! Wanita itu berlagak Ratu saja di rumah ini.”
“Mm, padahal aku pikir dia sebaik Nona Eve karena dia adalah adiknya. Ternyata Nona Cordelia ini sangat angkuh.”
“Aku tidak tahu harus menghadapinya bagaimana. Salah sedikit saja, dia akan melayangkan pukulan.”
“Kalau Tuan Besar, Nyonya Besar dan Tuan Muda mengetahui kelakukannya, kurasa dia sudah ditendang sejak dulu.”
“Aku lebih memilih Nona Eve menjadi Nona Muda kita.”
“Benar. Padahal aku sudah senang kalau Nona Eve yang akan menjadi Nyonya Besar selanjutnya. Tapi takdir mengatakan hal lain.”
“Kalau Nona Cordelia yang menjadi Nyonya Besar selanjutnya, kurasa rumah ini akan hancur.”
“Ush, sudah. Kalau kita kedapatan bicara seperti ini, malah kita yang akan ditendang keluar.”
......................
Kediaman Kamiya
“Selamat datang Nona Muda,” sapa para pelayan yang membungkuk.
“E-Eh? Sudah aku bilang tidak perlu memanggilku seperti itu. Aku ini bukan siapa-siapa,” kata Eve.
“Siapa bilang kau bukan siapa-siapa? Kau adalah wanita yang berharga bagiku,” kata Kaji muncul.
“Aku sudah menyuruh para pelayan mengatur kamar kalian. Mereka akan menuntun kalian ke kamar,” kata Kaji.
“Begitu? Maaf sudah merepotkan. Seharusnya kau tunggu aku pulang dulu, biar aku yang mengaturnya sendiri,” kata Eve.
Kaji tersenyum. “Tidak apa-apa. Ini langkah awal untuk mengambil hati calon istriku.”
“Heh, Paman Kaji ini orangnya terlalu transparan atau terlalu polos?” tatap Kane dengan wajah bodohnya.
“Setidaknya dia berani jujur dibandingkan ayah yang sama sekali tidak ingin mengakui kita,” kata Kein.
Melihat Eve memukul Kaji yang selalu tertawa, membuat kedua anak kembar itu tersenyum.
“Sepertinya hanya Paman Kaji saja yang bisa membuat Ibu tertawa,” kata Kane.
Kein diam dan hanya mengangguk membenarkan.
......................
__ADS_1
Perjalanan…
Adam menatap ke luar jendela mobil. Tiba-tiba ponselnya bergetar melihat sebuah notif masuk.
“Tuan Kaji mengabariku kalau dia baru saja tiba di Indonesia hari ini,” kata Adam.
“Kebetulan, besok malam Tuan Besar mengadakam acara untuk menyambut kompetisi makanan. Kenapa tidak mengundang Tuan Kaji saja Tuan Muda?” tanya Sekretaris Rey.
Adam mengetik dan mengirim pesan. Tidak lama kemudian balasan dari tuan Kaji membuatnya tersenyum.
Tu-Tuan Muda tersenyum setelah 5 tahun?! Wah, kata Sekretaris Rey dalam hati.
“Tuan Kaji menyetujuinya. Sekalian dia membawa calon istrinya untuk diperkenalkan,” kata Adam.
Calon istri? Heh, calon istri dari Tuan Kaji ini memiliki pengaruh sebesar apa sampai membuat Tuan Muda tersenyum? Hhah? Jangan bilang Tuan Muda berniat untuk merebut calon istri Tuan Kaji karena itulah dia tersenyum? Ahaha tidak mungkin. Apa yang aku pikirkan? Haa, kata Sekretaris Rey dalam hati.
......................
Kediaman Raymond
Para pelayan membungkuk menyambut kedatangan Adam. Saat masuk, sekretaris Rey mengerutkan dahi karena melihat Reon duduk sendirian di ruang tamu.
“Tuan Reon, kenapa Anda berdiam diri di sini?” tanya Sekretaris Rey.
Reon menoleh dan melihat Adam bersama sekretaris Rey, membuatnya langsung berdiri.
“Ayah sudah pulang? Selamat datang,” sambut Reon.
Adam menatap Reon sekilas. Anak kembar yang ditemuinya tadi masih tidak lepas dari pikirannya.
Berbeda dengan kedua anak kembar di hotel tadi, aku baru sadar kalau Reon tidak memiliki turunan gen dari diriku. Aku tidak melihat apa pun yang membuatnya mirip denganku, membuatku semakin yakin apakah dia memang benar-benar adalah putraku? Tapi, hari itu tes DNA dilakukan dan kecocokannya 100%. Hm, kata Adam dalam hati.
“Bisakah Ayah menemaniku memasak untuk persiapan kompe—”
Ucapan Reon terpotong saat Adam langsung berjalan pergi.
“Tuan Muda sedang lelah jadi tidak bisa menemani Anda dulu. Permisi,” kata Sekretaris Rey.
Reon menatap kepergian kedua pria itu dengan tatapan tidak suka. Ia mengepalkan tangan sambil menggertak gigi.
Prank!
Keramik mini di atas meja pecah setelah Reon menendangnya lalu pergi begitu saja. Cordelia yang melihatnya benar-benar tidak tahan dengan kelakuan putranya itu. Ia menyuruh para pelayan untuk segera membersihkannya.
__ADS_1
...Visual Reon Raymond...