Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 88 Setelah Perayaan


__ADS_3

"Kalau begitu, aku akan memanggil pemenang kita di kompetisi World Premier Gastronomy," kata Tuan Yuki.


Lampu langsung menyoroti Kein, membuat semua menatap ke arah anak laki-laki itu.


Tuan Yuki tersenyum. "Kamiya Kein, kemarilah."


Kein berjalan menghampiri Yuki sambil semua orang bertepuk tangan untuknya.


"Selamat atas kemenanganmu, kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Tuan Yuki.


Untuk sesaat Kein menatap semua orang. "Aku orangnya sedikit bicara, banyak bekerja. Jadi, untuk semuanya, aku hanya bilang terima kasih, sekian."


Semua orang terdiam dan membatu. Entah kenapa seluruh ruangan menjadi dingin.


Kane hanya tersenyum kaku menyaksikan hal itu.


Kalau itu, kakak bukannya sedikit bicara, tapi kakak memang tidak ingin bicara, kata Kane dalam hati.


Tiba-tiba terasa dingin, kata Jeremy dalam hati dengan senyum bodohnya.


Dasar, Si Kutub Utara itu, kata Dokter Yuu dalam hati.


"Aa, selain itu," kata Kein menyela membuat semua orang kembali fokus kepadanya.


Dengan wajah datar bodohnya, ia mengayunkan tangannya ke samping. "Yang ingin menanyakan masa lalu kami, silahkan keluar dari sini, pintunya terbuka lebar untuk semuanya."


Deg!


Sekali lagi, semuanya tersenyum dengan wajah tegang. Perkataan Kein benar-benar menusuk.


"Ahaha, tentu saja Tuan Kein, tidak ada yang akan menyinggung hal itu lagi," kekeh Komisaris.


"Benar, ini terakhir kalinya kami semua mendengar hal itu," kata Pendiri.


"Sudah, ini perayaan untuk Tuan Kein, kenapa kita harus membahas masa lalu?" tanya Direktur.


Kaji tersenyum remeh. "Anak itu benar-benar tidak memandang bulu."


Nyonya Mary menghela nafas panjang sambil menatap ke arah Adam.


"Apa?" tanya Adam dengan raut wajah merasa curiga.


Mata Nyonya Mary memicing lalu kembali menatap ke arah depan. Adam yang melihatnya hanya bingung sambil mengerutkan dahi.

__ADS_1


"Kalau begitu, silahkan nikmati pestanya," kata Tuan Yuki.


......................


"Hah!" kesal Cordelia yang menatap ke arah dalam.


Eve, kau mungkin berhasil membuatku ditendang, tapi tunggu saja pembalasanku. Aku tidak akan membiarkan dirimu hidup tenang dan bahagia, sedangkan diriku hidup menderita. Kita berdua saudara, kan? Kalau begitu, apa pun yang aku rasakan, kau juga harus merasakannya, kata Cordelia dalam hati.


Ia menatap Reon yang terlihat sangat sedih. Kemarahannya kembali memucak.


Kane dan Kein juga harus ikut membayar ulahnya kepada Reon. Akan kupastikan mereka berdua membayarnya, kata Cordelia dalam hati.


......................


Eve menarik kedua anak kembarnya. "Kalian berdua menyerahkan surat perceraian itu, kan?"


Kane dan Kein hanya diam sambil bertatapan.


"Surat perceraian itu sudah sampai di tangan Adam, kan?" tanya Eve sekali lagi.


"Kakak menyerahkan surat perceraian itu kepada Tuan Adam," jawab Kane.


Eve menghela nafas lega setelah mendengarnya.


"Tapi, dia mengembalikan surat perceraiannya," lanjut Kein membuat Eve terbelalak.


Dengar, sampaikan ini kepada Eve. Sekeras apa pun dirinya ingin bercerai denganku, maka sekeras apa pun juga aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku pasti akan membuatmu kembali kepadaku, dan membuat Kane dan Kein mengakuiku sebagai ayah mereka. Ini adalah janjiku. (Kane menceritakan)


Eve menghela nafas panjang. "Dia benar-benar keras kepala."


"Tidak, dia manusia kepala batu," kata Kein membuat Eve terbelalak sampai akhirnya terkekeh.


"Ush, Kein, kau tidak boleh berkata seperti itu kepada orang yang lebih tua," tegur Eve.


"Tapi itu memang benar," cibir Kane.


"Kalau begitu biar aku yang mengurusnya."


Eve dan kedua anak kembar itu langsung menoleh saat mendengar suara tersebut.


"Kaji-kun," tatap Eve.


Kaji berjalan menghampiri. "Aku kira rasa marahmu kepada Tuan Adam sudah memudar dengan mengizinkan kedua anak kembar ini bicara dengannya. Lalu kalian akan kembali menjadi keluarga Raymond yang utuh dan meninggalkan keluarga Kamiya. Tapi syukurlah dugaanku salah. Kau mengizinkan kedua anak ini bicara dengan Tuan Adam untuk menyerahkan surat perceraian kalian. Hem! Bukan berarti aku cemburu mereka bicara dengan ayah kandung mereka, tidak sama sekali," kata Kaji begitu cerewet.

__ADS_1


Wajahnya terlihat jelas kalau sangat cemburu, kata Kane dalam hati dengan raut wajah bodohnya.


Miliarder bucin ini, kata Kein dalam hati.


Eve hanya tersenyum kaku. "Kaji-kun, kenapa kau sampai berpikir seperti itu?"


Kaji hanya memasang raut wajah cemberut layaknya anak-anak, membuat Eve terkekeh.


Kane dan Kein merasa bahagia dengan suasana itu. Adam yang menyaksikan mereka tidak jauh, hanya mengepalkan tangan.


Nyonya Mary yang melihat tangan putranya hanya menatap ke arah Eve bersama Kaji dan kedua anak kembar itu. "Itu salahmu sendiri karena tidak memiliki kepercayaan kepada istrimu. Jadi, jangan salahkan Eve sudah menemukan orang yang tepat."


"Ahaha, sayang, kenapa kau berkata seperti itu? Kau ini melukai perasaan putramu," kekeh Tuan Moriarty.


"Kau juga sama halnya dengan Adam!" tegur Nyonya Mary membuat suaminya membuang wajah.


"Meragukan putrimu sendiri, apakah itu pantas disebut sebagai seorang ayah? Kau bahkan gagal sebagai ayah dan mertua, dan yang paling membuatku kesal adalah, kalian menendangnya saat aku tidak ada di rumah. Jadi, rasakan sendiri akibat yang sudah kalian perbuat," kata Nyonya Mary.


Tuan Moriarty memasang raut wajah kasihan ke arah istrinya, berharap wanita itu berhenti marah. Sedangkan, yang terlihat di pandangan Nyonya Mary adalah seekor anak anjing yang mengibas ekornya seolah-olah meminta makanan.


"Berhenti melakukan hal itu. Kau bukan piaraan yang sedang meminta makanan," kata Nyonya Mary.


Heh, entah bagaimana gambaran diriku dalam pandangannya, kata Tuan Moriarty dengan wajah rugi.


Haa, sampai kapan aku harus melayani keluarga drama ini? Haa, kata Sekretaris Rey dalam hati.


......................


Setelah perayaan kemenangan Kein selesai, keluarga Kamiya sarapan seperti biasa.


"Jadi, kapan kita akan kembali ke Jepang, Paman Yuki?" tanya Kane.


"Mungkin sore nanti," jawab Tuan Yuki.


"Yoho, akhirnya kita bisa pulang," kata Kane.


Ketiga pria itu saling memandang satu sama lain setelah melihat reaksi Kane.


"Kane-kun, aku tidak bermaksud mengatakan ini. Bukankah asalmu dari sini, kenapa tidak ingin ti—"


Deg!


Dokter Yuu tersentak karena merasakan aura dingin. Tanpa menatap Kein pun, ia sudah tahu kalau anak itu sedang melontarkan tatapan tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Ahaha, aku hanya ingin bilang, setelah sarapan nanti, ayo main game," kekeh Dokter Yuu kembali makan.


Kamiya bersaudara yang melihat sepupu mereka seperti itu hanya tersenyum kaku.


__ADS_2