
Vic terdiam seribu bahasa dari lantai 2 saat melihat sutradara Hakuba ada di bawah.
‘’E-Eve, apakah aku sedang bermimpi? Kenapa aku seperti melihat Sutradara Hakuba ada di sini.’’
‘’Bukankah kau ingin bertemu dengannya? Ya sudah, aku menyuruh Kaji-kun memanggil kemari,’’ jawab Eve santai.
‘’Apa?! Kenapa memanggilnya kemari?’’ tanya Vic mencengkeram kedua lengan Eve.
Eve terbelalak melihat reaksi sahabatnya itu. ‘’A-Aku dan Kaji-kun membantumu seperti yang kau minta.’’
‘’Tapi kenapa harus di sini? Maksudku atur pertemuanku dengan pria itu di suatu tempat, hanya ada kami berdua. Kalau di sini, ada begitu banyak orang. Aku tidak bisa membuatnya jatuh hati kepadaku,’’ omel Vic.
Aku bisa gila karena wanita ini, kata Eve dalam hati.
......................
Lantai 1
‘’Jadi, kenapa kau tiba-tiba memanggilku kemari?’’ tanya Hakuba.
Kaji menoleh ke samping untuk sesaat dan kembali ke arah sahabatnya. ‘’Aku tahu perasaanmu sedikit kacau karena kasus itu menghentikan project buatanmu. Tidak baik memendamnya, jadi aku mengajakmu kemari agar pikiranmu sedikit rileks.’’
‘’Kau benar juga. Film itu sangat penting bagiku, tapi aku tidak menyangka para aktor itu menghancurkannya. Kaji-san, arigatou,’’ kata Hakuba sedikit tenang.
‘’Douitashimashite(Sama-sama),’’ senyum Kaji.
......................
Eve yang berada di kamar tamu yang ditempati Vic, hanya memasang raut wajah bodohnya. ‘’Tadi dia begitu heboh, sekarang sudah lengkap secepat ini.’’
‘’Eve? Bagaimana penampilanku? Tidak ada yang kurang sedikitpun, kan?’’ tanya Vic menatap dirinya di cermin.
‘’Aha … Ha, Vic? Kau dan Tuan Hakuba hanya akan berbincang di rumah ini, kenapa kau mengenakan pakaian yang begitu berlebihan?’’ tanya Eve.
‘’Hee~ ini berlebihan, ya? Baiklah, aku akan menggantinya,’’ kata Vic.
Beberapa menit kemudian, Eve tidak tahu harus mengatakan apa lagi. ‘’Heh, ini bahkan lebih berlebihan dibandingkan yang tadi.’’
Eve menghela nafas panjang. ‘’Kalau begitu aku yang akan ambil ahli.’’
......................
Kamar Kane & Kein
Ceklek!
‘’Shitsurei shimasu(Permisi).’’
__ADS_1
Kedua anak itu mengerutkan dahi melihat sosok yang datang.
‘’Shion-san? Kau yang membawa makan siangku? Di mana ibuku?’’ tanya Kane.
‘’Nona Muda sedang membantu Nona Vic berdandan. Beliau memerintahkanku untuk sementara membuat makanan untuk Tuan Kane. Kalau Anda tidak menyukainya, saya akan kembali,’’ kata Shion.
‘’Ya sudah kalau itu perintah ibuku. Kau bisa meletakkannya. Tapi Kakak, bukankah ini aneh? Kenapa ibu membantu bibi Vic berdandan?’’ tanya Kane.
‘’Aku tidak satu kamar dengan wanita itu, jadi aku tidak tahu,’’ jawab Kein.
Wajah Kane langsung kusut mendengar jawaban kakaknya. Ia kembali menatap Shion. ‘’Shion-san, apakah kau tahu alasan ibu membantu bibi Vic berdandan?’’
‘’Itu, aku tidak tahu Tuan Kane. Tapi, saat menuju kemari, aku melihat Tuan Kaji bersama seorang pria seumuran dengannya di ruang tamu. Mungkin, karena hal itu,’’ jawab Shion.
Kane mengerutkan dahi. ‘’Seumuran dengan Paman Kaji? Bagaimana ciri-ciri pria itu?’’
Shion menatap ke atas sambil mengingat pria tadi. ‘’Um, kurang lebih tingginya hampir sama dengan Tuan Kaji. Berkulit putih dengan gaya rambut belah dua serta mengenakan kacamata bening.’’
‘’Gaya rambut belah dua dan mengenakan kacamata bening? Sutradara Hakuba!’’ pekik Kane.
Kein hanya diam dan tenang seperti biasa, berbeda dengan adiknya yang begitu heboh.
‘’Tapi, kenapa bibi Vic sampai berdandan? Hm~ ehehe,’’ kekeh Kane.
Shion sedikit terbelalak dan hanya tersenyum kaku melihat raut wajah Kane.
‘’Shion-san, aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung, tapi makanan ini kau saja yang makan,’’ kata Kane.
‘’Eh? Tapi, Tuan Kane? Anda harus segera makan dan meminum obat Anda. Kalau Nona Muda sampai tahu hal ini, saya akan kena marah,’’ kata Shion.
Kane tersenyum. ‘’Tidak usah khawatir soal itu.’’
Shion sedikit ragu dengan perasaan bingung. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Lagi pula, meskipun ia berusaha mencari alasan, Kane akan bersih keras dengan keputusannya.
‘’Baiklah Tuan Kane, terima kasih atas kebaikan Anda.’’
Kane menatap kepergian Shion sambil tersenyum.
‘’Kau merencanakan apa lagi?’’ tanya Kein tanpa mengalihkan pandangannya yang sedang mengecek naskahnya.
Kane terkekeh dengan wajah menyeringai, membuat Kein hanya menghela nafas.
......................
‘’Eve, apakah menurutmu Sutradara Hakuba akan menyukai penampilanku ini?’’ tanya Vic.
Eve tersenyum. ‘’Kenapa tidak? Kau tidak perlu memakai pakaian yang berlebihan. Tampillah apa adanya sesuai dirimu sendiri.’’
__ADS_1
‘’Tapi, penampilanku hanya biasa-biasa saja, riasan wajahku juga hanya sedikit,’’ kata Vic.
‘’Kau itu cantik natural. Wajahmu tetap cantik bahkan hanya dipoles sedikit riasan,’’ kata Eve.
‘’Hei, jangan membuatku malu. Kau lebih cantik dariku,’’ kata Vic.
Kedua wanita itu tersenyum, hingga akhirnya Eve menuntun sahabatnya ke tempat yang sudah ia dan Kaji atur untuk mereka.
......................
Balkon laintai 3
Meskipun banyak orang di mansion tersebut, tapi para tamu tidak berani menaiki lantai 3. Sebab, di lantai 3 adalah lantai pribadi yang hanya bisa dinaiki oleh keluarga Kamiya.
Vic sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sutradara Hakuba, setelah dirinya tiba di lantai 3.
Jantungku berdebar begitu cepat. Huu, kata Vic dalam hati.
‘’Kau benar-benar menyukai Tuan Hakuba sampai segugup itu?’’ tanya Eve yang menahan tawa.
‘’Tentu saja. Aku bahkan bisa merasakan tanganku berkeringat,’’ kata Vic.
Eve tersenyum melihat Vic yang sudah kembali ceria seperti biasa. ‘’Tenanglah. Aku dan Kaji-kun sudah mengatur semuanya. Kau tidak perlu khawatir mengenai ada yang akan melihat kalian berdua di sini. Lantai ini hanya bisa dinaiki oleh keluarga Kamiya, jadi tidak ada yang akan melihatmu berduaan dengan Tuan Hakuba.’’
‘’Pantas saja, aku jarang melihat para tokoh berpengaruh itu naik ke lantai 3. Tapi, bagaimana dengan keluarga Kamiya? Kalau mereka sampai melihatku di lantai ini, maka itu bisa gawat,’’ cemas Vic.
‘’Sudah aku bilang, tenanglah. Kaji-kun sudah meminta izin kepada Tuan Besar atas nama diriku,’’ kata Eve.
Vic terhenti dan terbelalak. ‘’Eh? Eve, kau sampai melakukan hal itu demi diriku?’’
‘’Selama kau senang. Kau sendiri tahu kalau Tuan Besar tidak ingin aku keluar begitu lama, jadi kalau kita mengatur pertemuanmu di luar, mungkin kau tidak akan puas karena Tuan Besar sudah memintaku pulang,’’ kata Eve.
‘’Eve! Terima kasih! Kau sahabat terbaik,’’ senang Vic memeluk Eve.
Eve membalas pelukan itu sambil terkekeh pelan. ‘’Ayo, tidak baik membuat Tuan Hakuba menunggu.’’
Vic mengangguk mantap dan merasa tidak sabar bertemu dengan pria itu.
Ting!
Namun, kedua wanita itu terdiam saat melihat tuan Hakuba duduk di meja bersama seseorang. Rasa senang Vic barusan yang tidak sabar berduaan, langsung rusak saat melihat sosok yang duduk bersama tuan Hakuba tersenyum ke arahnya.
‘’Halo Bibi Vic. Kemari dan duduklah bersama kami,’’ sambut Kane.
Eve mengernyitkan alis sambil tersenyum. ‘’Kane, kenapa kau ada di sini? Seharusnya kau beristirahat di kamarmu? Dan kau Kein, kenapa kau tidak menegur adikmu?’’
‘’Kane memaksaku ikut ber—‘’
__ADS_1
‘’Ahaha! Aku bosan di kamar terus, jadi mengajak Kakak untuk menemaniku. Kebetulan, aku tidak sengaja bertemu dengan Paman Hakuba, jadi sekalian ikut bersamanya,’’ jawab Kane memotong ucapan kakaknya.