Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 46 Babak Ketiga


__ADS_3

Babak kedua selesai setelah 6 regu tereliminasi. Sedangkan 6 regu yang lolos menuju ke lantai 3. Sebelum mereka memulai babak ketiga, 24 peserta diberi waktu istirahat makan siang. Semua pun bubar dan akan kembali lagi setelah makan siang selesai.


......................


Ruang VVIP


“Kalau begitu, mari ke ruang perjamuan Tuan Yuki,” kata Tuan Moriarty.


......................


Koridor


Bu Christa dan pak Percy mengerutkan dahi saat melihat semua keluar dari berbagai ruangan.


“Eh, apakah kompetisinya sudah selesai?” tanya Bu Christa.


Cordelia terbelalak melihat ayah dan ibunya menaiki eskalator, membuatnya menghampiri kedua orangtuanya.


“Oh, Cordelia, kenapa semua orang keluar?” tanya Pak Percy.


“Babak kedua baru saja selesai dan akan lanjut ke babak ketiga setelah para peserta makan siang,” kata Cordelia.


“Tuan Besar, Nyonya Besar dan suamimu ke mana?” tanya Bu Christa.


“Kami hendak menuju ke ruang perjamuan, tapi aku langsung melihat kalian, jadi aku meminta izin kepada ayah mertua dan akan menyusul nanti,” jawab Cordelia.


Cordelia menuntun ayah dan ibunya menuju ke ruang perjamuan.


Di sisi lain, 24 peserta menuju ke kafetaria akademi untuk makan siang.


......................


Kafetaria


Semua koki umur 5 tahun ke atas berada di satu atap. Mereka tetap akrab satu sama lain meskipun jarak umur mereka berbeda-beda.


Saat Reon datang, semua berbisik dan ada pula yang memberinya pujian tentang performanya selama kompetisi.


“Tuan Reon benar-benar keren seperti biasa.”


“Benar. Orang yang menjadi anggota regunya sangat beruntung.”


Saat itu juga para koki semakin heboh saat melihat kedatangan sosok tersebut.


“Kya~ itu dia! Tuan Kein sangat tampan,” puji para koki gadis dengan usia berbeda.


“Seperti biasa, hidangan Tuan Kein benar-benar adalah karya seni,” puji koki laki-laki umur 18 tahun.


“Kompetisi kali ini sangat berbeda dengan hadirnya Tuan Kein,” kata koki wanita umur 21 tahun.


“Benar-benar kesempatan langka bisa melihat Tuan Kein secara langsung di sini,” kata koki pria berumur 25.

__ADS_1


“Ini seperti mendapatkan Golden Ticket saja, karena bisa melihat Tuan Kein dan bertanding langsung di kompetisi masak ini dengan Anda,” kata koki pria berumur 29 tahun.


Reon yang mendengar para ucapan koki itu mengerutkan dahi tanda kesal. Berbeda dengan dirinya yang hanya dipuji dua atau tiga orang, tapi anak berambut putih itu mendapat semua pujian dari koki.


Cih! Beraninya dia merebut pujianku dari semua orang, kata Reon dalam hati menghampiri.


Deg!


Kein memicingkan mata saat melihat anak laki-laki seumurannya itu menginjaknya di bagian kaki.


“Kau menghalangi jalanku,” kata Reon.


Semua yang melihat hal itu langsung terdiam dan tidak berani bicara.


Humph! Lihat? Mereka semua langsung diam saat aku datang. Tentu saja karena auraku jauh lebih kuat. Sekarang kau mengerti siapa yang paling berkuasa, kata Reon dalam hati.


“Hee~ boleh aku katakan Tuan Reon? Anda punya nyali juga melakukan hal itu,” kata Mark datang sambil memegang gelas anggur.


“Kenapa? Ini Akademi Chrysos milik keluarga Raymond. Siapa yang akan melarangku berbuat seenaknya. Iya, kan?” tanya Reon menambah kekuatan menginjak kakinya.


Kein masih diam tanpa melakukan perlawanan, membuat Mark tersenyum sambil menatap anak berambut putih di depannya.


“Mohon maaf Tuan Reon. Aku akan mengatakannya sekali saja. Cepat singkirkan kaki Anda dari kaki temanku!” perintah Mark.


“Beraninya kau memerintahku! Jadi dia ini temanmu? Heh, kalian berdua sudah menyinggungku. Jangan salahkan aku kalau kalian berdua gugur di babak ketiga nanti,” kata Reon.


“Gugur?” tanya Kein dengan sebelah alis terangkat.


Kein menarik kakinya dengan kasar. “Sayang sekali, tapi tidak ada kata gugur dalam kamusku.”


“Kau sangat arogan!” kesal Reon.


“Terima kasih atas pujiannya,” kata Kein.


“Kau!” seru Reon melotot.


Kein berjalan pergi tanpa peduli untuk mengambil paket makanan membuat Reon emosi.


“Ets tunggu!” kata Mark menghadang.


“Minggir! Aku akan menyuruh penguji untuk mengeliminasi kalian berdua!” kata Reon.


Mark tersenyum dengan mata menyipit. “Sayang sekali itu tidak akan terjadi.”


“Kau meremehkan diriku, ya? Kakekku adalah Tuan Besar. Nenekku adalah Nyonya Bookmaster dan ayahku adalah seorang CEO. Apa kau masih berpikir aku tidak memiliki wewenang?” tanya Reon.


“Semua orang sudah menantikan kompetisi ini. Apakah menurutmu mereka akan mengeliminasi Si Iblis Makanan dengan mudah?”


Deg!


Reon tertegun setelah mendengar ucapan anak itu. “Jangan-jangan….”

__ADS_1


Mark memicingkan mata sebelum tersenyum miring. “Benar. Anak berambut putih yang Tuan Reon injak kakinya tadi ... Dia adalah Si Iblis Makanan, Kamiya Kein-sama.”


Reon melotot dan menatap Kein yang masih sibuk menunggu paket makanan.


“Tuan Reon seharusnya menyadarinya dari awal, kenapa semua orang langsung diam setelah Anda menginjak kaki Tuan Kein. Tidak ada orang yang berani menyinggung Si Iblis Makanan, karena saat itu juga orang tersebut akan meninggalkan dunia kuliner. Tapi bersyukurlah karena Anda dari keluarga Raymond, dengan begitu Tuan Kein akan mempertimbangkannya,” kata Mark berbalik pergi.


Reon mengepalkan tangan menahan emosi.


Kenapa aku harus takut kepadanya? Si Iblis Makanan itu ... Aku akan mengalahkannya, kata Reon dalam hati.


......................


Ruang Perjamuan


“Jadi bagaimana hidangan yang dihidangkan Si Iblis Makanan?” tanya Tuan Moriarty.


“Benar-benar anak didik keluarga Kamiya,” puji Nyonya Mary.


Tuan Yuki hanya tersenyum.


“Semua peserta jadi heboh saat mengetahui Ibu turun langsung menjadi penguji di babak kualifikasi,” kata Adam.


“Seperti biasa, dia mengubah makanan menjadi karya seni. Masakan yang dia buat selalu menjadi hal baru di dunia kuliner. Tapi jangan lupa, keluarga Raymond juga memiliki koki hebat,” kata nyonya Mary.


“Tentu saja aku juga mengakui itu Nyonya Bookmaster. Aku hanya tidak sabar menantikan Kein-kun dan Reon-kun bertemu di kompetisi,” kata Tuan Yuki.


Ceklek!


Semua menoleh melihat kedatangan Cordelia bersama kedua orangtuanya.


“Oh Pak Percy, Bu Christa silahkan duduk,” kata tuan Moriarty.


......................


Setelah beberapa jam berlalu, kompetisi kembali dilanjutkan.


Babak Ketiga


24 peserta menuju ke meja dapur yang sudah membentuk 6 barisan, dimana setiap barisan diisi 4 koki.


Di babak ketiga ini mereka akan memasak duplikat hidangan yang dipilih oleh penguji. Tapi karena kali ini Bookmaster turun tangan ke babak kualifikasi, membuat para penguji menyerahkan keputusan kepada wanita tersebut.


......................


Kediaman Kamiya di Indonesia


“Di babak ketiga ini, kalian akan membuat duplikat hidangan yang akan ditampilkan,” kata Nyonya Mary.


Muncul resep hidangan pada layar besar di belakang yang merupakan hidangan yang akan mereka buat.


“Semua hidangan A yang gagal akan mendapatkan nilai F,” kata Nyonya Mary.

__ADS_1


Sebelum menyandang gelar Bookmaster, dia dijuluki sebagai ‘Chef yang Tidak Pernah Tersenyum’. Dia sangat terkenal sangat ketat dengan nilai. Saat dia menjadi penguji, Nyonya Mary tidak ragu memberikan nilai F kepada koki di kelasnya dan 19 dari mereka dikeluarkan. Mungkin sifat tegas kakak adalah turunan dari Nyonya Bookmaster, kata Kane dalam hati.


__ADS_2