Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 122 Menyelinap


__ADS_3

‘’Ini tidak mungkin! Kein, dia tidak meninggal, kan? Kakakmu tidak meninggal, kan?!’’ seru Eve.


Ia mengepalkan tangannya yang gemetar. ‘’Kane? Kenapa kau menjadi saksi utama pembunuhan kakakmu?!’’


Kane menatap ibunya sambil menggertak gigi dengan butiran air mata terjatuh. Eve yang melihatnya tersentak, hingga butiran air matanya juga keluar.


‘’Kein, aku ingin keluar dari sini. Biarkan aku melihat putraku!’’ seru Eve.


‘’Mohon maaf Nona Eve, tapi kami tidak bisa melakukan hal itu,’’ kata Inspektur.


Eve berteriak saat rombongan orang itu pergi, membuat petugas polisi membawanya kembali ke sel penjara.


‘’Hiks, tidak, hiks … Aku harus keluar! Aku ingin melihat Kein! Hiks … Dia tidak mungkin meninggal. Kumohon!’’


......................


Mansion Pribadi


‘’Apa? Aku mengerti,’’ kata Nyonya Zekino mematikan panggilan.


‘’Ada apa?’’ tanya Nyonya Vaioretto.


‘’Nona Eve sudah mengetahui tentang kasus Kein-kun.’’


Semua tersentak sambil menatap wanita dewasa itu terutama Kaji.


‘’Petugas polisi memberitahuku kalau sejak tadi Nona Eve membuat keributan. Kaji, kau harus ke kantor polisi untuk menenangkan wanita itu!’’ perintah Nyonya Zekino.


‘’Tidak,’’ kata Kaji menolak.


‘’Aku harus menemukan orang yang sudah menghancurkan keluargaku,’’ lanjut Kaji.


......................


Kane menatap ke sekitar untuk mencari celah agar ia bisa kabur. ‘’Inspektur, apakah ada hal ganjil di TKP, tempat aku dan kakak ditemukan di loteng? Misalnya senjata yang membuat kakak terbunuh, atau bercak darah di tubuh kakak.’’


‘’Tidak ada luka apa pun di tubuh Tuan Kein. Kami hanya menemukan Anda berdua tidak sadarkan diri di dalam ruangan berkaca,’’ jawab Inspektur.


Tidak ada senjata dan luka? Tidak mungkin kakak meninggal begitu saja, kata Kane dalam hati.


Ia langsung mual membuat petugas Reiki membawanya ke toilet, sambil Inspektur dan yang lainnya menunggu di luar.


‘’Ini benar-benar di luar dugaan. Kami semua menyayangkan Tuan Kein harus tiada,’’ kata Petugas Reiki.


Ia hendak membantu Kane, tapi anak itu langsung mengotori tangan petugas itu.


‘’Hati-hati Tuan Kane,’’ kata Petugas Reiki mencuci tangannya.


‘’Maaf,’’ kata Kane.


Petugas Reiki yang mencuci tangan, menatap jendela yang terbuka di belakang melalui pantulan cermin di depannya. ‘’Tuan Kane?’’


Dengan cepat, ia menghampiri jendela tadi dan melihat Kane sudah berlari jauh. ‘’Inspektur! Tuan Kane melarikan diri!’’


‘’Saksi utama melarikan diri!’’

__ADS_1


‘’Diulangi! Saksi utama pembunuhan melarikan diri! Tutup semua jalan!’’


Para petugas memasuki mobil polisi dan mengejar Kane. Di sisi lain, anak itu berlari melewati jalan poros hingga sebuah mobil berhenti.


‘’Tuan Kane?’’


‘’Mark? Kau ada di Okinawa?’’ tanya Kane sedikit terkejut.


‘’Keluarga Shelton ada urusan di sini, dan kebetulan kami akan menunggu sampai hari pernikahan Tuan Kaji dilaksanakan,’’ kata Mark.


‘’Aku butuh bantuanmu!’’ kata Kane.


Mark mengerutkan dahi hingga akhirnya terdengar mobil polisi, membuat Kane berlindung di sekitar mobil hitam yang dipakai Mark. ‘’Eh? Tuan Kane, jangan-jangan….’’


‘’Jangan tanya apa pun, bisa antar aku pulang?’’ tanya Kane.


......................


Perjalanan…


‘’Tu-Tuan Kein meninggal? Lalu Anda dikejar polisi karena Anda saksi utama pembunuhan yang melarikan diri? Tidak mungkin, Tuan Kein,’’ kata Mark.


Kane menatap anak seumuran di depannya itu sedih dan tidak menerima kematian kakaknya. Melihat hal itu, matanya kembali berkaca-kaca.


Tangan Kane mengepal sambil ia menggertak gigi.


......................


Mansion Pribadi


‘’Tunggu!’’ seru Kane membuat Mark menyuruh supir pribadi untuk berhenti.


Kane berdecih. ‘’Sial, aku tidak bisa masuk kalau mereka berjaga seketat ini. Mark, bisakah pinjamkan ponselmu?’’


Tanpa membuang waktu, ia meretas CCTV di sekitar rumah mewah itu.


Mark yang bisa menyaksikan kemampuan Kane meretas, langsung merasa kagum.


Dua bersaudara ini benar-benar … Dasar! Membuat iri saja, ucapnya dalam hati.


‘’Tidak ada penjaga di sekitar kamarku. Ini, aku kembalikan ponselmu, dan terima kasih,’’ kata Kane.


‘’Sama-sama. Jadi, bagaimana Tuan Kane akan masuk tanpa mereka membawa Anda?’’ tanya Mark.


Kane menyeringai. ‘’Satu-satunya jalan adalah dengan menyelinap.’’


‘’Aku yang akan mengalihkan perhatian mereka. Anggap saja, aku membalas budi kepada Tuan Kein, karena dia mengembalikan 100 pisau kepada pemiliknya yang salah satunya adalah milikku melalui kompetisi waktu itu,’’ kata Mark.


‘’Setelah membantuku kemari, lalu mengalihkan perhatian mereka … Kau tidak seburuk yang aku kira,’’ kata Kane.


Mark tersenyum remeh. ‘’Hanya kali ini saja aku membantu Anda karena aku memiliki hutang budi kepada Tuan Kein.’’


Kane juga tersenyum hingga akhirnya mereka menjalankan rencana.


......................

__ADS_1


Ruang Tamu


‘’Jadi Tuan Kane tidak ada di sini?’’ tanya Inspektur setelah memerintahkan semua petugas untuk menyusuri rumah.


‘’Seperti yang aku katakan, kami tidak menyembunyikan Kane-kun,’’ kata Nyonya Vaioretto.


......................


Kane berlari ke sisi rumah belakang bagian kamarnya berada. Ia pun memanjat tembok dan berhasil masuk. Lalu mengendap-endap sambil mengintip ke dalam. Terlihat semua orang dan Inspektur beserta petugas polisi di sana.


‘’Aku harus segera menuju ke kamarku,’’ kata Kane.


Tiba-tiba salah satu petugas datang melapor membuat semua orang terdiam untuk sesaat hingga akhirnya bergegas keluar.


‘’Mereka semua keluar? Apakah ini ulah Mark? Humph! Tidak tahu apa yang dia lakukan, aku harus segera menuju ke kamarku,’’ kata Kane masuk.


......................


Gerbang


Semua langsung terbelalak melihat petugas polisi berusaha mencegah para warga yang hendak masuk itu.


‘’Apa yang terjadi?’’ tanya Inspektur.


‘’Kami dengar Si Kembar Iblis tinggal di sini! Kami ingin minta tanda tangan Tuan Kane dan Tuan Kein.’’


‘’Benar! Kalau tahu kedua anak jenius itu ada di sini, kami pasti sudah datang untuk bertemu mereka.’’


‘’Karena itulah kami datang untuk menemui Si Kembar Iblis.’’


‘’Tolong biarkan kami bertemu!’’


‘’Siapa yang memberitahu mereka soal ini?’’ tanya Kaji.


......................


Kane akhirnya tiba di kamar sambil ia mengunci pintu. ‘’Haa, kurasa ini yang dikatakan menyelinap ke dalam rumah sendiri.’’


Rangkaian peristiwa kembali terputar di otaknya. Matanya kembali berkaca-kaca, hingga butiran bening itu akhirnya terjatuh dari sudut matanya.


Bugh!


‘’Sial! Aku sangat marah!’’ seru Kane memukul meja dengan kedua tangannya, membuat beberapa kertas terjatuh ke lantai.


Tanpa sengaja pandangannya mengarah ke lantai, melihat beberapa kertas yang terjatuh tadi. Dahinya berkerut saat perhatiannya tertuju ke salah satu kertas.


Kane berjongkok sambil memungut selembar kertas tadi. ‘’Bukankah ini naskah novel yang dibuat kakak?’’


Bisakah aku bertanya kepada Kakak? Kenapa naskah yang Kakak buat itu begitu pendek? Padahal butuh banyak hari untuk menyelesaikannya? Apakah sesulit itu membuat novel? Kakak ini jenius, kan? Seharusnya tidak masalah kalau membuat naskah novel.


Justru aku yang ingin bertanya, kenapa kau tidak menemukan petunjuk di dalam naskah itu?


Tidak ada petunjuk sama sekali. Hanya ada kata pengantar dan beberapa dialog yang menurutku tidak mencurigakan. Tapi, aku bisa mengatakan, naskah pendek yang Kakak buat itu, misterinya lebih padat dan jelas daripada novel yang aku baca selama ini.


Jadi, kau belum menyadarinya, ya? (Kane teringat)

__ADS_1


Deg!


Kane mengusap kedua matanya menggunakan lengan. ‘’Jangan-jangan memang ada pesan tersirat di dalam naskah ini.’’


__ADS_2