
Sekali lagi adik tirinya itu menghancurkan hidupnya. Ia sudah berusaha untuk mewaspadai gerak-gerik Cordelia, tetapi wanita itu selalu saja berhasil menjebaknya.
‘’Saat ayah sadar nanti, aku akan memberitahu semuanya kalau kalian berdua selama ini memperlakukanku sangat buruk, terutama kau Cordelia! Aku akan memberitahu ayah kalau kau yang menjebak diriku di hotel,’’ kata Eve.
Cordelia melotot dan menghampiri Eve. Ia menjambak rambut kakak tirinya dan membenturkannya ke lantai.
‘’Heh? Kakak pikir bisa melakukannya?’’ tantang Cordelia.
Eve meringis kesakitan setelah kepalanya terbentur ke lantai tadi. Kesadarannya seperti hilang untuk sesaat. Ia bisa merasakan ada cairan yang mengalir dari kepalanya. Cordelia berdiri, lalu menginjak punggung kakak tirinya.
‘’Keluarga Raymond sudah menendangmu, dan kau masih berharap ayah akan mendengarmu? Kakak ini terlalu naif. Di saat yang sama, hari ini keluarga Laurence hanya memiliki satu putri, dan itu adalah aku, Cordelia Laurence!’’
Eve meringis kesakitan karena hak sepatu menindih punggungnya.
‘’Kau ini hanya merusak kehormatan keluarga Laurence, dan kami tidak membutuhkan orang seperti itu! Sebaiknya kau pergi, sebelum kami berdua melakukan hal yang lebih dari ini!’’ perintah bu Christa.
Eve menatap ruangan di belakang kedua wanita di depannya, tempat ayahnya sedang ditangani. Tapi Cordelia mendorongnya agar cepat pergi.
Aku akan mengingat hal ini, kata Eve dalam hati.
Butiran air mata terjatuh dari sudut matanya disertai tangan mengepal sambil ia menatap kedua wanita itu.
Dengan berat hati, Eve berjalan meninggalkan rumah sakit.
......................
Kediaman Raymond
Saat sekretaris Rey membuka pintu mobil sambil memegang payung, Adam hanya berjalan begitu saja membiarkan hujan mengenai dirinya, sehingga pria itu mengalihkan payung tadi untuk Tuan Moriarty.
Adam berjalan masuk tanpa peduli para pelayan menyambutnya datang. Langkahnya terhenti saat melihat meja makan dihiasi. Tanpa mengatakan apa pun, ia hanya langsung menuju ke kamarnya.
Setelah apa yang terjadi tadi, para pelayan hanya menunduk terus. Tuan Moriarty memerintahkan untuk membersihkan meja makan, karena mereka tidak jadi melakukan penyambutan.
Pria dewasa itu juga hanya langsung menuju ke kamarnya.
‘’Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?’’
‘’Apakah Nona Muda benar-benar orang yang seperti itu?’’
‘’Padahal aku sangat senang mendengar berita kehamilan Nona Muda tadi.’’
‘’Tapi aku tidak percaya kalau Nona Muda orangnya seperti itu.’’
__ADS_1
‘’Benar, kita semua tahu kalau Nona Muda adalah orang yang berpendidikan. Tidak mungkin Nona Muda melakukan hal seperti ini.’’
‘’Jangan-jangan Nona Muda dijebak?’’
‘’Tapi Nona Muda mengakui hal itu di depan semua orang.’’
‘’Argh, aku benar-benar bingung!’’
‘’Ush, sebaiknya kalian diam. Jangan sampai Tuan Besar dan Tuan Muda mendengar kita.’’
‘’Mm, Tuan Besar dan Tuan Muda pasti sangat terpukul, begitu juga keluarga Nona Muda.’’
......................
Kamar Adam & Eve
Adam menatap ke sekeliling. Biasanya, di jam segini Eve akan menyiapkan air hangat di bak mandi untuknya, dan memberinya piyama setelah selesai. Tidak ingin memikirkan hal itu, membuatnya langsung menuju ke kamar mandi.
Begitu masuk ke dalam kamar mandi pun, Adam kembali mengingat kejadian sore tadi saat dirinya dan Eve mandi di dalam bak yang sama.
Pria itu hendak menyiapkan air hangat, namun niatnya terhenti saat melihat air memenuhi bak mandi. Ia baru tersadar, kalau bak mandi itu terisi air.
Seingatku bak ini kosong saat aku dan Eve selesai mandi. Airnya juga masih sedikit hangat, apakah dia yang menyiapkannya?
......................
Rumah Sakit
Ini pertama kalinya kedua wanita itu merasa damai selama mereka hidup. Bu Christa benar-benar tidak menyangka, putrinya mempercepat rencana ini. Ia awalnya mengira kalau Eve mengandung anaknya Adam, tapi ternyata tidak.
‘’Akhirnya kita menyingkirkan wanita itu. Sekarang tidak ada lagi yang menjadi penghalang antara diriku dan Adam,’’ senang Cordelia.
‘’Kau benar-benar memberiku kejutan Cordelia,’’ puji bu Christa.
Cordelia tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya. Ia langsung tersadar akan sesuatu.
Wanita itu menyalakan ponselnya dan mengetik sesuatu.
‘’Apa yang kau lakukan?’’ tanya bu Christa.
‘’Menghubungi kenalanku,’’ jawab Cordelia.
‘’Untuk apa?’’ bingung Bu Christa.
__ADS_1
‘’Melenyapkan kakak.’’
Bu Christa melotot mendengar jawaban Cordelia. Ia tidak menyangka putrinya akan berbuat sejauh itu. Tapi sebenarnya ia juga menginginkan hal ini. Ada baiknya mereka melenyapkan Eve saja agar wanita itu tidak muncul lagi.
......................
Pemakaman
Di tengah derasnya hujan lebat, Eve berdiri menatap batu nisan milik ibunya. Ia hanya membiarkan hujan membasahi dirinya di malam yang dingin itu. Tangisannya dan air hujan menyatu.
Bibir dan kulitnya bahkan sudah memutih karena kedinginan. Tidak tahu, ingin mengatakan apa di depan kuburan ibunya lagi. Hanya tatapan hampa yang bisa Eve lontarkan.
......................
Kamar Adam & Eve
Adam juga hanya melontarkan tatapan hampa saat dirinya keluar dari kamar mandi. Sekali lagi, ia melihat isi kamarnya kosong tanpa kehadiran Eve.
Pria itu berjalan ke arah meja lampu. Ia membuka laci meja tersebut dan terlihat banyak tumpukan secarik kertas di dalamnya. Ya, secarik kertas yang sering ditulis oleh Eve saat wanita itu membuatkannya teh hijau setiap pagi.
Ponselnya tiba-tiba bergetar, membuatnya meraih benda itu. Terlihat notifikasi dari Kamiya Kaji.
Maaf, Adam-san. Aku tidak jadi berkunjung ke rumah Anda karena mendapat panggilan dari Jepang. Kepolisian menghubungiku untuk menangani sebuah kasus, jadi sekali lagi aku minta maaf. Mari bertemu di lain waktu.
Adam mengunci kembali ponselnya tanpa membalas pesan itu. Pandangannya kembali mengarah ke tumpukan secarik kertas di dalam laci meja lampu.
Bugh!
Pria itu menutup laci meja lampu dengan kasar, lalu menguncinya. Ia membaringkan tubuhnya di kasur sambil menutup kedua matanya menggunakan lengannya, menutupi butiran bening yang mengalir.
......................
Jalanan Kota
Di tengah lebatnya hujan, Eve menyusuri jalanan kota tanpa menggunakan payung. Ia tidak tahu harus ke mana lagi.
Eve sempat mengunjungi restoran tempatnya bekerja, dan melihat Vic bercanda bersama pekerja lainnya. Ia mengurungkan niat untuk meminta bantuan, dan memilih pergi.
Wanita itu memegangi perutnya karena merasa lapar. Sebab, sejak tadi ia belum makan apa pun.
Eve tadinya ingin mampir ke kedai di seberang jalan, tetapi sebuah mobil hitam langsung menghadangnya. Karena hujan turun lebat, jalanan di sana jadi sepi membuat segerombolan pria itu langsung menculiknya.
‘’Hei! Kalian siapa? Kenapa membawaku?! Hei!’’ seru Eve.
__ADS_1
Eve terlallu berisik, membuat salah satu pria itu membengkapnya. Ia berusaha berteriak tapi usahanya sia-sia. Kedua tangan dan kakinya juga sudah diikat.