
‘’Tim forensik sudah memeriksa semua teh yang ada di sini, dan hanya isi cangkir milik Tuan Kein yang ditemukan Botulinum Toxin di dalamnya,’’ kata petugas Reiki.
Itu berarti, pelaku memang hanya mengincar kakak, kata Kane dalam hati.
‘’Tapi, bagaimana ini mungkin? Kenapa racun itu hanya ditemukan di dalam teh Tuan Kein?’’ tanya Inspektur.
‘’Kalau tidak salah, Nona Eve memasukkan gula batu ke dalam teh. Bisakah kami memeriksa gula batu itu?’’ tanya Petugas Reiki.
‘’Petugas Reiki, kau juga sudah mendengarnya kalau Eve-chan meminum teh itu lebih dulu dan tidak ada reaksi apa pun,’’ kata Kaji.
‘’Mohon maaf Tuan Kaji. Kami hanya melakukan tugas seperti biasa, yaitu memeriksa semua benda di TKP,’’ kata Petugas Reiki.
Eve meraba kantong blazer yang ia pakai. ‘’Eh? Tadi aku masukkan di sini, kenapa tidak ada?’’
‘’Ada apa?’’ tanya Kaji.
‘’Kotak gula batu milik Kein hilang,’’ jawab Eve.
‘’Eh? Bagaimana bisa?’’ tanya Kaji.
Eve menatap ke sekitar dan melihat kotak itu tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. ‘’Itu dia!’’
Salah satu petugas memungutnya dan menyerahkan kotak itu kepada petugas Reiki.
‘’Kalau begitu, kami akan memeriksanya dulu,’’ kata Inspektur.
Beberapa menit kemudian, petugas Reiki datang. Inspektur meminta keterangan tapi pria itu hanya diam.
‘’Petugas Reiki cepat katakan bagaimana hasilnya?’’ tanya Inspektur.
‘’Kami menemukan Botulinum Toxin di dalam kotak tersebut.’’
Deg!
‘’Tidak mungkin! Pasti ada kesalahan di sini!’’ seru Kaji.
Semua langsung menatap ke arah Eve yang terpaku.
‘’Kami juga tidak percaya dengan hal itu, tapi tim forensik benar-benar menemukan Botulinum Toxin di dalam gula batu tersebut, dan aku menyaksikannya sendiri,’’ kata Petugas Reiki.
Inspektur memasangkan borgol. ‘’Nona Eve, Anda ditangkap atas tuduhan berusaha melakukan pembunuhan kepada putra Anda sendiri. Silahkan ikut kami ke kantor polisi.’’
Namun, sebelum Eve pergi, Kaji memegang bahu Inspektur sambil memasang raut wajah tertahan. ‘’Inspektur, apakah kau tahu siapa yang sedang ingin kau bawa ke kantor polisi?’’
‘’Moushiwake arimasen Kaji-sama. Tapi kami dari pihak kepolisian hanya menjalankan tugas. Kami tahu kalau Nona Eve tidak mungkin melakukan kejahatan seperti ini, apalagi mencelakai putranya sendiri.’’
‘’Kalau kau sudah tahu, kenapa masih ingin membawanya pergi?!” seru Kaji.
‘’Bukti mengarah kepada Nona Eve, jadi kami harus membawanya,’’ kata Inspektur.
‘’Bagaimana kalau ada yang menjebaknya? Kane-kun ada di sini, kenapa tidak serahkan kasus ini kepadanya? Dia pasti akan memecahkannya,’’ kata Kaji.
__ADS_1
‘’Seharusnya itu yang terjadi sejak tadi. Tapi, Tuan Kane tidak menemukan apa pun dan hanya diam. Selain itu, tersangka tidak diperbolehkan mendekati TKP,’’ kata Inspektur.
‘’Inspektur, kau terdengar sedang meragukan diriku,’’ kata Kane tertahan.
Inspektur dengan tenangnya menatap anak itu. ‘’Aku tidak bermaksud membuat Tuan Kane tersinggung, tapi ini pertama kalinya Anda hanya diam. Apakah mungkin karena Tuan Kane sudah tahu sejak awal kalau ibu Anda adalah pelakunya?’’
‘’Inspektur!’’ seru Kane menodongkan pistol.
‘’Silahkan tarik pelatuknya. Anda membunuhku sekarang atau nanti, tidak akan mengubah situasinya,’’ kata Inspektur.
Kane menggertak gigi dengan tangan gemetar karena tertahan.
‘’Kau tidak akan membawanya pergi! Maju selangkah lagi, aku tidak segan mencabut posisi kalian semua dalam kepolisian!’’ perintah Kaji.
Inspektur berbalik dan menatap ke arah seseorang yang memiliki kendali atas kepolisian.
Nyonya Zekino memejamkan mata hingga akhirnya menghela nafas. Ia membuka mata dengan wajah kusut. ‘’Kalian boleh membawanya ke kantor polisi.’’
‘’Ibu?’’ tatap Kaji tidak percaya ke arah ibunya.
Inspektur dan semuanya membungkuk. ‘’Dewa shitsurei shimasu.’’
Kaji hanya berdecih dan masuk ke dalam mansion begitu juga yang lainnya. Mereka menuju ke kamar rawat Kein, dan melihat anak itu terbaring lemah.
Kein-kun, aku berjanji akan membawa Eve-chan kembali, kata Kaji dalam hati.
Sial! Apa yang aku lakukan? Kakak diracuni dan sekarang ibu dibawa ke kantor polisi sebagai pelakunya. Aku … Aku tidak akan mengampuni orang yang melakukan ini semua, kata Kane dalam hati.
Shion yang melihatnya hanya memasang raut wajah sedih sambil menatap ke dalam ruangan Kein.
......................
Lantai 3
‘’Ibu seharusnya tahu kalau Eve-chan tidak akan pernah mungkin melakukan kejahatan seperti itu untuk mencelakai putranya sendiri. Kenapa Anda melakukan ini?’’ tanya Kaji.
Nyonya Zekino menghela nafas. ‘’Tenanglah. Sekuat apa pun usahamu menghentikan mereka membawa Nona Eve, itu hanya akan sia-sia. Bukti mengarah kepada dirinya, jadi mau tidak mau, Nona Eve harus dibawa.’’
‘’Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Kita semua juga dibuat kaget, tapi tenanglah. Kau tidak akan menemukan solusi jika emosi seperti ini,’’ kata Yuki.
‘’Kein-kun diracuni! Dan Eve-chan dituduh sebagai pelakunya. Ada seseorang yang berusaha ingin menghancurkan kehidupan mereka. Bagaimana aku bisa tenang?!’’ seru Kaji.
‘’Kaji-kun, tidak sopan berteriak seperti itu di depan banyak orang! Saat ini, dengan membiarkan Eve berada di kantor polisi adalah keputusan yang tepat. Jika tidak, ada kemungkinan Eve-chan juga akan dicelakai seperti Kein-kun. Dinginkan kepalamu agar kau bisa mengerti situasi!” tegur Tuan Zanmu.
Kaji mengepalkan tangan mendengar teguran ayahnya. Ia berdecih pelan. ‘’Shitsurei shimasu(Permisi).’’
......................
Kane tetap mencari petunjuk mengenai kasus kakaknya, tapi tidak menemukan petunjuk apa pun.
Sama halnya Kaji yang berusaha menemukan petunjuk, pria itu juga tidak menemukan apa pun.
__ADS_1
‘’Bagaimana kondisi Kein?’’ tanya Eve cemas.
"Tubuhnya masih lemah karena efek racun itu," kata Kaji.
‘’Kein,’’ sedih Eve.
‘’Aku pasti akan segera mengeluarkanmu dari sini, jadi bersabarlah. Kane-kun juga sedang berusaha memecahkan kasus kalian berdua,’’ kata Kaji.
......................
Kamar Rawat
Kane berdiri di samping kasur sambil menatap kakaknya.
Flashback on
‘’Sudah memecahkan kalimat Both word if Coach itu?’’ tanya Kein.
‘’Masih belum sempat karena fokus menangani kasus pe—’’
‘’Aku telah memecahkannya, dan sudah tahu siapa korban selanjutnnya,’’ kata Kein memotong ucapan adiknya.
‘’Hee uso(bohong),’’ tatap Kane tidak percaya.
......................
‘’Kalau begitu, kenapa Kakak ingin membuat naskah?’’
‘’Kenapa? Seharusnya kau tahu karena kau adalah Si Iblis Deduksi,’’ kata Kein.
......................
‘’Bisakah aku bertanya kepada Kakak? Kenapa naskah yang Kakak buat itu begitu pendek? Padahal butuh banyak hari untuk menyelesaikannya? Apakah sesulit itu membuat novel? Kakak ini jenius, kan? Seharusnya tidak masalah kalau hanya membuat naskah novel,’’ kata Kane.
‘’Justru aku yang ingin bertanya, kenapa kau tidak menemukan petunjuk di dalam naskah itu?’’ tanya Kein.
‘’Tidak ada petunjuk sama sekali. Hanya ada kata pengantar dan beberapa dialog yang menurutku tidak mencurigakan. Tapi, aku bisa mengatakan, naskah pendek yang Kakak buat itu, misterinya lebih padat dan jelas daripada novel yang aku baca selama ini.’’
‘’Jadi, kau belum menyadarinya, ya?’’ tanya Kein.
......................
‘’Bagaimana kalau ada yang menjebaknya? Kane-kun ada di sini, kenapa tidak serahkan kasus ini kepadanya? Dia pasti akan memecahkannya,’’ kata Kaji.
‘’Seharusnya itu yang terjadi sejak tadi. Tapi, Tuan Kane tidak menemukan apa pun dan hanya diam. Selain itu, tersangka tidak diperbolehkan mendekati TKP,’’ kata Inspektur.
Flashback off
Kane mengepalkan tangan sambil menunduk.
‘’Maafkan aku. Untuk pertama kalinya, aku gagal sebagai anggota detektif kepolisian. Aku sudah memecahkan ribuan kasus, tapi aku tidak bisa memecahkan kasus atas nama Kakak dan ibu sendiri. Kakak, apa yang harus aku lakukan sekarang?’’
__ADS_1