
Untuk sesaat mereka terdiam.
Kalau hanya cara ini yang bisa membuat mereka luluh, maka baiklah. Ini juga salahku, jadi sudah sepantasnya aku meminta maaf kepada mereka, kata Adam dalam hati.
......................
Hotel
Bugh!
Resepsionis tersentak saat wanita itu memukul meja.
"Apa-apaan ini?! Kenapa semua hotel yang aku datangi sudah full? Satu atau dua hotel sebelumnya mungkin aku akan memakluminya, tapi ini hampir seluruh di kota. Apakah kalian sengaja memperlakukan diriku seperti ini?!" marah Cordelia.
Reon mengerutkan dahi sebab ia melihat ke sekitar. Semua orang yang melirik selalu saja berbisik, dan itu sudah kesekian kalinya terjadi jika mereka memasuki hotel.
Sepertinya orang-orang mengenali kami meskipun memakai masker. Aku tidak suka situasi ini, kata Reon dalam hati.
Cordelia yang mengomel sejak tadi, menoleh ke arah Reon saat ia menyadari anak itu menariknya.
"Ibu, sebaiknya kita pergi," kata Reon.
"Tidak, aku ingin berurusan dengan mereka dulu! Sepertinya mereka semua bersekongkol berbohong kepada kita. Hei kau! Aku bisa membuat hotel kalian bangkrut jika bersikap kasar kepada kami. Apakah kau tahu siapa aku?"
Deg!
Semua orang tersentak melihat Cordelia membuka maskernya, sedangkan Reon hanya menghela nafas panjang sambil menutup wajahnya.
Astaga, apa yang Ibu lakukan? Stt, kata Reon dalam hati.
"No-Nona Cordelia?!" pekik semua orang.
Cordelia tersenyum remeh melihat reaksi semua orang.
"Oh, jadi wanita tidak tahu malu ini ada di sini?!"
"Si pembunuh ini berani juga memperlihatkan wajahnya tanpa merasa berdosa."
"Bukankah dia sudah bercerai dengan Tuan Muda dan keluarga Raymond menendangnya? Kenapa dia masih begitu angkuhnya berbicara seperti itu?"
"Kurasa dia menjadi gila karena kejahatannya terbongkar."
"Hahahahaha!"
Rasanya telinga Cordelia dan Reon sakit mendengar ucapan semua orang.
Pandangan Cordelia langsung membulat saat di antara orang-orang tadi terlihat anggota sosialitanya.
"Kayle, bantu aku," mohon Cordelia membuat semua orang menoleh kepada wanita itu.
"Ahaha, siapa kau mengaku mengenal diriku?" tanya Kayle.
Cordelia mengerutkan dahi. "Apa maksudmu? Kita anggota sosialita, bersama Kanie, Maria dan Teksa, kan?"
Ketiga wanita yang disebut namanya memasang wajah tegang.
__ADS_1
"Heh! Kami tidak mengenalmu," kata Maria.
"Benar, grup sosialita apanya? Tidak ada grup sosialita di ponsel kami," kata Teksa.
"Berhenti mengikutsertakan kami dalam masalahmu," kata Kanie.
Mata Cordelia membulat dengan perasaan emosi. "Mereka berbohong! Aku punya buktinya."
Ia hendak membuka ponselnya namun Kayle langsung merebut ponsel Cordelia dan membantingnya ke lantai.
"Apa yang kau lakukan Kayle?!" seru Cordelia.
"Menghentikan omong kosong seorang pembunuh sepertimu," jawab Kayle.
Tangan Cordelia mengepal yang sudah dipenuhi emosi.
"Kayle, kau selalu menggunakan kartu milikku untuk membeli pakaian dengan merk terkenal. Kanie, kau menggunakannya untuk berpesta setiap saat. Teksa, kau selalu membeli tas luar negeri yang trending dan harganya begitu mahal, dan Maria ... Semua keluaran baru high shoes dari Amerika, kau membelinya menggunakan kartu milikku. Apakah ini balasan kalian padaku?!" seru Cordelia.
"Hei pembunuh! Kau sama sekali tidak berubah ya? Setelah kau menuduh kakakmu sendiri, kau menuduh orang lain untuk melindungimu?!"
"Dasar tidak tahu malu!"
"Kau adalah aib bagi keluarga Raymond!"
"Kau tega membunuh kakakmu sendiri demi harta!"
"Cukup!" seru Cordelia.
Kelompok ibu-ibu sosialita pun mengeroyoknya dan mengusirnya.
Bugh!
"Pembunuh seperti dirimu tidak layak hidup berdampingan dengan kami!"
"Aku tidak menyangka kenapa polisi tidak datang menangkap dirimu."
"Lebih baik kita membersihkan diri! Jika tidak, aura tidak baik dari pembunuh ini akan melekat kepada kita."
Cordelia berdecih. "Kalian semua akan menerima akibatnya!"
"Ibu cukup, sudah aku bilang kita pergi saja," kata Reon.
"Apakah kau baik-baik saja? Astaga! Lenganmu berdarah! Kita harus segera mengobatinya," cemas Cordelia.
Ia berdiri sambil membantu putranya berdiri.
Cordelia memasang raut wajah sedih. "Sekarang kita akan tinggal di mana? Aku tidak peduli harus tinggal di mana saja, tapi aku tidak bisa menerima kalau kau harus tinggal di luar."
Aku tidak menyangka kenapa polisi tidak datang menangkap dirimu. (Reon teringat)
Reon hanya diam sebab ucapan para ibu-ibu tadi mengganggunya.
Yang dikatakan ibu-ibu itu tadi benar juga. Kenapa aku sampai melupakannya? Ibu melakukan kejahatan dan seharusnya Ibu mendapatkan hukuman, bukan berarti aku mendoakan polisi datang menangkap Ibu. Apakah ini ulah keluarga Raymond? Kurasa itu tidak mungkin ... Merekalah yang paling membenci Ibu, jadi tidak mungkin mereka melakukan sesuatu demi Ibu, kata Reon dalam hati.
"Reon, apakah kau mendengar ucapanku?" tanya Cordelia.
__ADS_1
Reon tersadar. "I-Iya Ibu?"
"Kau melamunkan apa lagi? Ayo kita pergi," kata Cordelia.
Reon kembali memikirkan hal itu.
Kalau begitu siapa yang melakukan hal ini untuk melindungi Ibu, katanya dalam hati.
Belum sempat Cordelia dan Reon pergi, sebuah mobil sudah berhenti tepat di depan mereka. Keduanya mengerutkan dahi hingga kaca mobil itu turun menampilkan sosok yang mengemudi.
Deg!
Berbeda dengan Reon yang tersentak, wajah Cordelia menjadi masam melihat sosok di dalam mobil itu.
......................
Balkon
Adam memejamkan mata sejenak hingga akhirnya menghela nafas panjang. Ia membuka matanya secara perlahan dan melihat Kane yang masih menyeringai dan Kein yang memejamkan mata sambil memasukkan sebelah tangannya ke kantong celana.
Deg!
Kane yang menyeringai langsung tersentak saat melihat Adam hendak bersujud.
Apa?! Dia akan benar-benar bersujud? Tidak mungkin, katanya dalam hati.
Adam tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Jika itu bisa membuat kedua anak ini puas maka ia akan melakukannya.
"Tunggu!" seru Kein yang masih memejamkan matanya.
Niat Adam yang hendak bersujud tadi terhenti, membuat dirinya dan Kane menatap ke arah Kein.
"Kakak," tatap Kane bingung.
Kein membuka matanya secara perlahan, memperlihatkan cahaya ruby dari matanya. "Keluarga Raymond memang melakukan kesalahan, tapi tidak benar saat orangtua bersujud di hadapan seorang anak."
"Apa yang Kakak katakan? Tuan Muda sendiri yang ingin bersujud di depan kita," kata Kane.
"Ingatlah apa yang pernah diajarkan keluarga Kamiya kepada kita, bahwa seburuk apa pun orangtua, kita harus tetap menghormatinya, dan bagaimanapun usaha kita memutuskan hubungan, secara hukum dia adalah ayah biologis kita," kata Kein.
Kane terdiam hingga akhirnya menghela nafas panjang.
"Sebelumnya saya mewakili adik saya untuk meminta maaf atas perbuatannya. Tuan Muda tidak perlu melakukan hal itu, jadi saya minta maaf," kata Kein sedikit membungkuk.
Sebelah mata Kein terbuka melirik ke arah adiknya, membuat ia mendorong kepala Kane untuk ikut membungkuk, meskipun anak bermata sapphire itu menggerutu sejak tadi.
"Apakah itu berarti kalian memberiku kesempatan?" tanya Adam.
Kedua anak kembar itu kembali seperti semula.
"Sepertinya Tuan Muda salah paham. Saya hanya memperingati adik saya tadi, bukan berarti dengan mengakui Anda sebagai ayah biologis kami ... Kami memberikan kesempatan," kata Kein.
Adam mengerutkan dahi, karena sepertinya membujuk kedua anak ini benar-benar sulit.
"Kurasa sudah cukup kita berbincang. Sebelum kami pergi, saya ada sesuatu untuk Tuan Muda," kata Kein menyerahkan sebuah amplop putih.
__ADS_1
Kein berjalan pergi dan hendak meninggalkan balkon bersama adiknya. "Itu akan menjelaskan kalau urusan di antara kita sudah selesai. Kami pergi dulu Tuan Muda. Shitsurei shimasu(Permisi)."
"Shitsurei shimasu(Permisi)," kata Kane menyusul kepergian kakaknya.