
"Nona Vic," tatap Sekretaris Rey.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Vic.
Sekretaris Rey memasang raut wajah bodohnya. "Kenapa Anda selalu menatapku dengan raut wajah kecewa setiap kali kita bertemu? Wajahku tidak seburuk itu."
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Vic ulang.
"Makan ramen," jawab Sekretaris Rey datar.
Vic mengerutkan dahi. "Makan ramen? Puff, haha, ternyata sekretaris dari Tuan Muda juga makan ramen di supermarket."
"Semua orang bisa melakukannya," kata Sekretaris Rey.
"Memang benar, tapi kupikir karena kau sekretaris dari Tuan Muda, seharusnya yang kau makan itu pasti elit-elit," kata Vic.
"Entah apa yang ada di dalam otak Nona Vic sampai berpikir seperti itu," kata Sekretaris Rey.
"Um, itu, apakah jadi dibayar?" tanya kasir menyela pembicaraan.
Kedua orang itu bersamaan menoleh. Sekretaris Rey menatap Vic yang membuang muka.
Oh, jadi dia tetap bersih keras tidak ingin meminta bantuan? Hm, kata Sekretaris Rey dalam hati.
Humph! Tidak akan pernah, aku tidak sudi meminta bantuan dari pria ini. Lagi pula, di antara sosok penyelamatku, kenapa harus dia terus yang datang? Haa, kata Vic dalam hati.
"Kalau begitu, aku saja yang bayar, berapa kekurangannya?" tanya sekretaris Rey.
"Tidak perlu, kekurangannya juga tidak banyak," kata Vic.
"Kurang 200 ribu," kata kasir.
Sekretaris Rey menatap Vic yang wajahnya sudah memerah karena merasa malu.
"Mau aku bantu tidak?" tanya Sekretaris Rey dengan wajah bodohnya menggoda Vic.
Vic tetap bersih keras dengan keputusannya.
"Uangmu kurang 200 ribu."
"Kalau aku pergi, siapa yang akan membayarnya?"
"Kecuali kau meminta bantuan kepadaku."
"Cukup mudah, kau hanya perlu memohon, dan aku akan membayarnya."
"Kalau tidak, aku pergi saja."
"Mau aku bayarkan tidak?"
Urat-urat di kening Vic benar-benar sudah menegang karena Sekretaris Rey tidak bisa diam.
Dia benar-benar membuatku emosi. Pria ini sungguh cerewet. Dia sangat menyebalkan. Tanpa aku lihat wajahnya pun, aku sudah tahu bagaimana reaksi wajahnya sambil memancingku, kata Vic dalam hati.
__ADS_1
Ia menatap isi dompetnya yang memang kehabisan uang. Seharusnya ia membawa uang lebih, dengan begitu tidak akan terlibat situasi menyebalkan seperti ini.
Karena sudah tidak bisa mengelak, Vic menghela nafas panjang. Ia menoleh dan melihat wajah bodoh Sekretaris Rey.
"Hem! Itu, bisakah kau membantuku? Berikan aku nomor rekeningmu, dan aku akan membayarmu kembali," kata Vic pelan.
"Tapi uangku cuma 100 ribu, setelah membayar makananku, mungkin cuma tersisa 50 ribu saja," kata Sekretaris Rey datar.
Emosi Vic benar-benar meledak. "Kalau begitu kenapa kau begitu cerewet ingin membayar kekurangannya?! Bersikap seolah-olah ingin membantuku padahal uangmu sendiri juga tidak cukup! Aku bahkan sudah memohon kepadamu, meskipun itu cuma terpaksa. Kalau tidak ingin membantuku, katakan dari awal, jangan membuatku emosi! Argh!"
Sekretaris Rey meletakkan beberapa uang merah di meja kasir membuat Vic langsung terdiam seribu bahasa.
"Aku memang mengatakan uangku cuma 100 ribu, tapi tidak bilang tidak akan membayarnya," kata Sekretaris Rey mengambil kembalian uangnya.
Vic masih terdiam dan hendak mencerna keadaan.
"Lain kali bawalah uang lebih agar kau tidak merepotkan orang lain," kata Sekretaris Rey membuat urat-urat di kening Vic kembali menegang.
Sekretaris Rey berjalan keluar. "Kau bisa mengambil kembaliannya."
"Kembalian?" bingung Vic.
Kasir itu menyerahkan beberapa permen. "Total biaya dari tuan tadi 45.500, karena tidak ada uang koin, jadi kami hanya memberikan permen."
"Sekretaris Rey!" kesal Vic.
Sedangkan Sekretaris Rey yang mendengarnya, hanya mengkodenya dengan dua jari di pelipis yang lalu diayunkan ke samping.
......................
Hotel
Ceklek!
Jeremy muncul setelah dirinya membersihkan badan.
"Kenapa belum memesan makanan? Ini sudah hampir tengah hari," kata Jeremy.
"Aku tidak sudi makan bersama dirimu. Selain itu kenapa kita harus satu kamar? Gara-gara itu aku tidak bisa tidur," gerutu Cordelia.
Sebelah alis Jeremy terangkat. "Bagaimana mungkin kau tidak bisa tidur? Reon saja tidur nyenyak."
Cordelia menatap Reon yang memang masih terlelap. Ia menghela nafas kasar. "Cepatlah bersiap-siap, aku ingin tidur. Rasanya mataku sudah terasa berat."
"Puff, kenapa kau berjaga semalaman? Apakah kau berpikir aku akan menyentuhmu?" goda Jeremy.
Cordelia membuang wajah dengan rasa mengantuk.
"Lagi pula, aku mau ke mana? Kompetisi sudah selesai, tugas kami para Bookman juga sudah selesai. Bahkan Sendawara-san dan Ogardo-san sudah kembali ke Jepang pagi tadi," kata Jeremy.
"Kalau begitu, kenapa kau juga tidak kembali ke Jepang? Pergilah, dengan begitu aku bisa tenang," kata Cordelia yang masih membuang wajah.
"Hee~ sungguh? Kau yakin dengan ucapanmu?" tanya Jeremy.
__ADS_1
"Tentu sa—‘’ ucapan Cordelia terpotong karena terkaget melihat wajah Jeremy sudah dekat dengan wajahnya.
Cordelia dan Jeremy saling bertatapan dengan jarak begitu dekat.
"Darling, kenapa kau selalu membohongi dirimu sendiri? Aku bisa melihat ke dalam matamu kalau sebenarnya kau menyukaiku, hanya saja kau yang menolaknya," kata Jeremy.
"Aku hanya menyukai Adam!" tegas Cordelia.
"Kau menyukai pria yang telah menampar putra kita dan menendang kalian tanpa belas kasih seperti dirinya?" tanya Jeremy.
Jeremy tersenyum remeh saat melihat Cordelia terdiam. "Sudah aku bilang, waktu bermainmu sudah selesai, sudah tiba kau kembali kepadaku."
Cordelia mengerutkan dahi dengan perasaan kesal. "Bahkan jika kau bersujud pun, aku tidak akan kembali kepadamu. Pergilah!"
Jeremy menghela nafas dan berjalan pergi untuk memakai pakaiannya. "Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sesuai perintahmu."
Setelah selesai, Jeremy menatap jam tangannya. Ia kembali menatap Cordelia yang masih dalam posisi memalingkan wajahnya.
Cordelia merasa kesal saat Jeremy kembali menghampirinya. "Kau mau apa la—‘’
Cup!
Mata Cordelia membulat besar, berbeda dengan Jeremy yang menatapnya penuh cinta.
"Apa yang kau lakukan?!" kesal Cordelia mendorong Jeremy.
"Kiss bye sebelum aku kembali ke Jepang," senyum Jeremy.
Ia tersenyum puas sambil berjalan pergi.
"Tunggu!" seru Cordelia.
Sebelah alis Jeremy terangkat sambil menoleh ke belakang.
Cordelia menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya karena merasa tidak sudi. "A-Aku punya permintaan."
Terukir senyuman miring di bibir Jeremy sambil melonggarkan dasinya. "Kalau begitu, kau harus memberiku kompensasi seperti biasa."
Cordelia meremas ujung pakaiannya sambil menggertak gigi.
......................
Kediaman Kamiya di Indonesia
"Apa? Bertemu dengan keluarga Raymond sebelum kembali ke Jepang?" tanya Eve.
Kaji mengangguk. "Kakak Yuki ingin menemui rekan bisnisnya sebelum pulang, jadi kita harus pergi. Lagi pula ini kesempatan untukmu."
"Maksud Kaji-kun?" tanya Eve.
"Kau ingat ucapanku saat di pesta kemarin malam? Aku berkata serahkan semuanya kepadaku, " kata Kaji.
Eve mengerutkan dahi. "Lalu apa hubungannya?"
__ADS_1