
Cordelia hanya berjalan lunglai di koridor dengan tatapan hampa. Rasa jijiknya kembali muncul saat ia mengingat wajah Jeremy. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Adam memasuki toilet.
Tidak, aku tidak akan membiarkan hidupku seperti kakak yang akan ditendang oleh 2 keluarga sekaligus, kata Cordelia dalam hati.
*Ia meraih batang lampu hias di koridor sambil menghampiri toilet tadi.
Cordelia menunggu Adam di keluar, hingga pria itu akhirnya muncul membuatnya langsung memukul Adam dari belakang*.
Bugh!
Cordelia dengan mata memerah dan tangan gemetar memandangi tubuh Adam yang terjatuh. ‘’Benar. Aku memang sudah dinodai oleh pria hina itu. Tapi pria yang akan bertanggung jawab adalah kau … Adam Raymond. Hanya dengan cara itulah aku bisa masuk ke dalam keluarga Raymond.’’
......................
Ruang VVIP
Cordelia membaringkan tubuh Adam dan melepaskan semua pakaian pria itu begitu juga dengan pakaiannya sambil melemparkannya ke sembarang arah. Ia pun meraih ponselnya dan menghubungi wartawan.
Beberapa menit kemudian, Cordelia yang tanpa pakaian pun menatap para wartawan yang sudah tiba di bawah, membuatnya berjalan menaiki kasur.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang begitu banyak mulai terdengar sampai akhirnya pintu ruangan yang ia tempati terbuka.
Cordelia yang pura-pura tidur mendengar begitu banyak bunyi kamera yang sepertinya mengambil gambar.
‘’Permisi, aku pemilik bar ini. Tolong beri jalan,’’ kata seorang pria muda.
‘’Adam?!’’ pekik pria muda tadi.
Adam mengerutkan dahi karena mendengar keributan. Pelan-pelan matanya terbuka.
Deg!
__ADS_1
Cordelia merasakan Adam yang spontan bangkit di sampingnya karena perasaan kaget.
‘’Co-Cordelia?’’
Sekarang waktunya aku bangun, kata Cordelia dalam hati.
Mata Cordelia perlahan juga terbuka hingga akhirnya membulat besar dan langsung menarik selimut.
Pria muda yang tidak lain adalah Vano tadi menghela nafas kasar. ‘’Jadi kau sibuk dengan istrimu di sini. Padahal aku cemas menunggumu berjam-jam di ruangan tadi.’’
Mata Adam membulat besar sekali lagi karena ucapan Vano, dan Cordelia sangat berterima kasih berkat pria itu meskipun ia juga memasang wajah kaget.
‘’Maaf. Sebenarnya wanita itu istrinya. Jadi ini bukan skandal. Kalian akan menulis apa? Jangan sampai bar milikku akan tercoreng,’’ kata Vano.
Flashback off
‘’Tapi aku tidak menyangka kau akan menggunakan Adam Raymond untuk menutupi hubungan kita. Memiliki 2 orang yang berpengaruh di genggaman tanganmu, kau benar-benar wanita yang rakus tapi cerdas, membuatku semakin tidak akan melepaskanmu,’’ senyum Jeremy.
Cordelia menghela nafas kasar dan berdiri. Namun, sebelum ia keluar, tangannya ditarik paksa oleh Jeremy. ‘’Jeremy, bisakah kau bersikap lembut sedikit?!’’
‘’Lepaskan tanganku,’’ kata Cordelia tertahan.
‘’Aku saja tidak pernah melayangkan pukulan kepada putraku, tapi Adam ... Beraninya dia melayangkan tamparan kepada Reon-kun. Aku bisa saja merebut kalian berdua karena aku memiliki hak atas dirimu dan Reon-kun. Secara hukum … Aku adalah ayah biologisnya,’’ senyum Jeremy melepaskan tangan Cordelia.
‘’Kalau kau sampai melakukannya, aku tidak akan memaafkanmu! Dan aku bisa pastikan kau tidak akan melihat Reon lagi,’’ kata Cordelia.
Jeremy kembali terkekeh karena ancaman Cordelia. ‘’Kau benar-benar tipeku. Tenang, masalah aku akan merebutmu itu pasti akan terjadi. Tapi ini bukan waktunya aku melakukan hal itu. Jadi untuk saat ini aku akan memberimu sedikit waktu untuk leluasa.’’
......................
Di sisi lain, Tuan Moriarty dan yang lainnya menyusuri akademi kuliner itu. Namun, tiba-tiba Sekretaris Rey mendapatkan panggilan membuatnya meminta waktu sebentar.
__ADS_1
Sekretaris Rey mengangkat panggilan tersebut. ‘’Sudah aku bilang Nona, aku tidak ada niat untuk menjalin hubungan dengan Anda. Jadi berhenti menghubungiku.’’
📞 ‘’Setidaknya biarkan aku menjadi kekasih pertamamu. Saat teman Anda memberitahu kami kalau kau tidak pernah pacaran, kami semua terkejut, padahal kau memiliki wajah yang tampan.’’
‘’Haa, terima kasih atas pujiannya Nona. Tapi wajah saya hanya biasa-biasa saja. Jadi jangan menghubungiku lagi,’’ kata Sekretaris Rey.
📞 ‘’Hhah, kau benar-benar angkuh! Kurasa aku tahu kenapa kau tidak pernah pacaran, itu karena tidak ada wanita yang tahan dengan dirimu. Ya sudah! Aku juga tidak sudi berpacaran dengan patung seperti dirimu.’’
Tit!
Sekretaris Rey hanya mengerutkan dahi. ‘’Dia yang memaksa kenapa dia yang marah? Haa dasar, ini ulah Vano saat Tuan Muda datang ke bar miliknya.’’
Namun, belum sempat ia kembali, dahinya berkerut melihat seorang wanita sedang menangis tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Kalau tidak salah, bukankah dia Nona Vic kenalan Nona Eve? Kenapa dia ada di sini dan malah menangis? Hm, kata Sekretaris Rey dalam hati.
Vic menghela nafas panjang untuk sekian kalinya sambil menyeka air mata. ‘’Cih, kenapa tidak mau berhenti? Hei Vic berhentilah menangis! Hanya wanita lemah yang selalu menangis … Aku juga tidak mau menangis … Tapi sekarang kau menangis … Bukan aku yang menangis tapi mataku yang tidak berhenti mengeluarkan air! Hhah! Apakah mungkin lebih baik aku mencongkel mataku saja, dengan begitu air mataku akan berhenti keluar.’’
‘’Dasar bodoh. Kalau kau melakukan hal itu, bukannya menghentikan air matamu keluar, tapi kau akan buta untuk selamanya.’’
‘’Aku tidak bodoh! Beraninya kau menga—‘’ ucapan Vic terhenti saat melihat sosok yang datang itu.
Pria itu menyodorkan sapu tangan sambil tersenyum agar Vic berhenti menangis. Keduanya saling bertatapan sambil angin menerpa wajah mereka. Ya, adegan ini akan dianggap romantis di kalangan anak muda seperti di drama korea pada umumnya, dimana seorang gadis yang tersakiti oleh kekasihnya, lalu seorang pria yang juga ditinggalkan oleh kekasihnya datang untuk menyembuhkan lukanya, dan mereka kembali jatuh cinta. Tapi, sayang itu tidak terjadi.
‘’Siapa kau?’’ tanya Vic membuat pria itu hampir jatuh.
‘’Hhah? Ka-Kau bertanya siapa aku? Nona, beberapa jam yang lalu kita di satu ruangan yang sama. Kita juga sudah pernah bertemu di The Polo Lounge, dan Anda bertanya siapa aku?’’ tanya pria muda itu habis pikir.
Vic mengerutkan dahi sambil mengingat perkataan pria itu. ‘’Ah, Sekretaris Kai.’’
‘’Yang benar itu Sekretaris Rey!’’ tegas Sekretaris Rey.
__ADS_1
‘’Ahaha, iya maksudku itu,’’ kekeh Vic membuang wajah.
Ah~ dari sekian pria di dunia ini, kenapa dia yang datang kepadaku dan memberiku sapu tangan? Cih, wajah cantikku sudah ternodai karena dia melihatku menangis dan mengomel tidak jelas seperti orang gila, gerutu Vic dalam hati.