
Eve berbalik ke arah Kaji dan kedua anak kembarnya. “Kaji-kun, kau sungguh tidak akan menemaniku?”
Kaji hanya tersenyum manis dengan mata menyipit, membuat Eve menghela nafas panjang.
“Baiklah. Jaga Kane dan Kein,” kata Eve.
“Jangan khawatir. Aku akan menjaga mereka,” kata Kaji.
Kane dan Kein melambaikan tangan saat melihat Eve masuk ke dalam mobil.
Setelah memastikan kepergian wanita itu, Kaji berjalan masuk. “Kalian berdua bisa jaga rumah, kan? Lagi pula keamanan di sini ketat, jadi tidak ada yang akan masuk.”
“Paman Kaji mau ke mana?” tanya Kein.
“Aku akan menyusul Eve,” kata Kaji.
“Paman Kaji mau mengawasi ibu secara diam-diam?” tanya Kane.
Kaji menjentikkan jari yang lalu membentuk model pistol. “Binggo!”
Ia memerintahkan pelayan untuk mengambilkan mantel berbulu lebatnya, dan hendak memasuki limousine. “Itte kimasu(Aku pergi).”
“Itte irasshai(Hati-hati),” kata kedua anak kembar itu.
......................
RayMNDS Food’s
Setelah Eve masuk ke dalam, Kaji menuruni limousine dan juga berjalan masuk.
Eve memasuki ruang jamuan makan malam bersama Adam yang ditemani Sekretaris Rey. Sedangkan Kaji memasuki ruangan yang ada di sebelahnya.
Para pekerja restoran datang menyuguhkan hidangan. Ia mencicipi hidangan itu bersamaan Eve di ruang sebelah.
Kaji hanya santai menikmati itu semua hingga....
“Akh!”
Ia terhenti dari minumnya saat mendengar suara dari earphone.
Untuk berjaga-jaga, Kaji sudah memasang alat penyadap di pakaian Eve, agar mengetahui situasi di sebelah. Ia menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.
“Keluar!”
Kaji sedikit terbelalak karena suara tadi.
Itu suara Adam, kata Kaji dalam hati.
Ia menekan earphone di telinganya.
“Tuan Adam apa yang kau lakukan?!”
“Eve, kau Eve, kan? Kau ke mana saja selama ini? Lalu sekarang kenapa kau muncul sebagai calon istri Tuan Kaji?” tanya Adam.
“Tuan Adam, saya sudah menegaskan, kalau orang yang Anda maksud itu bukanlah saya!” tegas Eve.
“Pembohong!”
“Aku tidak berbohong! Lepaskan aku! Aku ingin pulang.”
Kaji meletakkan gelas berisi anggur ke meja.
__ADS_1
Sepertinya mereka bertengkar, ucapnya dalam hati.
“Kalau begitu, katakan padaku mengenai gelang di tanganmu ini? Gelang ini hanya dimiliki oleh keluarga Raymond dan tidak duanya. Dari mana kau mendapatkannya?”
Kaji mengerutkan dahi mendengar hal itu.
Gelang? Kalau tidak salah Eve memang memakai sebuah gelang giok saat aku berjumpa pertama kali dengannya. Jadi itu adalah gelang turunan dari keluarga Raymond? Ternyata dia benar-benar menantu keluarga Raymond, kata Kaji dalam hati.
Ia kembali menyimak pembicaraan.
“Kenapa kau diam? Kau tidak bisa mencari alasan lagi untuk berbohong? Kenapa kau selalu saja membohongiku?!” seru Adam.
“Cukup! Aku sudah tidak tahan dengan omong kosong Anda Tuan Adam! Namaku memang Eve, tapi aku bukan orang yang Anda maksud,” kata Eve.
Kaji menoleh karena tidak mendengar apa pun lagi, membuatnya sedikit curiga.
“Tuan Adam! Aku ini calon istri dari seseorang, bersikaplah lebih bijak!”
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi kali ini.”
Ceklek!
Saat itu juga Sekretaris Rey tertegun melihat Kaji keluar dari ruangan sebelah yang berjalan ke arahnya. Ia membungkuk sedikit. “Tuan Kaji, Anda di sini?”
“Buka pintunya!” perintah Kaji.
Namun, melihat Sekretaris Rey hanya diam sambil menunduk, membuat Kaji menggesernya.
“Tuan Adam, Anda ini benar-benar gila! Hentikan!”
Ceklek!
Saat itu juga Sekretaris Rey berbalik saat melihat ke dalam ruangan, kecuali Kaji yang sudah memasang raut wajah dingin.
......................
Perjalanan...
Kaji mengepalkan tangan mengingat semua itu. Ia menoleh ke arah Eve yang masih gemetar sambil terisak.
“Eve, tenanglah. Aku ada di sini,” kata Kaji memegang bahu wanita itu.
Eve dengan mata memerah menoleh. “Kenapa kau ada di sana? Bukankah kau bilang tidak ingin menemaniku?”
“Dasar bodoh. Aku sudah berjanji akan melindungimu, kenapa aku harus tidak datang?” tanya Kaji.
Mendengar ucapan pria itu berhasil membuat Eve menangis. Ia menundukkan kepalanya.
Melihat hal itu membuat Kaji menariknya ke dalam pelukan. Eve tidak menolak dan hanya menangis.
Kaji bisa merasakan bagaimana gemetarnya wanita yang ia peluk itu sekarang.
Saat Adam hendak menidurinya tadi, sepertinya Eve masih trauma, kata Kaji dalam hati.
......................
Kediaman Kamiya di Indonesia
Ceklek!
“Selamat datang Tuan Muda, Nona Muda,” salam para pelayan membungkuk.
__ADS_1
Kane yang menonton kasus pembunuhan di TV, dan Kein yang sibuk dengan majalah-majalah kuliner di ruang tamu, menoleh ke arah pintu menyadari kedatangan 2 orang tadi.
“Ibu dan Paman Kaji sudah datang,” kata Kane menghampiri disusul Kein.
Deg!
Kedua anak kembar itu terbelalak saat melihat wajah Eve.
“Eh? Ibu habis menangis?” tanya Kane.
“Apa yang terjadi?” tanya Kein.
“Tidak ada apa-apa. Eve-chan hanya kelilipan saat keluar dari restoran. Kalian berdua pergilah ke kamar untuk istirahat. Aku dan Eve juga akan beristirahat,” kata Kaji mengantar Eve.
Kedua anak kembar itu masih menatap kepergian 2 orang itu.
Kane mengerutkan dahi. “Mereka berbohong. Mantel berbulu lebat milik Paman Kaji dipakaikan kepada ibu, lalu ada noda setengah kering di kameja milik paman Kaji.”
Deduksi di saat seperti ini? Haa, kata Kein dalam hati.
Kein menatap adiknya yang menopang dagu sambil berpikir.
“Stt, aku tidak ingin mengakui deduksiku ini. Tapi sepertinya Adam Raymond melakukan sesuatu kepada ibu, lalu paman Kaji datang, dan akhirnya ibu menangis dipelukannya,” kata Kane.
Dengan cepat, Kane berlari ke arah kamar sedangkan Kein hanya menghela nafas sambil menyusul dengan berjalan tenang.
......................
Kamar Kane & Kein
Kein masuk dan melihat adiknya menyalakan komputer sambil melakukan aksi meretasnya lagi. Karena keluarga Raymond hanya memiliki satu restoran terbesar di Indonesia, membuat Kane lebih mudah menemukan mereka.
“Ada satu kamera CCTV yang tidak bisa kumasuki. Sepertinya ini ruangan yang digunakan ibu bersama Adam Raymond,” kata Kane.
Namun, terukir senyuman miring di bibirnya karena meskipun begitu, ia tetap bisa menelusuri CCTV tersebut. “Harga diriku sebagai hacker akan jatuh, kalau hal sekecil ini tidak bisa kuatasi.”
Klik!
Kedua anak kembar itu pun menyaksikan rekaman CCTV sampai selesai.
Bugh!
Kane meninju meja belajarnya dengan perasaan marah. “Adam Raymond ini benar-benar membuatku emosi! Beraninya dia memperlakukan ibu sepert ini.”
“Jika saja Paman Kaji tidak datang, kurasa kita tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Kein.
“Setelah membuang kita, dia memaksa ibu untuk kembali lagi? Heh, benar-benar tidak tahu malu!” kesal Kane.
“Berbeda dengan Paman Kaji yang menghargai wanita, Adam Raymond adalah kebalikannya,” kata Kein.
“Tentu saja. Itu karena dia adalah pria dingin dan tidak berperasaan. Aku jadi heran kenapa dulu ibu mau menikah dengannya? Kenapa ibu tidak menikah saja dengan Paman Kaji, dengan begitu keluarga kita akan bahagia,” kata Kane.
“Kalau ibu menikah dengan Paman Kaji, berarti kita berdua tidak akan lahir, itu beda lagi ceritanya. Aku jadi ragu, apakah kau benar-benar genius deduksi?” tanya Kein.
Kane memasang raut wajah cemberut. “Aku ini sedang marah jadi tidak bisa berpikir jernih.”
Kein tidak peduli. “Tapi, tindakan Adam Raymond ini, aku tidak akan memaafkannya. Aku akan membalasnya di kompetisi masak yang akan diadakan besok.”
“Mari kita berikan keluarga Raymond pertunjukkan sedikit demi sedikit. Akar dari permasalahan ini berawal dari dia. Kalau begitu, yang pertama kali harus mendapatkan hadiah adalah orang itu,” kata Kane.
......................
__ADS_1
Kediaman Raymond
Wanita itu menatap dirinya di cermin yang tidak lain adalah Cordelia.