
Seperti yang dikatakan bawahannya tadi, seorang pria muda datang sambil dikawal 20 orang. Adam langsung menyambut mereka dengan hangat. Kedua pria muda itu berjabat tangan hingga Adam mempersilahkannya duduk.
‘’Hajimemashite, Konnichiwa! Kamiya Yuki to moushimasu, yoroshiku onegaishimasu(Selamat siang! Perkenalkan, namaku Yuki Kamiya, senang bertemu dengan Anda).’’
‘’Salam. Namaku Adam Raymond, senang bertemu dengan Tuan Kamiya.’’
......................
Kediaman Raymond
‘’Di mana, Eve?’’ tanya Tuan Moriarty pada kepala pelayan.
‘’Nona Muda belum pulang setelah mengantar Nyonya Besar ke Bandara, Tuan Besar.’’
Kepala pelayan terbelalak saat Tuan Moriarty cemberut seperti anak kecil yang mencari ibunya.
‘’Haa, padahal aku ingin menyuruhnya membuatkanku hidangan baru.’’
......................
Pemakaman
Sebuah mobil berhenti tepat di luar pagar pemakaman. Supir pribadi membukakan pintu mobil. Wanita itu berjalan menghampiri batu nisan yang merupakan milik mendiang ibunya. Supir pribadi yang menemaninya, melepaskan topi sambil membungkuk ke arah batu nisan tersebut.
‘’Ibu, bagaimana kabar ibu di sana? Kuharap tenang seperti biasanya. Aku sudah menikah dengan pria pilihan ayah, namanya Adam Raymond. Tapi karena sibuk, dia tidak sempat mendatangi ibu. Aku akan mengajaknya lain kali.’’
Tangannya sedikit gemetar membuatnya mengepalkan tangan. Matanya juga sudah sedikit berkaca-kaca, tapi ia berusaha menahan emosi di depan supir pribadinya.
‘’Ibu tahu? Keluarga Raymond sangat baik kepadaku. Mereka tidak seperti mertua jahat dalam dongeng yang sering ibu ceritakan, dan itu membuatku sangat bersyukur. Saat bersama mereka, aku seperti merasakan suasana saat kita bertiga berkumpul dulu. Doakan aku ibu, semoga aku bisa menjadi kebanggaan mereka tanpa mencoreng nama baik keluarga Raymond.’’
Tanpa supir pribadi itu sadari, butiran air mata Eve sudah berjatuhan saat wanita itu mengucapkan kalimat terakhir. Berbicara kebanggaan dan nama baik mertuanya dengan tulus seperti itu, padahal kehormatannya saja sudah direbut membuatnya merasa malu, apalagi di depan makam ibunya sendiri.
Ibu, aku seharusnya tidak pantas datang ke sini. Seluruh tubuhku sudah dipenuhi dengan kotoran. Ibu yang melihatku di sana pasti merasa jijik, kan? Tapi hanya ibu tempatku untuk melepaskan keluhan. Aku sangat takut jika ayah sampai tahu hal ini. Apakah dia juga akan meninggalkanku? Keluarga Raymond yang menganggapku seperti anak mereka sendiri, apakah mereka juga akan menyuruhku pergi? Lalu Adam, jika dia tahu aku pernah ditiduri pria lain, apakah dia masih berlapang dada mau menerima keberadaanku? Ah, memikirkan semua itu saja sudah membuatku tidak sanggup. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus memberitahu mereka kenyataannya? Ibu, kenapa aku harus menghadapi kesengsaraan ini? Hiks, sedih Eve dalam hati.
__ADS_1
Supir pribadi memandangi Eve dari dengan tatapan iba.
Aku tidak menyangka, Nona Muda adalah orang yang selembut ini. Dia wanita yang baik karena memperlakukan semua orang di kediaman Tuan Besar tanpa membeda-bedakannya, dan masih tetap mengunjungi mendiang ibunya. Jika dia menjadi Nyonya Besar selanjutnya, kurasa kedamaian akan menghidupi keluarga Raymond. Tuan Besar sudah memilih menantu yang tepat. Aku berdoa kepada Tuhan, semoga Nona Muda diberkahi umur yang panjang dan kesehatan, tidak lupa kebahagiaan di pernikahannya, kata supir dalam hati.
......................
Di sisi lain, pak Percy merasa sedikit pusing. Perayaan sedang diadakan di rumah majikannya, membuatnya beserta pelayan lain sibuk. Sesekali, ia terbatuk disertai keringat dingin.
‘’Ada apa dengan diriku? Perasaan masih baik-baik saja saat tadi pagi. Aku sarapan di kedai karena Cordelia tidak bisa memasak, dan makanan di kedai juga dalam kondisi baik.’’
Saat berniat membawa minuman, tubuhnya hilang keseimbangan sehingga minuman tersebut tumpah mengenai salah satu tamu. Semua langsung menatap ke arah suara tersebut.
‘’Dasar kelas rendah! Beraninya kau mengotori pakaianku!’’
Pak Percy bersujud untuk meminta maaf. Namun pria yang ditumpahi minuman tadi menendangnya. Majikannya langsung menghampiri keramaian tersebut dan memarahi pak Percy.
‘’Apakah kau sama sekali tidak bisa bekerja? Sudah kuberi gaji masih tetap tidak becus! Mulai hari ini kau dipecat!’’
Bugh!
Majikannya menepis kakinya dengan kasar membuat pak Percy sedikit terlempar.
‘’Sekarang juga pergi dari sini!’’
Pak Percy meringis sambil berdiri, dan membungkuk sebelum pergi. Orang-orang di sana tidak terlalu peduli dan kembali berbincang.
Ia hanya bisa bersabar mendapat perlakuan tadi. Mengapa semua orang kalangan atas selalu memandang rendah orang kalangan biasa seperti dirinya. Padahal mereka sama-sama manusia yang diciptakan oleh Tuhan, hanya saja yang membedakan adalah kondisi keuangan.
Uangku sisa ini. Setelah biaya makan di kedai dan transportasi, sepertinya tidak cukup jika mengambil taxi untuk pulang. Masih ada 12 km baru sampai di rumah. Stt, kepalaku juga sangat pusing. Mungkin sebaiknya aku hubungan Eve saja, ucapnya dalam hati.
Namun, tangannya terhenti saat mengingat anaknya itu sudah menjadi menantu keluarga ternama, otomatis putrinya pasti sibuk mengurus mereka. Ia kembali menarik tangannya dengan raut wajah masam dan berjalan pelan menyusuri kota.
......................
__ADS_1
Perusahaan
Adam dan Kamiya Yuki bersalaman setelah membahas kerja sama mereka yang telah selesai. Tidak butuh waktu yang cukup lama chemistry di antara mereka terbangun. Meskipun beda 3 tahun, tidak ada kata senior dan junior, tetapi layaknya seangkatan.
Begitu Kamiya Yuki pergi, Adam menghela nafas yang bersandar di sofa sambil melonggarkan dasinya sedikit. Ia tidak menyangka, hari sudah hampir gelap, membuatnya beranjak pulang.
......................
Perjalanan…
Seperti biasa, Eve hanya akan tenang di dalam mobil tanpa berbicara. Padahal ia sudah berusaha menahan air matanya agar tidak menangis, tapi tetap saja butiran bening itu selalu terjatuh dari sudut matanya.
Deg!
‘’Hentikan mobilnya!’’ seru Eve membuat sang supir pribadi tersentak.
‘’Ada apa, Nona Muda?’’ tanya sang supir khawatir.
Eve menajamkan penglihatannya ke arah trotoar di seberang jalan. Melihat sosok itu, membuatnya langsung menuruni mobil. Supir pribadinya bingung dan ikut keluar menyusul.
‘’Ayah!’’
Pak Percy menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Matanya membulat besar melihat Eve berlari ke arahnya. Entah apakah itu nyata atau tidak, tapi ia benar-benar melihat putrinya itu.
‘’Ayah, kenapa ada di sini? Bukankah Ayah seharusnya bekerja?’’ tanya wanita itu sangat cemas melihat ayahnya seperti kelelahan.
‘’Ayah dipecat karena tidak sengaja menumpahkan minuman ke salah satu tamu penting.’’
‘’Lalu kenapa Ayah tidak mengambil taxi untuk pulang, dan hanya berjalan kaki atau menghubungiku? Ya sudah, ayo ikut denganku. Aku akan mengantar Ayah.’’
Belum sempat mereka mencapai mobil, pak Percy tiba-tiba jatuh terduduk di tengah jalan. Orang-orang langsung menghampiri dan membantunya. Tidak lupa, Eve berterima kasih sebelum masuk ke dalam mobil.
Merasa cemas, ia menyuruh supir pribadinya untuk membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1