
Eve terbangun menyadari hari sudah pagi. Ia pun bangkit sambil melirik ke samping. Melihat Adam tertidur dengan tenang, membuatnya mengingat kejadian kemarin malam saat dirinya hampir ditiduri oleh suaminya itu. Wajahnya kembali murung.
Seperti biasa, Eve akan bangun pagi untuk membuatkan sarapan untuk mereka, meskipun Tuan Moriarty sudah mengingatkannya agar tidak perlu melakukan hal itu. Padahal, dalam hatinya ia sebenarnya menginginkan menantunya itu memasak setiap hari. Setelah ujian yang diberikannya, ia sering kali menyuruh Eve membuatkannya hidangan.
Tak lama kemudian, Adam muncul mengenakan jubah handuk mandi. Tuan Moriarty yang melihatnya, langsung memandangi mereka berdua secara bergantian dengan tatapan mencurigakan.
‘’Hmm, sepertinya aku akan punya cucu dalam waktu dekat.’’
Wajah Eve spontan memerah, meskipun pada akhirnya mereka tidak melakukannya. Adam hanya memasang raut wajah datar tanpa memberitahu ayahnya kalau mereka sama sekali tidak melakukannya.
Tuan Moriarty masih tersenyum sambil melirik putranya, membuat Adam sedikit merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
‘’Ada apa?’’ tanya Adam datar.
‘’Jadi, bagaimana semalam? Kau tidak terlalu kasar kepadanya, kan?’’
Mendengar pertanyaan ayahnya itu, membuat Adam melirik Eve sekilas. Tuan Moriarty semakin memasang tatapan mencurigakan.
Adam menjawabnya dengan satu kalimat yang singkat. ‘’Tidak.’’
Tuan Moriarty semakin geli, membuat Adam mengerutkan dahi. Tidak ingin melihat ayahnya yang salah terus menerus, membuatnya mengatakan hal yang sebenarnya.
‘’Kami tidak melakukannya tadi malam.’’
Seperti mendengar kabar buruk, Tuan Moriarty membulatkan mata sambil meletakkan garpu dan pisau ke meja dengan kasar. ‘’Apa?! Tapi kau mengenakan jubah handuk mandi.’’
Adam menjelaskan kepada ayahnya kalau Eve masih belum siap untuk disentuh, jadi ia memberikan keringanan sampai istrinya sudah siap. Pria itu spontan menatap Eve dengan raut wajah layaknya bayi yang ingin menangis. Melihat hal itu membuat Eve tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
‘’Ayah, kita ini sedang sarapan, kita bisa membahasnya lain kali.’’
Dengan terpaksa, Tuan Moriarty menyantap sarapan. Ia juga sebenarnya tidak bisa memaksakan kehendaknya kepada anak dan menantunya itu.
‘’Ya sudah, setelah sarapan, kita pergi mengunjungi pak Percy.’’
Rumah Keluarga Laurence
‘’Cordelia? Cordelia? Cordelia!’’
‘’Ada apa, suamiku?’’ tanya bu Christa masuk ke dalam kamar karena mendengar suaminya itu meneriaki putrinya sejak tadi.
‘’Di mana Cordelia?’’
Wanita itu terdiam saat suaminya menanyakan keberadaan Cordelia. Pak Percy mengerutkan dahi melihat istrinya hanya diam saja, membuatnya bertanya sekali lagi.
‘’Ah, Cordelia? D-Dia sedang memasak untuk menyambut Eve.’’
__ADS_1
‘’Memasak? Dia sudah bisa memasak dalam satu hari?’’ tanya pak Percy merasa sedikit ragu.
Bu Christa mengangguk dan meyakinkan suaminya kalau putri mereka memang sudah bisa memasak. Ia bahkan menawarkan untuk membawakan masakan Cordelia, tapi suaminya menolak agar menyimpan masakan itu untuk Eve nanti.
‘’Kalau begitu, aku akan ke dapur untuk membantu Cordelia. Ah apakah kau sudah meminum obat sayang?’’
Pak Percy mengangguk, hingga akhirnya bu Christa mengeluari kamar.
‘’Gawat! Kenapa aku melupakan hal itu?!’’
......................
Kamar Cordelia
Bu Christa membuka pintu dengan kasar. Matanya membulat besar melihat putrinya masih tidur di kasur. Ia pun menghampirinya dan menyuruhnya bangun.
‘’Cordelia! Apa yang kau lakukan? Cepat bangun!’’
Cordelia mengerutkan dahi dan menutupi dirinya selimut, membuat bu Christa menarik selimut itu dengan kasar.
‘’Cordelia! Cepat bangun! Ayahmu akan semakin menilaimu buruk. Kau lupa? Eve akan datang kemari dan ayahmu baru saja memanggilmu. Beruntung aku mengambil alasan kalau kau sedang memasak untuk menyambut Eve.’’
Dengan cepat, Cordelia bangkit dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
‘’Tapi aku tidak bisa memasak. Kenapa Ibu berkata seperti itu kepada ayah?’’
‘’Eish, kenapa harus seperti ini?!’’ gerutu Cordelia bergegas bangkit.
......................
Kediaman Raymond
Sekretaris Rey membukakan pintu untuk Tuan Besar, Tuan Muda dan Nona Muda yang akan berkunjung ke rumah keluarga Laurence.
......................
Kamar pak Percy
Pria itu bersandar sejak tadi sambil memejamkan mata. Ia masih memikirkan perkataan istrinya tadi, yang mengatakan kalau Cordelia sedang memasak untuk menyambut kedatangan Eve.
Aku sebenarnya ingin mempercayai ucapan Christa, tapi jika Cordelia memang sedang memasak, seharusnya aku mencium aroma masakannya sejak tadi. Jarak dapur dan kamarku sedikit dekat. Saat Eve memasak, aku selalu mencium aromanya, tapi Cordelia tidak, ucapnya dalam hati.
Karena merasa curiga, membuat pak Percy ingin menyaksikannya secara langsung. Ia bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar untuk menuju ke dapur.
......................
__ADS_1
Perjalanan…
Sebelum mereka menuju ke rumah keluarga Laurence, sekretaris Rey kembali masuk ke dalam mobil setelah dirinya membawa beberapa bungkusan.
‘’Sudah lama sejak aku mengunjungi Pak Percy terakhir kali. Jadi sekalian kubawakan bungkusan untuknya,’’ kata Tuan Moriarty.
......................
Dapur
Cordelia meringis karena terkena cipratan minyak berulang kali membuatnya menggerutu kesal.
‘’Aduh! Aku tidak bisa melakukannya! Kulitku terasa sakit sekali!’’
‘’Ush! Kecilkan suaramu! Bagaimana kalau ayahmu dengar?’’
Cordelia meringis kesakitan. Ia menyeka matanya karena sedikit menangis. Sama halnya dengan bu Christa, wanita itu meringis kesal karena belum ada satu pun masakan yang jadi.
Karena tubuhnya masih belum dalam keadaan stabil, membuat pak Percy sedikit lambat menuju ke dapur. Satu langkah kaki lagi maka ia akan tiba. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara mesin mobil.
Bu Christa dan Cordelia tertegun. Kepanikan mereka berlipat ganda saat mendengar suara mobil terhenti dari luar.
‘’Oh tidak, jangan katakan padaku kalau Eve sudah datang,’’ tatap bu Christa panik.
Wanita itu bergegas menuju pintu, namun ia dikagetkan oleh suaminya yang berdiri memandangi pintu depan.
Ha?! Apakah dia melihatku dan Cordelia tadi? Jika iya maka habislah aku, kata bu Christa dalam hati.
Pak Percy kembali menoleh ke arah istrinya yang sudah gugup sejak tadi.
‘’Su-Suamiku? Kenapa kau ada di sini?’’ tanya bu Christa.
‘’Aku hendak ingin melihat Cordelia, tetapi suara mobil tiba-tiba mengalihkan perhatianku.’’
Wanita itu menghela nafas lega. Ternyata suaminya masih belum sempat melihat mereka berdua tadi. Itu berarti, dia dan putrinya masih aman. Ia menggandeng lengan suaminya.
‘’Kalau begitu, ayo kita sambut Eve. Itu pasti dia!’’ ucapnya menarik pria itu pergi.
Sekretaris Rey menuruni mobil dan membukakan pintu mobil. Muncul sosok Eve bersama Adam dan Tuan Moriarty. Tidak lupa, sekretaris Rey mengambil bungkusan tadi. Mereka menaiki teras rumah. Belum sempat sekretaris Rey menekan bel, pintu itu sudah terbuka.
Pak Percy dan Bu Christa dikagetkan dengan kehadiran Tuan Moriarty dan Adam yang ternyata ikut berkunjung.
Cih! Jika tahu Tuan Besar dan Tuan Muda juga ikut berkunjung, seharusnya aku dan Cordelia memakai pakaian yang layak. Tapi bagaimana ini? Hidangan untuk menyambut mereka belum ada satu pun yang selesai. Tadi saja sudah keberuntungan karena suamiku belum sempat melihat ke dapur. Tapi ini?! Astaga, cemas bu Christa dalam hati.
Cordelia yang mengintip dari dalam langsung membulatkan mata.
__ADS_1
Adam datang?! Ini bukan mimpi, pekiknya dalam hati.