Twins Brother Si Kembar Iblis

Twins Brother Si Kembar Iblis
Bab 105 Both Word of Coach


__ADS_3

‘’Kakak benar-benar sudah memecahkannya?’’ tanya Kane memastikan.


Kein mengangguk membuat adiknya langsung cemberut.


‘’Hee~ itu tidak adil! Aku ini Si Iblis Deduksi. Seharusnya aku yang memecahkan kalimat itu lebih dulu,’’ kata Kane.


‘’Aku mulai meragukanmu,’’ kata Kein tidak percaya.


"Kakak!" kesal Kane.


Ponsel Jeremy berdering membuatnya menatap layar ponsel. ‘’Sebentar, aku mendapatkan panggilan.’’


Kane mengerutkan dahi sambil menatap layar ponselnya. Menatap kalimat both word of coach sekuat tenaga, tapi tidak ada petunjuk yang membuatnya bisa memecahkan artinya.


‘’Hhah? Tidak, kakak pasti cuma menggertak. Heh, iya, itu pasti,’’ kata Kane ragu.


Eve merasa sedikit pusing karena menyaksikan dua kasus pembunuhan sekaligus, membuatnya hendak pulang. Tentu saja, Kaji akan lebih memprioritaskan keinginan Eve.


......................


Selama perjalanan, dokter Yuu mengerutkan dahi melihat Kane begitu fokus dengan ponselnya.


‘’Kane-kun, kenapa kau begitu serius menatap layar ponselmu?’’ tanya Dokter Yuu.


‘’Um, aku hanya membuka website mengenai dua kasus pembunuhan hari ini,’’ jawab Kane.


Kein yang tahu adiknya berbohong hanya tersenyum dalam hati.


......................


Sesampainya di mansion pribadi, Jeremy langsung menghampiri Kaji yang hendak mengantar Eve ke kamar.


‘’Maaf Kaji-sama. Tadi, aku mendapat panggilan, dan koki yang Anda panggil telah tiba,’’ kata Jeremy.


Eve mengerutkan dahi. ‘’Kau memanggil koki baru lagi? Bukankah sudah sangat banyak koki pribadi di sini?’’


‘’Kau akan tahu alasanku memanggil koki ini,’’ jawab Kaji.


......................


Kane berusaha menyamai langkah kaki kakaknya. ‘’Ayolah, katakan apa maksud dari kalimat itu?"


‘’Bukankah kau Si Iblis Deduksi?’’ tanya Kein menaiki tangga.


‘’Memang benar. Tapi saat Kakak mengatakan sudah memecahkannya lebih dulu, jadi aku tidak bisa konsentrasi,’’ kata Kane.


‘’Itulah kelemahanmu. Kau tidak bisa memecahkan kasus jika berusaha memaksanya,’’ kata Kein.


Kane merengek membuat Kein terhenti.


‘’Both word of Coach, berarti masing-masing kedua kata dari kata Coach. Coba kau hubungan dengan dua kasus yang terjadi hari ini,’’ kata Kein.


Kane tersadar. ‘’Aku mengerti. Both word of composer adalah co, dan actress adalah ac. Lalu, apa untuk huruf h terakhir?’’

__ADS_1


‘’Jika kau membaginya dengan pola yang sama, tapi mulai dari akhir kalimat, maka hasilnya pun juga sama,’’ jawab Kein.


‘’Co, ac, ch, ac. Ah! Artinya huruf h terakhir adalah ch. Hm, dalam bahasa inggris hanya ada dua pekerjaan yang dua huruf awalnya adalah ch. Chef dan Choreographer. Itu berarti, korban selanjutnya adalah di antara kedua pekerjaan itu,’’ kata Kane.


‘’Itu tidak perlu. Dua korban hari ini adalah orang yang berada di sekitarmu. Antara kedua pekerjaan terakhir, menurutmu mana yang lebih dominan? Chef,’’ kata Kein.


Kane mengerutkan dahi. ‘’Composer, actress, chef. Kalau ini memang sebuah pesan, berarti korban pembunuhan selanjutnya adalah orang yang bekerja sebagai koki.’’


......................


Dapur


Eve terbelalak melihat koki yang dimaksud Kaji barusan. ‘’Kawaii(Imutnya).’’


‘’Dia seumuran dengan si kembar. Meskipun begitu, jangan ragukan kemampuannya dalam memasak. Karena kita akan tinggal sedikit lebih lama di Okinawa, aku memanggilnya untuk datang kemari agar kedua anak itu memiliki teman,’’ kata Kaji.


‘’Hei, siapa namamu?’’ tanya Eve.


Anak berambut pirang itu membungkuk. ‘’Salam, Nona Muda bisa memanggilku Shion.’’


‘’Ara Shion-kun, nama yang indah. Semoga kau dan kedua putraku akrab, ya?’’ senyum Eve.


Shion tersenyum sambil mengangguk. ‘’Iya Nona Muda.’’


......................


Sama halnya Eve, Vic juga merasa sedikit pusing gara-gara dua kasus barusan. Ia hanya langsung menuju ke kamar dan beristirahat.


Vic membuka pintu balkon dan melihat ke sekeliling. ‘’Haa, Eve sangat beruntung, ada pria miliarder yang begitu bucin kepadanya dan bersedia menyiapkan semuanya, bahkan mendapatkan restu. Dan pria dingin yang merupakan idaman semua orang mengejarnya kembali. Diperebutkan oleh dua Tuan Muda dari keluarga ternama, andai aku juga seperti itu.’’


Imajinasinya tidak bertahan lama saat mendengar suara tadi. Ia pun menoleh dan melihat sekretaris Rey berdiri menatapnya dari balkon kamar sebelah.


Wajah Vic langsung kusut. ‘’Dia lagi.’’


‘’Nona Vic, apa yang terjadi dengan Nona Eve itu sudah takdirnya. Tapi aku sarankan, berimajinasi begitu tinggi itu tidaklah baik,’’ kata sekretaris Rey.


‘’Humph! Terserah diriku,’’ kata Vic memilih untuk masuk ke kamar.


‘’Kau mau ke mana?’’ tanya Sekretaris Rey.


‘’Tempat dimana kau tidak ada!’’ kesal Vic.


Vic menjatuhkan dirinya ke kasur sambil mengontrol nafasnya. Meskipun ia tidak ingin kesal, tapi setiap kali melihat wajah sekretaris Rey, membuatnya menjadi kesal.


‘’Daripada kesal, lebih baik aku memikirkan hal yang lain,’’ kata Vic.


Tidak hal menarik yang membuatnya terkesan. Tiba-tiba ia teringat dengan seseorang.


‘’Sutradara itu, sepertinya dia baik. Melihat dirinya, pria itu pasti disiplin dan bertanggung jawab. Selain itu, wajahnya juga tampan,’’ kata Vic yang lalu menyembunyikan wajahnya karena merasa malu.


Ia berdiri sambil mengepalkan tangan ke atas. ‘’Iya! Aku sudah menemukan targetku! Tuan Hakuba, tunggu saja. Aku akan membuatmu jatuh hati kepadaku, tidak ... Aku akan membuatmu bucin kepadaku! Hohohohohoho.’’


‘’Humph! Sekretaris Rey, lihat saja, kau tidak akan bisa menggangguku jika Tuan Hakuba menjadi prisai untukku,’’ kata Vic.

__ADS_1


......................


Kamar Kane & Kein


Kane yang sudah membersihkan diri, mengerutkan dahi melihat kakaknya. Ia mengusap matanya berulang kali memastikan penglihatannya tidak salah. ‘’Kakak, itu bukan majalah kuliner. Tapi novel misteri.’’


‘’Aku tahu,’’ kata Kein tanpa menoleh.


Mata Kane membulat besar. ‘’Apakah mungkin Kakak ingin mengambil posisiku sebagai Si Iblis Deduksi? Tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!’’


Kein memasang raut wajah bodoh sambil mendengar kehebohan adiknya yang dianggapnya sangat berlebihan.


Apakah dia adalah adikku? Aku jadi meragukannya. Ke mana aura tenang dan sisi tegasnya membuat dia terlihat kejam? Haa, kata Kein dalam hati.


‘’Habislah ... Debutku sebagai Si Iblis Deduksi akan digulingkan oleh saudaraku sendiri,’’ kata Kane bersujud berulang kali.


‘’Hentikan sandiwara menjijikkanmu itu. Siapa juga yang mau menggulingkan posisimu?’’ tanya Kein.


Kane bangkit dan menatap kakaknya. ‘’Lalu kenapa Kakak membaca novel misteri koleksiku?’’


‘’Aku ingin melihat penulisan di dalam novel itu bagaimana,’’ jawab Kein.


"Penulisan di dalam novel? PUEBI?" tanya Kane.


Kein yang fokus membaca, masih tenang seperti biasa. ‘’Aku ingin membuat novel.’’


‘’Oh, membuat novel, ya? Hm ... Apa?! Me-Membuat novel?!’’ pekik Kane.


‘’Urussai(Berisik),’’ kata Kein risih.


Kane terjatuh sambil menyeka pipinya seolah-olah butiran air matanya terjatuh. ‘’Habislah era Si Kembar Iblis. Kakak akan beralih ke dunia penulis dan meninggalkan jalan ninja-nya sebagai koki. Habislah, habislah.’’


Kein mengerutkan dahi karena merasa kesal setelah mendengar ucapan adiknya.


Jalan ninja? Terlalu terbawa suasana dengan anime Naruto, kata Kein dalam hati.


Apalagi Kane bertingkah sangat dramatis, membuat Kein tidak percaya melihat sisi lain adiknya itu.


‘’Kane?’’


‘’Iya Kakak?’’ tanya Kane menoleh dengan wajah sedih.


Ia tersentak sambil tersenyum kaku setelah melihat wajah kakaknya.


Kein melotot dengan mata tajam yang mengeluarkan aura mengintimidasi. ‘’Bicara sekali lagi, koleksi pisauku akan melayanimu.’’


‘’Hii!’’ pekik Kane memegang kedua pipinya.


Ia langsung berdiri dan menuju ke lemari untuk mengambil piyama. Sedangkan Kein menghela nafas dan kembali melanjutkan aktivitasnya.


Kane yang melirik dari pintu lemari memicingkan mata.


Dasar manusia psikopat, kata Kane dalam hati.

__ADS_1


Kein dalam posisi membaca juga melirik sambil memicingkan mata.


Dasar manusia dramatis, kata Kein dalam hati.


__ADS_2