Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 37 Bahan Balas Dendam


__ADS_3

Eve terbelalak melihat Kein sudah memasak sepagi ini. Baru saja ia bangun untuk mengecek para koki agar mempersiapkan sarapan pagi, ia sudah melihat salah satu anaknya berdiri di dapur.


“Maaf Nona Muda. Kami sudah memberitahu Tuan Kein untuk tidak turun langsung memasak, tapi Tuan Kein tidak mendengar,” kata Kepala Pelayan.


Eve hanya menghela nafas sambil tersenyum. Meskipun ditegur berulang kali, maniak makanan itu tidak akan mendengar.


“Kalian fokus buat sarapannya saja. Aku akan membantu Kein dulu,” kata Eve mengingat rambutnya kuncir satu.


Para koki dan pelayan membungkuk. “Kami mengerti Nona Muda.”


Sesekali semuanya melirik ibu dan anak yang sedang memasak itu. Keduanya terlihat sangat harmonis dengan begitu elegan.


Kaji yang tidak sengaja melihat itu terhenti. Ia menatap Eve dan Kein yang memasak bersama sambil ditatap oleh para koki dan pelayan. Terukir senyuman di bibirnya sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan Kane.


Kenapa Paman Kaji tersenyum? Mm, kata Kane dalam hati.


Ia mengikuti arah mata dari pria di depannya yang menuju ke dapur dimana ibu dan kakaknya sedang memasak bersama.


“Kalau saja Eve menerima perasaanku, kurasa kami sudah menjadi keluarga yang bahagia dan sempurna. Aku tidak peduli dia sudah memiliki 2 anak. Bagiku kedua anaknya sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri.”


Deg!


Kane tersentak mendengar ucapan Kaji. Ia kembali menatap ibu dan kakaknya, lalu kembali ke arah pria itu hingga terukir senyuman lembut di bibirnya.


Ia hendak memegang celana pria di depannya, tapi sesuatu terlintas di otak Kane membuatnya tersenyum jahil.


“Paman Kaji menguntit Ibu dan Kakak di sini!”


Mendengar teriakan itu membuat Kaji tersentak, begitu juga Eve dan Kein yang menoleh ke arah mereka.


“A-Apa yang kau katakan?! Aku tidak menguntit! Hem!” kata Kaji menuju ke dapur disusul Kane.


Anak ini merusak suasana saja, umpat Kaji dalam hati melihat Kane tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.


“Kaji-kun, kau sudah bangun?” tanya Eve.


Kaji mengangguk sambil menuangkan air ke gelas lalu meneguknya.


“Malam ini kau tidak perlu menyuruh mereka untuk menyiapkan makan malam, karena aku akan langsung pergi,” kata Kaji.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu malam ini cukup buatkan makan malam untuk 3 orang saja,” kata Eve.


Para koki dan pelayan mengangguk. “Kami mengerti Nona Muda.”


......................


Kediaman Raymond


Semua hanya diam sambil menyantap sarapan. Tidak ada yang berani bicara setelah kepulangan Nyonya Besar.


Untung aku terbangun saat Ibu mertua tiba pukul 1 dini hari. Kalau tidak, Ibu mertua akan tahu kalau aku selalu bangun kesiangan, kata Cordelia dalam hati.


“Cordelia,” panggil Nyonya Mary.


“I-Iya Ibu mertua,” jawab Cordelia.


“Kompetisi masak akan diselenggarakan lagi, dan keluarga Raymond selalu berada di posisi teratas semenjak aku menjadi Bookmaster. Kali ini kau sudah tahu apa tugasmu, kan?” tanya Nyonya Mary.


Semua menatap ke arah Reon. Anak itu tahu kalau dirinya harus ada di posisi pertama di kompetisi masak nanti.


“Nenek tidak perlu khawatir. Ibu selalu tahu makanan yang akan disajikan, jadi aku akan menang seperti biasa,” kata Reon membuat Cordelia terbelalak.


“Aku selalu menang karena Ibu tahu da—“


“Dari insting! Hehe, iya. Aku mengandalkan insting memasak dan menyuruh Reon membuatnya,” kata Cordelia memotong ucapan anaknya.


“Hanya ada 3 kandidat yang dikirim setiap negara untuk mengikuti kompetisi ini. Besok, kau akan menjalani tes untuk mengisi salah satu posisi agar mewakili negara kita,” kata Nyonya Mary.


Reon mengangguk mengerti, dan berjanji tidak akan mengecewakan mereka.


Nyonya Mary tersenyum remeh membuat semuanya dibuat bingung. “Kompetisi kali ini tidak semudah yang kau kira. Keluarga Raymond sedang dipertaruhkan.”


“Apa maksudmu?” tanya Tuan Moriarty.


“Anak didik Kamiya Yuki akan hadir di kompetisi masak ini.”


Deg!


Adam dan Tuan Moriarty tersentak, membuat Cordelia dan Reon kebingungan.

__ADS_1


“Maksudmu Si Iblis Makanan itu akan hadir di kompetisi ini nanti?” tanya Tuan Moriarty.


Nyonya Mary mengangguk dengan wajah serius. “Meskipun aku tidak pernah bertemu dengannya di Jepang. Tapi tokoh-tokoh berpengaruh dalam dunia kuliner dan dunia seni mengetahui dirinya. Aku sudah pernah melihat semua kompetisi masaknya, dan aku akui, dia lawan yang berat untuk Reon.”


“Anehnya, Si Iblis Makanan hanya memperlihatkan dirinya dari belakang tanpa mempublikasikan wajahnya. Yang aku tahu, dia anak laki-laki berambut putih,” kata Adam.


“Yang membuatku penasaran, selama ini dia tidak pernah mengikuti kompetisi, lalu kenapa sekarang dia muncul?” tanya Tuan Moriarty.


......................


Kediaman Kamiya di Indonesia


“Kakak melihat kompetisi anak itu lagi?” tanya Kane muncul.


Kein hanya diam sambil menatap puluhan majalah kuliner dan seni di atas meja.


“Apakah Kakak merasa tidak percaya diri?” tanya Kane.


“Bukan seperti itu, tapi ada yang aneh di sini,” kata Kein.


Mata Kane langsung berbinar menyadari maksud kakaknya. “Hem! Beritahu aku hal mencurigakan apa yang Kakak temukan. Aku akan mengeluarkan deduksiku untuk memecahkannya.”


“Lihat komentar para penguji mengenai tema hidangan yang dimasak setiap kompetisi, terutama komentar Bookmaster. Entah ini sebuah kebetulan atau tidak, Reon selalu mengetahui tema hidangan yang akan dimasak. Dia adalah anak dan cucu keluarga Raymond, karena neneknya adalah Bookmaster, tentu saja ini akan menguntungkan Reon untuk mengetahui tema hidangan yang akan dimasak. Apakah Bookmaster sendiri yang membocorkan hal itu kepada cucunya?”


Kein menatap adiknya yang memasang raut wajah bodoh. “Kenapa?”


“Hm~ yang menjadi detektif di sini aku atau Kakak? Kenapa Kakak yang malah melakukan deduksi, jelas-jelas itu bagianku?” tanya Kane.


“Maaf,” kata Kein menutup bibirnya dengan punggung tangannya menahan tawa.


Kane hanya menghela nafas. “Kalau begini aku tidak perlu mengeluarkan deduksiku lagi. Tapi kalau Bookmaster memang melakukan kecurangan, agar cucunya selalu menang di setiap kompetisi, kita bisa menggunakan hal ini untuk mengancam mereka.”


“Aku tidak bilang dia yang melakukan hal itu. Lagi pula tidak mungkin beliau melakukan hal serendah itu dengan posisinya yang menjadi Bookmaster. Maksudku, sepertinya Reon memiliki orang dalam yang membuatnya bisa mengetahui tema hidangan dalam setiap kompetisi,” kata Kein.


Kane tampak berpikir sehingga ia menyalakan laptop miliknya. “Kalau tidak salah ... Orang ini selalu hadir di kompetisi masak juga. Dia sangat mengganggu pikiranku. Di mana aku pernah melihatnya, ya?”


Kein hanya diam melihat adiknya sedang mengotak-atik sistem, dalam artian meretas untuk mengetahui informasi.


Klik!

__ADS_1


Setelah Kane menekan enter, terukir senyuman miring di bibirnya. “Hee~ kita bisa menggunakan ini untuk balas dendam kepada ayah.”


__ADS_2