Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 92 Kembali ke Kamar 212


__ADS_3

‘’Yang benar saja, kenapa dia suka menggodaku? Kau tidak mengerti Eve, dia melakukan hal itu karena dia sangat membenciku,’’ kata Vic.


Sebelah alis Eve terangkat. ‘’Kalau begitu, beritahu aku alasan kenapa dia membencimu.’’


Vic terdiam sambil mengingat awal pertemuannya dengan sekretaris itu.


‘’Sekretaris Rey, kalau kau berada di sini terus maka Tuan Muda akan marah karena kau tidak kunjung kembali kepadanya.’’


‘’Tuan Muda tidak akan marah, aku sudah meminta izin kepadanya.’’


‘’Kenapa kau begitu yakin?’’


‘’Karena aku sudah mengenal Tuan Muda sejak kecil.’’


‘’Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu? Kalau Nona Vic ingin mengusirku, sebaiknya pilih alasan yang lebih masuk akal.’’


......................


‘’Kalau begitu, aku saja yang bayar, berapa kekurangannya?’’


‘’Tidak perlu, kekurangannya juga tidak banyak.’’


‘’Mau aku bayarkan tidak?’’


‘’Hem! Itu, bisakah kau membantuku? Berikan aku nomor rekeningmu, dan aku akan membayarmu kembali.’’


‘’Tapi uangku cuma 100 ribu, setelah membayar makananku, mungkin Cuma tersisa 50 ribu saja.’’


‘’Kalau begitu kenapa kau begitu cerewet ingin membayar kekurangannya? Bersikap seolah-olah ingin membantuku padahal uangmu sendiri juga tidak cukup! Aku bahkan sudah memohon kepadamu, meskipun itu Cuma terpaksa. Kalau tidak ingin membantuku, katakana dari awal, jangan membuatku emosi!’’ (Vic menceritakan)


‘’Ya, kurasa karena hari itu aku bersih keras mengusirnya. Kau tahu sendiri kalau pria akan marah kalau diusir. Jadi, sekretaris itu membalasku,’’ kata Vic.


‘’Kenapa kalian tidak baikan saja?’’ tanya Eve.


Vic melotot membuat Eve sedikit tersentak. ‘’Baikan? Dengan pria menyebalkan itu? Hhah? Itu tidak akan terjadi.’’


Mata Eve memicing. ‘’Aku merasa kaulah sumber masalahnya di sini.’’


‘’A-Apa? Aku sumber masalahnya? Aku ini korban!’’ kesal Vic.


‘’Hm, baiklah, coba kau pikirkan. Kalau kau melihat anak kecil sedang menangis, apa yang akan kau lakukan?’’ tanya Eve.


Vic mengerutkan dahi. ‘’Tentu saja aku akan menghampirinya dan memberinya lap tangan agar dia menghapus air matanya.’’

__ADS_1


Eve menjentikkan jari lalu menunjuk Vic. ‘’Binggo! Saat itu Sekretaris Rey juga melakukan hal yang sama, karena itulah dia menghampirimu. Tapi, kau malah mengusirnya.’’


‘’Y-Ya aku mengusirnya karena Tuan Muda akan marah kalau dia pergi begitu lama,’’ jawab Vic membuat mata Eve kembali memicing.


Vic mengerutkan dahi melihat tatapan Eve. ‘’Ke-Kenapa kau menatapku seperti itu?’’


‘’Hm~ sejak kapan kau khawatir kalau Tuan Muda akan marah kepada Sekretaris Rey kalau pria itu pergi begitu lama?’’ tanya Eve dengan maksud menggoda.


‘’Tidak, siapa yang peduli? Aku hanya merasa risih jadi mengusirnya, itu saja,’’ kata Vic.


‘’Selain itu, Sekretaris Rey sudah baik hati ingin membantumu di supermarket, tapi kau begitu jual mahal kepadanya,’’ kata Eve.


Vic menghela nafas panjang. ‘’Eve, sudahlah, kenapa kita harus membahas sekretaris itu? Saat ini hidupku sedang dalam masalah. Kumohon, bicaralah dengan Tuan Besar, dan jelaskan kepadanya kalau semua perkataan kasarku tadi bukan ditujukan kepadanya.’’


‘’Eh? Kenapa harus aku? Lagi pula, setelah pertemuan ini, aku akan kembali ke Jepang,’’ kata Eve.


Vic melotot. ‘’Apa?! Kau sudah akan kembali ke Jepang? Hee~ kenapa begitu cepat? Kenapa tidak tinggal lebih lama?’’


‘’Vic, tempatku bukan di sini. Tidak ada yang serius menyayangiku, bahkan ayah kandungku sendiri. Kau lihat saat aku membuka kacamataku, ayah bahkan tidak pernah menghampiriku sampai saat ini. Jadi, untuk apa aku tinggal di sini? Berbeda di Jepang, di sana keluarga Kamiya memperlakukanku lebih dari anggota keluarga. Selain itu, Kane dan Kein tumbuh di sana. Kalaupun kami tinggal di sini, kedua anak itu pasti sulit beradaptasi,’’ kata Eve.


Yang dikatakan Eve benar. Aku melihat Pak Percy hanya diam dan tidak menghampiri Eve, kata Vic dalam hati.


‘’Hei, kenapa wajahmu begitu sedih? Aku pergi bukan berarti kita tidak bisa saling komunikasi. Kalau ingin curhat, hubungi aku saja, aku pasti akan mendengarkanmu,’’ senyum Eve.


Vic tersenyum sambil mengangguk. ‘’Haa, padahal kita belum sempat liburan bersama sejak kau kembali.’’


......................


Setelah Eve kembali dan menjelaskan situasi, mereka berbincang.


Eve melirik Adam dan Kaji secara bergantian, dan hal itu dilihat oleh si kembar tanpa Eve sadari.


Terlihat keraguan di wajah, Eve memejamkan mata sambil menghela nafas. ‘’Setelah ini, apakah kita bisa bicara berdua … Tuan Muda?’’


Deg!


Adam terbelalak begitu juga yang lainnya. Mereka spontan menatap Eve dan memastikan pendengaran mereka tidak salah.


Untuk sesaat, Adam melirik Kaji yang terlihat hanya diam, sebelum akhirnya kembali menatap Eve. ‘’Tentu, tapi kenapa harus berdua?’’


‘’Ada hal penting yang harus kita bicarakan tanpa campur tangan orang lain,’’ jawab Eve.


Orang lain? Apakah yang dimaksud Eve adalah Kaji? Hal yang penting … Apakah dia ingin membahas perceraian kami? Tidak peduli apa pun itu, ini adalah kesempatanku untuk bicara secara pribadi dengannya, kata Adam dalam hati.

__ADS_1


‘’Baiklah,’’ kata Adam.


Eve tiba-tiba mengajak Adam bicara berdua, apakah ini ada kaitannya dengan perceraian mereka? Aku hanya berharap ini bukan sesuatu yang berakhir buruk, kata Nyonya Mary dalam hati.


Bicara berdua? Jangan-jangan mereka akan membahas perceraian lagi. Aku berharap, semoga Eve mengubah keputusannya, kata Tuan Moriarty dalam hati.


Setelah jamuan selesai, Adam dan Eve pun meminta waktu sebentar untuk bicara. Kaji hanya menatap kepergian Eve, begitu juga dengan Kane dan Kein.


......................


Koridor


Adam dan Eve masih berjalan tanpa ada yang bicara satu sama lain. Tidak ingin suasana menjadi canggung, Adam akhirnya angkat bicara.


‘’Jadi di mana kita akan bicara?’’ tanya Adam tanpa merubah posisi berjalannya.


Eve menatap punggung pria di depannya itu. ‘’Kamar 212.’’


Langkah Adam spontan terhenti tanpa ia berbalik menatap Eve. Hal itu juga membuat Eve berhenti dan hanya menatap ke depan.


......................


Kamar 212


Ceklek!


Begitu Eve membuka pintu, Adam sedikit terbelalak karena di dalam kamar tersebut sudah tersedia jamuan minum.


Eve berjalan ke arah kursi dan duduk, begitu juga dengan Adam. Keduanya hanya diam, sambil Adam terus menatap Eve, menunggu wanita itu bicara.


‘’Dari sekian tempat, kenapa kau memilih kamar ini?’’ tanya Adam yang tidak melihat niat Eve memulai pembicaraan.


Eve menolehkan kepalanya dan menatap. ‘’Semua masalah berawal di kamar ini, dan untuk mengakhiri semuanya juga harus di kamar ini.’’


‘’Apa maksudmu mengakhiri semuanya? Apakah kau masih bersih keras ingin bercerai denganku?’’ tanya Adam.


Senyuman terukir di bibir Eve. ‘’Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu.’’


Adam bersikap tenang seperti biasa sambil menatap Eve terus. ‘’Tanyakan!’’


‘’Adam….’’


Mata Adam sedikit terbelalak karena untuk pertama kalinya Eve memanggil namanya secara langsung.

__ADS_1


‘’Apakah kau benar-benar mencintaiku?’’


Deg!


__ADS_2