Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 62 Kebenaran Masa Lalu Cordelia


__ADS_3

Jeremy merapikan dasinya setelah dirinya mendapatkan kompensasi seperti biasa. Berbeda dengan Cordelia yang sedikit meringis setelah memakai pakaiannya.


‘’Seperti biasa, kau selalu bisa memuaskanku Cordelia, karena itulah aku menyukaimu. Sepertinya pertemuan kita waktu itu memang sudah ditakdirkan, saat kau pertama kali datang kepadaku,’’ senyum Jeremy.


Cordelia hanya memasang raut wajah kusut.


Flashback on


Cordelia menuruni mobil setelah dirinya tiba. Ia menatap bar di depannya yang hanya bisa dimasuki oleh kalangan orang kaya. Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam bar tersebut. Mereka harus memperlihatkan kartu identitas mereka terlebih dahulu yang menjadi bukti bahwa mereka anggota VIP dari bar tersebut.


Sebelum masuk, Cordelia memperlihatkan kartu identitas milik Adam Raymond yang sempat ia curi saat pria itu berada di kamar mandi tanpa sepengetahuan. Sebab, ia tahu Adam bisa masuk leluasa bahkan tanpa memperlihatkan kartu identitasnya karena bar tersebut milik salah satu temannya.


Para penjaga membukakan pintu untuk Cordelia, membuat wanita itu tersenyum miring. Ia pun menyusuri bar tersebut untuk mencari ruang staff. Agar tidak ada orang yang mencurigainya, Cordelia mengganti pakaiannya dengan seragam pekerja di bar itu.


‘’Karena bar ini milik temannya, mungkin Adam berada di ruang khusus bersama pemilik bar ini,’’ kata Cordelia.


Tanpa sengaja ia melihat begitu banyak penjaga yang berdiri di sekitar koridor. Dahinya berkerut melihat ruangan yang dijaga. ‘’Jangan-jangan Adam ada di ruangan itu.’’


Saat itu juga salah satu pekerja bar hendak membawakan wine, membuat Cordelia menghentikan pekerja bar tersebut. ‘’Wine ini mau dibawa ke mana?’’


‘’Wine ini sudah dipesan khusus oleh pemilik bar untuk tamu penting yang datang hari ini,’’ kata pria muda.


‘’Kalau begitu, biar aku saja yang mengantarnya. Kau bisa mengantar pesanan yang ada di ruangan sebelahnya,’’ kata Cordelia.


Tapi, pekerja bar itu terlihat ragu untuk menyerahkan wine tadi kepada Cordelia, karena baru melihat wajah wanita itu. ‘’Apakah kau pekerja baru?’’


Cordelia sedikit tersentak. Seharusnya ia sudah tahu kalau setiap pekerja di bar ini pasti sudah saling mengenali wajah. ‘’Ahaha, karena itulah kepala bar memintaku sebagai pekerja baru untuk melakukan pekerjaan ini.’’


‘’Oh begitu, baiklah. Tapi hati-hati karena tamu penting yang datang ini sangat berpengaruh, jadi jangan sampai menyinggungnya atau menimbulkan masalah,’’ kata pria itu memperingati.


‘’Aku mengerti,’’ kata Cordelia.


Dasar, tanpa kau beritahu, aku sudah tahu kalau orang berpengaruh yang kau katakan itu adalah calon suamiku. Makanya aku yang ingin mengantar wine ini secara langsung kepadanya, ucapnya dalam hati.

__ADS_1


*Ia pun berjalan menuju ke ruangan yang dijaga oleh beberapa pengawal.


Salah satu pria membukakan pintu sehingga Cordelia masuk. Wanita itu mengerutkan dahi karena isi ruangan tersebut gelap gulita. Hanya sinar rembulan dari balik jendela yang mengenai wajahnya*.


‘’Tuan, kepala bar telah menyuguhkan wine khusus ini untuk Anda,’’ kata salah satu pengawal yang ternyata berjaga di dalam, membuat Cordelia sedikit tersentak kaget.


Pria itu berbalik dan melihat wajah Cordelia yang terkena sinar rembulan, membuatnya mengkode salah satu pengawalnya. Cordelia yang melihatnya hanya bingung.


‘’Tuan ingin Nona sendiri yang melayaninya,’’ kata salah satu pria berbaju hitam.


‘’Baiklah. Aku akan menuangkannya untuk Anda,’’ kata Cordelia.


Pria itu hanya diam sambil Cordelia memberinya segelas wine. Sebelum mencicipi wine tersebut, pria yang duduk di kursi itu memegang bagian tangkai gelas sambil memutarnya dengan pelan lalu menghirup aromanya.


Glek!


Setelah meneguk wine itu sedikit, ia mengkode kedua pengawalnya dan menyuruhnya untuk keluar.


Ceklek!


Deg!


Dia bukan Adam! Astaga, sepertinya aku salah ruangan, pekik Cordelia dalam hati.


*Ia bergegas untuk keluar, namun siapa sangka, setelah ia mendengar suara yang aneh tadi akhirnya ia mengerti kalau pintu ruangan itu telah dikunci.


Cordelia berbalik dengan raut wajah cemas. ‘’Kenapa pintunya terkunci? Cepat buka pintunya*!’’


‘’Hoh~ kau punya nyali juga sebagai pekerja bar membentakku. Tapi, aku akan mempertimbangkannya setelah kau melayaniku,’’ senyum pria itu.


‘’Buka pintunya atau aku akan teriak!’’ ancam Cordelia.


Pria tadi hanya tersenyum sambil menghampiri Cordelia, membuat wanita itu mengambil botol wine lalu membantingnya ke lantai.

__ADS_1


Prank!


‘’Jangan mendekat! Kalau kau mendekat aku akan membunuhmu!’’ ancam Cordelia sekali lagi.


‘’Hahaha! Kau benar-benar tipeku. Aku suka itu,’’ kekeh pria itu berjalan mendekati Cordelia.


Aku sudah memecahkan botol wine ini, lalu kenapa tidak ada yang datang ke ruangan ini? Hhah? Apakah mungkin ruangan di bar ini kedap suara? Sial! Kalau memang benar, aku dalam masalah, ucapnya dalam hati.


‘’Akh!’’ ringis Cordelia karena pria itu berhasil melumpuhkannya gara-gara melamun tadi.


Cordelia berusaha memberontak tapi tangan dan gerakannya dikunci.


‘’Tidak! Lepaskan aku! Siapapun tolong aku!’’ jerit Cordelia panik bukan main.


......................


Pria yang mengenakan jubah handuk mandi itu mencicipi wine yang baru saja diantarkan oleh salah satu pengawalnya. Ia menatap ke arah Cordelia yang duduk memeluk lututnya sambil menutupi dirinya selimut. ‘’Ayolah, jangan menangis. Aku tidak akan melaporkan perbuatanmu kepada kepala bar ini karena kau sudah melayaniku dengan baik.’’


‘’Brengsek! Kau pria brengsek! Aku akan menuntutmu!’’ seru Cordelia dengan wajah merah padam.


‘’Kau ini wanita yang memang langka. Setelah aku memuaskanmu, kau malah ingin menuntutku? Hahaha! Seorang pria berpengaruh sepertiku memang butuh wanita yang angkuh juga seperti dirimu. Jadi wanita angkuh siapa namamu?’’


‘’Aku tidak sudi mengatakan namaku kepada pria kotor seperti dirimu!’’ kata Cordelia membuang wajah.


Pria itu menghela nafas sambil tersenyum. Ia pun mengenakan kembali pakaiannya lalu berjalan menghampiri Cordelia.


‘’Kau ingin melakukan apa lagi?!’’ seru Cordelia menarik selimut.


Pria itu memicingkan mata sehingga ia menyibak selimut itu dengan kasar. Cordelia dengan cepat menutupi tubuhnya menggunakan kedua tangannya dengan perasaan gemetar.


‘’Aku sudah melihat tubuhmu jadi untuk apa menyembunyikannya dariku? Lagi pula aku hanya ingin pamit kepadamu,’’ kata pria itu mendekatkan wajahnya.


Cordelia memalingkan wajahnya dengan perasaan tertahan, membuat pria itu hanya tersenyum dan berbisik.

__ADS_1


‘’Baiklah. Tidak masalah kalau kau tidak ingin mengatakan namamu. Tapi kau yang harus mengingat namaku. Aku yakin kita akan bertemu kembali, jadi kau harus ingat nama ini … Jeremy Marlo. Mata aimashou(Sampai berjumpa kembali),’’ kata Jeremy.


Setelah melihat kepergian pria bernama Jeremy itu, Cordelia langsung berlari dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Ia begitu jijik karena tubuhnya malah disentuh oleh pria hina bernama Jeremy tadi. Hancur sudah harapannya yang ingin masuk ke dalam keluarga Raymond.


__ADS_2