
Mark mengepalkan tangan setelah keputusan para juri sudah bulat. Kein yang melihatnya hanya memasang raut wajah datar.
Keempat peserta membungkuk tanda kompetisi selesai. Semua orang pun bubar dan 92 peserta menghampiri ketiga peserta yang akan tanding di semi-final.
Mereka pun keluar sambil berbincang di koridor, dan saling mengucapkan salam sebelum berpisah.
Kein yang berjalan di koridor langsung terhenti saat melihat Mark berdiri sambil bersandar dengan kepala menunduk.
Kein hanya diam dan berjalan melewati anak laki-laki itu.
“Tuan Kein sengaja melakukannya, ya?” tanya Mark membuat langkah Kein terhenti.
Mark menatap anak berambut putih yang masih berdiri membelakanginya tanpa berbicara.
Bugh!
Kein menoleh sedikit saat menyadari Mark memukul tembok di sampingnya.
“Kenapa? Kenapa?! Padahal aku tidak melihat perbedaan besar dari hidangan kita berdua,” kesal Mark.
Melihat Kein masih diam membuat Mark menggertak gigi. “Tuan Kein!”
Kein berbalik dengan wajah datarnya dengan kepala yang sedikit miring sambil mengangkat sebelah alisnya. “Aku sudah menuruti perintahmu, kenapa kau masih protes?”
“Apa maksud Tuan Kein?” tanya Mark dengan alis berkerut.
“Di babak perempat final ini, kalian akan dibagi menjadi 2 tim. Tapi kalian akan tetap menghidangan makanan yang sama secara individu, dan hanya ada tiga orang yang akan lolos ke babak semi-final. Jadi silahkan putuskan dengan siapa kalian ingin berpasangan, dan waktunya dimulai 10 detik dari sekarang!” perintah salah satu penguji.
Kein menunduk menyadari ponselnya bergetar. Ia menggeser layar dan melihat pesan masuk dari Kane.
Aku sudah menyelidikinya. Nomor itu masih aktif 10 menit yang lalu sebelum dia memblokir kartunya. Lalu, lokasi si pengirim terakhir dilihat di akademi ini. Tapi jangan khawatir, aku sudah mengaktifkan kembali kartu itu dan menelusuri pemilik nomor tersebut. Orang yang mengirimnya adalah….
“Tuan Kein, kita ini berteman, jadi sudah pasti kita satu tim, kan?” tanya Mark.
Kein menoleh dan diam untuk sesaat. “Tentu saja.”
__ADS_1
Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana seragam kokinya.
10 detik kemudian, keempat orang itu berdiri berpasangan. Reon bersama koki wanita dewasa di tim A, sedangkan Kein bersama Mark di tim B.
MC menekan tombol acak dan icon panah berhenti di bola warna biru.
“Bahan utama yang digunakan untuk tema hidangan adalah … Bebek!” (Kein teringat)
“Babak selanjutnya akan menggunakan bahan bebek sebagai tema hidangan. Aku sudah mengirimkan resep makanannya. Jadi, kalau kau membuat hidangan ini maka kau akan menang … Kau yang mengirim pesan ini, kan?” tanya Kein.
Deg!
Mark tertegun. “A-Apa yang Tuan Kein katakan. Aku tidak mengerti.”
Kein membaca pesan dari adiknya sebelum kompetisi di mulai.
*Aku sudah menyelidikinya. Nomor itu masih aktif 10 menit yang lalu sebelum dia memblokir kartunya. Lalu, lokasi si pengirim terakhir dilihat di akademi ini. Tapi jangan khawatir, aku sudah mengaktifkan kembali kartu itu dan menelusuri pemilik nomor tersebut. Orang yang mengirimnya adalah Mark Shelton.
Di saat bersamaan Mark menghampirinya.(Kein teringat*)
“Tidak perlu berpura-pura. Kau memakai nomor lain untuk menghubungiku dengan maksud membocorkan informasi babak kompetisi. Lalu memblokir kartu itu agar tidak ada yang mengetahuinya. Tapi sayang sekali kartunya sudah diaktifkan kembali, dan aku membuat hidangan yang kau perintahkan lewat pesan. Yang jadi pertanyaan, kenapa kau bisa mengetahui bahan utama yang digunakan adalah bebek?” tanya Kein.
“Reon Raymond … Pasti dia yang memberitahumu, kan?”
Mark bersih keras membantah tuduhan Kein, membuat anak laki-laki berambut putih itu menekan ponselnya.
Ring! Ring! Ring!
Sebuah nada dering dari ponsel berbunyi, membuat kedua anak itu hanya terdiam.
Kein mematikan ponselnya sehingga nada dering ponsel itu hilang. Ia lalu menekan ponselnya dan nada dering itu kembali terdengar. Hal itu dilakukan Kein berulang kali membuat Mark tidak bisa mengelak.
“Lalu yang bunyi itu apa? Apakah mungkin hanya sebuah kebetulan?” tanya Kein.
Mark hanya diam menunduk membuat Kein menghela nafas.
__ADS_1
“Ini sudah kesekian kalinya kau dan Reon cari masalah. Tapi aku masih diam karena aku menghargai kalian berdua. Kau dan Reon berbuat curang dan berniat menjatuhkan diriku. Tapi sayang, aku mengetahui rencana kalian. Untuk terakhir kalinya, aku melepaskan kalian berdua,” kata Kein berbalik untuk pergi.
Mark menunduk sambil menggertak gigi disertai tangan mengepal.
Kein berhenti sejenak dengan posisi membelakangi Mark. “Salahkan sendiri dirimu karena menuruti perkataan Reon yang jelas-jelas sedang memanfaatkanmu. Jika saja kau menolak perintahnya, mungkin yang lolos ke babak semi-final bukanlah Reon, tapi kau.”
“Lain kali kalau kau dan Reon cari masalah denganku, maka aku tidak akan berbaik hati lagi,” kata Kein memberi tekanan di akhir kalimatnya.
Mark menatap kepergian Kein dengan tatapan tidak suka. Ia berjalan mengeluari akademi dan hendak memasuki mobil.
Namun, sebelum ia masuk ke dalam mobil, kepalanya menoleh ke arah Reon yang berbincang dengan para peserta sambil tersenyum remeh.
Salahkan sendiri dirimu karena menuruti perkataan Reon yang jelas-jelas sedang memanfaatkanmu. Jika saja kau menolak perintahnya, mungkin yang lolos ke babak semi-final bukan Reon, tapi kau. (Mark teringat)
Tangannya mengepal disertai gertakan gigi. Dengan perasaan marah, Mark masuk ke dalam dengan wajah merah padam.
Cih! Apa yang akan aku katakan kepada keluarga Shelton? Sial! Sial! Sial! Kenapa Tuan Kein berkata seperti itu? Padahal selama ini aku selalu berada di posisi kedua. Tapi kalimat Tuan Kein juga menggangguku, kata Mark dalam hati.
Flashback on
Ruang Tunggu
Mark menutup pintu setelah Reon memanggilnya masuk ke dalam ruangan itu.
"Ada apa Tuan Reon? Apakah Anda memiliki cara lain untuk menjatuhkan Tuan Kein?" tanya Mark.
"Tentu saja ... Karena rencana kita yang sebelumnya gagal, aku sudah menyiapkan rencana lain. Di babak 4 besar ini, mungkin seperti biasa kita akan dibagi menjadi 2 tim untuk bekerja sama membuat hidangan yang sama, meskipun hidangan kita akan dinilai secara individu," kata Reon.
"Jadi apa yang akan kita lakukan?" tanya Mark.
"Aku akan membuat pengecualian untuk kali ini demi menjatuhkan anak angkuh itu. Bahan yang akan digunakan di babak perempat final nanti adalah bebek. Kau harus mengirimkan pesan kepadanya mengenai informasi ini, dan menyuruhnya membuat hidangan yang aku kirimkan. Aku juga ingin kau berpasangan dengan Kein. Kalau aku di posisi Kein, mungkin dia tidak akan menggunakan resep itu dan malah menganggapnya sebagai jebakan. Karena dia tidak mengikuti resep masakannya, dengan begitu Kein akan gugur dan kau akan lolos," kata Reon.
"Bagaimana jika dia tahu kalau aku yang memberitahunya informasi ini?" tanya Mark.
"*Mudah saja. Setelah kau mengirim pesan, maka segera blokir kartu yang kau gunakan itu," kata Reon.
__ADS_1
Flashback off*
Apakah yang dikatakan Tuan Kein benar? Jika saja aku tidak menuruti perkataan Tuan Reon, mungkin aku yang akan lolos ke babak final untuk bertanding dengan Tuan Kein. Sial! Tuan Reon, kata Mark dalam hati.