Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 111 Sosok Wanita


__ADS_3

‘’Kalau begitu, kalian berdua ikut denganku!’’ perintah Eve.


‘’Eh~ kenapa begitu? Aku ingin di sini bersama Paman Hakuba,’’ kata Kane.


Eve tersenyum sambil memberi kode agar kedua anak itu pergi bersamanya. ‘’Kane, kondisimu masih lemah, sebaiknya kembali ke kamar.’’


‘’Benarkah? Kalau begitu, Kane-kun kembali saja dan beristirahat di kamar,’’ kata sutradara Hakuba.


Kedua wanita itu merasa lega, karena memancing pria tadi untuk menyuruh Kane kembali.


‘’Aku sudah merasa lebih baik. Selain itu, aku berada di dalam kamar terus, dan tidak pernah menghirup udara segar,’’ kata Kane.


‘’Benar juga. Terlalu lama di dalam kamar dan kurang menghirup udara segar itu tidak baik. Eve-san, biarkan kedua anak ini di sini saja. Aku yang akan mengantarnya ke kamar setelah kami selesai,’’ kata sutradara Hakuba.


Kane tersenyum dengan penuh kemenangan karena bisa melawan balik keadaan. Eve dan Vic saling bertatapan dengan raut wajah pasrah.


‘’Baiklah, kalau begitu aku pergi,’’ kata Eve.


Sebelum pergi, Eve berbalik melihat kedua putranya. Kedua anak kembar itu tersentak karena menyadari tatapan membunuh dari ibu mereka.


Kane hanya tersenyum kaku, sedangkan Kein berpura-pura fokus ke naskah buatannya.


Vic pun duduk dan bergabung bersama mereka, sambil menatap kedua anak kembar itu dengan tatapan malas.


‘’Haa~ ternyata makan di tempat terbuka memang yang terbaik,’’ kata Kane.


Kenapa kedua anak ini bisa tahu kalau aku dan Sutradara Hakuba akan bicara berduaan? Dasar, kata Vic dalam hati.


Sutradara Hakuba menatap Vic. ‘’Ano, Anda yang bernama Nona Vic?’’


‘’Ah? Um, benar. Namaku Vic Demilo, senang bertemu dengan Sutradara Hakuba,’’ senyum Vic mengulurkan tangan.


Astaga. Apa yang aku lakukan? Kenapa malah aku yang duluan mengulurkan tangan? Apalagi di depan kedua anak ini, ucapnya dalam hati menahan malu.


Sutradara Hakuba tersenyum sambil membalas uluran tangan Vic. ‘’Namaku Hakuba Hokuto, dan senang bertemu dengan Nona Vic juga.’’


Jadi namanya Hokuto? Hm~ nama yang keren, seperti orangnya, kata Vic dalam hati.


Sutradara Hakuba masih tersenyum, begitu juga dengan Vic.


Kane yang melihatnya hanya mengerutkan dahi. ‘’Ehem! Sampai kapan kalian berdua berjabat tangan?’’


Mendengar ucapan anak itu, membuat Vic langsung menarik tangannya, dan menatap Kane dengan mata memicing.


Hm~ anak ini sengaja merusak suasana. Padahal, aku masih ingin memegang tangan Hokuto sedikit lebih lama, kata Vic dalam hati.


‘’Itu, Kaji-san sudah memberitahuku, kalau Nona Vic yang mengatur semua ini untuk menghiburku. Aku sangat menghargai itu, Doumo arigatou gozaimasu,’’ kata Sutradara Hakuba.


Vic yang mendengarnya terbelalak, terutama si kembar.

__ADS_1


Cih, apakah Tuan Muda miliarder itu tidak memiliki alasan yang lebih sopan? Apalagi Hokuto mengatakannya di depan kedua anak ini, gerutunya dalam hati.


Matanya melirik ke arah Kane yang sudah membengkap mulutnya sambil menatapnya dengan maksud mengejek.


‘’Bibi Vic mengatur ini untuk menghibur Paman Hakuba? Hee~ apa maksudnya ini? Apakah Bibi Vic sedang merencanakan sesuatu?’’ tanya Kane sengaja.


Hm! Anak ini, kata Vic dalam hati.


‘’Ahaha. Ini hanya rasa simpati. Kau sendiri tahu kalau ibumu itu adalah sahabatku. Karena Eve akan menikah dengan Tuan Muda Kaji, berarti pria itu juga akan menjadi temanku. Lalu, Tuan Muda Kaji dan Sutradara Hakuba juga bersahabat, jadi sebagai teman dari pihak Tuan Muda Kaji, aku hanya ingin membantu mengurangi beban Sutradara Hakuba setelah kasus pembunuhan hari itu,’’ kata Vic.


Heh, apa yang aku katakan? Sutradara Hakuba akan menganggapnya lebay, kata Vic dalam hati.


‘’Nona Vic … Anda wanita yang penuh kasih sayang,’’ senyum sutradara Hakuba.


Wanita penuh kasih sayang? Heh, sepertinya pria ini salah makan, kata Kane dalam hati.


Jangan tertipu. Dia wanita yang galak dan pemarah, kata Kein dalam hati.


Vic terbelalak untuk sesaat. Jantungnya kembali berdebar karena ucapan sutradara Hakuba.


Apa?! Kya! Dia menyebutku wanita penuh kasih sayang! Apakah itu berarti aku sudah membuatnya terkesan? Astaga, kata Vic dalam hati.


Mata Kane beralih ke layar ponsel milik pria itu, sebelum akhirnya ponsel sutradara Hakuba berbunyi, membuat pria itu meminta waktu sebentar.


‘’Apa-apaan ini? Kenapa kalian ada di sini?’’ tanya Vic.


‘’Kau bisa makan di kamar atau di ruang makan. Kenapa harus di sini?’’ tanya Vic yang masih kesal.


Sebelah alis Kane terangkat sambil ia tersenyum. ‘’Kenapa? Bibi Vic tidak mau kami mengganggu kencan kalian?’’


‘’Ti-Tidak juga. Aku dan Sutradara Hakuba ingin membahas sesuatu sesama orang dewasa,’’ jawab Vic.


‘’Kalau begitu tidak masalah aku dan Kakak ada di sini,’’ kata Kane.


‘’Tapi, aku tidak bisa membahasnya kalau kalian ada,’’ kata Vic.


‘’Apakah karena Bibi Vic ingin mengatakan hal yang penting kepada Paman Hakuba?’’ tanya Kane.


Vic mengangguk dan berusaha menjelaskan kepada kedua anak itu agar mereka pergi.


‘’Bibi Vic menyukai Paman Hakuba, ya?’’ tanya Kane.


‘’A-Apa? Apa yang kau katakan? Berhenti mengatakan hal yang konyol,’’ kata Vic.


Kane terdiam untuk sesaat sambil menatap sutradara Hakuba. ‘’Bibi Vic tahu tidak, orang yang menghubungi Paman Hakuba itu adalah seorang wanita.’’


‘’Eh? Wanita?’’ tanya Vic.


‘’Hm, selain itu apakah Bibi Vic tahu kalau wanita yang menelepon itu, dia sangat berarti bagi Paman Hakuba,’’ jawab Kane.

__ADS_1


Vic terdiam untuk sesaat. ‘’Dari mana kau tahu kalau wanita itu sangat berarti bagi Sutradara Hakuba?’’


‘’Bibi Vic ini bilang apa? Aku dan Kakak tumbuh di Jepang sampai sekarang. Jadi otomatis kami tahu semua kenalan Paman Kaji, dan salah satunya adalah Paman Hakuba,’’ kata Kane.


Kein melirik raut wajah Vic yang sudah terlihat sedih karena ucapan adiknya.


‘’Paman Hakuba sangat mencintai wanita itu, bahkan rela kehilangan nyawanya hanya demi melindunginya. Itu benar, kan? Kakak?’’ tanya Kane.


Vic melirik Kein dan menunggu jawaban anak itu.


‘’Benar,’’ jawab Kein.


‘’Jadi, Sutradara Hakuba sudah memiliki wanita yang dia sukai, ya?’’ tatap Vic.


Kane meneguk air di gelas setelah menghabiskan makanannya. ‘’Aku tiba-tiba teringat sesuatu. Kalau begitu, aku dan Kakak pergi dulu, ya? Shitsurei shimasu(Permisi).’’


‘’Shitsurei shimasu(Permisi),’’ kata Kein yang pergi lebih tenang.


Saat itu juga, sutradara Hakuba kembali. ‘’Eh? Kane-kun dan Kein-kun sudah pergi?’’


Vic yang menunduk dengan wajah sedih hanya menjawab pertanyaan itu dengan singkat. ‘’Um, Sutradara Hakuba? Bisakah aku bertanya sesuatu?’’


‘’Tentu, tapi Nona Vic tidak perlu sampai memanggilku seperti itu. Panggil Hokuto saja,’’ kata sutradara Hakuba.


‘’Baiklah, Hokuto ah maksudku Hokuto-kun. Aku tahu pertanyaanku ini mungkin mengganggu privasi Anda. Tolong jangan tersinggung,’’ kata Vic.


Sutradara Hakuba berusaha mencerna ucapan wanita itu. ‘’Baiklah, silahkan tanyakan.’’


‘’Apakah orang yang menghubungi Anda tadi adalah seorang wanita?’’


‘’Eh? Um ... Iya, benar. Memangnya kenapa?’’ tanya Sutradara Hakuba.


Vic menggigit bibir bawahnya, sambil mengepalkan tangan yang berada di bawah meja. ‘’Apakah wanita itu sangat berarti bagi Anda?’’


‘’Eh? Maksud Nona Vic?’’ tanya Sutradara Hakuba.


Namun, melihat Vic hanya diam sambil menunduk membuatnya bingung. ‘’Itu benar.’’


Vic tersentak. Ia berusaha bersikap tenang. ‘’Apakah Hokuto-kun juga rela menyerahkan nyawanya demi melindungi wanita itu?’’


‘’Nona Vic?’’ panggil Sutradara Hakuba.


‘’Aku mohon jawablah!’’ kata Vic membungkuk.


Sutradara Hakuba benar-benar bingung dengan sikap wanita di depannya itu. Tapi, ia tetap menjawabnya. ‘’Iya. Aku rela menyerahkan nyawaku demi melindunginya, karena aku sangat mencintainya.’’


Deg!


Saat itu juga butiran air mata Vic terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2