
‘’Kebetulan kerabat Tuan Yuki datang kemari, sambil kita menunggu babak final dimulai, bagaimana kalau kita berkeliling sejenak di akademi ini?’’ tanya Tuan Moriarty.
Tuan Yuki menatap Dokter Yuu dan Eve yang terlihat menyetujui. ‘’Tidak masalah. Sekalian sepupu dan adik iparku mengelilingi akademi ini.’’
Eve membuang wajah untuk sesaat. Ia merasa bersalah karena hanya menceritakan masa lalunya kepada Kaji dan Yuu, tidak kepada Yuki. Baginya, tanpa keliling pun, ia masih mengingat denah akademi kuliner milik keluarga Raymond ini.
......................
Ruang Latihan Memasak
Sebagian koki dan penonton yang mengikuti Reon merasa kagum, melihat keahlian memasaknya, meskipun mereka berharap Kein juga ada di sana.
......................
Koridor
Tuan Moriarty dan yang lainnya menyusuri koridor. Sebelum tiba di ujung koridor, seseorang langsung menarik Cordelia sambil membengkap mulut wanita itu.
‘’Hump—‘’ pekik Cordelia.
Setelah masuk ke dalam salah satu ruangan, Cordelia melotot melihat orang yang menariknya tadi. ‘’Jeremy? Apa yang kau lakukan?’’
‘’Ush, kalau kau ribut, mereka akan mendengarkanmu dan menuju kemari,’’ senyum Jeremy.
Cordelia menepis tangan pria itu sambil menghela nafas kasar, dan berniat keluar. Namun, tangannya kembali ditarik sambil tubuhnya didorong sehingga menabrak tembok.
‘’Hoh~ kita sudah lama tidak bertemu, apakah kau tidak merindukanku sama sekali?’’ tanya Jeremy.
‘’Berhenti mengatakan hal yang konyol. Kita ini sekarang ada di akademi,’’ kata Cordelia merasa risih.
Jeremy mendekatkan wajahnya membuat Cordelia memalingkan wajah dengan perasaan tegang. ‘’Tidak peduli kita ada dimana, yang pasti aku sangat merindukanmu, dan aku ingin menagih bayaran atas bantuan yang aku berikan.’’
Flashback on
‘’Cih, aku tidak punya pilihan lain. Halo … Jeremy, aku butuh bantuanmu,’’ kata Cordelia.
📞 ‘’Kenapa baru menghubungiku sayang?’’ tanya Jeremy.
Cordelia memutar bola matanya malas sambil menghela nafas. ‘’Cukup, aku butuh bantuanmu.’’
📞 ‘’Bantuan? Selama ini kau tidak pernah menghubungiku untuk menanyakan kabar. Kau hanya menghubungiku untuk meminta bantuan terus,’’ kata Jeremy.
__ADS_1
‘’Ini masalah Reon, dan kau sendiri juga tidak akan membiarkannya gagal,’’ kata Cordelia.
📞 ‘’Apa maksudmu?’’ tanya Jeremy.
‘’Ceritanya panjang, tapi Adam menampar Reon sambil melarangnya untuk mengikuti kompetisi lagi. Tidak ada yang berani membantah ucapannya bahkan Tuan Besar dan Bookmaster sekalipun,’’ kata Cordelia.
Ia mengerutkan dahi karena tidak ada jawaban dari Jeremy. ‘’Jeremy, apakah kau mendengarkanku?’’
📞 ‘’Jadi kau ingin aku melakukan apa?’’ tanya Jeremy akhirnya.
‘’Terserah. Reon sangat mengharapkan kompetisi ini karena kalau dia menang, kami satu keluarga akan pergi berlibur, dan Reon sudah menantikan hal itu,’’ kata Cordelia.
📞 ‘’Hoh~ setelah aku membantumu, kau dan yang lainnya malah bersenang-senang, lalu bagaimana dengan diriku?’’ tanya Jeremy.
‘’Bicaralah dengan jelas!’’ kesal Cordelia.
📞 ‘’Aku akan membantumu tapi harus ada kompensasi untukku juga,’’ kata Jeremy.
Cordelia langsung memang raut wajah kusut. Ia berdecih pelan sambil mengepalkan tangan. ‘’Baiklah.’’
*📞 ‘’Itu baru Cordelia-ku,’’ kata Jeremy.
Flashback off*
......................
Vic menoleh saat menyadari sesuatu yang aneh. Dahinya berkerut membuat Eve menatapnya bingung.
‘’Ada apa?’’ tanya Eve.
‘’Adik tirimu ke mana? Seingatku dia ikut bersama kita. Kenapa langsung menghilang?’’ tanya Vic.
Eve menoleh yang juga mencari keberadaan Cordelia. ‘’Tidak perlu dipikirkan. Mungkin dia sedang menghampiri anaknya.’’
Vic hanya mengangguk mengerti dan hendak menyusul, namun Eve menariknya.
‘’Vic, apakah kau baik-baik saja?’’ tanya Eve.
‘’Hm? Tentu, aku baik-baik saja, buktinya aku sehat,’’ kata Vic.
‘’Kau bisa menyaksikan pertandingan Kein lewat TV seperti biasa bersama yang lainnya. Tapi kenapa hari ini kau sampai datang untuk melihatnya secara langsung?’’ tanya Eve.
__ADS_1
‘’Kau ini bicara apa? Itu karena aku ingin menyaksikan si tampan dingin itu secara langsung. Kalau lewat TV, rasanya tidak terlalu seru,’’ kata Vic.
Eve memandang sahabatnya itu untuk sesaat, membuat Vic terkekeh pelan dan menyuruhnya untuk berhenti.
‘’Kalau begitu, kenapa kau tidak mengabari kekasihmu seperti biasa? Setiap 5 menit, kau dan kekasihmu akan saling memberi kabar. Tapi aku hanya melihatmu memandangi ponsel seolah-olah sedang menunggu pesan. Apakah kalian sedang bertengkar?’’ tanya Eve.
‘’Ti-Tidak. Hubungan kami baik-baik saja,’’ jawab Vic menghindar.
Eve mengerutkan dahi tanda kesal sehingga ia menarik tangan Vic. ‘’Jangan berbohong, tatap mataku!’’
Vic terbelalak untuk sesaat sampai akhirnya matanya berkaca-kaca. Eve yang melihatnya langsung melemahkan genggamannya.
‘’Vic?’’ tatap Eve.
‘’Hiks, Eve,’’ isak Vic.
Karena tidak ingin menarik perhatian, Eve membawa Vic ke halaman belakang akademi. Kebetulan di sana sangat sepi membuat Eve menanyakan alasan Vic menangis.
‘’Beberapa hari yang lalu, hubungan kami masih baik-baik saja sambil menyaksikan kompetisi masak ini. Tapi kemarin malam dia menghubungiku untuk mengakhiri hubungan kami,’’ kata Vic.
Eve melotot dan tersentak. ‘’Apa? Kenapa begitu? Padahal hubungan kalian sudah sangat lama, dan seharusnya sudah matang ke pelaminan.’’
‘’Hiks, hiks, itulah permasalahannya,’’ tangis Vic menjadi-jadi membuat Eve tidak mengerti.
‘’Ha? Bicaralah dengan jelas, aku sama sekali tidak mengerti,’’ kata Eve.
Vic terisak sambil menyeka air matanya sesekali. ‘’Keluarganya menjodohkan dia dengan seorang wanita asal Inggris.’’
‘’Eh? Bukankah dia seharusnya menolak perjodohan itu dan lebih memilihmu?’’ tanya Eve.
‘’Dia tidak tahu kalau selama ini ada perjodohan antara keluarganya dengan keluarga wanita yang menjadi tunangannya. Dia sudah berusaha menolak perjodohan itu tapi hanya sia-sia. Perjodohan itu ternyata adalah amanah dari kepala keluarga sebelumnya, jadi dia tidak bisa menolak. Padahal dia berniat ingin melamarku kemarin, dan kami berdua dikejutkan dengan berita itu,’’ kata Vic.
Eve tidak tahu harus mengatakan apa, sebab hubungan sahabatnya itu sudah sangat matang. Apalagi media sudah mengetahui keromantisan mereka, tapi keduanya harus mengakhiri hubungan yang sudah lama terjalin. Ia langsung mengingat dirinya yang baru beberapa bulan saja bersama Adam sebelum berpisah. Sampai sekarang masih sangat sulit melupakan luka yang ditinggalkan pria itu. Apalagi dengan sahabatnya yang menjalin hubungan selama 9 tahun.
‘’Vic, kau harus sabar. Terkadang hidup memang tidak bisa sejalan dengan apa yang kita inginkan,’’ kata Eve menghibur.
Vic hanya menunduk membiarkan butiran air matanya mengalir deras. ‘’Eve, bisakah kau memberiku waktu untuk sendiri? Tenang, aku tidak akan pergi. Aku akan kembali kalau kompetisinya sudah dimulai. Tuan Muda dari keluarga Kamiya itu juga akan cemas kalau menyadari dirimu tidak ada.’’
‘’Tidak masalah, aku akan memberitahu Kaji-kun karena be—‘’
‘’Aku ingin menenangkan pikiranku dulu. Sungguh tidak apa-apa. Aku sudah merasa lega karena sudah menceritakan semuanya kepadamu,’’ kata Vic memotong ucapan Eve.
__ADS_1
Rasanya Eve tidak tega meninggalkan Vic setelah wanita itu mengatakan masalahnya. Tapi ia juga tidak bisa memaksa sahabatnya.