Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 114 Afternoon Tea


__ADS_3

‘’A-Adik perempuan?’’ tanya Vic, dan Hakuba mengangguk.


‘’Tapi kenapa kau tidak memberitahuku?’’ tanya Vic sekali lagi.


‘’Nona Vic sendiri yang langsung pergi, jadi aku tidak sempat menjelaskannya,’’ kata Hakuba.


Vic mengerutkan dahi. ‘’Kenapa tidak menghubungiku?’’


‘’Aku tidak punya nomor ponsel Nona Vic,’’ jawab Hakuba.


‘’Kenapa tidak memberitahu Tuan Muda miliarder itu untuk mewakilimu?’’ tanya Vic.


‘’Nona Vic tidak ingin bertemu dengan siapapun,’’ jawab Hakuba.


Vic tersenyum dengan alis berkerut. Urat di lehernya kembali menegang karena sutradara itu sama menyebalkannya dengan sekretaris Rey.


‘’Sebagai pria sejati, aku harus datang untuk bicara langsung kepadamu,’’ kata Hakuba.


Mendengar ucapan sutradara tadi membuat hati Vic tersentuh.


‘’Tapi, apa yang membuat Nona Vic sampai berpikir orang yang menghubungiku hari itu adalah kekasihku?’’ tanya Hakuba.


Vic hanya terkekeh dengan wajah kaku. Sekali lagi urat di leher dan keningnya kembali menegang mengingat ulah kedua anak kembar itu.


Dasar iblis bersaudara itu, umpatnya dalam hati.


Namun, saat melirik ke arah belakang Hakuba, matanya membulat melihat balkon yang satunya.


Eh? Bukankah itu Tuan Muda Adam dan Eve? Mereka berdua bersama, kata Vic dalam hati.


Vic kembali mengingat ucapan Eve beberapa saat yang lalu, dimana sahabatnya itu terburu-buru karena ada urusan penting.


Tunggu, jangan bilang Eve ingin menghampiri Tuan Muda Adam? Gawat, kalau Tuan Muda yang satunya itu mengetahui Eve bersama dengan pria ini sekarang, itu bisa gawat, kata Vic dalam hati.


......................


Ruang Tamu


Kaji kembali menoleh ke lantai 2. Tidak ingin menunggu lebih lama membuatnya bangkit.


‘’Kaji-san? Kau mau ke mana? Afternoon tea hampir tiba,’’ kata Yuki.


‘’Aku tahu, karena itulah aku ingin memberitahu Eve-chan,’’ kata Kaji.


‘’Tapi, kau bisa memberitahunya melalui chat? Tidak perlu sampai menghampirinya ke lantai 2,’’ kata dokter Yuu.

__ADS_1


Kaji tersenyum. ‘’Tidak apa-apa. Selain itu, aku juga ingin memastikan sesuatu.’’


......................


‘’Bisakah kau berhenti menghampiriku?’’ tanya Adam yang kembali masuk karena merasa risih.


‘’Aku tidak akan berhenti menghampirimu sampai kau memaafkan diriku dengan tulus,’’ jawab Eve.


Adam menghela nafas. ‘’Pergilah.’’


‘’Aku tidak akan pergi,’’ kata Eve.


Tangan Adam mengepal, sambil ia menghela nafas sekali lagi. ‘’Kau tidak akan mendapatkan apa pun.’’


Ia menautkan alis tanda kesal karena Eve bersih keras tidak mau pergi. ‘’Kenapa?’’


‘’Eh?’’ bingung Eve.


‘’Setelah aku berhasil menghapus tentang dirimu dari pikiranku, kenapa kau menghampiriku lagi?’’ tanya Adam.


Eve terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Bahkan Adam berjalan menghampirinya dan menanyakan pertanyaan yang sama sekali lagi.


‘’Jawab aku!’’ seru Adam membuat Eve tersentak.


‘’Aku … Aku juga tidak tahu! Rasa sakit yang kau berikan kepadaku selama 6 tahun ini, aku tidak pernah melupakannya. Aku tidak mau bertemu denganmu! Aku tidak mau bicara denganmu! Karena itulah aku meminta Kaji-kun untuk membantuku agar kita bisa berpisah. Ya, awalnya aku lega karena kita resmi bercerai. Tapi, rencana Kaji-kun yang memanfaatkan perasaanmu itu salah! Saat melihatmu menangis waktu itu, entah kenapa aku merasa sesak. Sampai sekarang aku tidak berhenti merasa bersalah, karena itulah aku ingin minta maaf kepadamu. Lalu, kau mengabaikanku dan menatapku penuh kebencian. Aku tidak menyukainya! Aku tidak tahu dan aku tidak ingin mengerti!’’


‘’Kau sudah selesai? Kau bisa pergi sekarang,’’ kata Adam.


Wanita tadi kembali menatap Adam, dan mengepalkan tangan. ‘’Jawabanku masih tetap sama. Aku tidak akan pergi.’’


‘’Kalau begitu aku yang pergi,’’ kata Adam berlalu.


......................


Di sisi lain, Hakuba bingung melihat Vic berjalan begitu cepat.


Hal yang ditakutkan Vic telah terjadi. Ia menatap Kaji yang sementara ini sudah menaiki tangga.


‘’Sial! Kenapa Eve tidak membaca pesanku?’’ tatap Vic melihat ponselnya sambil berjalan cepat.


Namun, saat itu juga ia dan Hakuba malah berjumpa dengan Kaji yang sudah tiba di atas.


‘’Hakuba-san? Nona Vic? Kalian sudah selesai bicara?’’ tanya Kaji.


‘’U-Um, iya,’’ jawab Vic berusaha setenang mungkin.

__ADS_1


‘’Kebetulan, aku baru saja ingin menghampiri kalian untuk afternoon tea. Kalau kalian berdua sudah selesai, lalu di mana Eve-chan?’’ tanya Kaji.


Saat itu juga, dari arah berlawanan, muncul Adam yang datang bersama Eve. Mata Vic membulat dan kembali bersikap tenang.


Kaji mengerutkan dahi. ‘’Nona Vic? Kenapa wajah Anda begitu tegang?’’


‘’Di mana Eve-chan?’’ tanyanya mencari keberadaan wanita itu.


Begitu ia menoleh ke arah yang berlawan, Vic memejamkan mata. Wajah Kaji langsung kusut melihat Eve bersama Adam.


Argh~ maafkan aku Eve. Jika saja aku lebih cepat memberitahumu maka ini tidak akan terjadi, kata Vic dalam hati.


Bukan Vic saja, tapi wajah Eve juga sudah tegang sejak tadi. Kaji berjalan menghampiri mereka, hingga kedua pria itu saling melontarkan tatapan dingin.


‘’Ka-Kaji-kun, sebenarnya aku da—‘’


‘’Karena kau begitu lama, aku jadi menghampirimu. Afternoon tea sudah hampir tiba, ayo kita ke bawah. Akan merepotkan kalau Kakek tidak melihatmu,’’ kata Kaji.


Eve mengangguk dan akhirnya berjalan pergi bersama Kaji. Vic yang melihatnya hanya terbelalak.


Apa ini? Pria itu tidak marah melihat Eve bersama mantan suaminya? Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah seharusnya ada perang di sini? Eh, kata Vic dalam hati.


‘’Kenapa kalian bertiga diam saja? Semua orang sudah menuju ke taman,’’ kata Kaji.


Vic tersentak dan bergegas pergi bersama sutradara Hakuba. Sedangkan Adam, masih berdiri dengan tenang menatap Eve yang berjalan bersama Kaji.


......................


Taman


Kebetulan jam menujukkan pukul tiga sore, waktu afternoon tea telah tiba. Puluhan koki yang datang ternyata masih ada di taman, dan berdiri membentuk barisan dalam posisi menunduk.


‘’Apa yang kalian lakukan? Pergi dan sajikan hidangan untuk afte—‘’ ucapan Kaji terpotong saat Tuan Giruberuto melontarkan tatapan tajam ke arah koki tersebut, membuat mereka berdiri di belakang kursinya.


‘’Kaji-kun, kenapa mereka berdiri di belakang Tuan Besar?’’ tanya Eve.


Kaji memasang raut wajah bodohnya. ‘’Sebentar lagi kau akan tahu.’’


‘’Kein-kun, aku ingin kau yang menyiapkan hidangan untuk afternoon tea hari ini!’’ perintah tuan Giruberuto.


Sudah kuduga, akan merepotkan jika bertemu dengan Kakek ini, kata Kein dalam hati.


Ia mengangguk dan berjalan ke arah dapur dengan ciri khas dinginnya.


Bilang saja kalau Kakek ingin mencicipi hidangan buatan Kein-kun, kata Kaji dalam hati.

__ADS_1


Sedangkan Eve hanya menghela nafas sambil tersenyum. Wajahnya kembali murung saat ia melirik ke arah Adam. Kaji yang melihatnya hanya menghela nafas dan tersenyum sambil ia menggenggam tangan wanita itu.


Eve menoleh dan melihat Kaji, sehingga ia juga tersenyum.


__ADS_2