
Ruang VVIP
Semua menoleh saat pintu terbuka.
‘’Kenapa kalian begitu lama dari toilet?’’ tanya Tuan Yuki.
‘’Ada yang mengenali kami, jadi mereka minta foto,’’ jawab Kane.
Sebelah alis Dokter Yuu terangkat sambil ia tersenyum. ‘’Hee~ kalian langsung menjadi selebriti, ya?’’
Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka dengan menampilkan sosok Eve dan Kaji.
‘’Kalian berdua datang bersamaan? Di mana Tuan Adam?’’ tanya Dokter Yuu.
Eve menatap Kaji. Ia merasa bingung harus mengatakan apa.
‘’Eve? Kau sudah selesai bicara dengan Adam, kan? Lalu dia di mana?’’ tanya Nyonya Mary.
‘’Aku bersama mereka,’’ jawab Adam membuat Eve dan Kaji berbalik.
Tuan dan nyonya Raymond menghela nafas. Eve menatap Adam berjalan menghampiri keluarganya sambil menyembunyikan tangan kanannya di belakang.
Tangannya terluka? Jangan-jangan karena suara ribut itu, kata Eve dalam hati.
‘’Sudah hampir pukul enam belas, kalau begitu kami pamit. Terima kasih atas waktunya,’’ kata Tuan Yuki.
‘’Terima kasih kembali karena Tuan Yuki sampai mengadakan pertemuan ini,’’ kata Tuan Moriarty.
Tuan Yuki tersenyum. Ia menghampiri Adam dan mengulurkan tangan. ‘’Jika kau berkunjung ke Jepang, jangan sungkan untuk menghubungiku. Kita akan bertemu lagi Tuan Adam.’’
Adam terdiam untuk sesaat. Tidak mungkin ia akan menggunakan tangan kiri karena itu tidak sopan. Namun, ia tidak peduli lagi, sehingga ia membalas uluran tangan Tuan Yuki.
Semua terbelalak terutama tuan Yuki. ‘’Tuan Adam, tangan Anda terluka.’’
‘’Adam, kenapa tanganmu bisa terluka seperti itu?’’ tanya Nyonya Mary.
__ADS_1
‘’Apa yang terjadi? Lukanya terlihat sangat serius, kenapa kau tidak mengobatinya?’’ tanya Tuan Moriarty.
Adam menatap luka di tangan kanannya yang sedang menjabat tangan tuan Yuki. ‘’Ini tidak seberapa dibandingkan luka 6 tahun yang lalu.’’
Eve tersentak mendengar hal itu, membuatnya membuang wajah sambil mengontrol nafas. Sedangkan Kaji, ia menatap Adam dengan tatapan tidak suka.
‘’Aku tidak akan sungkan untuk menghubungi Tuan Yuki jika kami memiliki kesempatan ke Jepang. Aku menantikan pertemuan kita kembali,’’ kata Adam.
......................
Kediaman Kamiya di Indonesia
‘’Pengadilan sudah mengirimkan konfirmasi. Sekarang, kau dan Tuan Adam resmi bercerai,’’ kata Kaji.
Eve hanya diam sambil termenung.
Kaji yang melihatnya menghela nafas. ‘’Ada apa? Apakah kau menyesal telah bercerai dengannya?’’
‘’Kenapa kau berkata seperti itu?’’ tanya Eve.
‘’Raut wajahmu memperlihatkannya sendiri,’’ jawab Kaji.
Kaji baru teringat dengan pak Percy. Pikirannya menjadi tenang karena ternyata Eve sedih bukan karena sudah resmi bercerai dengan Adam, melainkan sedih karena tidak bisa bertemu dengan ayahnya.
‘’Kalau begitu kenapa tidak kirim surat saja?’’ usul Kaji.
Eve langsung tersadar. Yang dikatakan Kaji benar. Kalau dirinya tidak bisa bertemu dengan ayahnya, maka masih ada solusi lain, yaitu dengan mengirim surat.
Ya, meskipun ini sudah zaman modern, saling mengirim surat sudah sangat jarang dilakukan oleh orang, karena komunikasi sudah canggih.
‘’Terima kasih Kaji-kun. Kalau begitu aku harus segera menulis suratnya sebelum kita berangkat,’’ kata Eve.
Kaji mengangguk sambil tersenyum. ‘’Semangat menulis suratnya.’’
......................
__ADS_1
Rumah Keluarga Laurence
Pak Percy menatap ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 16:46. Ia menghela nafas panjang. ‘’Apakah sebaiknya aku menemui Eve saja? Tapi, aku tidak punya keberanian untuk menemuinya.’’
Bu Christa yang menatapnya dari kursi yang lain juga hanya menghela nafas. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi agar suaminya itu mau mengajaknya bicara. Tiba-tiba bel rumah berbunyi membuatnya membuka pintu.
‘’Apakah ini rumah Pak Percy Laurence?’’ tanya pengirim pos.
‘’Benar, aku sendiri istrinya. Ada perlu apa dengan suamiku?’’ tanya Bu Christa.
Pengirim pos itu menyerahkan sebuah surat sebelum ia pergi. ‘’Kalau begitu saya pamit dulu.’’
Bu Christa hanya memandang pengirim pos dan surat itu secara bergantian dengan tatapan bingung. Ia pun melihat siapa pengirim surat tersebut. Wajahnya langsung berubah saat melihat nama si pengirim.
Pak Percy yang masih duduk di sofa, menatap kedatangan istrinya. Dahinya berkerut saat wanita itu menyerahkan sebuah surat.
‘’Ini surat dari Eve,’’ kata Bu Christa.
Tanpa membuang waktu pun, pak Percy langsung mengambil surat tadi lalu membukanya.
Kepada Ayah tercinta,
Sudah 6 tahun berlalu, bagaimana kabar ayah sekarang? Apakah ayah sehat seperti biasa? Aku harap begitu. Apakah ayah makan banyak? Ayah tidur dengan baik, kan? Ayah tidak melakukan aktivitas yang berat juga, kan? Jangan terlalu lelah, nanti ayah bisa jatuh sakit.
Mengenai 6 tahun yang lalu, Eve minta maaf kepada ayah, karena tidak memberitahu ayah yang sebenarnya. Saat ayah dilarikan ke rumah sakit, Eve benar-benar takut ayah akan pergi meninggalkanku sama seperti yang dilakukan oleh ibu. Eve minta maaf waktu itu malah meninggalkan ayah, tidak ada di samping ayah, merawat ayah sampai sembuh. Eve hanya berdoa kepada Tuhan, agar ayah cepat sadar, dan sepertinya Tuhan mengabulkan doa Eve.
Maaf untuk 6 tahun ini, Eve tidak pernah menghubungi ayah. Hanya saja, Eve tidak memiliki keberanian untuk memberitahu ayah kalau Eve berada di Jepang. Ayah tahu tidak, ada seorang pria yang begitu baik sampai menerima kekurangan Eve. Ya, pria itu adalah Tuan Kaji, yang ayah lihat saat kompetisi masak. Dia yang sudah membantu Eve sampai kedua cucu ayah lahir. Tuan Kaji bahkan tidak ragu membiayai kehidupan kami bertiga, dan syukurlah, kedua cucu ayah tumbuh dengan sangat baik. Semua itu karena berkat Tuan Kaji.
Kedua cucu ayah memiliki kepribadian yang bertolak belakang. Kane lahir dengan rambut berwarna hitam, lalu matanya sebiru sapphire. Kepribadiannya lebih periang, sering tersenyum kepada semua orang, bersifat agresif dan cerewet. Ya, sepertinya Kane mewarisi sifat ibu hehe. Ayah tidak akan percaya dengan kemampuannya. Kane sangat ahli meretas dan deduksi, dan dia anggota divisi detektif termuda, karena itulah dia membantu kepolisian untuk menangkap pelaku kejahatan, bahkan ada yang menyewanya melalui live hanya demi memecahkan sebuah kasus.
Meskipun kembar identik, penggambaran fisik mereka berbeda. Kein adalah kakak, rambutnya berwarna putih dan matanya semerah ruby. Dia kebalikan dari Kane. Kepribadiannya lebih tenang, tidak peduli sekitar, bersifat dingin namun sangat berambisi terhadap suatu hal. Ayah sudah tahu apa yang aku katakan. Sepertinya Kein mewarisi sifat ayah. Tapi, bedanya ayah cuma pendiam dan tetap ramah kepada orang, berbeda dengan Kein yang begitu dingin dan mulutnya tajam. Kein ahli dalam memasak dan seni. Kurasa itu saja mengenai mereka.
Lalu Tuan Kaji pun memberitahu kakaknya, Tuan Yuki agar menerima Eve dan kedua cucu ayah sebagai anggota keluarga Kamiya, karena itulah sekarang Eve dan kedua cucu ayah memakai marga Kamiya. Meskipun begitu, Eve tetap bagian dari keluarga Laurence. Untuk membalas budi keluarga Kamiya, Eve akan menikah dengan Tuan Kaji. Ayah pasti merestuinya karena dia pria yang baik.
Aku akan minta tolong kepada Tuan Kaji untuk menjemput ayah agar bisa menghadiri pernikahanku di Jepang. Aku ingin mengatakan sesuatu. Ayah tidak perlu merasa bersalah karena Eve tidak akan pernah membenci ayah bahkan jika ayah meragukan Eve sendiri. Lalu apa yang dilakukan oleh Cordelia dan ibu memang sangat keterlaluan, tapi itu sudah berlalu, jadi aku berharap ayah bisa memaafkan mereka, dan memberikan mereka kesempatan. Ingat, anak Cordelia juga cucu ayah, jadi jangan membeda-bedakan cucu ayah. Kurasa itu saja yang bisa aku katakan. Aku sangat merindukan ayah. Aku mencintai ayah.
__ADS_1
Salam hangat,
Putri tercintamu, Eve.