
Adam dan Eve akhirnya menuju ke ruang tamu setelah semua hidangan selesai. Sisanya, mereka serahkan kepada para pelayan.
‘’Sudah selesai?’’ tanya Tuan Moriarty.
Pasangan suami-istri muda itu mengangguk. Karena sejak tadi keduanya mengurus hidangan, membuat Tuan Moriarty menyuruh mereka untuk bersiap-siap.
Melihat Adam dan Eve berjalan bersama menuju kamar mereka, membuat Cordelia semakin menatap kakak tirinya dengan tatapan tidak suka.
......................
Kamar Adam & Eve
‘’Aku akan menyiapkan air hangat dulu di bak mandi,’’ kata Eve.
Adam mengeluarkan ponselnya dan melihat balasan dari Kamiya Kaji. ‘’Oh? Dia sudah menuju kemari.’’
......................
Kamar Mandi
Baru saja Eve menyiapkan air hangat di bak mandi, dirinya sudah dikagetkan dengan masuknya Adam.
Wanita itu hendak keluar, tetapi sebuah tangan menghentikannya.
‘’Kita mandi bersama saja. Tuan Kaji sudah ada di perjalanan,’’ kata Adam.
‘’E-Ehhhhhh?!"
......................
Ruang Tamu
Semua mendongak ke atas saat mendengar suara teriakan Eve. Mereka saling memandang sampai akhirnya Tuan Moriarty terkekeh pelan.
‘’Tidak usah dipikirkan. Mereka sepertinya bermain lagi.’’
Bermain? Apa maksudnya bermain? Kenapa kakak berteriak? Ha! Apakah mungkin Adam menyentuhnya?! Tidak, tidak! Itu tidak boleh! Tapi Tuan Besar mengatakan mereka sedang bermain? Stt, cemas Cordelia dalam hati.
Berbeda dengan Cordelia yang mulai gusar, pak Percy dan bu Christa mengangguk karena paham dengan apa yang dikatakan Tuan Moriarty.
Aku tidak menyangka anak itu melakukannya di saat seperti ini. Sungguh tidak punya malu! Sama seperti ibunya, kata bu Christa dalam hati.
Bu Christa menahan urat di lehernya yang sedikit menegang.
......................
Kamar Adam & Eve
Adam keluar dari kamar mandi dengan reaksi biasa saja, berbeda dengan Eve yang hanya menundukkan kepala sambil meremas kerah leher jubah handuk mandi, karena mengingat dirinya dan Adam berada di dalam bak mandi yang sama.
Beruntung bak mandinya luas, membuatnya dan Adam berada di sudut masing-masing.
‘’Segeralah bersiap. Mungkin sebentar lagi Tuan Kaji akan tiba.’’
Eve mengangguk dan menuju ke lemari pakaian. Sejak tadi jantungnya tidak berhenti berdebar.
__ADS_1
......................
Perjalanan…
Ponsel Kaji berdering, membuat pria itu menatap ke layar ponsel. ‘’Halo?’’
Raut wajahnya langsung berubah.
......................
Kediaman Raymond
Semuanya sudah menunggu di ruang makan. Pak Percy dan keluarganya hanya terdiam melihat hidangan di meja makan. Rasanya, mereka seperti berada di restoran mahal. Apalagi hidangan yang disajikan, rata-rata adalah hidangan Jepang.
‘’Sayang sekali Nyonya Besar tidak hadir,’’ kata bu Christa.
‘’Istriku sangat sibuk. Jadi sangat sulit menyuruhnya pulang,’’ kata Tuan Moriarty.
Saat itu juga terdengar suara hujan. Semua menoleh ke arah jendela kaca besar, melihat hujan turun sedikit demi sedikit hingga menjadi deras.
‘’Oh tidak, kenapa hari ini turun hujan? Bagaimana dengan Tuan Kaji?’’ tatap Tuan Moriarty.
Adam meraih ponselnya dan melihat belum ada notifikasi sama sekali dari Kamiya Kaji.
‘’Kakak, temani aku sebentar,’’ kata Cordelia menarik Eve ke dapur.
Eve melepaskan genggaman Cordelia dan menatap adik tirinya datar. ‘’Apa maumu lagi?’’.
Cordelia memintanya agar membuatkan jus alpukat, membuat Eve hanya menghela nafas panjang.
‘’Kau bisa membuatnya sendiri, kenapa menyuruhku?’’ tanya Eve merasa waspada.
‘’Ayolah, Kakak seharusnya tahu kalau ini rumah keluarga Raymond. Aku tidak bisa berbuat sesuka hati.’’
Eve hanya diam, meski ia merasa ada yang aneh dengan tingkah adik tirinya itu. Entah kenapa, tingkah Cordelia hari ini tidak seperti biasanya yang bersikap manis.
‘’Kakak, aku ingin minum.’’
‘’Kau bisa ambil air di dalam kulkas.’’
Cordelia menuju ke kulkas lalu membukanya. Ia terdiam melihat isi kulkas itu di penuhi kue, camilan dan minuman yang mahal. Eve meliriknya yang diam menatap isi kulkas.
‘’Ada apa?’’ tanya Eve.
‘’Kakak benar-benar dikelilingi barang-barang dan kebutuhan yang lebih.’’
‘’Kalau kau mau, ambil saja dan makan di sini sambil menunggu jus alpukat milikmu.’’
‘’Sungguh?!’’
Eve mengangguk membuat Cordelia tersenyum girang dan langsung menyambar beberapa kue, camilan dan minuman di dalam kulkas.
Wanita itu pun mulai menyantapnya. Beberapa menit kemudian, Eve datang membawa jus alpukat.
‘’Aku hanya memberi Kakak air putih, itu tidak apa-apa, kan?’’ kata Cordelia menyodorkan air putih kepadanya.
__ADS_1
‘’Terima kasih,’’ kata Eve meneguk air putih itu.
Tidak lama kemudian, kedua wanita itu kembali ke ruang makan.
‘’Kalian berdua dari mana saja?’’ tanya Pak Percy.
‘’Aku sangat haus, jadi aku meminta Kakak membuatkan jus,’’ kata Cordelia.
Pak Percy langsung meminta maaf atas kelakukan putrinya. Tuan Moriarty tidak terlalu mempermasalahkan. Justru pria dewasa itu semakin menyukai Eve yang begitu menyayangi adik tirinya.
Eve merasa ada yang aneh dengan dirinya sambil ditatap oleh Cordelia.
Perasaan ini lagi. Kenapa tubuhku terasa tidak enak? Bukankah tadi masih baik-baik saja saat membuatkan jus untuk Cordelia? Aku seperti merasa ingin....
Saat itu juga Eve mual membuat semuanya langsung menatapnya.
Eve tertegun sambil membengkap mulutnya. Sekali lagi ia mual.
Eh? Kenapa aku mual? Jangan bilang, tebaknya dalam hati.
Eve mulai panik dan memandangi orang satu persatu. Melihat hal itu, Tuan Moriarty langsung menghubungi dokter pribadinya.
‘’Tidak! Jangan hubungi do—" ucapan Eve terpotong karena kembali mual.
Adam yang melihat tingkah Eve, menyuruh ayahnya untuk tetap memanggil dokter. Butuh beberapa menit hingga akhirnya sang dokter datang karena hujan turun dengan deras.
‘’Bagaimana kondisinya? Apakah dia sakit?’’ tanya Tuan Moriarty.
Dokter tadi berdiri setelah memeriksa Eve. Terukir senyuman di bibirnya sambil memberikan selamat, membuat semua orang bingung.
‘’Nona Muda hamil, dan kandungnya berusia 3 minggu.’’
Deg!
Mendengar perkataan dokter pribadinya, langsung membuat Tuan Moriarty sangat senang.
Eve terpaku, begitu juga dengan Adam. Sedangkan pak Percy merasa bahagia, berbeda dengan bu Christa.
Setelah dokter menyarankan beberapa hal, ia pun pamit pergi.
‘’Akhirnya aku mempunyai seorang cucu! Hari ini sepertinya keberuntungan memihak kepadamu, Adam. Selain Tuan Kaji akan datang, istrimu juga mengandung anakmu! Ah~ aku harus segera menghubungi ibumu,’’ girang Tuan Moriarty.
Namun, Adam langsung menghentikannya. Tuan Moriarty menatap putranya bingung, dan memberitahunya agar tidak terlalu kaku. Ia tahu, putranya pasti sangat bahagia.
‘’Jangan hubungi Ibu!’’ tegas Adam.
‘’Aduh, bahkan raut wajahmu tidak berubah sama sekali saat merasa bahagia. Senyumlah sedikit, aku tahu kau juga sama bahagianya seperti diriku,’’ kata Tuan Moriarty.
Pria dewasa itu bingung karena putranya mencengkeram kuat tangannya. ‘’Adam?’’
‘’Eve?’’
Eve menatap Adam dengan raut wajah cemas. Sepertinya ini adalah akhir hidupnya. Ia bisa melihat jelas, raut wajah suaminya terlihat marah, meski wajahnya menunjukkan ekpresi datar.
‘’Siapa ayah dari anak di dalam kandunganmu itu?’’
__ADS_1
Pertanyaan Adam telak mengenai batin semua orang terutama Eve.