
Semua menatap meja, tepatnya tempat dimana Kein duduk.
‘’Semuanya berkumpul di sini untuk afternoon tea saat pukul tiga lewat enam belas menit sore. Lalu, Tuan Kein diracuni saat pukul tiga lewat empat puluh enam menit sore. Eh? Bagaimana mungkin racun itu baru bekerja setelah setengah jam saat afternoon tea berlangsung?’’ tanya Petugas Reiki.
‘’Benar. Seharusnya orang yang terkena racun, efeknya langsung bekerja,’’ kata Inspektur.
‘’Sebenarnya aku menyuruh Kein-kun untuk menyiapkan hidangan untuk afternoon tea kali ini. Jadi, dia baru datang bergabung setelah menyiapkan semuanya di dapur. Tidak lama setelah kembali, Kein-kun langsung terjatuh setelah mencicipi teh,’’ kata Tuan Giruberuto.
Inspektur dan petugas Reiki mengangguk tanda mengerti.
‘’Kalau begitu, kalian semua yang berada di meja ini tidak bisa dikatakan sebagai tersangka, kecuali orang yang berada di sekitar Tuan Kein. Jadi, siapa saja yang duduk di antara kursi Tuan Kein?’’ tanya Inspektur.
Ting!
Petugas Reiki tersenyum dengan wajah bodohnya, sedangkan Inspektur tersenyum dengan wajah kaku.
‘’Jadi, keempat orang ini adalah tersangka utamanya?’’ tanya Petugas Reiki.
‘’Aku tidak terkejut kalau koki kecil ini masuk ke dalam daftar tersangka. Tapi, bagaimana mungkin Tuan Kaji, Nona Eve dan bahkan Tuan Kane sendiri ikut serta sebagai tersangka utamanya?’’ tanya Inspektur.
Petugas Reiki menjelaskan kasus tersebut. ‘’Dilihat dari situasi, sepertinya ada seseorang yang berniat membunuh Tuan Kein dengan mencampurkan racun Botulinum Toxin ke dalam tehnya. Tapi, karena langsung ditangani, akhirnya racun di dalam tubuh Tuan Kein bisa diatasi.’’
‘’Masalahnya adalah siapa dan bagaimana cara pelaku mencampurkan Botulinum Toxin ke dalam teh?’’ tanya Inspektur.
‘’Yang pertama harus dicurigai adalah orang yang membuat tehnya. Jadi, siapa yang membuat teh untuk afternoon tea ini?’’ tanya Petugas Reiki.
Semua saling memandang satu sama lain tanpa ada yang bicara, membuat Inspektur dan petugas Reiki mengerutkan dahi.
‘’Seperti yang dikatakan suamiku tadi. Semua hidangan ini dibuat oleh Kein-kun. Jadi, yang menyiapkan tehnya juga adalah anak itu,’’ jawab Nyonya Vaioretto.
‘’Karena Eve-chan menyukai teh Chamomile dari Mesir, aku sendiri yang menyuruh Kein-kun untuk membuatnya,’’ kata Kaji.
‘’Eh?’’ bingung Inspektur dan Petugas Reiki.
‘’Kalau begitu, pelayan yang terakhir menuangkan teh untuk Tuan Kein pasti dialah yang memasukkan racun itu,’’ kata Petugas Reiki.
Kane mengerutkan dahi. ‘’Teh yang dituangkan oleh pelayan terakhir itu, adalah teh dari teko yang sama untuk semua orang. Jika teh yang disajikan mengandung Botulinum Toxin di dalamnya, maka kita semua sudah mati. Lalu, kenapa hanya kakak yang terkena efek racunnya?’’
__ADS_1
‘’Atau mungkin, racunnya sudah dituangkan terlebih dahulu ke cangkir?’’ tanya Petugas Reiki.
‘’Tidak mungkin. Kita semua memilih secara acak cangkir teh yang kita sukai dari lemari koleksi Paman Kaji. Mustahil memperkirakan cangkir mana yang kakak pilih, dengan racun yang sudah dimasukkan ke cangkir tersebut. Jika perkiraan pelaku meleset, maka orang lain yang akan mati,’’ jawab Kane.
‘’Memilih cangkir teh secara acak?’’ tanya Inspektur.
Kane menunjuk ke arah lemari dorong yang berisi koleksi cangkir milik Kaji, membuat Inspektur dan petugas Reiki menghampiri lemari tersebut.
‘’Hm, ada begitu banyak cangkir di sini, dan yang dikatakan Tuan Kane benar. Kalian memilih cangkir di lemari ini secara acak, jadi mustahil pelaku bisa mengetahui cangkir mana yang akan kalian ambil,’’ kata Inspektur.
Ada yang aneh di sini. Selain kami, hanya kakak yang terkena efek racun, tapi apa itu? Kenapa aku tidak bisa menemukannya?! Argh, kata Kane dalam hati.
Inspektur menghela nafas dan kembali menghampiri keempat tersangka.
‘’Apa boleh buat. Sebelum Tuan Kein keracunan, apa yang Tuan Kaji lakukan?’’ tanya Inspektur.
‘’Hanya berbincang dengan Kakak dan Eve-chan secara bergantian. Selain itu tidak ada lagi,’’ jawab Kaji.
‘’Jadi, Tuan Kaji tidak pernah meninggalkan kursi Anda sampai Tuan Kein keracunan?’’ tanya Inspektur.
Kaji mengangguk, sehingga pertanyaan beralih ke Eve.
‘’Lalu Tuan Kane sendiri?’’ tanya Inspektur.
‘’Aku memanggil Shion-san untuk bergabung, dan dia duduk di antara kursi kami berdua,’’ jawab Kane.
Inspektur menatap ke arah koki kecil yang berdiri di samping Kane. ‘’Shion-san? Anak ini?’’
‘’Benar. Saya bekerja di salah satu restoran milik keluarga Kamiya, dan Tuan Kaji mengundangku kemari,’’ jawab Shion.
‘’Itu berarti pelakunya adalah kau,’’ kata Petugas Reiki.
Shion menatap semua orang dengan wajah frustasi. ‘’I-Itu tidak benar. Bukan aku yang berusaha membunuh Tuan Kein.’’
‘’Kursimu berada paling dekat dengan Tuan Kein, jadi kau bisa memasukkan racun ke dalam tehnya saat tidak ada yang melihatmu,’’ kata Inspektur.
‘’Itu tidak benar,’’ jawab Kane membuat kedua pria itu mengerutkan dahi.
__ADS_1
Kane menatap Shion sekilas sebelum pandangannya beralih ke meja. ‘’Saat itu, aku dan Shion-san berbincang terus, jadi aku bisa mengawasinya. Dan bisa aku pastikan, bukan dia pelakunya.’’
Inspektur dan petugas Reiki dibuat pusing, begitu juga semua orang.
‘’Sebelum Tuan Kein mencicipi tehnya, Nona Eve memberinya gula batu,’’ kata Pendiri.
‘’Gula batu?’’ tanya Inspektur.
‘’Kau menuduh calon istriku sebagai pelakunya?’’ tanya Kaji dengan tatapan tidak suka.
Pendiri tersenyum kaku. ‘’Ti-Tidak Tuan Muda. Saya hanya menyampaikan sesuatu yang kepolisian belum ketahui.’’
Kaji melotot ke arah pendiri membuat pria itu menunduk ketakutan.
‘’Apakah itu benar Nona Eve?’’ tanya Inspektur.
‘’Benar. Aku memberinya gula batu, karena Kein selalu menggunakannya saat minum teh atau kopi. Tapi, kalian semua melihatnya, aku meminum teh itu sebelum putraku. Kalau itu memang benar, seharusnya aku sudah tewas terlebih dahulu,’’ kata Eve.
Petugas Reiki mengerutkan dahi. ‘’ Benar juga. Karena Nona Eve yang meminum teh itu lebih dulu, seharusnya orang pertama yang langsung terkena efek racun tersebut adalah dirinya sendiri.’’
‘’Kalau begitu, perintahkan tim forensik untuk memeriksa meja panjang itu!’’ perintah Inspektur.
"Tidak. Panggil mereka semua agar menyebar untuk mencari racun itu di mansion ini. Kakak diracuni, dan tidak mungkin kami berempat yang melakukannya. Pelakunya pasti ada di antara mereka," kata Kane.
‘’Baik! Kalian dengar itu, cepat periksa!’’ perintah Petugas Reiki.
Untuk mansion seluas ini, Inspektur memanggil semua petugas di bagian forensik untuk datang. Butuh waktu sedikit lama untuk mencari petunjuk di semua tempat. Tidak lama kemudian, petugas Reiki menghampiri Inspektur yang mengawasi rombongan orang itu.
‘’Semua tempat di mansion ini sudah diperiksa, dan tidak ditemukan Botulinum Toxin satu pun. Lalu, semua hidangan di meja ini juga sama,’’ kata Petugas Reiki.
‘’Apa? Kenapa bisa begitu? Kau ingin bilang kalau hantu yang melakukan semua ini? Itu mustahil!” kata Inspektur.
‘’Tapi….’’
Semua kembali menatap petugas Reiki yang belum selesai.
‘’Botulinum Toxin ditemukan di dalam teh milik Tuan Kein,’’ kata Petugas Reiki.
__ADS_1
Deg!