
Cordelia mengerjapkan matanya berulang kali, memastikan ia tidak berhalusinasi. Melihat keempat orang itu masuk ke dalam rumah, membuatnya benar-benar tidak percaya.
‘’Silahkan masuk!’’ sambut Pak Percy mempersilahkan.
Sambil Tuan Moriarty dan Adam dipersilahkan duduk, Eve menghampiri ayahnya. Ia menanyakan bagaimana kondisinya sekarang, dan ayahnya berkata kalau dirinya baik-baik saja.
Tuan Moriarty mengkode sekretaris Rey. Pak Percy dan bu Christa melihat banyak bungkusan mahal. Mereka menatap Tuan Moriarty dengan maksud mereka telah merepotkan. Tuan Moriarty mengatakan kepada mereka untuk tidak merasa seperti itu.
Cordelia terus memandangi Adam dengan rasa kagum. Sekali lagi, ia melihat belahan jiwanya. Apalagi pria itu sampai menginjakkan kaki di rumahnya. Ia tersentak saat Adam menatapnya, dengan cepat ia membuang pandangannya.
Dia menatapku! Ya! Dia menatapku! Kami berdua saling bertatapan! Astaga, senang Cordelia dalam hati.
Namun, melihat tingkah Cordelia, membuat Adam tidak peduli sama sekali. Ia malah memandangi istrinya yang sedang berbicara kepada ayahnya.
Cordelia mengikuti lirikan Adam yang berakhir ke Eve. Spontan raut wajahnya berubah. Melihat Adam menatap kakak tirinya sejak tadi tanpa mengalihkan pandangannya, membuat rasa cemburu yang amat kuat timbul dalam hatinya. Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu.
‘’Ayah sungguh sudah merasa baik, kan? Wajah Ayah masih pucat seperti kemarin.’’
‘’Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa. Setelah meminum obat aku sudah merasa lebih baik.’’
Eve menghela nafas lega, meskipun dirinya masih saja khawatir.
‘’Aku sangat beruntung memiliki menantu seperti dirinya. Putrimu memiliki sesuatu yang bisa membuat orang lain menyukainya. Aku jadi merasa pertemuan kita waktu itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan karena takdir,’’ kata Tuan Moriarty.
Adam menunduk memberi hormat kepada orang tua Eve.
‘’Tapi apakah tidak apa-apa, putramu menikahi putriku yang dari kalangan biasa? Bagaimana dengan kerabatmu yang lain?’’ tanya Pak Percy merasa sedikit tidak enak.
Tuan Moriarty terkekeh pelan. Ia menyuruh sahabatnya itu agar tidak berpikiran yang tidak-tidak.
‘’Tuan Besar sungguh murah hati dan bijaksana.’’
Mendengar ucapan bu Christa, membuat Eve dan Adam spontan memandangi Tuan Moriarty. Kedua orang itu membantah pernyataan bu Christa dalam hati. Jika saja, ia tahu bagaimana sosok yang sebenarnya dari pria itu, kurasa bu Christa tidak akan percaya.
Tiba-tiba ponsel Eve bergetar, membuatnya melirik sekilas. Raut wajahnya langsung berubah setelah melihat layar ponselnya. Ia kembali tersenyum dan meminta waktu sebentar ke kamar mandi.
Adam yang melihatnya, mengerutkan dahi. Ia menatap kepergian istrinya menuju ke dalam sampai wanita itu menghilang.
__ADS_1
......................
Dapur
Cordelia mematikan ponselnya saat Eve sudah datang.
‘’Kenapa kau memanggilku?’’ tanya Eve dengan raut wajah tidak suka.
‘’Hoo, sepertinya kau lupa kalau aku mengetahui rahasia terbesarmu.’’
Eve mengerutkan dahi. Adiknya benar-benar memanfaatkan kejadian itu sebagai kelemahannya, meskipun faktanya memang benar. Ia menghela nafas dengan perasaan terpaksa. ‘’Jadi, kenapa kau memanggilku kemari?’’
Cordelia menatap bahan-bahan di depannya, membuat Eve juga mengikuti arah lirikan adik tirinya.
‘’Ayah menyuruhku memasak untuk menyambut kedatanganmu. Tapi kau sendiri tahu kalau aku tidak pintar memasak. Apalagi kau datang membawa kedua pria itu, jadi segeralah memasak!’’
Melihat Eve hanya diam tanpa bergerak, membuat Cordelia mengerutkan dahi tanda kesal. Ia kembali mengancam kakak tirinya dengan kejadian di hotel, membuat Eve menuruti kemauannya.
......................
Ruang Tamu
‘’Aroma ini,’’ kata Tuan Moriarty.
Seperti yang dikatakan ayahnya, Adam juga mengenali aroma tersebut. Aroma yang sama saat Eve membuat hidangan kesukaan milik ibunya. Kebetulan, wanita itu juga berjalan masuk ke dalam tadi.
Butuh beberapa saat Eve muncul dan menghampiri mereka. Wanita itu mengajak semua yang ada di ruang tamu agar ke ruang makan. Sesampainya di sana, semua terbelalak melihat hidangan sudah tertata rapi di meja makan.
Meskipun ruang makan sedikit sempit, tapi tidak menghalangi mereka untuk menikmati hidangan yang mengundang selera. Pak Percy mempersilahkan agar mereka duduk di kursi. Awalnya Eve mengira mertua dan suaminya itu tidak merasa puas dengan perlengkapan yang tidak memadai dari keluarganya. Tapi tidak disangka, kedua pria itu menyantap hidangan tersebut seperti biasa saat mereka di kediaman.
‘’Wah enak sekali, hidangan ini membuat nafsu makanku meningkat,’’ puji bu Christa.
‘’Bagaimana? Masakan putrimu sangat enak, kan? Karena itulah aku menyukai putrimu,’’ kata Tuan Moriarty.
‘’Ma-Maaf, tapi yang membuat hidangan ini bukan Kakak Eve, tapi aku.’’
Semua langsung terdiam dan menatap Cordelia dengan tampang tidak percaya.
__ADS_1
‘’Dia juga pintar memasak, ya? Wah, aku tidak menyangka kedua putrimu memiliki bakat memasak yang hebat,’’ puji Tuan Moriarty.
Cordelia melirik Adam yang menyantap hidangan itu.
Adam memastikan rasa dan ketepatan setiap bumbu di dalam hidangan.
Memiliki kemampuan yang sama dalam dunia memasak itu masih wajar. Tapi jika 2 orang bisa memasak hidangan dengan rasa yang sama, dan akurat itu sangat mustahil. Awalnya, aku sangat yakin kalau hidangan ini buatan Eve, karena dia masuk ke dalam. Rasa ini juga rasa yang sama saat Eve sering membuatnya sebagai sarapan. Tapi wanita yang satu itu bilang kalau dia yang memasaknya? Hm, kata Adam dalam hati.
‘’Namamu Cordelia, kan?’’
Cordelia terbelalak karena Adam menanyakan namanya. Ini pertama kalinya belahan jiwanya itu menyebut namanya secara langsung dari mulutnya. Melihat kondisi menguntungkan itu, membuat bu Christa angkat bicara. Ia memuji putrinya di depan 2 orang berpengaruh itu.
Namun, melihat tatapan Adam membuat Cordelia sedikit merasa tidak nyaman.
‘’Aku ingin bertanya, apakah kau bisa mendeskripsikan hidangan yang kau sajikan ini?’’
Deg!
Cordelia dan bu Christa tersentak. Kedua wanita itu terdiam membisu, dan saling memandang. Cordelia mengira dirinya akan diuntungkan setelah memanfaatkan kemampuan memasak kakak tirinya, tapi malah menjadi boomerang. Ia kembali melirik Adam yang masih memandanginya datar lalu beralih ke kakak tirinya. Eve hanya diam tanpa membantunya.
‘’Hidangannya, hidangannya,’’ kata Cordelia kaku.
Sial! Apakah kakak sengaja diam? Aku sudah memintanya untuk membantuku tapi dia mengacuhkanku! Kurang ajar, katanya dalam hati.
‘’Nona Cordelia?’’ kata Adam memanggilnya sekali lagi.
Dengan tangan gemetar, Cordelia mengepalkan tangan. Urat di lehernya sudah menegang. Ia memejamkan matanya sesaat, disertai gertakan gigi yang tidak terlalu diperlihatkannya.
‘’Sebenarnya ... Kakak yang membuat hidangan ini, dan aku hanya membantunya. Jadi aku tidak bisa mendeskripiskannya secara lengkap.’’
Bu Christa membuang muka karena menahan malu. Adam sudah menduga hal itu, membuatnya kembali menyantap hidangan tadi.
Sama halnya pak Percy, rasa malu telak mengenai wajahnya. Ia tidak menyangka putrinya yang satu itu menggunakan masakan Eve sebagai buatannya.
Suasana langsung menjadi canggung, membuat Tuan Moriarty kembali menyantap hidangan itu.
‘’Hehe tidak apa-apa. Eve bisa membantumu memasak. Kau bisa belajar dari kakakmu itu.’’
__ADS_1
Emosi Cordelia sudah memuncak. Sejak tadi ia berusaha menahannya. Matanya memerah memandangi Eve.
Aku sudah mencapai batasanku. Penghinaan ini, kau akan menerima balasannya! Tunggu saja, katanya dalam hati.