
Syuting kembali dilanjutkan, dan sekarang sudah memasuki konflik dimana pemeran utama wanita telah dibunuh oleh keempat pria itu setelah mereka menodainya.
‘’CUT!’’ seru Hakuba selaku sutradara.
Keempat pria itu pun menghampiri Hakuba dan mendengar arahannya. Kane yang menyaksikan adegan tadi mengerutkan dahi.
Aku dengar Haruka Momoka adalah seorang pemula. Tapi, entah kenapa aku merasa dia tidak seperti bersandiwara, dan lebih terlihat nyata. Aku sudah melihat begitu banyak film dan bisa melihat sandiwara para aktor dengan jelas. Tapi kenapa aku tidak melihat hal itu di wajah Momoka-san? Apakah itu berarti dia jenius? Hm, kata Kane dalam hati.
‘’Sudah memecahkan Both word of Coach?’’ tanya Kein.
Kane tersadar. "Masih belum memecahkannya. Aku sudah membuka internet dan tidak ada hubungannya sama sekali.’’
Pandangannya kembali menatap Momoka yang sedang menunduk. Kane mengerutkan dahi melihat reaksi wanita itu sebelum menghampiri Hakuba.
‘’Tuan Hakuba, bisakah aku kembali ke kamar tunggu?’’ tanya Momoka.
‘’Tapi kenapa? Sebentar lagi adalah adeganmu,’’ kata Hakuba.
Momoka tersenyum kaku. ‘’Hanya sebentar. Aku melupakan sesuatu yang berhubungan di adegan selanjutnya.’’
‘’Begitu? Baiklah, jangan lama dan segeralah kembali,’’ kata Hakuba.
Momoka mengangguk dan berjalan pergi.
Deg!
Eh? Apakah aku tidak salah lihat? Dia baru saja menggertak gigi, kan? Apakah dia sedang marah? Wanita itu, kata Kane dalam hati.
......................
‘’CUT!’’ seru Hakuba.
Ia menatap jam tangannya dengan raut wajah sedikit kesal. ‘’Kenapa dia pergi begitu lama? Ini sudah satu jam berlalu. Di mana manager yang aku suruh untuk menghampiri Momoka-san?’’
Tidak lama kemudian, manager datang dan membisikkan sesuatu.
‘’Ha? Kenapa bisa begitu?’’ tanya Hakuba menghentikan aktivitas untuk sesaat dan berlari menuju ke kamar tunggu.
Kane yang melihat keempat aktor tadi pergi, juga ikut menyusul mereka.
......................
Kamar Tunggu
__ADS_1
Saat Kane tiba, terlihat Hakuba dan yang lainnya berusaha menyuruh Momoka keluar. Namun, tidak ada jawaban sama sekali dari wanita itu.
Kamar tunggu yang menyerupai rumah berlantai satu, kata Kane dalam hati.
Sekilas ia menatap ke atas. Dahinya berkerut melihat sesuatu dari celah-celah udara di atas pintu. Saat itu juga matanya membulat. ‘’Cepat dobrak pintunya!’’
Hakuba dan yang lainnya tersentak karena Kane langsung berteriak. Namun, melihat reaksi wajah anak itu membuat keenam pria itu langsung mendobrak pintu.
Bruk!
Deg!
Mata mereka membulat besar melihat tali melilit di leher Momoka dengan tubuh yang tergantung.
‘’Momoka-san!’’ seru Akira.
‘’Cepat hubungi polisi!’’ perintah Hakuba.
Tanpa membuang waktu, Kane berlari dan memasuki kamar tunggu Momoka. Ia menatap tubuh wanita yang tergantung hingga ke bawah. Kane juga melihat kedua tabi(kaus kaki) yang dipakai Momoka.
Tidak. Dia tidak berniat bunuh diri, kata Kane dalam hati.
......................
Inspektur dan petugas Reiki terbelalak karena bertemu dengan rombongan orang itu lagi.
‘’Apa? Haruka Momoka tewas karena bunuh diri?’’ tanya Kaji setelah mendengar situasi.
‘’Eh? Kasus lagi?’’ tanya Vic.
Mereka pun langsung menuju ke kamar tunggu yang ditempati Momoka, dan terlihat Kane sudah ada di sana. Sama halnya dengan Inspektur dan petugas Reiki tadi, Kane juga terbelalak.
‘’Kalian datang lagi? Bagaimana dengan Kohide-san?’’ tanya Kane.
‘’Dia sedang diproses. Saat mendengar ada kasus bunuh diri, kami langsung datang dan terkejut melihat Anda semua juga ada di sini,’’ jawab Inspektur.
‘’Aa itu, Hakuba-san yang merupakan sutradara film ini adalah sahabat dari Paman Kaji. Jadi, kami kemari untuk bertemu dengannya,’’ kata Kane.
Petugas Reiki datang melapor. ‘’Inspektur, korban adalah Haruka Momoka yang saat ini merupakan pemeran dalam film yang dibuat Sutradara Hakuba. Kematiannya diperkirakan sekitar pukul 12:30, yang berarti satu jam yang lalu.’’
‘’Jadi, dia bunuh diri di pukul 11:30 tengah hari, ya?’’ tanya Inspektur.
‘’Sayang sekali, padahal sudah memasuki konflik utama cerita ini,’’ kata Manager.
__ADS_1
‘’Kenapa ini bisa terjadi?’’ tanya Hakuba.
Kaji memegang bahu pria yang merupakan sahabatnya. ‘’Aku tahu film ini sangat penting bagimu.’’
‘’Apa boleh buat, syutingnya kita hentikan sampai kasus ini selesai, dan pemeran pengganti mc utama wanita ditemukan. Ayo beres-beres sebelum meninggalkan tempat ini,’’ kata Hakuba.
Kane menatap keempat pria yang merupakan pemeran dari film tersebut.
Keempat orang itu, pembunuhnya ada di antara mereka. Tapi, apa alasannya si pelaku melenyapkan Momoka-san, padahal mereka sama-sama berada dalam satu project penting, kata Kane dalam hati.
Setelah semuanya pergi, kini tersisa Kane yang masih menatap kamar tunggu di hadapannya itu. Mengingat tingkah Momoka yang aneh sebelum tewas, membuat Kane kembali memasuki kamar tunggu.
‘’Apa yang kau lakukan anak kecil? Tempat ini sedang dijaga!’’ tegur salah satu petugas kepolisian.
Polisi yang satunya tersentak dan menatap rekannya yang baru itu. ‘’Hei? Kau cari mati, ya? Apakah kau tidak mengenalinya? Dia adalah Kamiya Kane-sama.’’
‘’Eh? Maksudmu Si Iblis Deduksi itu? Mohon maaf Kane-sama atas kelancanganku,’’ bungkuk petugas polisi yang menegur tadi.
Kane tidak mempermasalahkan hal itu dan hanya masuk. Ia menatap ke sekeliling isi kamar tunggu yang ditempati Momoka. Kepalanya mendongak ke atas melihat tali yang menggantung tubuh Momoka. Sambil memikirkan sesuatu, ia berbalik ke belakang dan kembali mendongak ke atas.
Deg!
Matanya membulat besar setelah menyadari sesuatu. ‘’Sekarang aku mengerti dengan trik yang digunakan pelaku untuk membunuh Momoka-san. Sisanya tinggal memastikan apakah orang itu yang benar-benar membunuhnya.’’
......................
Meskipun ini kasus bunuh diri, tapi polisi tetap harus menginterogasi semua orang untuk mengetahui apa yang mereka lakukan.
‘’Jadi, Momoka-san sempat meminta izin kepada Anda kalau dia ingin kembali ke kamar tunggu?’’ tanya petugas Reiki.
Hakuba mengangguk dan membenarkan. ‘’Semua orang juga melihatnya. Dia ingin kembali ke kamar tunggu karena melupakan sesuatu yang merupakan bagian dari adegan selanjutnya. Tapi, karena dia tidak kunjung kembali, aku menyuruh Manager untuk mengeceknya. Dan Manager kembali lalu mengatakan kalau Momoka-san menolak untuk bertemu.’’
‘’Tapi, sesuatu yang merupakan bagian dari adegan selanjutnya, sampai membuat Momoka-san kembali ke kamar tunggu yang dia maksud itu apa?’’ tanya petugas Reiki.
‘’Kami juga tidak tahu. Sebab, tidak ada sesuatu yang terlihat berhubungan dengan adegan selanjutnya di kamar tunggu Momoka-san,’’ kata manager.
‘’Itu tidak benar!’’ kata seseorang menyela pembicaraan.
Semua menoleh dan melihat sosok Kane datang sambil tersenyum. ‘’Maaf mengganggu waktu kalian, tapi aku akan menegaskan kalau Momoka-san tidak bunuh diri.’’
‘’Tidak bunuh diri? Apa maksudmu?’’ tanya dokter Yuu.
‘’Bagaimana jika aku mengatakan kalau Momoka-san … Dibunuh?’’
__ADS_1
Deg!