
Mark meletakkan sendok setelah mencicipi kedua hidangan tersebut. Sebelum kembali ke kursi khusus peserta, ia menuju ke meja voting dan menekan tombol. Setelah penjurian selesai, Reon dan Kein kembali ke depan meja juri.
MC kembali mengumumkan hasil penjurian yang akan menentukan siapa pemenangnya. 2 angka 0 telah tampil di masing-masing bawah nama kedua peserta babak final tersebut. MC mulai memberi aba-aba untuk memulai penghitungan suara dan angka 0 di layar langsung bergerak dengan cepat.
Tentu saja semua kembali menjadi tegang, berbeda dengan Kane yang sudah menghabiskan lolipopnya di ruang kontrol. Anak berambut hitam bermata sapphire itu malah tersenyum.
Ting!
‘’92 suara untuk Reon Raymond dari gabungan pilihan juri! Sedangkan Kamiya Kein memperoleh 108 suara dari gabungan pilihan juri, selamat! Kamiya Kein, Anda pemenang dari kompetisi masak bergengsi di dunia, World Premier Gastronomy Periode 128!’’ kata MC.
Flashback on
Koridor
Jeremy terhenti saat Kane menghadangnya sebelum ia tiba di menara utama. Apalagi Cordelia sudah berjalan jauh meninggalkannya.
‘’Kalau tidak salah, kau adalah Kamiya Kane kembaran Si Iblis Makanan. Ada perlu apa?’’ senyum Jeremy semanis mungkin.
Kane yang melihatnya hanya tersenyum remeh. ‘’Jeremy Marlo-san, bisakah Anda berhenti berpura-pura memasang topeng di depanku?’’
Mata Jeremy memicing. ‘’Mata seorang detektif memang selalu tajam. Babak final akan dimulai, kalau tidak ada urusan penting aku harus segera tiba di Menara Utama.’’
‘’Tentu saja aku bukan orang yang tidak menghampiri seseorang tanpa sebab,’’ senyum Kane.
‘’Katakan apa maumu?’’ tanya Jeremy yang menyadari maksud anak itu.
Kane memperlihatkan ponselnya membuat Jeremy terbelalak. ‘’Jeremy-san, menurut Anda bagaimana reaksi orang jika mengetahui kebenaran ini? Reon Raymond yang selama ini dianggap sebagai cucu keluarga Raymond sebenarnya adalah anak dari hubungan perselingkuhan Nona Cordelia dengan Anda. Selain itu, alasan kenapa Reon selalu menjadi pemenang di kompetisi masak, itu karena Anda membocorkan rahasia tema hidangan kepada Nona Cordelia. Dengan kata lain Anda melakukan itu bukan demi keluarga Raymond tapi hanya ingin melihat Reon selalu di posisi pertama.’’
‘’Kau? Bagaimana bisa bukti itu ada di ponselmu? Jelas-jelas aku sudah menghapusnya, haa … Hehe, benar juga, kalau yang satunya ahli dalam seni dan memasak, maka yang satunya lagi ahli meretas dan deduksi. Apa yang kau inginkan?’’ tanya Jeremy.
Kane tersenyum ramah dengan mata menyipit. ‘’Kalau Jeremy-san ingin bekerja sama denganku, mungkin keinginan Anda yang ingin merebut Nona Cordelia dan Reon akan lebih mudah tanpa Anda melakukan trik kotor.’’
‘’Hee~ kau banyak tahu juga,’’ kata Jeremy.
‘’Hal ini tidak pantas untuk dikatakan oleh anak seperti diriku tapi setelah Anda dan Cordelia melakukannya tadi, semua percakapan Anda sudah terekam di sini,’’ kata Kane menyalakan rekaman suara.
__ADS_1
Sekali lagi Jeremy terbelalak.
‘’Setelah insiden kakak Kein di dalam lemari pendingin hari itu, aku sudah memasang alat sadap di setiap sudut ruangan ini dan rekaman ini salah satunya,’’ kata Kane.
Jeremy melonggarkan sedikit dasinya sambil tersenyum remeh. ‘’Kau tidak terdengar seperti meminta bantuan, tapi lebih terdengar sedang menggertakku.’’
Kane tersenyum bersamaan kedua alinya naik turun.
‘’Jadi, Kane-kun … Kau ingin aku melakukan apa?’’ tanya Jeremy.
‘’Menurut deduksiku, kemungkinan besar Reon dan kakak Kein akan menimbulkan masalah yang belum pernah terjadi dalam sejarah kompetisi masak bergengsi dunia ini. Dunia tidak meragukan hidangan Si Iblis Makanan, jadi sebelum kompetisi ini selesai, Jeremy-san sudah tahu siapa pemenangnya. Tapi aku tidak ingin pertunjukkannya berakhir begitu cepat. Jadi aku ingin Jeremy-san memberikan pilihan Anda kepada Reon. Bisa jadi kedua hidangan mereka mungkin akan berakhir seri, sisanya serahkan kepadaku dan kakak Kein,’’ kata Kane.
‘’Kenapa aku harus menuruti permintaanmu ini?’’ tanya Jeremy.
Kane tersenyum dengan sebelah alis terangkat. ‘’Karena Jeremy-san menyukai pertunjukkan yang seru. Selain itu Anda akan diuntungkan dalam masalah ini, dan juga akan ada resiko untuk hal ini. Apalah Anda keberatan?’’
Flashback off
Kejadian sekarang benar-benar terjadi sesuai perkataan anak itu. Humph! Dasar Si Iblis Deduksi itu, kata Jeremy dalam hati.
Para staf masuk sambil mendorong lemari berisikan koleksi 100 pisau milik Reon Raymond.
‘’Dengan kekalahan pertandingan ini, Reon Raymond telah kehilangan haknya akan seluruh peralatan memasak ini dan Kamiya Kein mengembalikan seluruh peralatan ini kepada pemiliknya!’’
Saat itu juga, 94 peserta dan 6 orang yang menyebar di bangku penonton langsung menghampiri lemari tersebut dengan tidak sabar.
‘’100 pisau itu telah kembali kepada pemiliknya,’’ kata Ogardo.
‘’Pasti sangat senang karena pisau itu telah kembali kepada mereka. Sekali lagi Si Iblis Makanan itu membuat orang semakin menghomatinya,’’ kata Sendawara.
Jeremy yang mendengarnya hanya tersenyum remeh. ‘’Lupakan soal itu, kompetisi ini dimenangkan oleh Kamiya Kein, menurut kalian bagaimana dengan taruhannya?’’
Sendawara dan Ogardo langsung tersentak sambil menatap Nyonya Mary.
‘’Jadi bagaimana Reon Raymond, mengenai taruhan kita berdua tadi?’’ tanya Kein membuat suasana langsung menjadi canggung.
__ADS_1
Reon dan Nyonya Mary mengepalkan tangan.
Tidak, aku tidak sudi meninggalkan dunia memasak dan menjadi bawahannya! Di sini pasti ada kesalahan, kata Reon dalam hati.
Aku seperti tidak memiliki wajah lagi untuk diperlihatkan, kata Nyonya Mary dalam hati.
‘’Kenapa diam? Jangan bilang kau ingin membatalkan taruhan tadi?’’ tanya Kein.
‘’Diam, aku tidak akan melakukannya,’’ kata Reon tertahan.
‘’Hee~ itu berarti kau tidak menepati janji,’’ kata Kein.
‘’Aku sudah mengembalikan 100 pisau itu sesuai taruhan! Untuk apa aku meninggalkan dunia memasak dan menjadi bawahanmu?’’ tanya Reon.
‘’Taruhan tetap taruhan, kau menyetujui taruhanku, aku juga menyetujui taruhanmu, jadi tepati janjimu sebagai seorang laki-laki atau aku tidak akan ragu menyebutmu sebagai ... Pencundang,’’ kata Kein.
‘’Kamiya Kein!’’ seru Reon membuat semua orang sedikit tersentak.
Kein hanya diam menunggu dan terlihat biasa saja.
‘’Kau sudah memenangkan kompetisi ini dan koleksi 100 pisau milikku, kurang apa lagi?’’ tanya Reon.
‘’Jadi kau melarikan diri dari taruhan tadi? Reon Raymond … Kau benar-benar pecundang rendah,’’ kata Kein tanpa ragu.
Mata Reon membulat besar lalu menarik kerah leher seragam koki anak berambut putih itu dan hendak memukul wajah Kein.
‘’Hentikan!’’ seru Tuan Moriarty.
Reon tersentak melihat raut wajah Tuan Moriarty yang melontarkan tatapan tajam ke arahnya. ‘’Ka-Kakek.’’
Semua yang ada di ruangan langsung diam saat Tuan Moriarty angkat bicara. Tentu saja, semua orang menakuti dirinya yang dipanggil sebagai ‘Tuan Besar’.
Tuan Moriarty menatap kedua anak itu dengan dingin. ‘’Jangan menimbulkan masalah lagi.’’
‘’Cucu Anda sendiri yang menimbulkan masa—‘’
__ADS_1
‘’Kamiya Kein!’’ seru Tuan Moriarty sekali lagi.