
Kein masih diam tanpa merubah posisinya membuat Mark berdiri.
Anak berambut putih itu menghela nafas.
‘’Kenapa? Kau tidak percaya dengan kemampuanmu sendiri?’’ tanya Kein tanpa merubah posisinya yang masih membelakangi Mark.
Mark menatap ke arah lantai
Flashback on
Kediaman Shelton
Plak!
Mark tersungkur ke lantai setelah menerima tamparan dari ayahnya.
‘’Apa-apaan ini Mark?! Kau yang selama ini selalu berada di posisi kedua, kenapa malah gugur di perempatan final?!’’ seru Tuan Shelton.
‘’Maafkan aku,’’ kata Mark meringis sambil memegang sebelah pipinya.
Pria dewasa itu menarik nafas dengan wajah merah padam. ‘’Kau tahu dampak apa yang kau timbulkan karena ulahmu ini? Astaga, kau sudah mencoreng nama baik keluarga Shelton yang selama ini hanya ada di posisi pertama dan kedua dalam kompetisi. Tapi kau kalah di perempatan final. Ya Tuhan, aku sepertinya tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan keluarga besar Shelton.’’
‘’Suamiku, tenangkan dirimu dulu,’’ kata Nyonya Shelton.
‘’Hhah, bagaimana aku tenang kalau sekarang ini kakek dan nenek pasti sudah mengetahuinya? Kerabat keluarga Shelton yang lainnya juga pasti sudah tahu. Aku harus mengatakan apa kepada mereka? Haa,’’ kata Tuan Shelton.
Nyonya Shelton menghela nafas panjang lalu menatap putranya. ‘’Mark, ini seperti bukan dirimu, apakah sesuatu mengganggumu saat di kompetisi?’’
Mark hanya diam sambil mengingat rencananya bersama Reon untuk menyingkirkan Kein dari kompetisi. Ia hanya memejamkan mata sambil menunduk.
‘’Aku melakukan kesalahan. Tolong maafkan aku,’’ kata Mark menyesal.
*Tuan Shelton memejamkan mata sambil memegang tengkuk hidungnya. Ia menarik nafas tertahan lalu menatap Mark.
Pria dewasa itu memicingkan mata. ‘’Aku akan menemui keluarga besar Shelton, dan memberitahu mereka hukuman yang pantas untuk membayar ulahmu, dan hukumannya adalah … Mark, mulai sekarang kau tidak diizinkan mengikuti kompetisi masak lagi. Kau hanya akan membantu mengembangkan restoran dari keluarga Shelton*.’’
Mark membulatkan mata sambil menatap kepergian ayah dan ibunya. ‘’Tidak. Aku tidak ingin berhenti memasak. Ayah, Ibu, kumohon.’’
*Namun, kedua orangtuanya tidak peduli dan pergi meninggalkannya.
Flashback off*
__ADS_1
Ia mengepalkan tangan setelah mengingat hal itu.
Mark menarik nafas tertahan dan menatap anak berambut putih di depannya.
Kein yang merasakan sesuatu, mengerutkan dahi lalu berbalik dengan pelan. Ia sedikit terbelalak melihat Mark membungkuk 90 derajat.
‘’Tuan Kein, aku minta maaf atas semua yang telah terjadi selama kompetisi ini berlangsung. Aku mengaku salah karena berusaha menyingkirkan Anda dengan mengacaukan hidangan Tuan Kein bahkan menjebak Anda sehingga hampir kehilangan nyawa,’’ kata Mark.
Kein menatap anak laki-laki itu yang mengepalkan tangan sejenak sambil gemetar. Tanpa bertanya, ia sudah tahu kalau Mark sedang menangis, meskipun anak itu masih membungkuk.
‘’Hheh, meskipun aku tidak sudi membungkuk dan meminta maaf kepada Tuan Kein, aku akan menganggap hal ini sebagai bayaran atas ulahku kepada Anda. Ini adalah kompetisi terakhirku. Setelah kompetisi ini selesai, maka aku tidak akan bisa memasak lagi,’’ kata Mark.
‘’Apa maksudmu?’’ tanya Kein.
Mark tersenyum remeh di sela-sela dirinya membungkuk. ‘’Keluarga Shelton memberiku hukuman agar meninggalkan dunia memasak, dan akan mengembangkan restoran keluarga Shelton. Sebelum itu terjadi, aku memiliki permintaan untuk Tuan Kein.’’
......................
Koridor
Kein hanya diam menyusuri koridor.
Kein masih diam sambil berjalan menyusuri koridor menuju ke ruang VVIP. Kane terkekeh melihat layar ponselnya membuat Kein sedikit menoleh.
‘’Kau melakukan apa lagi?’’ tanya Kein.
Kane memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan bukti transfer. ‘’Biasa, aku sedang bermain-main dengan Cordelia Raymond. Dan sepertinya Tuhan memihak kepada kita. Sambil Cordelia Raymond tertekan, pria itu telah muncul.’’
‘’Aa benar, rencana balas dendam kita sudah menjadi lengkap karena kedatangan orang itu,’’ kata Kein.
Flashback on
Kane tampak berpikir sehingga ia menyalakan laptop miliknya. ‘’Kalau tidak salah, orang ini selalu hadir di kompetisi masak juga. Dia selalu mengganggu pikiranku. Di mana aku pernah melihatnya, ya?’’
Kein hanya diam melihat adiknya sedang mengotak-atik sistem, dengan kata lain meretas untuk mengetahui informasi.
Klik!
Setelah Kane menekan enter, terukir senyuman miring di bibirnya. ‘’Hee~ kita bisa menggunakan ini untuk balas dendam kepada ayah.’’
‘’Pria ini … Dia salah satu Bookman W.O. G Peringkat 1 ... Jeremy Marlo,’’ kata Kein.
__ADS_1
‘’*Jadi dialah yang membocorkan rahasia tema kompetisi masak, kepada Cordelia agar Reon selalu menduduki peringkat 1. Kalau Nyonys Bookmaster sampai tahu hal ini, kurasa akan terjadi perang dunia di keluarga Raymond,’’ kata Kane.
Flashback off*
‘’Ya, Bookman W.O.G Peringkat 1, Jeremy Marlo. Pria itu akhirnya muncul secepat ini,’’ kata Kein.
‘’Kalau Cordelia-san menyuapnya dengan uang itu tidak mungkin. Jeremy-san seorang Bookman jadi kebutuhannya tidak perlu dibiayai. Mereka tidak memiliki hubungan apa pun, tapi Jeremy-san rela memberitahu rahasia tema kompetisi masak agar Reon selalu menduduki juara pertama, kecuali … Hee~ sepertinya ada sesuatu yang lebih menarik yang tidak kita ketahui,’’ kata Kane.
Kein menghela nafas. Tanpa melihat wajah adiknya itu, ia sudah tahu kalau mata Kane sedang berbinar-binar karena insting deduksinya kumat lagi.
......................
Ruang VVIP
Cordelia merasa terganggu dengan tatapan Jeremy yang selalu memantaunya sejak tadi. Apalagi rasa penasarannya meningkat setelah ia dan calon istri Kaji berkenalan tadi.
Aku sangat yakin kalau pendengaranku tidak salah. Suaranya benar-benar mirip dengan suara kakak. Apakah memang dia? Tidak, tidak, pembunuh bayaran hari itu memperlihatkan pisau yang dipenuhi darah kakak, jadi seharusnya wanita itu memang sudah meninggal. Tapi suaranya sangat menggangguku. Wanita itu juga ikut bersamanya, bukankah dia adalah sahabat kakak? Cih, aku harus cari cara agar wanita bernama Eve itu melepaskan kacamatanya, kata Cordelia dalam hati.
Vic yang memantau gerak-gerik Cordelia hanya tersenyum. Ia mengetik sesuatu di ponselnya.
Tidak lama kemudian, Eve melirik ke arah ponsel melihat notif pesan dari Vic. Ia itu mengerutkan dahi.
Kenapa Vic mengirimkan aku pesan? Jelas-jelas kami berdua duduk bersebelahan, kata Eve dalam hati.
Ia menggeser layar ponselnya dan membaca pesan itu.
Adik tirimu selalu memandangimu sejak tadi. Sepertinya dia merasa terganggu dengan kehadiranmu yang memiliki nama dan suara yang sama dengan kakak tirinya, wkwk.
Mata Eve dibalik kacamata beralih menatap Cordelia yang memang selalu memandanginya. Beruntung kacamata yang ia pakai itu lensanya satu arah, jadi pandangan mata bagi penggunanya tidak akan kentara oleh orang yang melihatnya.
Sekali lagi Eve menerima pesan dari Vic membuatnya menunduk.
Bukan adik tirimu saja, tapi Adam juga selalu memperhatikanmu. Kalau adik tirimu melihat suaminya memandangi wanita lain di depan istrinya, kurasa kau sendiri sudah tahu bagaimana reaksi adik tirimu itu, wkwk.
Eve tidak peduli mengenai hal itu dan membalas pesan Vic.
Sudahlah. Berhenti membahas mereka, atau mood-ku akan berubah menjadi buruk lagi. Aku hanya ingin fokus kepada kompetisi Kein.
...Visual Jeremy Marlo Bookman Rank 1...
__ADS_1