
Kaji menatap wanita yang basah kuyup di sampingnya. Wanita itu gemetar sambil menggenggam tangannya. Terlihat beberapa luka memar di wajahnya. Bahkan sudut bibirnya berdarah. Ia tidak menyangka, siapa yang tega melakukan hal seperti ini kepada seorang wanita.
‘’Ini pakailah, kau pasti kedinginan,’’ kata Kaji melepaskan mantel berbulu panjangnya.
Wanita tadi menatapnya, lalu menolak menerima mantel tersebut. ‘’Tidak, terima kasih Tuan. Saya tidak apa-apa.’’
‘’Tidak apa-apa, pakailah,’’ kata Kaji menyerahkan mantel itu.
‘’Terima kasih, Tuan.’’
Tidak hanya itu, Kaji juga menyiapkan cokelat panas dan paket makanan MCDonalds untuk wanita tersebut yang tersedia di dalam limousine miliknya.
‘’Tuan tidak perlu melaku—"
Belum sempat ucapannya selesai, tiba-tiba perutnya berbunyi. Ia menunduk malu, sedangkan Kaji hanya tersenyum dan menyodorkan cokelat panas dan paket makanan tadi.
......................
Rumah Sakit
Cordelia yang memainkan ponselnya langsung melihat panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Ia mengangkat panggilan itu, dan berbicara untuk sesaat. Bu Christa bingung melihat raut wajah putrinya terlihat begitu senang.
‘’Kerja bagus! Kalian tunggu aku di luar pagar rumah sakit. Aku akan segera datang memberikan uangnya.’’
Wanita itu pun menutup panggilan dan berdiri.
‘’Ada apa?’’ tanya Bu Christa.
‘’Kakak sudah dilenyapkan.’’
Bu Christa membulatkan mata sambil membengkap mulutnya. Ia langsung memegang kedua bahu putrinya memastikan pendengarannya tidak salah. ‘’Secepat ini mereka melakukannya?’’
Cordelia mengangguk membenarkan. Ia menjelaskan kalau pembunuh bayaran yang ia suruh adalah profesional. Bu Christa kembali menanyainya, dari mana ia akan mendapatkan uang untuk membayar pembunuh itu.
‘’Aku punya cek ini,’’ kata Cordelia memperlihatkan sebuah cek kepada ibunya.
Dahi bu Christa berkerut dan melihat jumlah uang yang tercantum di cek tersebut.
‘’Cordelia, dari mana kau dapat uang sebanyak ini?’’ bisik Bu Christa.
‘’Oh? Aku mendapatkannya dari kamar hotel, tempat aku menjebak kakak.’’
‘’Ha? Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti.’’
‘’Kami berdua hendak meninggalkan kamar hotel, dan aku melihat sebuah kertas tergeletak di atas meja minimalis kamar. Saat aku melihatnya, ternyata sebuah cek yang berisi ratusan juta. Aku tidak menyangka pria yang merenggut mahkota kakak memberinya cek seperti itu.’’
__ADS_1
‘’Jadi selama ini kau menyimpan cek itu? Kenapa tidak memberitahuku, agar kita bisa berfoya-foya.’’
Cordelia merebut cek itu dari tangan ibunya.
‘’Aku juga berpikiran yang sama. Tapi kita bisa berkorban untuk yang satu ini saja. Cek ini sepadan dengan nyawa kakak.’’
Bu Christa menghela nafas kasar. Ia dengan terpaksa menerimanya.
......................
Gerbang Rumah Sakit
Cordelia datang sambil mengenakan payung, menuju ke arah mobil hitam yang parkir di seberang jalan. Ia masuk ke dalam mobil hitam tersebut.
‘’Kalian sungguh sudah melenyapkan wanita itu?’’ tanya Cordelia memastikan.
Para pria itu bertatapan dan mengangguk membenarkan ucapan Cordelia. Mereka memperlihatkan sebuah pisau yang berlumuran darah, membuat Cordelia semakin yakin kalau kakak tirinya benar-benar sudah dilenyapkan.
‘’Baiklah, ini bayarannya.’’
Segerombolan pria itu melotot melihat nominal uang yang tercantum di dalam cek tersebut, sehingga terukir senyuman menyeringai di wajah mereka.
‘’Jadikan ini sebagai rahasia kita berdua. Mulai sekarang jangan hubungi aku lagi!’’
Cordelia kembali membuka pintu mobil dan memakai payung, lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Tanpa ia sadari, segerombolan pria itu hanya tertawa.
‘’Tidak apa-apa, yang penting ratusan juta ini sudah menjadi milik kita.’’
Mobil hitam itu pun melaju pergi.
......................
Bandara
Limousine itu berhenti dan supir pribadi keluar sambil membawa payung. Pintu limousine terbuka dengan Kaji yang keluar sambil dipayungi.
Kaji menatap wanita yang masih duduk di dalam. Ia mengulurkan tangan, membuat wanita itu bingung.
Ragu-ragu, wanita tadi mengulurkan tangannya dan menerima uluran tangan Kaji. Keduanya dipayungi sambil berjalan memasuki bandara.
......................
Lobby
Kaji menuju ke tempat pesawat jet pribadinya sambil diikuti wanita tadi. Sesampainya di sana, ia menatap wanita yang ditolongnya itu. Sambil menunggu kedatangan jet pribadinya, mereka berbincang.
__ADS_1
‘’Apakah Nona sedang dalam masalah? Kenapa ada yang ingin melenyapkan Anda? Wajah Anda juga ada banyak luka memar,’’ penasaran Kaji.
Wanita itu hanya diam tanpa menjawab apa pun. Tubuhnya masih gemetar hebat karena merasa shock. Melihat hal itu membuat Kaji merasa iba.
‘’Oh iya, kita belum kenalan. Siapa namamu? Aku Kamiya Kaji.’’
Wanita tadi spontan menatap Kaji dengan tampang kaget.
Dia bilang apa tadi? Kamiya Kaji? Itu berarti dia adalah adik dari rekan kerjanya Adam, ucapnya dalam hati.
‘’Nona?’’ panggil Kaji.
‘’Namaku Eve Ray—‘’
Aku membebaskanmu dari pernikahan ini.
Sekarang, kau sudah bukan bagian dari keluarga Raymond.
Keluarga Raymond sudah menendangmu, dan kau masih berharap ayah akan mendengarmu? Kakak ini terlalu naif. Di saat yang sama, hari ini keluarga Laurence hanya memiliki satu putri, dan itu adalah aku, Cordelia Laurence! (Eve teringat)
Tangannya mengepal disertai gertakan gigi. ‘’Namaku Eve.’’
‘’Eve-san, ya?’’ tatap Kaji.
Entah kenapa, ada sesuatu yang membuatnya tertarik setelah mendengar nama wanita itu.
Beberapa jam berlalu, hujan deras mulai menjadi gerimis, dan pesawat jet pribadi juga telah tiba. Kaji berdiri hendak pergi. Ia benar-benar menikmati pembicaraan mereka.
‘’Eve-san, aku akan pergi. Jaga dirimu baik-baik. Aku menikmati pertemuan kita selanjutnya.’’
Mendengar Kaji yang akan pergi sebentar lagi, membuat perasaan Eve kembali panik. Tidak ada yang tahu, kapan dirinya dikejar lagi oleh pembunuh bayaran suruhan Cordelia. Hari ini ia mungkin lolos dari karena Kaji menolongnya. Tapi, pria itu akan pergi dari Indonesia, membuatnya tidak punya perlindungan lagi. Ia benar-benar merasa tidak aman, setelah apa yang terjadi barusan.
Eve meremas ujung pakaian yang ia kenakan sambil menggigit bibir bawahnya.
‘’Tuan Kaji!’’ panggilnya membuat langkah Kaji terhenti yang sudah tiba di pintu pesawat.
Kaji menatap Eve yang hanya diam. Dahinya berkerut karena wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu.
‘’Itu ... Apakah saya bisa ikut dengan Tuan Kaji?’’
Perkataan Eve spontan membuat Kaji terbelalak.
‘’Tuan Kaji tidak perlu memberiku uang dan tempat tinggal. Saya hanya ingin ikut bersama Tuan Kaji meninggalkan negara ini, jadi kumohon!’’
Kaji yang melihatnya, menjadi mengerti. Setelah kejadian barusan yang menimpa Eve, wanita itu pasti merasa tidak aman. ‘’Baiklah, ikutlah denganku.’’
__ADS_1
Eve mendongakkan kepala dengan raut wajah tidak percaya. Ia merasa senang dan sangat bersyukur, karena ada pria baik yang mau menolongnya.