
"Wah, wah, sebuah keberuntungan bisa satu meja dengan Tuan Reon dan Tuan Kein."
"Penampilan Tuan Reon juga tidak kalah keren seperti biasa."
"Aku yakin babak final akan seru."
"Tapi aku bingung, siapa yang akan menduduki posisi pertama kali ini?"
"Sudah jelas kalau aku yang akan memenangkan kompetisi ini sekali lagi."
"Hem! Jadi menurut Tuan Kein, siapa yang akan menduduki posisi pertama dalam kompetisi ini?" tanya Mark.
"Babak final masih belum dimulai, kenapa kau membahas posisi pertama seolah-olah sudah mengetahui pemenang kompetisi ini? Kecuali kau memiliki orang dalam untuk mencapai puncak. Benar, kan?" tanya Kein telak.
"Hehe, kami hanya penasaran saja karena Tuan Kein ikut kompetisi ini," kata Mark terkekeh.
Kenapa dia terdengar seperti menyindirku? Aku bahkan tidak pernah menggunakan bantuan orang dalam untuk memenangkan kompetisi. Benar-benar membuat orang emosi, kata Reon dalam hati.
......................
Kediaman Kamiya di Indonesia
Dokter Yuu datang sambil membawa camilan buah untuk Eve yang sedang menyaksikan kompetisi masak lewat TV.
“Yuu-san, kau tidak perlu repot-repot membawakan aku begini,” kata Eve.
“Tidak apa-apa. Aku memang sengaja membuat banyak, sekalian membuatkan juga satu untukmu,” kata Dokter Yuu.
Ia mengecek suhu tubuh Eve lalu tersenyum. “Demammu sudah turun. Kalau kau istirahat seperti biasa maka satu atau dua hari kondisimu akan pulih sebelum final tiba,” kata Dokter Yuu.
Eve hanya diam. Rasanya ia masih enggan untuk datang ke akademi, meskipun ia sangat ingin menyaksikan kompetisi masak Kein secara langsung.
“Ada apa?” tanya Dokter Yuu menyadari wanita itu hanya diam dari tadi.
“Aa, tidak ada apa-apa. Terima kasih,” senyum Eve.
Dokter Yuu mengunyah camilan buah sambil menonton. “Menurutmu, apakah Kein-kun akan memenangkan kompetisi ini?”
“Seorang ibu selalu memiliki keyakinan kepada anaknya. Jadi tentu saja aku sepenuhnya percaya kepada Kein,” senyum Eve.
“Meskipun di kompetisi ini dia bertemu dengan Reon Raymond juara bertahan itu?” tanya Dokter Yuu.
__ADS_1
Eve tersenyum. “Julukannya sebagai Si Iblis Makanan akan tercoreng kalau dia kalah di kompetisi masak ini.”
Dokter Yuu tersenyum remeh sambil menunduk. “Kau benar.”
......................
Koridor Akademi
Setelah mereka makan siang, para peserta kembali ke Menara 2. Namun, langkah Kein terhenti saat ponselnya berbunyi.
Kein menggeser layar ponsel dan melihat nomor tidak dikenal mengirim sebuah pesan.
Babak selanjutnya akan menggunakan bahan bebek sebagai tema hidangan. Aku sudah mengirimkan resep makanannya. Jadi, kalau kau membuat hidangan ini maka kau akan menang.
Dahinya berkerut membaca pesan itu. Ia langsung mengetik.
......................
Ruang VVIP
Semua kembali ke ruangan untuk menyaksikan babak perempat final.
Kane yang baru saja duduk langsung menunduk saat menyadari ponselnya bergetar. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka pesan itu.
Matanya beralih saat melihat kakaknya masuk ke aula. Terukir senyuman di bibirnya sambil ia duduk dan memainkan ponselnya seolah-olah sedang bermain game.
92 peserta yang telah gagal sebelumnya masih berada di Indonesia untuk menunggu kompetisi masak itu sampai selesai, hanya karena Si Iblis Makanan. Mereka tidak ingin membuang kesempatan emas dengan kembali ke negara masing-masing meski gagal di kompetisi.
Keempat peserta itu berdiri berjejeran sebelum kompetisi dimulai.
“Di babak perempat final ini, kalian akan dibagi menjadi 2 tim. Tapi kalian akan tetap menghidangan makanan yang sama secara individu, dan hanya ada tiga orang yang akan lolos ke babak semi-final. Jadi silahkan putuskan dengan siapa kalian ingin berpasangan, dan waktunya dimulai 10 detik dari sekarang!” perintah salah satu penguji.
“Tuan Kein, kita ini berteman, jadi sudah pasti kita satu tim, kan?” tanya Mark.
Kein diam untuk sesaat. “Tentu saja.”
10 detik kemudian, keempat orang itu berdiri berpasangan. Reon bersama koki wanita dewasa di tim A, sedangkan Kein bersama Mark di tim B.
MC menekan tombol acak dan icon panah berhenti di bola warna biru.
“Bahan utama yang digunakan untuk tema hidangan adalah … Bebek!”
__ADS_1
Kein sedikit tersentak, berbeda dengan ketiga peserta lainnya yang hanya menganggukkan kepala.
Temanya benar-benar bebek, kata Kein dalam hati.
Begitu waktu berjalan mundur, keempat orang itu langsung mengambil bahan-bahan yang sudah disediakan. Meskipun keempat orang itu akan menyiapkan hidangan masing-masing, tapi mereka tetap bekerja sama untuk saling melengkapi bumbu.
Deg!
Semua orang terbelalak saat aroma masakan dari dapur milik Kein memenuhi ruangan.
Aroma bebek dan rempahnya saling berpadu, kata Kepala Gastronomy dalam hati.
Bagaimana dia bisa membuat aroma seperti ini? Wah, kata Sponsor dalam hati.
Aromanya pedas tapi lembut, agak manis dan juga harum, kata Kritikus dalam hati.
Saat ini, dia mengendalikan seluruh tempat ini ... Si Iblis Makanan itu, kata Nyonya Mary dalam hati.
Ya, tim yang pertama kali membawa hidangannya adalah Kein dan Mark. Para penguji menilai hidangan milik Mark terlebih dahulu. Tentu saja masakan dari juara kedua bertahan tidak perlu diragukan lagi.
Tidak lama kemudian, mereka mencicipi hidangan milik Kein.
“Canard Apicius. Masakan yang paling disukai oleh Apicius, seorang ahli masakan dari zaman Romawi,” tatap Nyonya Mary.
Hidangan daging bebek yang dipotong menyerupai setiga siku-siku yang diatasnya diolesi kilauan.
“Kilauan ini adalah madu yang dikaramelkan. Aroma rempah yang ditaburkan di atas bebek ini sangat harum,” kata Nyonya Mary.
Meskipun kita menggolongkannya sebagai rempah-rempah, namun setiap bahan memiliki karakteristik yang unik dan tidak terbatas. Ada yang sangat pedas, ada yang begitu lembut. Ada yang menyegarkan, ada juga yang pahit. Tapi, masakan ini memperlihatkan kombinasi kekuatan rempah-rempah tersebut seimbang, yang tidak mungkin bisa dibuat tanpa indera penciuman yang sempurna. Kalau tidak salah, selain Kein menjadi penguji makanan di usia 4 tahun, para ilmuwan makanan pernah memberinya tes untuk menebak semua jenis rempah-remah di dunia, dan Kein berhasil menebaknya tanpa menyentuh rempah-rempah itu, dengan mata tertutup, kata Nyonya Mary dalam hati.
Tidak lama kemudian, Tim Reon datang membawa hidangannya. Para penguji juga terkesan dengan hidangan kedua orang itu.
Setelah menilai kedua hidangan tim, MC akan menampilkan voting suara bagi peserta yang akan lolos ke babak berikutnya.
“Reon Raymond, Sarrah Sean, dan ... Kamiya Kein. Selamat, kalian lolos ke babak semi-final!” kata MC.
“Bagaimana mungkin? Bukankah hidangan milikku dan Tuan Kein sama persis? Lalu kenapa hanya aku yang gagal?” tanya Mark.
Para penguji memberitahunya kalau ada perbedaan besar dari hidangan mereka meskipun menggunakan bahan yang sama.
“Eh? Tapi Tuan Kein, kita bersama-sama membuat hidangan ini. Bukankah itu berarti kita saling membantu sesama teman?” tanya Mark.
__ADS_1
Kein menatap Mark dengan sebelah alis terangkat. “Kau terlalu naif. Tidak ada kata teman saat kompetisi.”