
Plak!
Lagi dan lagi wajahnya menghadap ke satu sisi. Setelah ibunya, sekarang giliran ayahnya yang memberi tamparan. Adam hanya diam dan meminta maaf atas kejadian di bar.
Nyonya Mary memejamkan mata dengan urat lehernya yang sudah menegang sejak tadi.
"Ada apa dengan dirimu? Ibumu menyuruhmu untuk mencari Eve, tapi kenapa kau malah melakukan hal serendah ini Adam Raymond?!" marah Tuan Moriarty.
"Maafkan aku," kata Adam menunduk sekali lagi dengan wajah yang sama merah padamnya dengan ayahnya.
Tuan Moriarty dan Nyonya Mary benar-benar marah besar. Meskipun begitu, nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, mereka harus menerima dan mengklarifikasikan kabar dari media, karena jika tidak maka reputasi keluarga Raymond akan hancur.
Semenjak hari itu, semua menjadi berubah. Adam menjadi lebih dingin, sedangkan di sisi lain, Eve berjuang untuk memulai hidup baru.
......................
5 tahun kemudian…
‘’Jadi Anda tiba-tiba dipukul oleh sang pelaku?’’ tanya Detektif Ryugen.
‘’Ya. Sebelum kami dipukul, entah kenapa pandanganku jadi silau karena cahaya putih,’’ kata salah satu korban.
Satu korban lainnya hanya menyayangkan kejadian tersebut. Ia adalah Takimori Raku.
‘’Koko-san, dengan senjata apa Anda diserang?’’ tanya Detektif Erimi.
*Panggilan –san merupakan bentuk panggilan dengan sopan secara umum di kalangan masyarakat Jepang.
‘’Sepertinya sejenis pipa atau pemukul,’’ jawab Pak Koko.
Setelah mewancarai kedua korban itu, 2 orang dari Unit 1 Bagian Investigasi yang tidak lain adalah detektif Ryugen dan detektif Erimi, memastikan kalau kejadian itu murni perampokan.
‘’Tunggu dulu! Kira-kira jam berapa Anda diserang?’’
Semua yang ada di sana menoleh saat seorang anak laki-laki berambut hitam bermata sapphire angkat bicara.
‘’Eh? Kane-kun, sejak kapan kau ada di sini?’’ tanya Detektif Ryugen baru menyadari kehadiran anak itu.
‘’Baru saja. Aku tidak sengaja melihat kepolisian datang ke tempat ini, jadi aku mampir,’’ jawab Kane.
Kane kembali menanyai pak Koko, tapi pria itu hanya bingung, membuat detektif Ryugen menjelaskan, kalau Kane adalah salah satu anggota divisi detektif. Mendengar hal itu membuat kedua korban tersebut terbelalak.
‘’Jangan-jangan dia,’’ kata Pak Koko menyadari.
‘’Benar. Dia adalah Kamiya Kane, anak genius yang telah membantu kepolisian untuk memecahkan kasus pembunuhan selama ini,’’ kata Detektif Erimi membetulkan.
‘’Saya Takimori Raku sepupu dari korban, mohon segera temukan pelakunya,’’ pinta Pak Takimori.
Kane menatapnya sekilas sambil tersenyum, membuat pak Takimori hanya mengerutkan dahi. Tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi.
‘’Baiklah, aku akan segera ke sana.’’
Namun, sebelum pak Takimori pergi, Kane malah sudah berdiri di depan pintu apartemen sambil tersenyum ke arahnya, dengan maksud menghadang pria itu pergi.
Ya, anak itu tersenyum sekali lagi kepadanya, membuat pak Takimori menghela nafas dan membalas dengan senyuman. "Saya harus segera pergi."
‘’Satu nyawa telah melayang, dan itu adalah nyawa sepupu Anda sendiri, seharusnya Anda tetap di sini dulu,’’ kata Kane.
__ADS_1
Tidak ingin berdebat, pria tadi akhirnya pasrah dan menyerah. Ia kembali masuk sambil membawa perlengkapannya sebagai fotografer.
‘’Jujur saja aku merasa pelakunya bukan perampok itu,’’ kata Kane.
‘’Apa maksudmu?’’ tanya Pak Takimori.
‘’Seperti yang kalian lihat, ada bekas cekikan aneh dileher korban, tapi kalian berdua dipukul. Dalam kasus ini, kenapa si korban tidak dipukul dengan pipa atau pemukul juga? Terus, kenapa si pelaku malah membunuh si korban dengan cekikan?’’
Kane diam dalam pikirannya.
Selain itu, rumahnya berantakan dan ada serbuk kampas yang tertinggal … Hhah?! Mm~ jadi begitu. Sekarang aku tahu siapa pelakunya, ucapnya dalam hati.
Semua menatap Kane yang menuju ke arah sebuah kaca besar di depan pintu.
‘’Ada kaca besar di depan pintu yang hanya memantulkan setengah dari tubuh. Posisi sudut pandang kacanya diubah. Trik ini digunakan agar mereka berdua dibuat mengira, melihat perampok lari keluar padahal sebenarnya tidak ada,’’ kata Kane.
Karena tidak mengerti dengan ucapan Kane, membuat anak itu tanpa ragu menjelaskan trik tersebut.
Kane memasang lampu strobo besar di tempat yang tidak terlihat dari pintu, lalu mengarahkan cermin ke arah pintu. Sisanya tinggal menunggu waktu.
‘’Saat Koko-san membuka pintu, si pelaku menekan tombol on dari remot control sehingga cahaya blitz langsung mengarah ke mata Koko-san, membutakannya untuk sesaat. Ketika fungsi blitz sudah siap, dia hanya tinggal menekan kamera dan lampu strobo ini akan secara otomatis mengeluarkan cahaya flash,’’ kata Kane dengan smirk di bibirnya.
Ia meminta pak Takimori untuk menekan kameranya. Untuk sesaat pria itu tampak ragu, sehingga detektif Ryugen memintannya untuk bekerja sama agar menekan kamera. Dengan terpaksa, pak Takimori menekan kamera dan benar, semua langsung memejamkan mata karena merasa silau.
‘’Senjata yang mungkin dipakai untuk memukul Koko-san mungkin adalah tripod ... Apakah aku salah Takimori-san?’’ tanya Kane tersenyum.
Menyadari maksud Kane membuat semua langsung menatap pak Takimori tidak percaya.
‘’Ya, Takimori-san, Anda adalah pelakunya,’’ kata Kane tanpa ragu.
‘’Kalau kau mencurigaiku karena seorang fotografer dan membawa banyak kamera, maka kau salah besar! Seorang fotografer pro membawa banyak kamera sebagai cadangan,’’ kata pak Takimori.
‘’Lalu kenapa ada kamera analog model klasik, padahal Anda sering menggunakan kamera digital? Kecuali kamera analog ini ada di dalam rumah sepupu Anda. Karena mengira kepolisian akan mencurigai Anda karena kamera ini, Takimori-san membawanya setelah membunuh si korban,’’ kata Kane.
‘’Baiklah, kalian bisa memeriksa isi kamera itu, tapi jika tidak ada bukti yang berkaitan dengan kasus ini, apa yang akan kau lakukan bocah?’’ tanya Pak Takimori menantang.
‘’Saat itu juga ... Aku akan berhenti menjadi detektif untuk selamanya,’’ kata Kane.
‘’Tunggu! Kalau Kane-kun berhenti, maka kepolisian akan kesulitan,’’ kata Detektif Erimi.
Kane hanya tersenyum seperti biasa, membuat pak Takimori menyerahkan kamera analog tersebut. Butuh beberapa menit, untuk mencetak semua isi di dalam kamera analog itu, sehingga pak Takimori merasa puas. Sesuai janji, Kane harus menepati ucapannya tadi.
‘’Takimori-san, sepertinya Anda tidak mengerti dengan ucapanku. Aku mengatakan kalau buktinya ada pada kamera itu bukan pada isinya,’’ kata Kane.
Pak Takimori tersentak. Sambil mengulur waktu mencetak foto di dalam kamera analog, Kane meminta detektif Ryugen memeriksa kamera analog tersebut, dan ternyata ada serbuk kampas yang sama yang ada di dalam rumah sepupunya. Pak Takimori menyerah dan akhirnya mengaku kalau dialah yang memang membunuh sepupunya.
‘’Dia selalu memerasku dengan uang yang aku dapatkan dari pekerjaan, karena tidak tahan aku jadi membunuhnya!’’ kata pak Takimori.
Pak Takimori pun ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.
......................
Tempat Penguji Masakan
‘’Menjijikkan! Menjijikkan! Menjijikkan!’’
Untuk kesekian kalinya anak itu menyiram para kepala koki yang bersujud di hadapannya dengan mangkuk yang ditumpahkan ke kepala mereka. Anak berambut putih dengan mata semerah ruby, melontarkan tatapan dingin yang tajam menusuk.
__ADS_1
‘’Semua masakan kalian masih saja belum sempurna. Kalian melewatkan satu langkah dalam pembuatannya. Aku tahu restoran kalian sedang berkembang, dan kalian mencoba menaikkan efesiensinya demi alasan itu. Tapi apakah kalian berani mencemari lidahku dengan makanan seperti ini?!’’
Para koki yang bersujud itu hanya memasang raut wajah ngeri dan serentak mencium tanah.
‘’Ma-Maafkan kami, Kein-sama!’’
Kalau yang satunya ahli deduksi dan meretas, maka yang satunya ini ahli dalam seni dan masakan.
Kein lahir 8 menit lebih dulu sebelum Kane.
Anak berambut putih itu berlalu pergi, sampai suara seseorang menghampirinya.
‘’Hal yang paling aku sukai adalah melihat pemandangan ini. Nii-san(Kakak) benar-benar membuat para koki mencium tangan,’’ puji Kane.
‘’Tidak biasanya kau datang terlambat,’’ kata Kein.
Kane tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya. Tanpa bertanya, Kein sudah tahu kalau adiknya pasti bermain karena menangani sebuah kasus lagi.
‘’Ibu sudah pernah bilang agar tidak turun langsung memecahkan kasus,’’ kata Kein.
‘’Hehe, tidak apa-apa. Ini hanya kasus kecil. Kakak juga seharusnya tahu, kalau aku tidak akan bisa diam kalau melihat kasus di depan mataku,’’ kata Kane berusaha merayu.
‘’Ayo pulang. Ada hal penting yang harus kusampaikan kepada Ibu,’’ kata Kein.
‘’Hal penting apa?’’ tanya Kane penasaran.
‘’Kompetisi makanan yang diadakan setiap tahun akan diadakan lagi, dan Indonesia menjadi tuan rumah. Sudah lama aku ingin memenangkan kompetisi ini tapi Ibu melarangku ikut,’’ kata Kein.
‘’Kakak bilang apa? Indonesia?!’’ pekik Kane.
Melihat reaksi adiknya itu, membuat Kein hanya mengerutkan dahi. Ini bukan pertama kalinya kompetisi itu diadakan di luar negara, lalu untuk apa adiknya itu malah terkejut.
‘’Kebetulan sekali! Ada hal penting yang juga harus Kakak ketahui.’’
Kane meraih ponselnya dan memperlihatkan sesuatu kepada kakaknya.
Anak berambut putih itu membulatkan mata melihat sebuah foto yang diperlihatkan adiknya.
‘’Aku melihat berita terbaru, kalau salah satu perusahaan di Indonesia yang merupakan rekan bisnis paman Yuki, sedang naik daun karena pengaruh CEO-nya.’’
‘’Apakah yang ada di foto ini adalah anaknya? Ini sangat mustahil, kalau bersaudara memiliki wajah yang sama itu wajar, tapi kalau tidak sedarah dan memiliki wajah yang sama itu tidak mungkin,’’ kata Kein.
Awalnya Kein mengira foto tadi adalah anak dari CEO itu. Tapi Kane membantahnya, karena foto tersebut adalah foto masa kecil dari CEO tadi.
‘’Melihat wajah CEO pemilik perusahaan itu, aku mencoba mencari identitasnya. Tapi media tidak mempublikasikannya, sampai akhirnya aku meretas dan menelusuri informasi mengenai CEO tersebut, dan foto masa kecil ini aku dapatkan,’’ kata Kane.
Kein terdiam sambil menatap adiknya. Keduanya seolah-olah memikirkan hal yang sama.
‘’Ibu juga tidak pernah menceritakan soal ayah, dan foto masa kecil pria ini mirip dengan wajah kita. Apakah mungkin pria ini adalah ayah kita?’’ tebak Kane.
...Visual Detektif Ryugen...
...Visual Detektif Erimi...
__ADS_1