
Apa? Aku tidak salah dengar, kan? Kenapa dia bertanya seperti itu? Hm, kata Adam dalam hati.
Eve bisa melihat perubahan raut wajah Adam hanya karena satu pertanyaan tadi. Namun, ia hanya menunggu sambil menatap pria itu dengan serius.
Raut wajah Adam kembali seperti biasa. ‘’Apakah kau meragukan diriku?’’
‘’Aku sedang bertanya, kenapa kau malah bertanya balik?’’ tanya Eve.
Adam terdiam untuk sesaat hingga akhirnya menghela nafas. ‘’Ya, aku mencintaimu, sangat.’’
‘’Bagaimana aku percaya kalau kau memang mencintaiku?’’ tanya Eve.
Dahi Adam berkerut, ia sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Eve sejak tadi.
‘’Eve, aku memang mencintaimu, bahkan setelah kau pergi dan aku menikahi adik tirimu, aku sama sekali tidak pernah melupakanmu. Secarik kertas yang selalu kau tulis sambil membuatkan teh hijau, aku masih sering membacanya berulang kali sampai saat ini. Lalu kamar kita berdua, aku juga masih merawatnya agar ma—‘’
Karena tidak tahan mendengar hal itu, membuat Eve memotong ucapan Adam. ‘’Kalau memang begitu, bisakah kau tidak mengalihkan pandanganmu dariku bahkan sedetikpun?’’
‘’Apa maksudmu?’’ tanya Adam.
‘’Siapapun yang masuk kemari, apa pun yang mereka bawa, aku ingin kau tidak pernah mengalihkan pandanganmu dariku bahkan sedetikpun. Jika kau bisa melakukan hal itu, aku akan percaya, dan mungkin mempertimbangkan perceraian kita,’’ kata Eve.
Mata Adam memicing, sebelum akhirnya terukir senyuman miring. ‘’Sekarang aku mengerti. Kau sedang mengujiku, ya?’’
Terukir senyuman di bibir Eve sambil ia menatap ke arah jendela. ‘’Entahlah.’’
‘’Tapi sayang sekali, melakukan hal itu tidak gunanya bagiku,’’ kata Adam.
Eve mulai frustasi karena hal itu tidak berpengaruh kepada Adam. Ia harus bisa membuat pria itu mau melakukannya.
‘’Katakan saja kalau kau melarikan diri dan berusaha menghindar,’’ kata Eve memprovokasi.
Mata Adam memicing, apalagi saat ini Eve sedang tersenyum seolah-olah wanita itu meremehkannya. ‘’Kau pikir siapa diriku? Bagi Adam Raymond, ini tidak seberapa. Tapi sebelum itu, apa yang akan aku dapatkan jika memenangkan tantanganmu ini?’’
Eve kembali menoleh dan menatap Adam. Tangannya mengepal di bawah meja sambil ia menahan urat-urat di lehernya yang menegang. ‘’Aku akan menuruti semua perkataanmu.’’
Adam tersentak meskipun reaksinya masih tenang seperti biasa. Senyuman miring terukir di bibirnya. ‘’Kalau begitu, bersiaplah kembali ke keluarga Raymond.’’
Eve hanya menatap Adam dengan tatapan tidak suka.
Kalau ini tidak berhasil, maka aku akan membunuhmu Kaji-kun, ucapnya dalam hati.
......................
Ruang VVIP
‘’Hatchi!’’
__ADS_1
Kane menoleh ke arah pria di sampingnya. ‘’Paman Kaji terkena flu?’’
‘’Ah? Ahaha, tidak, tidak. Kondisi tubuhku masih normal seperti biasa,’’ kata Kaji yang berdiri di depan jendela.
Ia membuang muka sambil memasang raut wajah bodohnya.
Sepertinya Eve sedang mengumpat diriku, he … Hehe, kata Kaji dalam hati.
‘’Oh iya Kane-kun, bisakah kau melakukan itu?’’ tanya Kaji.
‘’Ah? Mengenai orang itu ya?’’ tanya Kane dan Kaji mengangguk.
‘’Hihi, serahkan semuanya kepadaku. Aku tidak akan mengecewakan Paman Kaji,’’ kata Kane.
Tuan Yuki yang sedang bicara bersama tuan dan nyonya Raymond menoleh saat menyadari kedatangan Kane. ‘’Kane-kun, ada apa?’’
‘’Paman Yuki, aku ingin ke toilet sebentar,’’ kata Kane.
‘’Baiklah, perginya jangan terlalu lama,’’ kata Tuan Yuki.
Kane mengangguk lalu memanggil kakaknya untuk pergi bersamanya.
......................
Ruang Pekerja Restoran
‘’Eh? Kalian siapa? Anak-anak tidak diizinkan ada di sini,’’ kata salah satu pekerja restoran.
‘’Hei? Apakah kau tidak mengenalnya? Lihat, mereka Si Kembar Iblis itu,’’ bisik pekerja restoran yang satunya.
‘’Astaga?! Si Iblis Deduksi dan Si Iblis Makanan! Wah, bisakah aku mengambil foto dengan kalian?’’
Kane tersenyum. ‘’Bisa, tapi sebelum itu aku memiliki permintaan.’’
......................
Kamar 212
Adam menatap Eve sesuai perkataan wanita itu.
Eve benar-benar wanita yang cantik. Sudah banyak wanita yang aku lihat sampai sekarang, dan tidak ada yang bisa menandinginya. Kenapa dulu aku malah menendangnya dan tidak mencoba mendengarkan penjelasannya? Aku benar-benar bodoh karena memilih lebih percaya kepada Cordelia daripada istriku sendiri waktu itu, kata Adam dalam hati.
Meskipun Eve terlihat tenang sambil menatap ke arah jendela, tapi sebenarnya ia merasa risih dan tidak nyaman karena Adam selalu menatapnya.
Flashback on
‘’Kakak Yuki ingin menemui rekan bisnisnya sebelum pulang, jadi kita harus pergi. Lagi pula ini kesempatan untukmu.’’
__ADS_1
‘’Maksud Kaji-kun?’’ tanya Eve.
‘’Kau ingat ucapanku saat di pesta kemarin malam? Aku berkata serahkan semuanya kepadaku,’’ kata Kaji.
Eve mengerutkan dahi. ‘’Lalu apa hubungannya?’’
Kaji tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya, membuat Eve memasang raut wajah bodohnya.
‘’Perasaanku tidak enak, berhenti memasang wajah seperti itu,’’ kata Eve.
‘’Beberapa jam lagi kita akan bertemu dengan mereka, aku akan pastikan Tuan Adam menandatangani surat perceraian kalian,’’ kata Kaji.
‘’Kau merencanakan sesuatu?’’ tanya Eve.
‘’Kenapa wajahmu seperti itu? Kau seperti meragukan diriku,’’ jawab Kaji dengan wajah bodohnya.
‘’Kaji-kun, kau sendiri sudah lihat bagaimana usahaku untuk menyuruh Adam menandatangani surat perceraian itu, bahkan menyuruh kedua putraku tapi dia tetap keras kepala menolak,’’ kata Eve.
‘’Humph! Kamiya Kaji-sama ini tidak pernah gagal jika melakukan sesuatu. Aku hanya butuh kepercayaanmu,’’ kata Kaji.
Eve hanya pasrah. ‘’Baiklah, aku percaya. Jadi, apa rencanamu?’’
‘’Apakah kau sungguh percaya kepadaku?’’ tanya Kaji memastikan.
‘’Iya, iya, aku percaya, katakan apa rencanamu?’’ tanya Eve.
‘’Aku ingin kau bicara empat mata dengan Tuan Adam setelah acara makan selesai,’’ kata Kaji.
Mata Eve melotot. ‘’Apa?! Kau bilang apa? Kenapa aku harus bicara empat mata dengannya? Kaji-kun, kau sendiri tahu, jika aku ingin menemuinya, maka dari dulu sudah aku lakukan, dan tidak menyuruh kedua putraku bicara dengannya. Lalu kau ingin aku bicara berdua dengan Adam?’’
Wajah Kaji langsung kusut. ‘’Kau bilang percaya padaku.’’
Eve mengernyitkan alis sambil tersenyum. ‘’Tapi, apakah harus bertemu dengannya seperti itu? Lagi pula, apa yang akan kami bahas?’’
‘’Terserah kalian mau membahas apa. Misalkan ini berjalan lancar, aku ingin kau menyuruh Tuan Adam memandangi dirimu terus tanpa menoleh sedetikpun, dengan be—‘’
Srik!
Eve langsung menarik kerah leher baju Kaji dan menatap pria itu dengan aura membunuh. ‘’Kau sedang cari mati, ya?’’
‘’Hii! De-Dengarkan aku dulu Eve-chan. Jangan langsung emosi, kalau kau membunuhku, surat perceraianmu tidak akan selesai,’’ kata Kaji.
Eve menghela nafas panjang. ‘’Kaji-kun, kalau kau ingin bercanda, ini bukan waktunya.’’
‘’Aku tidak bercanda. Sudah aku bilang serahkan semuanya kepadaku dan kau hanya perlu percaya mengenai rencana ini,’’ kata Kaji.
‘’Tapi, itu terdengar seperti memanfaatkan perasaan orang lain,’’ kata Eve.
__ADS_1