
‘’Kalian bertiga ditangkap atas kasus pembunuhan terhadap keluarga Nona Eve. Harap ikut kami ke kantor polisi,’’ kata Inspketur.
‘’Reon-san … Karena kau masih di bawah umur, kau akan dikurung di ruangan yang bebeda,’’ lanjut Inspektur.
‘’Tidak! Lepaskan aku!’’ seru Cordelia.
Bu Christa hanya pasrah setelah rasa penyesalan yang begitu kuat menyerangnya. Reon sama pasrahnya sambil mengikuti petugas polisi.
Cordelia berdecih lalu menyikuk kedua detektif yang membawanya. Ia langsung merebut pistol milik detektif Erimi lalu mengarahkannya kepada Kane.
‘’Kalian mungkin bisa menyelamatkan anak yang satu itu. Kalau begitu, kau saja yang pergi menggantikannya! Hehe, matilah,’’ kata Cordelia menyeringai.
Dor!
Kedua detektif itu langsung mengunci pergerakan Cordelia dan memborgol tangannya.
......................
Kantor Polisi
Eve terdiam setelah ia berteriak sejak tadi. Tangannya terulur memegang dadanya. ‘’E-Eh? Kenapa perasaanku tidak enak? Tidak, tidak … Hhah? Kenapa aku sulit bernafas?’’
‘’Siapapun, tolong biarkan aku keluar!” ucapnya berusaha berteriak tapi tidak bisa.
Perasaanku tidak enak. Jangan-jangan terjadi sesuatu kepada putraku, kata Eve dalam hati.
......................
Ruang Tamu
Semua terdiam membisu sambil menatap ke arah Kane yang sama membisunya. Anak itu terpaku dengan mata melotot.
‘’Kenapa kau melindungiku?’’ tanya Kane menatap Adam yang ternyata menerima peluru tadi.
Adam meringis sambil memegang perutnya yang sudah basah karena lukanya terbuka. Ia sedikit memperlihatkan sebagian wajahnya kepada anak itu. ‘’Tentu saja melindungi putraku sendiri.’’
Tangan Kane mengepal sambil menggertak gigi. ‘’Tidak ada yang memintamu melakukannya!’’
Kaji benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Ia menatap pria itu yang berjalan ke arah Cordelia.
‘’Kau melindungi anak yang masih berada di dalam kandungan ibunya, setelah kau menendangnya keluar? Heh, hahaha! Sungguh lu—‘’ ucapan Cordelia terpotong karena Adam langsung mencekiknya.
Kedua detektif yang berdiri di depannya berusaha melepaskan tangan pria itu.
Adam menatap Cordelia dengan tatapan tajam dan menusuk.
‘’Tuan Adam, Anda bisa membunuhnya. Lepaskan tangan Anda! Kepolisian yang akan mengurusnya,’’ kata Detektif Ryugen.
__ADS_1
‘’Aku sudah mencapai batasku. Wanita ini, sejak dulu sampai sekarang telah menghancurkan keluargaku. Cordelia, kau benar-benar cari mati, ya?’’ tanya Adam tertahan.
Semua melotot karena leher Cordelia mulai keluar darah akibat cengkeraman kuat dari Adam.
‘’Tuan Adam! Anda akan benar-benar membunuhnya! Mohon tenangkan diri Anda,’’ kata Detektif Ryugen berusaha memisahkan kedua orang itu.
Sebuah tangan terulur memegangnya membuat Adam menoleh.
Kaji mencengkeram tangan Adam yang mencekik Cordelia. ‘’Kau ingin menjadi seperti dirinya? Seorang pembunuh?’’
Adam tidak peduli. Ia benar-benar sudah mencapai batasnya. Melihat hal itu membuat Kaji tidak punya pilihan, dan meninju perut pria itu yang terkena peluru.
‘’Akh!’’ ringis Adam terjatuh.
Semua langsung bernafas lega karena akhirnya kedua orang itu berhasil dipisahkan berkat bantuan Kaji. Darah dari perut Adam mengalir di lantai.
‘’Yuu-san! Kau adalah seorang dokter, kenapa kau diam saja?!’’ seru Kaji.
Dokter Yuu memasang wajah bodohnya. ‘’Entah kenapa aku pernah mendengar kalimat itu.’’
Sambil dokter Yuu mengeluarkan peluru dari perut Adam, para petugas telah menyelamatkan Kein yang langsung ditangani.
‘’Seperti yang dikatakan Tuan Kane, kami menemukan Tuan Kein di gudang pendingin,’’ lapor Petugas Reiki.
‘’Bocah sialan! Kenapa kau selalu mengetahui tempatnya?!’’ seru Cordelia memegang lehernya.
Cordelia berdecih, hingga akhirnya ketiga orang itu dibawa ke kantor polisi. Setelah menyelamatkan Pendiri dan Shion yang sudah ada di rumah sakit, mereka semua menghela nafas lega karena masalah telah selesai.
‘’Benar-benar hari yang sangat panjang,’’ kata Nyonya Zekino.
......................
Rumah Sakit Pribadi
Semua menatap dokter Yuu yang menunggu anak di depannya itu siuman.
‘’Kita sudah mencairkan beku di tubuhnya dengan benar. Seharusnya sebentar lagi Kein-kun akan sadar,’’ kata Dokter Yuu.
Tidak lama kemudian, seperti yang dikatakan pria itu, Kein membuka matanya secara perlahan.
‘’A-Aku di mana?’’ tanya Kein lemah.
‘’Kakak!’’ seru Kane langsung memeluk kakaknya.
Kein meringis lalu mendorong kepala adiknya. ‘’Sesak tahu.’’
Semua merasa senang karena anak itu baik-baik saja terutama Kane.
__ADS_1
‘’Kau menangis?’’ tanya Kein.
‘’Tidak, mataku terkena debu,’’ jawab Kane membuat semua terkekeh.
Kein menatap semua orang satu persatu dengan kondisi lemah.
‘’Kakak, maaf karena aku terlambat menyadari petunjukmu,’’ kata Kane menunduk.
Dak!
‘’Akh! Kakak?’’ tanya Kane tidak percaya karena kepalanya malah dipukul.
‘’Dasar bodoh, kau terlalu lama menyadarinya,’’ kata Kein.
‘’Kein!”
Semua menoleh karena mendengar pemilik suara yang tidak lain adalah Eve. Wanita itu menangis sambil memeluk Kein dan memastikan keadaan putranya.
‘’Kaji-kun sudah menceritakan semuanya kepadaku. Sudah aku bilang, kau tidak meninggal. Aku tidak mempercayainya,’’ isak Eve.
Ia kembali memeluk Kein membuat anak itu tidak bisa bernafas. ‘’Ibu, sesak.’’
‘’Ah, maaf. Aku terlalu senang,’’ kata Eve.
Duk!
Kedua anak kembar itu meringis karena Eve menjitak kepala mereka. ‘’Dasar, kalian berdua membuatku sangat khawatir!’’
Dokter Yuu tersenyum dengan wajah bodohnya. ‘’Mereka berdua memang adalah Ibu dan anak.’’
......................
Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian tersebut. Eve menghampiri ayahnya yang duduk sendirian di sekitar taman.
‘’Bagaimana kondisi Ayah?’’ tanya Eve.
‘’Ah, dokter muda itu memberiku obat dan sepertinya bekerja dengan baik,’’ senyum Pak Percy.
Tangan Eve terulur memegang tangan ayahnya. ‘’Aku tidak menyangka Bu Christa ternyata adalah adiknya ibu, setelah mendengar semuanya dari Kaji-kun. Ayah jangan sedih, masih ada Eve di sini. Setelah Eve menikah nanti, aku akan mengajak Ayah tinggal bersama kami.’’
‘’Tuan Kaji dan keluarganya adalah orang yang baik. Tapi, apakah kau sungguh yakin dengan keputusanmu?’’ tanya Pak Percy.
‘’Apa maksud Ayah?’’ tanya Eve.
‘’Eve, aku tahu betul mengenai perasaanmu. Kau adalah cinta yang aku dan ibumu hasilkan, jadi kau tidak bisa membohongiku. Terlihat jelas dari matamu kalau kau ma—’’
‘’Ayah sudah merestuiku bersama Kaji-kun, lalu untuk apa aku ragu menikahinya?’’ senyum Eve memotong ucapan ayahnya.
__ADS_1
Pak Percy terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya tersenyum. ‘’Baiklah. Keputusan apa pun yang kau ambil, aku akan tetap mendukungmu selama itu membuatmu bahagia.’’