Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 134 Munculnya 2 Penantang Iblis [END]


__ADS_3

12 tahun kemudian…


Indonesia


Eve menghela nafas panjang sambil mendaratkan kepalanya ke meja.


Flashback on


‘’Kami akan menerima pernikahan kalian, tapi dengan satu syarat. Kedua anak kembarmu harus tetap berada di Jepang untuk mengabdikan diri mereka sebagai simbol persatuan kedua keluarga,’’ kata Nyonya Zekino.


‘’Eh? Persatuan keluarga?’’ tanya Nyonya Mary.


Nyonya Zekino mengangguk. ‘’Akademi Chrysos milik keluarga Raymond akan digabung dengan akademi keluarga Kamiya, dan akan di dirikan di Jepang. Dengan begitu, hubungan kita semakin dekat, kan?’’


‘’Ohohoho, tentu saja. Selama hubungan kita baik, aku tidak mempermasalahkan,’’ kata Nyonya Mary.


‘’Ohohohohoho~ benar sekali,’’ tawa keduanya.


Semua hanya tersenyum kaku melihat kedua wanita itu. ‘’Sejak kapan mereka begitu akrab?’’


Flashback off


Eve kembali menghela nafas begitu juga dengan Vic.


‘’Ada apa denganmu?’’ tanya Sekretaris Rey.


‘’Aku merindukan Hokuto-kun. Kami berdua menjalani LDR setelah menikah, dan hanya bertemu sesekali,’’ kata Vic.


‘’Kalau begitu, kenapa kita tidak ke Jepang saja? Terakhir kali kita berkunjung, 2 tahun yang lalu,’’ kata Adam.


Eve dan Vic bersamaan memukul meja dengan rasa semangat. ‘’Sungguh?!’’


Adam mengangguk dengan wajah kakunya, membuat kedua wanita itu merasa senang.


‘’Kau sangat bersemangat bertemu Hokuto,’’ kata Sekretaris Rey.


‘’Sejak Vic dan Hokuto-kun menikah, kau tidak pernah lagi menggoda Vic. Kupikir kau menyukainya,’’ kata Eve.


‘’Eve, kau ini bicara apa?’’ tanya Vic.


‘’Sepertinya Nona Eve salah paham. Sejak awal aku tidak memiliki perasaan suka kepada Vic,’’ kata Sekretaris Rey.


‘’Kalau kau tidak memiliki perasaan suka, lalu kenapa kau suka menggodanya?’’ tanya Eve.


Sekretaris Rey mengambil sesuatu dalam saku kamejanya. Ia tersenyum sambil memperlihatkan sebuah foto keluarga. ‘’Itu karena Vic adalah adikku.’’


‘’APA?!’’ seru semuanya.


......................


Jepang


Sementara itu, terdengar bunyi kamera yang mengambil gambar di TKP.


Seorang ilmuwan baru saja tewas dan mayatnya ditemukan di sekitar sungai. Petugas polisi mendatangi lab milik ilmuwan tersebut dan tidak menemukan apa pun yang mencurigakan. Semua tertata rapi dan bersih di tempatnya. Tidak terlihat sesuatu yang memperlihatkan aksi pembunuhan.


Petugas polisi masih melakukan pemeriksaan di lab dan di sekitar sungai, sambil empat orang dipantau oleh Inspektur dan dua detektif.


‘’Chotto, kami sudah memberikan saksi, kenapa masih menahan kami di sini?’’ tanya seorang wanita.


‘’Benar. Kalian sudah memeriksanya kalau dia bunuh diri karena depresi,’’ kata seorang pria.


‘’Inspektur, berhenti mengulur waktu kami! Sebentar lagi timku akan menghadiri tournament,’’ kata seorang remaja pria.


‘’Aku akan melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib jika kalian masih menahan kami,’’ kata seorang pria seumuran korban.


Inspektur tersenyum kaku. ‘’Mohon sabar menunggu, sebentar lagi dia akan datang.’’


Keempat orang itu mengerutkan dahi. ‘’Dia siapa maksud Anda?’’


Saat itu juga muncul seorang remaja laki-laki berambut hitam menggunakan blazer berbulu. Keempat orang itu tertegun melihat sosok tersebut.


‘’Akhirnya datang juga,’’ senang Detektif Ryugen.


‘’Dia Si Iblis Deduksi?!’’ pekik keempat orang itu.


Kane tersenyum membuat keempat orang tadi bergidik karena senyuman. ‘’Aku sudah mendengar situasinya setelah mengunjungi lab Tuan Shimuno. Dan keempat orang ini….’’


‘’Aa, dia adalah Moyo Toto, teman sekolah Shimuno-san. Istrinya, Shimuno Rias dan Nicolas keponakannya, serta Hiromatsu Raka, teman sesama ilmuwan. Mereka berempat adalah orang terakhir yang mengunjungi Tuan Shimuno sebelum korban meninggal,’’ kata Detektif Ryugen.


‘’Kami juga sudah memeriksa kedua TKP dan tidak ada bukti yang menunjukkan Tuan Shimuno dibunuh. Sepertinya dia memang benar-benar bunuh diri karena depresi,’’ kata Detektif Ryugen.


Sebelah alis Kane terangkat. ‘’Depresi?’’


Inspektur mengangguk. ‘’Akhir-akhir ini, Shimuno-san selalu melakukan kesalahan di lab. Setelah gagal memperkenalkan penemuannya, Shimuno-san mendapat banyak cacian.’’

__ADS_1


‘’Humph! Hiromatsu-san berada di tim yang sama dengan Shimuno-san. Mungkin dia yang membunuh temanku karena reputasinya juga ikut menurun. Shimuno-san sempat memberitahuku kalau dia ada cekcok dengan dirimu,’’ kata Toto.


‘’Me-Memang benar aku bertengkar dengannya. Tapi bukan aku yang membunuhnya. Aku mengunjungi lab untuk meminta maaf tapi dia tidak ada,’’ kata Hiromatsu.


Keempat orang itu saling menuduh membuat Inspektur dan yang lainnya dibuat bingung.


‘’Sudah cukup! Pembunuhnya memang ada di antara kalian berempat,’’ kata Kane.


Inspektur dan kedua detektif itu senang karena Kane pasti bisa mengetahuinya. ‘’Jadi Kane-kun sudah tahu siapa pembunuhnya?’’


‘’Tentu saja. Han’nin wa anata-desu! Yang membunuh Shimuno-san adalah ka—‘’


‘’Shimuno Nicolas, kaulah pembunuhnya!’’


Deg!


Kane tersentak begitu juga dengan semua orang setelah mendengar suara tadi. Mereka pun berbalik dan melihat sosok gadis yang berdiri menuruni mobil.


Gadis itu tersenyum sedangkan Kane memasang raut wajah serius.



‘’Yang membunuh Shimuno-san adalah keponakannya sendiri. Am I wrong?’’ tanya gadis itu.


‘’Siapa kau yang langsung datang memotong?’’ tanya Detektif Ryugen.


Gadis tadi tersenyum. ‘’Inspektur belum memberitahu mereka?’’


‘’Aa ha ha, dia adalah Takehiro Airin, seorang detektif dan sudah memecahkan banyak kasus di London. Dia orang Jepang tapi menetap di luar negeri. Airin-san ikut kemari karena urusan orangtuanya.’’


Kane terbelalak, ternyata ada juga detektif lain seperti dirinya yang memecahkan kasus. Airin tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.


‘’Tunggu, apa maksudnya aku yang membunuh pamanku sendiri?’’ tanya Nicolas.


Kane hendak memperlihatkan selembar kertas ke arah mereka semua.


‘’Sangat aneh jika ada selembar kertas yang dibiarkan di atas meja tanpa membersihkannya,’’ kata Airin.


‘’Aku sempat melihat kertas itu tapi tidak terlalu mempedulikannya. Sebab, hanya tertulis zat-zat kimia,’’ kata Detektif Erimi.


‘’Siapa pun yang melihatnya juga akan berpikir seperti itu. Tapi sayang sekali karena kertas itu adalah bukti kuat yang ditinggalkan oleh korban. Sepertinya Shimuno-san mengetahui niatmu yang akan membunuhnya, sehingga dia menulis zat-zat itu saat kau sudah ada di labnya,’’ kata Airin.


‘’Tapi itu hanya sebuah nama zat kimia,’’ kata Detektif Ryugen.


‘’Nikel, Karbon, Oksigen, Lanthanum dan Sulfur. Simbol dari keempat zat itu membentuk nama pelakunya, dan jika kita mengejanya maka akan terbentuk Ni-C-O-La-S, Nicolas!” kata Airin.


‘’Not bad. Sepertinya aku merebut peranmu. Aku hanya penasaran mengenai Si Iblis Deduksi, jadi aku datang untuk melihatnya ... And nothing special. Karena aku akan berada di Tokyo sedikit lebih lama, kenapa tidak serahkah saja setiap kasus di sini kepadaku?’’ kata Airin memprovokasi.


Mata Kane memicing. ‘’Kau berada di Tokyo, dan Jepang adalah sarangku. Tidak peduli kau adalah detektif yang hebat, tapi kau belum seberapa dengan Si Iblis Deduksi seperti diriku.’’


‘’Hm~ kalau begitu mari bertaruh. Sebelum aku meninggalkan Tokyo, orang yang paling banyak memecahkan kasus adalah pemenangnya. Deal?’’ kata Airin.


Kane tersenyum remeh. ‘’Kochira koso(Seperti yang kau katakan).’’


Kedua remaja itu saling bertatapan setelah mengajukan perang.


......................


Tampak sosok remaja pria mengikuti remaja pria berambut putih seumurannya.


‘’Jadi, masakan apa lagi selanjutnya Reon?’’


‘’Kau diminta menjuri ujian perpindahan,’’ jawab Reon.


Remaja berambut putih yang tidak lain adalah Kein hanya menghela nafas. ‘’Jadi pekerjaan ini yang aku dapat setelah bergabung dengan dewan eksekutif.’’


‘’Aku ke sana setelah ganti pakaian.’’


......................


Akademi KaRa


Sekolah masak yang baru-baru ini dibangun dari hubungan dua keluarga ternama. KaRa sendiri adalah singkatan dari Kamiya dan Raymond. Sekolah masak tertinggi dimana para koki dari seluruh penjuru dunia bisa memasukinya melalui tes.


Karena akademi tersebut bergengsi, tentu saja untuk masuk ke dalamnya tidaklah mudah. Murid yang ingin masuk harus menyiapkan mental, dan juga harus menyiapkan diri untuk pulang jika gagal tes. Seperti ratusan murid yang sedang menatap sosok di hadapan mereka.


‘’Hei, apakah itu….’’


‘’Y-Ya….’’


Dia putra keluarga yang mengelola restoran Prancis. Orang yang ada di sana adalah pewaris restoran terkenal. Lalu orang yang di sana mengelola bisnis masakan laut yang dikirimkan ke seluruh restoran terkenal. Murid pindahan kali ini lebih banyak dari sebelumnya, kata anak berambut putih dalam hati.


‘’Salam, para pendaftar pindahan. Kamiya Kein-desu, dan aku akan menjuri ujian masuk hari ini seperti biasa,’’ kata Kein.


‘’Di-Dia yang menjuri lagi?!’’

__ADS_1


‘’Sepertinya kabar itu memang benar, kalau dia yang menjuri untuk ujian pindahan di akademi ini.’’


‘’Pertama para pendaftar akan diwawancara ke dalam 10 kelompok berdasarkan formulir. Kalian akan menerima praktikum memasak tiga hidangan. Lalu me—‘’


‘’Tidak perlu. Hasilnya akan tetap sama. Bawa meja kerja dapurnya sekarang!’’ perintah Kein memotong ucapan Reon.


‘’Apa yang dia inginkan?’’


‘’Hm, sepertinya aku memiliki firasat buruk.’’


Kein mengambil salah satu bahan masakan. ‘’Bahan utamanya adalah keju. Buat satu hidangan! Aku akan mengijinkan hidangan siapa saja yang bisa membuatku terkesan untuk masuk ke akademi ini. Lalu ... Aku juga akan mengijinkan bagi mereka yang ingin mundur untuk membatalkan pendaftaran mereka dalam waktu 1 menit.’’


‘’Kau?’’ tatap Reon habis pikir.


‘’Apa? Satu menit?!’’


‘’Aku mundur!’’


Keributan langsung terjadi karena ratusan orang itu berlomba meninggalkan ruangan tersebut dalam waktu satu menit.


Reon yang melihatnya hanya memasang wajah bodoh. ‘’Kenapa kau melakukan hal ini? Bagaimana kalau Tuan Besar mengetahuinya?’’


‘’Sudah aku bilang, hasilnya akan tetap sama. Tidak ada yang akan bertahan, padahal tesnya sangat mudah,’’ kata Kein.


‘’Heh, apanya yang mudah? Kau punya selera yang sangat tinggi. Kejeniusan yang diperlihatkan sejak lahir, membuatmu menjadi penguji rasa untuk restoran-restoran terkenal dari penjuru dunia. Semua kelas berat di dunia kuliner adalan klien-mu. Penilaianmu telah menyebar dan terkenal ke seluruh industri makanan. Kalau kau sampai mengecap mereka tidak punya bakat, karir mereka akan berakhir di dunia kuliner. Wajar saja, mereka lebih memilih mundur setelah ujian pindahan yang telah terjadi sejak akademi ini bangun,’’ kata Reon.


‘’Urusai, selain itu kenapa memanggil namaku langsung?’’ tanya Kein.


Reon tersenyum remeh. ‘’Aku tidak akan melakukannya karena kau tahu sendiri aku orangnya bagaimana. Tapi kau membuat semua peserta mengundurkan diri.’’


‘’Excuse me?’’


Deg!


Kein dan Reon tersentak dan menoleh begitu cepat saat mendengar suara itu. Mereka berdua terbelalak karena melihat ada satu peserta yang tidak meninggalkan ruangan.


Seorang gadis? Hm, kata Kein dalam hati.


Reon menatap daftar formulir murid pindahan. ‘’Kau? Takehiro Arin. Warga Jepang yang menetap di London. Dia memiliki nilai tertiggi di sekolah memasak London dan sering diundang tokoh berpengaruh dunia kuliner untuk membuatkan mereka hidangan.’’


‘’Aku cukup membuat satu hidangan, kan? Aku tidak ingin membuang waktu dan segera mendengar penerimaan formulirku,’’ kata Arin melempar pisau ke atas lalu menangkapnya kembali saat pisaunya ke bawah.


‘’Kau percaya diri sekali. Apa kau tahu sedang bicara dengan siapa seperti itu?’’ tanya Reon.


Sebelah alis Arin terangkat dengan wajah tenangnya. ‘’Pembuat keputusan tertinggi di akademi KaRa. Dia seorang Jenius, seorang Revolusioner, Pelopor Masakan Mewah dan juga … Si Iblis Makanan."


‘’Kalau sudah tahu dia Si Iblis Makanan, kenapa sikapmu masih tidak sopan?’’ tanya Reon.


Arin mengabaikan ucapan anak itu dan dengan tenang memilih bahan masakan.


Sikap dingin dan menyebalkan dari wanita ini, entah kenapa aku seperti melihat ada dua Kein di hadapanku, kata Reon dalam hati dengan wajah bodohnya.


‘’Tapi ini tidak seru kalau hanya aku saja yang memasak,’’ kata Arin.


‘’Pesertanya hanya kau seorang, berhenti bicara omong kosong!’’ tegur Reon.


‘’Bagaimana kalau Si Iblis Makanan ikut memasak. Aku akan membuat 2 hidangan, satu untukmu dan satu lagi untuk annoying boy ini,’’ kata Arin.


Reon tersenyum sambil mengeryitkan alis tanda kesal.


Mereka benar-benar mirip, sama-sama memiliki mulut tajam yang membuat orang kesal, kata Reon dalam hati.


‘’Aku tidak perlu melakukan hal yang tidak ada untungnya bagiku,’’ kata Kein.


‘’Di mana Direktur Utama? Bukankah dia akan hadir untuk melihat penjurian?’’ tanya Arin.


Reon memasang wajah bodohnya. ‘’Um … Itu, Direktur….’’


‘’Beliau tidak hadir, ya? Ya sudah, annoying boy ini yang akan menjadi juri?’’


Kein dan Reon sama kesalnya dengan nada bicara Arin.


‘’Segera bawakan seragam kokiku!’’ perintah Kein.


Arin menatap Kein yang sudah memakai seragam kokinya. Reon mengatakan kalau Arin ahli pisau yang bisa membuat hidangan apa pun, dan belum ada koki yang pernah mengalahkannya.



‘’Aku pertama kali memegang pisau dapur saat berusia 3 tahun. Kita lihat siapa yang paling unggul di sini,’’ kata Kein.


Ting!


Pada akhirnya Reon tetap memilih kedua hidangan tersebut membuat hasilnya seri.


Setelah Arin lulus, ia berjalan pergi meninggalkan kedua anak itu. ‘’Lain kali, aku tidak akan kalah dari Si Iblis Makanan. Akan kupastikan Direktur Utama Akademi KaRa ini memilih hidanganku.’’

__ADS_1


Kein menyilangkan kedua tangan setelah melihat kepergian Arin. ‘’Kalau begitu bersiaplah menerima kekalahan di pertemuan kita selanjutnya. Setelah itu, sebagai Direktur Utama, aku harus mendisplinkan dirimu.’’


...Tamat...


__ADS_2